Stockholm Lover

Stockholm Lover
lover 6


__ADS_3

" Ae..Jangan ae, nanti ibu kantin marah karena kau menghabiskan semua sambalnya, ingaat...cabai mahal ae " Mendengar nasehat yang baru saja keluar dari mulut rachel, membuat aeleasha ingin sekali menyuapi sahabatnya itu semangkuk kecil sambal yang sedang ia pegang, bukannya mengkhawatirkan dirinya yang bisa saja sakit perut karena kebanyakan vitamin c, rachel malah lebih mengkhawatirkan harga cabai yang sedang melambung tinggi, " aku kaya " jawabnya sambil menunjukkan wajah songongnya, lagian siapa yang tidak kesal jika sahabatnya sendiri minus seperti itu, " pesankan aku semangkuk bakso lagi terimakasiih " lanjutnya tanpa tahu malu menyuruh sahabatnya setelah ia katai di dalam hatinya,


" Astaga manusia satu ini..nanti aezar marah ae "


" Tidak akan, percaya padaku, sana.. terimakasiih "


" Awas kau ya "


Sembari menunggu sahabatnya itu datang dengan semangkuk bakso pesanannya, aeleasha memutuskan untuk bermain game sebentar di ponselnya, rasanya sudah lama sekali ia tidak bermain game, ia tidak sempat karena minggu-minggu kemarin ia disibukkan dengan belajar untuk ujian,


Kalau kalian mengira aeleasha sedang bermain game sejenis mobile legend atau free fire, maka kalian semua salah, nyatanya saat ini gadis itu sedang sibuk membuat kue-kue cantik dengan beberapa toping yang memang sudah di sediakan oleh aplikasinya, santai dan menenangkan, tidak menegangkan dan menyulut emosi seperti game-game yang sedang naik daun itu,


satu kue berhasil aeleasha buat, dengan sigap ia ss untuk menambah koleksi kue-kue cantiknya di galeri ponselnya, bertepatan dengan itu pula, bakso pesanannya sudah sampai di hadapannya, tanpa ba-bi-bu lagi, aeleasha racik bakso yang masih mengepul itu dengan menambahkan saus, kecap dan sambal, setelah selesai, ia ambil satu sendok makan kuah panas itu untuk mengetes rasanya, setelah dirasa sudah sesuai dengan seleranya, aeleasha serbu tanpa menghiraukan kehadiran rachel yang sedari tadi merasa ngeri sendiri, membayangkan bagaimana jika dirinya yang memakan semua makanan pedas itu, sudah membuat rachel bisa merasakan mulesnya,


" Apa hubungan kalian baik-baik saja? " aeleasha refleks menghentikan suapannya begitu mendengar pertanyaan yang sangat ia hindari itu, " ...mmm biasa saja " jawabnya sambil tetap menyuapkan kuah panah beserta bulatan kenyal itu kedalam mulutnya, ia harus bersikap senatural mungkin agar rachel tidak curiga dengan perkataannya barusan,

__ADS_1


" Mungkin aku tidak bisa banyak membantumu...tapi setidaknya aku bisa menjadi pendengar yang baik untuk mengurangi sedikit beban yang kau pikul "


speechless, sepertinya sahabatnya itu peka sekali dengan perubahan di sekitarnya, buktinya aeleasha dibuat bungkam dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut yang biasanya ember itu,


".... maaf..tidak sekarang "


" Kapanpun itu..aku siap menjadi pendengar setia mu "


" Terimakasih... rachel "


Sesuai dengan isi pesan yang dikirimkan aezar tadi siang, saat ini aeleasha sedang duduk manis di sebuah bangku tepat di tengah-tengah taman belakang sekolah dengan segelas jus alpukat di tangannya, entah untuk apa ia disuruh menunggu disini, rasanya ia seperti sedang berkencan diam-diam dengan most wanted sekolah yang harus mewajibkan nya untuk bersembunyi agar tidak dikeroyok para penggemar kekasihnya,


Saat aeleasha sedang fokus mengamati semut-semut yang berjalan di bawahnya, siluet tubuh seorang laki-laki tiba-tiba muncul di hadapannya, yang mana membuatnya refleks menoleh ke arah pemilik siluet tersebut,


" Maaf membuatmu menunggu, tadi ada sesuatu yang harus aku selesaikan terlebih dahulu "

__ADS_1


" Tidak papa...aku sudah mulai terbiasa...jadi ada apa " tanyanya to the point karena ia sedang malas untuk berbasa-basi, ia juga sengaja mengatakan kata-kata yang mengandung sarkasme itu agar aezar merasa tertohok dengan ucapannya, kalau perlu ia ingin sekali menggeplak wajah tampannya saking gemasnya,


sepertinya laki-laki yang berdiri di depannya ini benar-benar sudah dibuat kicep olehnya, terbukti dari wajahnya yang kelihatan merasa bersalah itu, merasa tidak tega, akhirnya aeleasha menyuruh laki-laki itu untuk duduk di sampingnya, tak lupa juga jus alpukat miliknya ia berikan kepada laki-laki itu yang langsung di terima tanpa penolakan, " seharusnya aku yang begitu " dumelnya lirih sembari memperhatikan laki-laki yang sedang sibuk menyeruput jus alpukat pemberiannya,


" Dia teman masa kecilku.." mendengar kalimat yang keluar dari mulut aezar membuat aeleasha langsung memfokuskan kembali mata dan telinganya yang semula berkelana ke antah berantah ke arah laki-laki tersebut,


" Namanya Fiona... lebih tepatnya Fiona bae, sesuai namanya, dia keturunan Korea, ibunya yang berasal dari sana, dulu sebelum bertemu denganmu, fionalah yang selalu bermain denganku, waktu itu kebetulan rumah kami juga berdekatan, jadi tidak ada alasan bagi kami untuk tidak bermain bersama, tapi sayangnya Fiona harus pindah karena orang tua mereka bercerai, dan Fiona memutuskan untuk ikut dengan ibunya, jadi kam.."


" Maaf aezar, aku harus ke kamar mandi sebentar...perutku sakiiit " teriak aeleasha sembari berlari ke arah sekolah, ia sudah tidak kuat lagi menahan gejolak di perutnya, sebenarnya tadi perutnya baik-baik saja, tapi setelah mendengar nama Fiona, entah kenapa perutnya mulai terasa tidak nyaman, mungkin ini takdir dari tuhan agar ia tidak perlu mendengarkan lagi kisah tentang perempuan itu, lagipula telinganya juga gatal, " dasar laki-laki tidak peka " gerutunya sambil tetap berlari ke arah kamar mandi di dekat taman belakang, ia tidak jadi masuk ke dalam sekolah karena perutnya sudah tidak kuat lagi, walaupun kamar mandinya sedikit kotor, tapi itu lebih baik daripada ia sampai bocor di tengah jalan, teriakan-teriakan dari aezar yang menanyakan keadaannya ia hiraukan, lagipula mana sempat ia menjawabnya jika keadaannya saja sedang begini, " dasar tidak peka " gerutunya lagi, merasa gemas dengan tingkah laki-laki satu itu,


Sepertinya sudah lebih dari 5 menit ia duduk manis di atas closet dengan perut yang terus bergerumuh, sekarang ia menyesali keputusannya tadi untuk memperbanyak mengonsumsi vitamin c agar badmoodnya menghilang, badmoodnya memang sedikit berkurang, tapi, imbasnya ia harus rajin berkunjung ke kamar mandi,


" Haaah " Helanya lega saat berhasil keluar dari penjara yang begitu menyiksanya dengan keadaan yang bisa dibilang baik-baik saja, tapi ada sesuatu yang aneh disini, kemana laki-laki yang tadi berteriak-teriak tidak jelas sambil mengejarnya, " jangan bilang dia pulang " gumamnya lirih sembari menoleh kesana kemari mencari keberadaan laki-laki yang seharusnya masih ada disini, saat aeleasha melangkah maju, tanpa sengaja kakinya menendang sesuatu, yang mana membuatnya refleks menoleh ke arah benda tersebut, ia dibuat kaget saat melihat sebotol air menggelinding di antara kakinya, ia hampir saja berteriak histeris sambil melompat-lompat tidak jelas karena mengira itu adalah hewan yang menyeramkan, dengan sigap aeleasha ambil sebotol air yang masih di segel itu, pertanda bahwa botol air itu masih baru dan belum ada yang meminumnya,


saat ia sedang membungkuk mengambil sebotol air itu, kedua maniknya tanpa sengaja melihat secarik kertas yang tergeletak mengenaskan di dekat botol air tersebut, karena penasaran, aeleasha ambil lalu ia kibas-kibaskan sebentar, berharap debu-debu halus itu mau menyingkir dari kertas itu,

__ADS_1


" Maaf aku harus pergi, ini air untukmu, kau pasti membutuhkannya, nanti aku akan menelpon mu....dari aezar "


__ADS_2