Sonya The Mystical Queen

Sonya The Mystical Queen
Pohon angkar yang tak pernah layu


__ADS_3

Malam hari Sonya dan sahabatnya baru sampai didesa oyong,rumah rumah sepi dan gelap hanya ada penerangan dijalan itupun api obor yang segera akan mati tertiup angin.Sonya terus membaca mantra pelingdung untuk kedua sohabatnya dia takut akan sesuatu yang terjadi,mungkin saja ada mahluk yang sedang gabut dan ingin jahil pada manusia.


Sonya mencari sebuah pondok untuk menginap saat mulai berjalan kearah pondok ada sebuah pohon angkar menjulang tinggi disamping sebuah bekas bangunan besar,sepertinya bekas rumah yang segaja dihancurkan.Sonya terus menyusuri jalan itu dan akhirnya menemukan seorang kakek yang menawarkan sebuah tempat penginapan dan hasilnya adalah ternyata Pondok penginapan itu dibelakang bekas bangunan runtuh tadi yang berdiri sebuah pohon angkar yang menjulang tinggi dan hanya terlihat berbunga tujuh tangkai saja.


Saat memperhatikan pohon angkar tiba tiba satu tangkai bunga angkar terbang dan terjatuh tepat ditangan jos yang selesai menepuk nepuk tangannya yang kotor karena debu ditembok duduknya.Sonya sangat kaget terlebih lagi si kakek tua tadi dia langsung menarik tangan ketiga anak ini dan membawanya kedalam pondok.


Dengan langkah cepat dia menutup pintu jendela dan segera menutup gordennya.Dia terengah engah dan langsung duduk disamping Sonya,kakek itu langsung berkata..


"Nak sebaiknya sebelum jam dua belas malam kalian lebih baik pulang kerumah kalian dan jangan pernah kembali kesini lagi! "bisik kakek itu


Sonya dan yang lainnyah hanya terbengong dengan ucapan kakek itu dia tak mengerti apa yang kakek itu maksud.Baru saja sampai sudah disuruh pulang itu kan tak lucu.


"Kek kami baru sampai kenapa harus pulang lagi perjalanan dari desa bangunkarya ke sini itu jauh" ucap jos regan mengangguk.


"Kamu tau non jika bunga angkar itu jatuh dari tangkai dan dipegang atau jatuh pada kita itu artinya ningsih bunga mekar sang penari desa ingin korban untuk dijadikan teman hidupnya." Jelas kakek itu


Baru saja selesai mengucapkan kalimat itu tiba tiba pintu rumah dan jendela seperti ditarik dan digedor dengan keras oleh seseorang dengan paksa belum lagi teriakan memilukan yang membuat telinga rasanya akan pecah.

__ADS_1


"Terpilih.... Terpilih.... Terpilih....hhhaaaahaaahaaaa"


Suara itu menghilang pintu dan jendela kembali seperti semula hening hanya kebingungan melanda.


"Terlambat non kamu sudah terpilih kakek tak bisa menolongmu" kakek itu memegang erat tangan jos dia sepertinya begitu khawatir.


"Apa tidak ada cara lain untuk mengalahkan setan itu? " Tanya jos sambil gemetar regan memeluk tubuh jos dan menenangkannya.


"Sudah ada aku dan Sonya yang melindungimu" ucap regan


"Hanya ada satu cara untuk mengalahkan Ningsih yaitu ikatkan selendangnya dipohon angkar dan remukkan bunga angkar lalu taburkan pada roh Ningsih dia akan hangus dan terbakar tapi cara extrim ini selalu gagal dan hanya menyisakan korban berserakan" Kakek itu berkata sambil gemetar.


"Sonya sebaiknya kita bersama saja.. " ucap jos khawatir


"Iya sebaiknya kita bersama saja.. " regan menambahkan


"Tidak ini terlalu berbahaya non Sonya sebaiknya diam saja disini ini terlalu menakutkan apalagi melawan sendirian" ucap kakek itu.

__ADS_1


"Tak apa kalian jangan kemana mana jangan bukakkan pintu karena jika aku yang masuk itu hanya akan menggores sekali pintu oke"


Jos dan regan mengangguk namun mereka masih khawatir pada Sonya apalagi dia berjuang sendirian melawan roh kuat itu. Kakek berdiri dan menghampiri Sonya...


"Non sebaiknya kakek ikut saja"


"Tidak ini berbahaya aku takut tak bisa melindungi kakek"


"Tidak non kakek adalah kakek dari Ningsih dia pasti akan luluh pada kakek"


"Baiklah tapi jangan berkorban untuk hal kecil"


Sonya dan kakek keluar tak lupa Sonya mengucapkan beberapa mantra semesta dan tiba tiba muncul selimut transfaran dan dua bidadari dengan sayap menutupi atap rumah.Mereka hanya untuk berjaga jaga dan melindungi regan dan jos.


Sonya dan kakek segera berjalan kearah dimana pohon angkar berada,dia menuju bangunan rubuh dulu untuk mencari beberapa clue.Sonya menemukan beberapa bunga angkar yang tak layu,aneh kenapa bunga angkar yang tak pernah layu ini ada disudut bangunan dan tersimpan beberapa selendang wanita.Sonya mulai curiga dengan perbuatan kakek Ningsih,sonya mulai berhati hati untuk saat ini takutnya dia akan nenikam dari belakang.


Tiba tiba ada sebuah lantunan lagu dari pohon angkar dan bunga angkar yang masih kuncup tiba tiba bermekaran dengan indah namun dengan makna pilu.

__ADS_1


"Dewi asih dewi ningsih selaru laru neng atiku..Pada pada bejad perbuatan manungso...Pohon angkar jadi saksi tumbang lirih sin sumekar bunga yang tak layu layu... " lantunan lagu lirih itu semakin pilu didengar seperti merasuk ke dalam hati dan menghilang menyisakkan luka.


Bunga angkar itu mekar dan kembali seperti semula hanya angin yang berhembus pelan....


__ADS_2