Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
21. Balapan


__ADS_3

 


*********


 


Dua hari berlalu tanpa terasa karena semuanya


berjalan lancar tanpa ada lagi masalah. Agra


tidak pernah membiarkan Kiran berada jauh


dari jangkauan nya untuk memastikan bahwa


istrinya itu selalu dalam perlindungan nya.


Lintang sudah di pecat dari pekerjaan nya


dan dia pun kena hukum adat, harus keluar


dari desa serta tidak boleh kembali dalam


kurun waktu yang sudah di tentukan.


Akhirnya Kiran memutuskan menjual seluruh


hasil perkebunan nya pada seorang pembeli


dari luar kota. Dan rencananya dua hari lagi


penebangan akan segera di mulai. Dia sudah


berkoordinasi penuh dengan pihak pembeli.


Rencana besar ini memerlukan persiapan yang


sangat matang di mulai dari peralatan berat,


tenaga manusia, akses jalan sampai dengan


sistem keamanan karena biasanya akan timbul


gangguan dari para pencuri yang semakin


gencar melakukan aksinya di hari penebangan.


Hari ini Moza datang menagih janji Agra untuk


mengajak nya balapan di lintasan basah yang


masih berada di daerah desa Girilaya, tepatnya


di atas bukit yang cukup terkenal karena sering


di jadikan tempat mengadakan event serupa.


"Aku akan ikut dengan mu..!"


Kiran keukeuh dengan keinginan nya untuk ikut


melihat kegiatan Agra dengan tamunya itu. Dia


menatap tajam wajah Agra yang balas menatap


nya dengan seringai senyum tipis yang tercipta


di sudut bibirnya melihat reaksi tidak suka istri


nya itu. Kelihatan jelas kalau gadis itu cemburu.


Kiran tidak akan membiarkan gadis pembalap itu


bebas berdekatan dengan suaminya karena dia


tahu pasti bahwa gadis itu sangat menyukai Agra.


Cemburu..! ya mungkin saja, Kiran tidak peduli


dengan hal itu, yang jelas saat ini hatinya tidak


akan rela untuk membiarkan suaminya itu dekat


dekat dengan wanita lain setelah dia mengetahui


perasaan Lintang pada Agra.


"Apa kau cemburu pada wanita itu.?"


Goda Agra sambil menyandarkan punggungnya


di badan mobil seraya melipat kedua tangan nya


di dada. Kiran menggeleng kuat mencoba untuk


mengingkari kenyataan.


"Tidak sama sekali, aku..aku hanya ingin tahu


saja seperti apa tempatnya.!"


Kilah Kiran dengan memalingkan wajahnya


yang bersemu merah. Agra mencoba untuk


menyembunyikan senyumnya melihat reaksi


kesal Kiran.


"Kenapa tidak jujur saja kalau kamu sangat


cemburu melihatku dengan wanita itu.!"


"Kubilang tidak ya tidak !"


"Oke..kau tidak cemburu, tapi kau tidak suka


kan melihat ku dekat dengan nya !"


"Agraa..sudah ! jadi berangkat atau tidak.?"


Kiran semakin kesal, dia menatap jengah wajah


Agra yang kini mengulum senyumnya, senyum


yang mampu membuat hati Kiran saat ini seakan


di penuhi bunga-bunga bermekaran. Keduanya


saling pandang kuat.


"Jangan cemas..dia itu bukan lah tandingan mu


Nona Kiran..kau adalah bunga sakura ku..!"


Bisik Agra di telinga Kiran sambil kemudian


melangkah kearah lain untuk berbicara dengan


Badar.


Kiran terhenyak dalam diam. Bunga Sakura.??


Tiba-tiba otak Kiran seakan berputar pada memory belasan tahun silam..Kiran menatap sosok Agra


dengan angan yang melayang-layang tidak jelas.


Dia melihat saat ini Agra sedang memberi arahan


pada Badar untuk mengawasi perkebunan selama dirinya pergi.


Kenapa kata-kata itu bisa keluar dari mulut Agra ?


Tidak.! ini adalah hal yang wajar saja. Ya..tentu.!


Semua orang bisa saja mengatakan hal yang


sama bukan.? bahkan sama persis.! ya bisa saja.


Otak Kiran terus saja berputar tidak henti.


"Bunga sakura..."


Kiran bergumam masih dalam mode bingung


sampai dia tidak menyadari saat ini Agra sudah


kembali menghampiri nya kemudian membuka


pintu mobil Range Rover yang akan di kendarainya.


"Baiklah sayang..ayo kita berangkat sekarang..!"


Ujar Agra sambil kemudian mengangkat tubuh


Kiran yang terkejut dan reflek mengalungkan


kedua tangannya di leher kokoh Agra, mata


Kiran mengunci wajah tampan kharismatik


Agra seakan mencoba mengingat sesuatu.


Agra mendudukkan Kiran di jok depan kemudian


memasangkan sabuk pengaman ke tubuh gadis


itu yang masih saja mematung dalam diam.


Sejenak Agra menatap tenang wajah bingung


Kiran, dia kembali menyunggingkan senyum


tipis penuh arti, setelah itu memutar badannya.


Tidak lama dia mulai melajukan mobilnya keluar


dari area pondok di ikuti oleh mobil Bara dan Zack


si pemimpin pasukan bayangan hitam. waktu


yang di butuhkan untuk sampai ke lokasi balapan


sekitar 30 menit.


------ ------


Tiba di tempat semua orang turun dari mobil.


Mereka semua berdiri di atas lahan terbuka yang


bisa melihat dengan jelas sirkuit balapan di bawah


nya yang terlihat cukup menantang. Sirkuit itu


terletak di atas bukit yang di kelilingi oleh tebing


curam di beberapa sisi nya dengan berbagai


macam rintangan yang cukup menjanjikan.


"Kalian pastikan semuanya aman terkendali..!"

__ADS_1


Titah Agra pada Bara dan Zack yang berdiri di


belakang nya sedang mengamati situasi.


"Kami sudah memastikan nya Tuan..! yang harus


di waspadai adalah dua tebing curam di sana.!"


Zack menunjuk kearah selatan dimana di sana


terdapat tebing yang langsung mengarah ke


lembah ngarai setinggi kurang lebih 300 kaki.


"Hemm.. baiklah..kita akan lihat usaha terakhir


mereka untuk menyingkirkan ku kali ini. !"


Gumam Agra, matanya kembali melihat dan mengamati seluruh tempat dengan instuisi


tajamnya. Tidak lama dia melangkah kembali


menuju ke dekat mobil dimana saat ini Kiran


sedang melakukan panggilan telepon karena


kebetulan di tempat ini signal bisa di temukan.


Kiran melirik sebentar kearah kedatangan Agra


memberi isyarat untuk memberinya waktu


membuat Agra terdiam. Bersamaan dengan


kedatangan rombongan Moza.


Ada beberapa pembalap teman-teman Moza


yang hampir semuanya laki-laki dan hanya ada


seorang wanita di antaranya yang datang dan


akan ikut ambil bagian pada balapan kali ini.


Selain teman-teman pembalapnya ada juga


beberapa pria sipil yang datang menemani


mereka dan seperti nya bertugas mengawal


serta mengawasi Moza.


Moza melompat turun dari mobilnya langsung menghampiri Agra seraya melempar senyum


semanis madu nya.


"Hai Tuan Agra.. senang sekali anda menepati


janji untuk bertemu di tempat ini.."


Ucap Moza seraya berjabat tangan dengan Agra


yang hanya mengangguk sedikit.


"Saya hanya penasaran saja Nona..!"


Sahut Agra sambil melihat kearah kawan-kawan pembalap Moza yang saat ini sedang menatap


terpesona kearah Kiran. Kelihatannya mereka


sangat tertarik dengan keberadaan gadis cantik


itu di tempat ini.


"Bagaimana menurut anda Tuan.. kelihatannya


cukup menantang bukan.?"


"Lumayan.. sepertinya kita perlu mencobanya


langsung.!"


"Ohh.. sepertinya anda sudah tidak sabar ya


Tuan.. kebetulan saya sudah menyiapkan


kendaraan nya untuk anda.!"


Ucap Moza seraya menunjuk kearah sebuah mobil yang memiliki level satu kelas dengan yang di


pakai oleh dirinya. Agra menatap kendaran itu


dalam diam seolah sedang menilainya.


"Baiklah.. kelihatannya cukup tangguh.!"


"Sebetulnya itu mobil kesayangan saya Tuan..


tapi demi anda , saya akan merelakan nya."


Ucap Moza dengan wajah sedikit memerah.


Agra menatap tenang wajah gadis itu hingga


dia terlihat salah tingkah.


"Baiklah..mari kita coba sekarang juga.!"


Ujar Agra sambil kemudian membuka jaket nya


yang membuat wajah Moza semakin memerah


saat melihat bentuk tubuh sempurna Agra di


Kiran mengakhiri pembicaraan nya, dia menatap


diam kearah orang-orang yang kini sudah berada


di tempat itu lalu menghampiri Agra dan Moza.


"Hai Nona Kiran..anda datang juga rupanya..!"


Sapa Moza dengan raut wajah sedikit tidak


nyaman melihat keberadaan Kiran.


"Hai juga Nona Moza.. kebetulan saya sedang


tidak begitu sibuk, jadi sekalian mencari angin


saja di tempat ini..!"


Sambut Kiran memaksakan diri tersenyum.


Agra melihat keduanya dengan tatapan datar.


Bara membantu Agra untuk memakai pakaian


safety nya. Dan semua pembalap kini bersiap


dengan semua perlengkapan pengaman nya.


Kiran berdiri di dekat Agra melihat suaminya itu


dalam diam.Mata mereka dari tadi saling menatap


tidak pernah terlepas. Perasaan Kiran saat ini


sungguh tidak nyaman, hatinya seakan berat dan


tidak rela membiarkan Agra untuk melakukan


balapan ini, apalagi setelah dia melihat lintasan


balapnya yang cukup menyeramkan.


"Apa kau yakin akan melakukan balapan ini.?"


Kiran mencoba meyakinkan kembali seraya


melihat kearah sirkuit, wajahnya terlihat sangat


ragu dan resah. Agra mendekat, Bara sedang


memasang jaket di tubuh Tuannya itu.


"Kau meragukan kemampuan ku.?"


Agra memegang kedua bahu Kiran yang kini


menatapnya berat.


"A-aku hanya khawatir saja.. tempat nya sedikit


menyeramkan."


Lirih Kiran sambil menundukkan kepalanya.


"Ini hanya balapan biasa saja, hanya untuk


bersenang-senang, kau tenang saja..!"


"Tapi.. hatiku tidak enak Agra.. sebaiknya kamu


batalkan saja ya, kita pulang sekarang..!"


"Hei..Nona Kiran..kau hanya ketakutan saja.


Ini hanya lintasan basah biasa.."


"Agraa..aku takut terjadi apa-apa padamu.."


Agra menarik tubuh Kiran ke dalam dekapannya


berusaha untuk menenangkan gadis itu yang


terlihat mulai berlebihan akan ketakutannya.


Interaksi intim mereka berdua membuat orang-


orang yang ada di tempat itu menatapnya tajam


termasuk Moza. Sorot matanya terlihat tidak


percaya dengan apa yang kini di lihatnya.


Apakah mereka.punya hubungan khusus?


Hati Moza tiba-tiba saja di selimuti hawa panas.


"Tenanglah..bukankah ada kamu di sini, tidak


akan terjadi apa-apa padaku.!"


Bisik Agra kembali menenangkan Kiran yang


kini balik memeluk erat tubuhnya.


"Aku merasa semua tempat rasanya tidak aman


lagi untuk kita berdua..!"

__ADS_1


"Aku tahu kamu masih trauma dengan semua


kejadian yang kemarin. Percayalah padaku.."


Kiran hanya bisa mengangguk pelan dan ragu.


"Kau tetap di sini, jangan kemana-mana.. ingat


jangan jauh-jauh dari Bara dan Zack oke..?!"


Tegas Agra seraya melepaskan pelukannya.


Keduanya kembali saling pandang kuat hingga


akhirnya Agra mencium lembut kening Kiran


yang memejamkan mata nya.


"Kalian jaga dia.. jangan pernah lengah.!"


Titah Agra pada dua bawahan setia nya yang


langsung mengangguk patuh.


Setelah semua persiapan selesai akhirnya rela


tidak rela Kiran harus membiarkan Agra menaiki


mobil yang sudah di siapkan oleh Moza.


Dengan hati yang masih saja gelisah Kiran


berdiri di pinggir area melihat kearah sirkuit


dimana semua pembalap saat ini sudah mulai


melajukan mobilnya menyusuri lintasan yang


di penuhi lumpur dan tanah basah.


Balapan pun kini sudah di mulai dengan laju


mobil yang masih termasuk mudah karena


hanya melintasi rintangan standar saja.


Namun setelah beberapa saat laju mobil-


mobil itu mulai naik saat memutari lintasan


bundar di sisi kanan sirkuit. Agra dan Moza


tampaknya masih berada di urutan depan.


Kiran tampak semakin khawatir saat melihat


Agra mempercepat laju mobilnya. Hatinya kini


semakin merasakan gelisah. Entah kenapa dia


memiliki firasat buruk saat ini.


"Mas Bara..!"


Kiran tidak tahan lagi saat melihat Agra mulai


melaju ke lintasan menanjak, menurun dan


memutar kembali berbelok tajam di atas


lintasan yang berlumpur tinggi.


"Iya Nona, ada yang bisa saya bantu..?"


Bara mendekat, menatap sekilas wajah resah


Nona nya itu.


"Suruh Zack untuk mendekat ke lintasan.! bawa


anak buahnya kesana.!"


Titah Kiran tiba-tiba yang membuat Bara sedikit


bingung dan menautkan alisnya.


"Tapi Nona..kita tidak bisa turun kesana, itu akan membahayakan bagi semua orang."


"Aku tidak mau tahu, ikuti mobil Agra dari jauh.


Suruh dia berhenti sekarang juga.!"


Bara semakin di buat bingung dengan perintah


Kiran yang tidak masuk akal itu.


"Nona..anda jangan khawatir, Tuan Agra itu


pembalap yang sangat handal dan profesional.


Ini hanyalah masalah sepele bagi beliau.."


"Aku tidak mau tahu, pokoknya dia harus


berhenti sekarang juga.!"


Bara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Ada apa dengan Nona nya ini, apa dia merasa


kan sesuatu yang tidak beres.?


"Nona saya rasa sebaiknya Nona menuggu di


mobil saja, mari saya antar.."


"Bara..! turuti perintah ku atau aku sendiri yang


akan turun kesana..!"


Pekik Kiran tidak tahan lagi, Bara dan Zack yang


baru saja mendekat tampak membeku di tempat,


tidak menyangka Nona nya akan semarah itu.


"Baik Nona..kami laksanakan.!"


Akhirnya Bara membungkuk lalu berbisik di


telinga Zack yang mengangguk faham. Mata


Kiran tidak berkedip melihat pergerakan mobil


Agra yang meluncur di urutan paling depan.


Seperti perintah Kiran Zack dan beberapa anak


buahnya melesat pergi menyusuri pinggiran


lintasan untuk mengikuti pergerakan mobil Agra


yang kini sudah hampir mencapai ujung sirkuit.


Namun ada sesuatu yang tidak beres, saat


Agra melajukan mobilnya menuruni bukit untuk


menuju akhir lintasan ada suara letusan kecil


beberapa kali yang membuat mobilnya oleng


dan tidak terkendali.


Dia tidak bisa menghentikan laju mobilnya


karena kini kedua ban belakang nya hancur.


Jantung Kiran berdenyut nyeri saat dia melihat


laju mobil Agra yang hanya terlihat lamat-lamat


saja meluncur deras menuruni bukit. Semua


orang yang ada di tempat itu tampak bengong


saat melihat mobil yang di kendarai oleh Agra


meluncur tidak terkendali menuju ke pinggir


tebing.


Moza dan kawan-kawan nya terlihat terkesima


saat melihat mobil Agra benar-benar tidak bisa


di hentikan meluncur kearah tebing.


"Agraa...."


Kiran menjerit histeris saat dia melihat mobil


Agra meluncur deras jatuh ke bawah tebing


curam dengan suara dentuman keras di susul


ledakan dahsyat.


Matanya membulat sempurna, tubuhnya kini


beku di tempat tidak bisa bergerak. Nyawanya


seakan tercabut dari raganya. Bara pun terlihat


syok melihat semua kejadian cepat itu, sesaat kemudian dia tersadar saat melihat tubuh Kiran


sudah tergeletak pingsan di atas rumput.


"Nona Kiran..!"


Bara segera mengangkat tubuh Kiran ke dalam


pangkuan nya di bawa ke dalam mobil di bantu


oleh bawahan Zack yang sama paniknya. Dia


mendudukkan Kiran di jok depan.Tubuh Kiran


kini bagai sebuah kapas, pucat dan lemas.


Bara meremas kepalanya, apa yang harus dia


lakukan sekarang ? mana yang harus dia tangani


lebih dulu? Wajah nya saat ini benar-benar dalam


mode bingung akut..!


 


**********

__ADS_1


 


TBC.....


__ADS_2