
...***...
Acara prom night tinggal 3 hari lagi, tapi aeleasha masih saja dibuat bingung dengan siapa yang akan menjadi pasangannya, ia tidak mau mengandalkan laki-laki yang sedang tidak jelas itu sebagai pasangannya, ia benar-benar sudah muak dengan semua sikap dan omong kosongnya, ia juga tidak mau membuang-buang air matanya lagi hanya untuk menangisi pria yang sepertinya sedang mencoba untuk mengakhiri hubungan mereka,
mata bengkak dan pusing, itulah dua akibat karena ia menangisi pria itu, belum lagi ia jadi tidak berangkat sekolah karena terlalu malu menunjukkan wajahnya yang sedang mengembung itu, sahabat yang seharusnya menghiburnya malah asik menertawakan wajahnya, tapi untungnya setelah itu ia benar-benar menghiburnya, dan berkat hiburan itu, sekarang ia tidak terlalu dibuat nyesek, saat ini ia akan mencoba untuk tidak peduli dan mengabaikan laki-laki itu, laki-laki itu juga harus merasakan apa yang selama ini ia rasakan, jika biasanya ia akan mengirim banyak spam jika laki-laki itu tak kunjung menghubunginya, maka sekarang ia lebih memilih untuk diam dan mencari kesibukan lain, bahkan saat tadi pagi laki-laki itu menelponnya, dengan santainya ia tolak panggilan itu, terhitung sudah 10 kali laki-laki itu mencoba menelponnya, tapi yaah, tidak ada satu pun yang ia jawab, " rasakan itu " bangganya pada diri sendiri,
Setelah aeleasha amati, ternyata di kelasnya ada satu laki-laki yang punya wajah di atas rata-rata, walaupun tidak setampan aezar tapi lumayan untuk dijadikan partner prom night, mengesampingkan rasa malu, dengan sigap aeleasha berjalan ke arah laki-laki tersebut, jarak meja yang lumayan jauh dari mejanya membuat aeleasha tidak pernah sadar bahwa ia punya teman sekelas yang tampan seperti itu, atau sebenarnya ia sadar tapi matanya sudah terbutakan oleh aezar, entahlah..., untuk mengawali pembicaraan, dengan canggungnya aeleasha berpura-pura batuk, ia melakukan itu karena laki-laki di depannya ini sedang asik membaca sebuah buku, saat mata kami bertemu, tanpa basa basi ia langsung mengatakan niatnya, " ayo jadi pasanganku "
Was wes wos, hanya suara berisik teman-teman sekelasnya yang menjawabnya, sepertinya ia terlalu to the point, karenanya laki-laki di depan nya ini hanya menatapnya dengan pandangan aneh,
__ADS_1
" Kau sudah putus dengan aezar " Balas laki-laki yang ia tidak tahu siapa namanya itu dengan wajah datarnya, sebenarnya ia sedikit tersinggung dengan pertanyaan yang baru saja terlontar, tapi ia memakluminya karena dirinya yang membuat situasi terlihat seperti itu, ia yang sudah punya pacar tiba-tiba mengajak orang lain untuk menjadi pasangannya, pasti orang-orang juga akan mempunyai pikiran yang sama dengan laki-laki di depannya, " aku memilih untuk tidak menjawab, jadi... kau mau jadi pasanganku? " Ajaknya lagi dengan penuh harap,
" Aku tidak mau terkena masalah "
" Tidak akan, percaya padaku " balas aeleasha dengan wajah bersungguh-sungguhnya, mencoba meyakinkan laki-laki di depannya yang bername tag evandra azaria, lama-lama ia jadi gemas juga kalau telinganya tak kunjung mendengar kata setuju yang sedari tadi ia nantikan keluar dari mulut laki-laki itu, " jadiii? " Tanyanya lagi mencari kepastian,
" Tidak buruk juga "
Senyum smirk tidak bisa aeleasha tahan saat otaknya dengan sendirinya membayangkan bagaimana caranya membuat aezar cemburu, kalau kekasihnya itu bisa bermain-main dengan wanita lain, kenapa ia tidak, ia juga harus ikut bermain agar skor mereka sama,
__ADS_1
Wajah bahagianya langsung terganti dengan wajah datar saat kedua maniknya menangkap sosok laki-laki yang tidak ingin ia temui sedang bersedekap dada bersender pada pintu sambil menatapnya dengan tajam, dengan ogah-ogahan aeleasha hampiri laki-laki yang sepertinya mau mengatakan sesuatu kepadanya itu, " ada apa " tanyanya to the point dengan wajah yang sengaja ia palingkan ke samping, ia sedang malas menatap wajah tampan di depannya,
Bukannya menjawab, laki-laki itu malah menarik tangannya dan membawa nya pergi entah kemana, ia tidak terlalu peduli dan terlalu malas untuk bertanya, berpasrah adalah hal yang akan sering ia lakukan sekarang, melihat jalan dan arahnya, sepertinya aeleasha tahu ia akan di bawa kemana, sesuai dugaannya, saat ini ia sedang berada di sebuah ruangan yang mirip dengan ruangan kepala sekolah yang memang khusus di sediakan untuk laki-laki pemilik manik hitam legam itu, maklum saja, selain sekolah, seorang aezar ganindra juga harus mempelajari tentang semua seluk beluk dan bagaimana cara mengelola sekolah ini, gelar anak dan cucu satu-satunya di keluarga ganindra menjadikannya di kelilingi banyak kemewahan dan juga tanggung jawab sedari kecil, begitulah dunia, setiap orang pasti punya suka dukanya masing-masing,
" Cepatlah...aku tidak punya banyak waktu " bohong aeleasha sembari duduk di sebuah sofa panjang tanpa dipersilahkan sang pemiliknya terlebih dahulu, lagipula ia sudah sering keluar masuk ruangan ini, jadi ia tidak perlu merasa segan lagi,
Sedangkan aezar yang sedari tadi memperhatikan tingkah gadis di depannya hanya bisa menghela nafas kasar, apalagi saat mendengar kata-kata ketus yang keluar dari mulut gadis yang sedang marah itu, " Kenapa tidak menjawab teleponku " tanyanya sembari ikut duduk di samping gadis pemilik netra cokelat keemasan, saat tangannya ingin menggenggam tangan mungil yang sudah lama tidak ia genggam, tangan itu sudah terlebih dahulu menghindarinya, alhasil hanya angin yang bisa ia genggam, bukan hanya tangannya, tapi tubuh gadis itu juga ikut-ikutan menjauh darinya, melihat semua itu, membuat aezar hanya bisa memakluminya,
" kau menelpon?!...ups...sepertinya aku sibuk tadi "
__ADS_1
"...baiklah...jangan di ulangi lagi, pertanyaan kedua...kenapa tadi kau mengajak laki-laki lain menjadi pasangan prom nightmu, batalkan ajakan itu.. kau akan datang bersamaku dan kau juga yang akan menjadi pasanganku " ucap aezar sehalus mungkin, ia sedang mencoba untuk tidak menaikkan nada bicaranya walaupun sebenarnya amarah sudah hampir menguasai dirinya, mendapati kekasihnya sendiri mengajak pria lain untuk menjadi pasangannya tentu sangatlah menguji amarah sekaligus kesabarannya, tapi ia sadar ia tidak berhak marah di sini karena bisa di bilang ia duluanlah yang memulainya,
Melihat gadis di sampingnya hanya diam membuat aezar merasa sedikit bersalah, ia takut gadis itu salah paham menganggap bahwa dirinya habis memarahinya, tidak ingin ada kesalahpahaman, dengan sigap ia meminta maaf dan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, " apa kau sudah membeli gaunnya? kalau belum...ayo pergi bersama, kebetulan aku juga belum membelinya " ajaknya ceria sampai-sampai kedua lesung pipinya terlihat malu-malu untuk muncul, tapi belum sempat kedua lesung pipinya bisa menampakkan diri, senyumnya harus padam terlebih dahulu, ia dibuat tidak bisa berkutik saat mendengar kebenaran yang baru saja keluar dari mulut gadis di sampingnya, fakta bahwa sosok seorang gadis yang ia lihat tempo hari itu benar-benar gadis di sampingnya, membuat aezar tidak bisa mengelak lagi,