
" Maaf aku harus pergi, ini air untukmu, kau pasti membutuhkannya, nanti aku akan menelpon mu....dari aezar " speechless, aeleasha benar-benar dibuat speechless dengan semua tulisan yang baru saja ia baca itu, rasanya ia ingin sekali mengeluarkan semua umpatan ya ia tahu kepada laki-laki pembuat surat di tangannya ini, merasa kesal, aeleasha robek-robek kertas di tangannya itu sampai menjadi bagian-bagian yang sangat kecil, kemudian ia buang ke tempat sampah yang berada didekatnya, sedangkan untuk air mineralnya, dengan senang hati ia berikan kepada orang yang lebih membutuhkan,
" Makasih neng "
" Sama-sama mang "
***
Sosok seorang laki-laki dengan seragam abu-abu nya terlihat sedang terburu-buru, terbukti dari cara berjalannya yang terkesan berlari itu, setelah beberapa meter berlari, akhirnya laki-laki itu berhenti tepat di depan sebuah pintu besar berwarna cokelat muda, bulir-bulir keringat tampak muncul di kening laki-laki tersebut, pertanda bahwa laki-laki itu telah mengerahkan seluruh kekuatannya agar bisa sampai di tempat ini, bahunya yang naik turun dengan cepat, menjadi tanda bahwa laki-laki itu sedang mencoba untuk menetralkan nafasnya, setelah merasa sedikit rileks, dengan sigap laki-laki itu memutar knop pintu lalu masuk tanpa harus repot-repot menunggu di bukakan oleh sang tuan rumah seakan-akan rumah itu adalah rumahnya sendiri,
Sunyi, hanya kesunyian yang menyambut laki-laki berseragam abu-abu itu, tapi sepertinya laki-laki itu sudah terbiasa dengan kesunyian di dalam rumah ini, terlihat dari langkah kakinya yang dengan percaya dirinya terus menuntunnya ke arah sebuah kamar yang terletak di lantai 2 bangunan bergaya Eropa klasik ini tanpa ada keraguan sama sekali,
Sebuah pintu berwarna putih dengan hiasan mahkota bunga di depannya sebagai pertanda bahwa pemilik kamar tersebut adalah seorang perempuan menjadi tujuan kedatangan laki-laki tersebut, dengan yakin, ia ketuk pelan pintu di hadapannya, setelah mendapat izin, ia masuk kemudian menutupnya kembali agar udara dingin tidak bisa menerobosnya,
__ADS_1
Sebuah pelukan hangat dari seorang gadis berambut hitam legam sepunggung langsung menyambutnya, merasa tidak enak, dengan pelan ia lepas pelukan tersebut, " tetaplah berbaring...aku akan mengambilkan makan siang mu " ucapnya sembari mengusap lembut puncak kepala yang ditutupi topi rajut berwarna cokelat tua itu, kemudian dengan sigap berbalik pergi menuju pintu yang baru saja ia tutup, tapi belum sempat kedua kakinya melangkah, langkahnya harus terhenti saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut gadis bertopi itu,
" aezar...apa kau tidak menyukainya "
"...bukan begitu...kau harus segera makan, aku sedih kalau kau tidak sembuh-sembuh, oke "
" Baiklaah~ "
***
Centang dua tapi bukan biru, pemandangan seperti itulah yang sedari tadi memenuhi layar ponselnya, sudah berulang kali aeleasha cek pesan wa terakhirnya untuk aezar, tapi lagi-lagi, ia terus saja di hempaskan oleh kenyataan yang tak sesuai dengan harapan, bahkan telpon dari laki-laki itu, bisa ia hitung dengan jari,
Angin sore yang berhembus melewati jendela kaca disebelahnya, membuat aeleasha berkali-kali dibuat menggigil kedinginan, awan gelap yang hampir menutupi seluruh cakrawala, menjadi pertanda bahwa sebentar lagi bumi akan menumpahkan tangisannya, merasa tidak kuat lagi menahan hawa dingin yang terus menusuk kulitnya, dengan sigap aeleasha tutup jendela kaca di sampingnya, Kemudian mulai fokus memperhatikan jalan di depannya, tidak ada yang bisa ia lakukan selain memperhatikan jalan, jika biasanya ia mengisi waktu luang dengan bertelepon ria bersama pria pemilik manik hitam legam, tapi sekarang tidak lagi, bahkan kini laki-laki itu sering sekali menghilang tanpa jejak, dan tanpa menghubungi nya,
__ADS_1
Perasaan muak sudah berulang kali menguasai hati dan pikirannya, tapi sekali lagi, aeleasha masih ingin percaya dan selalu berpikiran positif tentang laki-laki itu, walaupun sebenarnya pikiran-pikiran buruk sudah puluhan kali melintas di kepalanya, tapi hati kecilnya masih saja ingin percaya pada laki-laki itu, mungkin saat ini ia bisa di katakan sedang buta karena cinta, ia akan terima dengan senang hati jika ada yang mengatakan itu kepadanya,
***
Gaun berwarna hitam dengan panjang menjuntai sampai ke lantai dengan belahan samping setinggi paha menjadi pilihan aeleasha untuk menghadiri acara prom night Minggu depan, tak terasa sebentar lagi ia akan lulus dari jenjang pendidikan yang kebanyakan orang menyebutnya sebagai masa-masa paling indah dan paling berkenang, tapi, sekarang ia sedikit dibuat tidak yakin dengan kata-kata masa-masa paling indah, mengingat kondisi percintaannya yang bisa dibilang sedang tidak baik-baik saja, oke lupakan tentang cinta, sekarang ia harus memfokuskan lagi pikirannya pada gaun hitam di tangannya, ia harus mencobanya terlebih dahulu agar nanti ukurannya bisa disesuaikan dengan tubuhnya,
Aeleasha dibuat terkesima dengan tubuhnya sendiri, ia tidak menyangka bentuk tubuhnya akan sebagus ini kalau ia memakai pakaian kurang bahan, selama ini ia jarang memakainya karena merasa sedikit kurang percaya diri, tapi mungkin mulai sekarang ia akan sering-sering mencobanya, lagipula setelah lulus ia pasti akan sering disuruh menggantikan ayah atau ibunya menghadiri acara-acara besar,
ayah dan ibunya adalah seorang pengusaha di bidang fashion, mereka ialah, Kenzie devanka dan glenca Adelia, jadi jangan heran kalau ia belanja banyak baju dari toko-toko besar tapi tidak membayarnya, sudah pasti toko tersebut adalah milik kedua orang tuanya, seperti saat ini, walaupun begitu, ia tidak akan meminta pelayanan khusus, ia ingin menjadi pelanggan biasa seperti orang kebanyakan, tapi bedanya, ia mendapatkan barang-barang tersebut secara gratis,
Dengan perasaan gembira, aeleasha tenteng kantong belanja di tangannya, ukuran baju yang sangat pas ditubuhnya membuatnya tidak perlu di sesuaikan lagi, bukannya pulang, aeleasha memutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu, sedari tadi, cacing-cacing didalam perutnya sudah demo minta di isi, dan karena ia baik hati dan tidak sombong, maka ia akan menuruti permintaan cacing-cacing peliharaannya,
Sebuah restoran cepat saji menjadi pilihannya kali ini, sudah lama ia tidak memakan burger beserta antek-anteknya, ia juga rindu dengan rasa gurih disetiap hidangan yang tersaji, apalagi segelas minuman soda yang selalu berhasil menyegarkan tenggorokannya, pengunjung yang hampir memenuhi setiap meja membuat aeleasha refleks menoleh ke arah jam tangannya, ternyata ia menghabiskan waktu sekitar dua jam hanya untuk memilih gaun yang dirasa cocok untuknya, bahkan saat ia menoleh ke arah jendela, langit-langit sudah menjadi gelap, ia tidak menyadarinya karena keberadaan lampu yang begitu menyilaukan mata,
__ADS_1
Merasa bosan menunggu pesanan yang sedang dibuat, aeleasha amati orang-orang di sekitarnya sebagai cara untuk menghabiskan waktu luangnya, kebanyakan pengunjung disini adalah sekelompok remaja yang usianya mungkin hampir sama dengannya atau keluarga-keluarga kecil yang dengan riang bersenda gurau sambil menikmati hidangan di depan mereka, melihat semua itu membuat aeleasha tanpa sadar tersenyum hingga menunjukkan giginya yang putih, tapi itu semua tidak bertahan lama, senyum manisnya langsung berubah menjadi datar saat kedua manik cokelat keemasannya tanpa sengaja melihat sosok seorang laki-laki yang sangat ia kenal sedang duduk bersama seorang perempuan yang mulai hari ini ia putuskan untuk masuk kedalam daftar hitamnya,