
Alfie terkejut mendengar sebuah suara menghentak, yang tiba-tiba muncul di kepalanya, ia membuka matanya dengan cepat dan terlihat sebuah diagram status dalam bentuk hologram yang melayang di udara, memancarkan cahaya biru yang intens, menggambarkan sistem internal tubuhnya secara rinci, memberikan informasi mendetail tentang statusnya.
"Diagram apa ini? Level 1? Speed, Shooting, Technik, Heading, Visi. Ah, ada puluhan, banyak sekali, pusing lihatnya."
Hoam!!!
"Mungkin ini cuma khayalan ku saja."
Keesokan pagi hari, Alfie yang bangun membuka kelopak matanya dengan perlahan.
Ding!
"Ah, kenapa masih ada hologram diagram depan di mata ku!"
Alfie merasa kesal karena diagram yang kemarin malam muncul, ternyata masih ada ketika ia membuka kelopak matanya, melayang di udara dengan tetap memancarkan cahaya biru yang intens, membuatnya merasa seperti berada dalam dunia teknologi yang tidak dapat dipahaminya, mengganggu penglihatannya dan membuatnya semakin bingung.
"Sebenarnya ini diagram apa? Kenapa tiba-tiba saja muncul? Bagaimana cara menghilangkannya?"
"Hah! Sudah jam setengah 7!"
Alfie menatap ke arah jam dinding dengan tergesa-gesa, menyadari bahwa sudah jam setengah 7, mengingatkannya akan kewajiban dan tugas yang harus segera diselesaikan, sementara hologram diagram tetap menggantung di depan matanya, memaksa dia untuk mencari cara menghilangkannya secepat mungkin.
Alfie lalu bergegas ke turun ke lantai satu menuju kamar mandi dengan sebelumnya bertemu dengan ibunya.
"Mama! Kenapa nggak bangunin aku?!"
"Mama kira kamu sakit nak, makanya nggak di bangunin!"
***
Pagi terlihat sangat cerah sambil membawa ransel berat di pundaknya, terlihat Alfie yang baru datang ke Sekolahnya dengan nafas yang terengah-engah.
“Alfie!”
__ADS_1
Terdengar suara yang lembut memanggilnya dari belakang, ia lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang gadis cantik berkulit putih dengan rambut pirang yang panjang, matanya memancarkan kehangatan dan kegembiraan yang membuat hati Alfie berdebar lebih kencang, sementara senyumnya yang manis menambah kilauan pada pagi yang sudah cerah.
“Ka-kamu, kenal aku?” tanyanya, dengan suara yang terbata-bata.
“Iya, kamu Alfie kan yang kemarin terjatuh waktu ngejar bola.”
“I-iya, itu aku. Ternyata kamu kenal aku gara-gara aku jatuh itu yah,” lirih Alfie sembari menundukkan kepala.
“Iya. Aku senang melihat kamu waktu maen bola. Kamu lucu.”
“Hah,” Alfie lalu menatap gadis cantik itu dengan malu-malu.
“Oh iya, kenalin aku Shena. Sama ama kamu aku juga baru kelas X di Sekolah ini,” ucapnya sembari menjulurkan tangannya untuk bersalaman. Alfie pun menyambut jabatan tangannya.
Walaupun Alfie memiliki tubuh yang sangat kurus, namun wajahnya terlihat sangat tampan dengan matanya yang biru dan sorotan mata yang tajam serta senyumnya yang menyenangkan membuatnya terlihat menarik dan memikat hati siapa pun yang melihatnya, menyimpan kecerdasan dan kehangatan yang tercermin dalam setiap tatapannya, menambah daya tariknya yang tidak hanya terletak pada penampilannya fisik, tetapi juga pada kepribadiannya yang menggemaskan.
“Alfie, kita kan sekelas.”
“Kamu sering ketiduran sih jadi nggak kenal aku,” Shena lalu mengeluarkan handphone dan mulai memainkan game petualangan sambil berjalan menuju kelasnya.
Alfie yang sedang berjalan di sampingnya sepintas melihat game yang dimainkan oleh Shena, “Hmm, kenapa mirip dengan yang ada di mataku yah game itu,” gumamnya.
“Apa mungkin di kepala ku saat ini, ada suatu game yang masuk. Tapi nggak bakalan mungkin.”
Lalu Alfie kembali melirik ke arah handphone yang sedang dimainkan oleh Shena, ia melihat kotak menu ditekan dan keluar, “Mungkin itu cara agar hologram yang ada di depan mataku ini bisa menghilang.”
Alfie yang sudah sampai di kursinya mencoba untuk mencari menu dari hologram yang selalu muncul di matanya, “Ah, ketemu ada di pojok kanan atas ternyata,” gumamnya.
“Lalu bagaimana cara menekan fitur menu ini?”
***
Di sebuah mansion yang mewah dan megah, dengan hiasan-hiasan klasik dan furniture yang elegan, terlihat seorang ayah dan anaknya yang sedang duduk dan berdebat dengan wajah tegang dan emosi yang membara, cahaya yang lembut dari luster menghiasi ruangan yang penuh dengan ketegangan, suara terdengar bergetar menunjukkan betapa dalamnya konflik yang tengah mereka hadapi.
__ADS_1
“Leo. Kamu harus tinggal di Jakarta. Papa nggak mau kamu pergi ke Belanda hanya agar kamu bisa berlatih sepak bola!”
“Aku harus tinggal disini! Di Jakarta! Kalau aku tinggal di Indonesia bagaimana aku bisa berkembang untuk menjadi pemain sepak bola Internasional Pa!”
“Sepak bola hanya cocok dijadikan hobi! Kamu harus fokus ke pendidikan Leo! Papa nggak mau ngirim kamu ke luar negeri lagi. Seperti masa SMP kamu di Belanda yang kamu pelajari hanya bermain bola saja!”
Leo, 16 tahun, adalah seorang remaja yang sangat mencintai olah raga sepak bola. Umur 13 tahun ia sudah masuk ke dalam U15 Ajax, klub sepak bola terbesar di negara Belanda dan merupakan pemain inti sebagai penyerang sayap yang sangat cepat dan kuat, ia menjadi pencetak gol terbanyak di klubnya itu yang membuatnya bermimpi untuk mencapai puncak kesuksesan di dunia sepak bola.
Namun, bertentangan dengan sang ayah yang menginginkannya fokus pada pendidikan menghadirkan sebuah dilema yang membelah hatinya. Leo merasakan kebingungan yang menghantui pikirannya dan kegundahan yang tak terbendung, terpapar oleh keputusan sulit antara mematuhi harapan ayahnya atau mengejar impian yang membara di dalam dirinya. Saat waktu berlalu, ketegangan antara keinginan Leo untuk mengikuti passion-nya dalam sepak bola dan keinginan ayahnya untuk fokus pada pendidikan semakin meruncing, menimbulkan perpecahan dalam keluarga yang mewah itu, dengan suasana yang terasa semakin hampa dan konflik yang tak kunjung berakhir.
Akhirnya Leo masuk ke Sekolah Regina High School yang merupakan sekolah milik keluarganya sendiri, tempat di mana kehadirannya terasa seperti beban berat di pundaknya, karena di sanalah batasan antara kewajiban keluarga dan hasrat pribadinya semakin membingkai kehidupannya yang rumit.
***
Hari ini merupakan hari pertama Leo masuk ke Sekolah, ia dengan wajahnya yang kesal terpaksa harus masuk ke sekolah itu, terpapar oleh rasa frustasi yang mendalam dan kekesalan yang tak terbendung, di dalam mobil setiap detiknya yang ia lakukan adalah mengeluh dan menghujat Ayahnya sendiri yang memaksanya sekolah di Indonesia, menciptakan suasana tegang dan terhimpit di antara mereka berdua. Saat pintu mobil terbuka dan Leo melangkah keluar, terlihat keputusasaan dan kehilangan arah yang melingkupi dirinya, seakan memasuki dunia sekolah yang asing dan menuntut, menambah beban emosional dalam perjalanan sulit yang tengah dihadapi.
Sesampainya di Sekolah, Leo yang berjalan dengan angkuh dan percaya diri, disambut oleh pandangan kagum dari sebagian siswa yang memandangnya sebagai seorang selebriti karena kehadiran sang anak pemilik sekolah yang telah menjadi desas-desus di kalangan siswa. Selain itu, penampilannya yang sangat tampan dan karismatik menjadi daya tarik semua murid-murid gadis disana, rambutnya yang rapi dan stylish berwarna hitam dengan sedikit sentuhan warna biru di sisinya menambah kesan yang memikat dan misterius.
Namun, di balik kesan luar yang mengesankan, hati Leo tetap terasa hampa dan terombang-ambing antara peran yang diharapkan darinya sebagai anak pemilik sekolah dan keinginannya yang tak tergoyahkan untuk mengejar impian sepak bola yang membara di dalam dirinya.
Leo pun sudah sampai di depan kelasnya yang diantar hangat oleh guru di sana.
“Maaf Tuan Leo, karena kursi depan sudah penuh semua, tidak apa-apa kan duduk di belakang,” ucap Guru itu dengan lembut dan sopan kepada Leo.
“Tidak apa-apa Bu. Sudah cepat tunjukan dimana aku harus duduk.”
“Oh baik. Di pojok belakang kanan itu Tuan.”
Leo tanpa peduli dengan murid-murid di sekitarnya berjalan dengan angkuhnya, lalu duduk dengan santai di pojok belakang kanan, memancarkan aura ketidaktertarikan terhadap interaksi sosial di dalam kelas yang penuh dengan ekspektasi.
Tak lama ia menoleh ke sebelah kanannya, terlihat seorang murid laki-laki yang berbeda dengan murid lainnya yang terlihat takjub sejak kedatangan dirinya di kelas itu. Murid yang terlihat sangat kurus itu sedari tadi hanya melamun dengan tatapan kosong ke arah depan.
“Hemm, anak yang aneh,” gumamnya.
__ADS_1