
Kriiing.....kriiing...kriing
Terdengar suara alarm yang begitu memekikkan telinga dari kamar seorang gadis yang masih asik bergelung dibawah selimut tebalnya, bukannya terbangun, suara alarm itu malah seakan menjadi lagu pengantar tidur untuk gadis berambut hitam legam yang terlihat acak-acakan itu, bahkan sang mentari yang sedari tadi mencoba mengusik tidur lelap sang gadis dengan cahaya ilahinya, akhirnya lebih memilih untuk menyerah dan menyembunyikan dirinya dibalik celah awan, entah apa yang bisa membangunkan tidur lelap gadis itu, mungkin panggilan dari sang illahi baru bisa membuat gadis itu terbangun,
beberapa menit sudah berlalu, tapi gadis bernama aeleasha azalea itu masih setia dengan posisi tengkurapnya, hingga tak lama kemudian, terdengar suara dering ponsel yang mana membuat gadis itu langsung bangkit dari posisi tidurnya seolah-olah dirinya tidak pernah tertidur sama sekali, " pagiii " sapanya riang sembari tersenyum konyol, ia tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya karena akhirnya aezar menghubunginya,
" Pagiii...apa kau sudah bangun? " Tanya aezar sembari memperhatikan penampilan dirinya didepan cermin besar yang ada di dalam kamarnya, tak lupa sebuah senyuman manis dengan setia terpatri di wajah tampannya saat mendengar suara manis dari seberang sana, rasanya sudah lama ia tidak menghubungi gadis pemilik netra cokelat keemasan itu, ini semua karena ada suatu hal yang harus ia urus, makanya mau tak mau ia jadi sibuk dan tidak sempat bertukar kabar dengan kekasih cantiknya itu, tanpa aezar sadari, pikirannya kembali berkenala memikirkan sosok seorang gadis yang ia pastikan sedang menunggu kehadiran dirinya, perasaan bersalah yang selalu menggerogoti dirinya dari jauh-jauh hari, kini mulai menyiksa batin dan juga fisiknya, tapi disaat yang bersamaan, ia belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya pada kekasihnya itu, ia takut hubungan mereka malah akan berakhir dengan mengenaskan, jika ia jujur sekarang,
" Aezar...kau masih disana? " Lamunannya seketika langsung buyar begitu telinganya mendengar suara dari sang kekasih, " iya.. bersiap-siaplah, 20menit lagi aku akan menjemputmu...love you "
" Love you tooo " suara kekehan pelan tidak bisa aezar cegah saat mendengar suara cempreng dari seberang sana yang menurutnya sangat lucu itu, setelah mematikan telpon, dengan sigap ia mulai menata kembali buku-buku yang sempat ia keluarkan tadi karena merasa ada yang ketinggalan, kemudian berjalan keluar dari kamarnya setelah dirasa semuanya sudah siap,
" Pagi ma... pagi pa " sapa aezar sembari duduk di sebelah kursi mamanya, kemudian mulai memakan roti bakar kesukaannya tanpa banyak bicara, sudah tradisi bagi keluarga ganindra untuk tidak saling berbicara saat sedang makan, maka dari itu hanya suara dentingan sendok dan garpu yang menyelimuti sepanjang acara makan di keluarga harmonis itu,
Suapan terakhir berhasil masuk kedalam tenggorokan aezar tanpa ada halangan sedikitpun, lalu dengan sigap ia ambil segelas susu putih yang berada tepat di samping piringnya, kemudian meminumnya hanya dalam beberapa kali tegukan, " aezar berangkat ma...pa " pamitnya sembari memberikan sebuah ciuman di kening sang mama, setelah itu ia berbalik dan mulai berjalan meninggalkan meja makan menuju pintu utama, tapi belum sempat ia melangkah, suara sang pemimpin keluarga berhasil membuatnya mengurungkan niatnya untuk pergi,
__ADS_1
" Apa kau sudah mengatakannya pada aeleasha " diam, aezar hanya bisa terdiam karena ia terlalu bingung harus menjawabnya bagaimana, ia tahu kalau ia terlalu lama memendamnya maka akan menjadi masalah besar, tapi jiwa dan raganya belum siap untuk mengungkapkan semuanya, ia takut, ia takut pada kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu akan terjadi, sepengecut itulah dirinya, entah sejak kapan ia menjadi pengecut seperti ini, mungkin sejak ia menyerahkan semua hatinya pada gadis pemilik netra cokelat keemasan itu,
" Melihat kau terdiam, sepertinya belum...jangan terlalu lama memendamnya, atau kau akan kehilangannnya hanya dalam sekejap "
"..... baik pa "
***
" maaf tadi aku kesiangan...apa kau sudah menunggu lama? " Tanya aeleasha harap-harap cemas karena merasa sudah membuat kekasihnya itu menunggunya terlalu lama, maklum saja, anak gadis jaman sekarang itu banyak yang harus di pakai agar selalu terlihat glowing, shining, shimering and Splendid, seperti kata pepatah, nggak glowing nggak laku sayyy, kejamnya dunia **,
Akhirnya aeleasha bisa bernafas lega saat tahu ia tidak selama itu, dengan hati gembira, ia terima Uluran tangan dari aezar kemudian mulai mengikutinya dari belakang, walaupun di dalam hatinya ia sudah seperti reog Ponorogo yang mengamuk, tapi dikehidupan nyata ia harus selalu terlihat anggunly dan tidak bar-barly, slaayy.
***
" Apa ada sesuatu di wajahku? " Tanya aezar sembari meraba-raba wajahnya, takut ada remahan roti yang tidak sengaja tertinggal di wajahnya saat ia sarapan tadi, tapi nihil, tidak ada satupun remahan roti atau noda diwajahnya, tapi kenapa gadis disebelahnya itu terus saja memperhatikan dirinya, gara-gara gadis pemilik netra cokelat keemasan itu, fokusnya jadi sedikit teralihkan, untung saja jalanan masih terlihat lenggang, jadi ia tidak perlu merasa takut tiba-tiba menabrak sesuatu dengan mobilnya,
__ADS_1
" Kau tampan " mendengar jawaban polos yang keluar dari mulut mungil itu membuat aezar tidak bisa menahan suara kekehannya, merasa gemas, sebelah tangannya dengan gesit mencubit pelan pipi chubby itu kemudian mulai fokus lagi mengemudi setelah puas menggoda sang kekasih,
" Iiih aezar nakal yaa " dumel aeleasha sembari mengelus-elus sebelah pipinya yang baru saja di cubit itu, walaupun tidak terasa sakit sama sekali, tapi ia tetap saja merasa sedikit kesal karena takut make up yang sudah ia pakai dengan sedemikian rupa ada yang terhapus gara-gara jari besar itu,
" Jangan melihatku terus, lihat kedepan "
" Iya-iya "
***
SMA Garuda
" Hai ae, kau sudah menyiapkan gaumm... "
" Astaga Racheel...belum Rachel, belum, oke " setelah melihat sahabatnya itu menganggukkan kepalanya, baru aeleasha lepas bungkaman tangannya pada mulut berisik itu, padahal kemarin sahabatnya itu sudah berjanji akan berhenti menanyakan pertanyaan itu lagi, tapi dasar Rachel yang suka lupa atau memang sengaja, ia pun tak tahu, " tak habis Fikri dan diluar nurul emang manusia satu ini " pikirnya,
__ADS_1