
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Cuaca pagi ini rasanya begitu cerah di lingkungan
istana Hadiningrat. Semua pegawai dan pelayan
bekerja dengan sepenuh hati. Kehidupan mereka
di tempat ini sangatlah nyaman dan bahagia.Tidak
ada satu hal pun yang bisa membuat mereka tidak betah berada di dalam istana ini. Walaupun kedua majikan mereka terkesan dingin dan cuek namun
soal kesejahteraan dan kesehatan para pengabdi istana ini selalu menjadi prioritas.
Hari ini Kiran memulai tugasnya sebagai seorang
istri Agra Bintang. Dari mulai menyiapkan pakaian
nya, makanan dan minumannya, sampai dengan
hal kecil lain yang berhubungan dengan suaminya tersebut yang biasanya di siapkan oleh Pak Hans ataupun Tata.
Dia sempat turun ke lantai dasar menuju dapur
mewah yang sebenarnya jarang di gunakan
karena pengolahan makanan semua di lakukan
di dapur khusus yang ada di paviliun belakang.
Lagipula selama ini Agra selalu sarapan di dalam
kamarnya ataupun bersama neneknya.
"Saya minta mulai sekarang siapkan semua
bahan makanan dan minuman di dapur ini."
Pinta Kiran pada Pak Hans dan Tata yang pagi
ini menemani Kiran berkeliling seluruh ruangan
di dalam istana utama ini. Semua ruangan yang
ada cukup membuat Kiran seolah sedang berada
di masa depan dengan sengaja kecanggihannya.
Setelah cukup berkeliling Kiran kembali lagi ke
kamar nya dengan membawa secangkir kopi
racikan nya sendiri yang dibuat khusus untuk
suami tercinta.Tiba di kamar ternyata Agra
sudah tidak ada di tempat tidur. Sepertinya
dia sedang berada di kamar mandi.
Kiran menyimpan kopi di atas meja kecil yang
ada di sudut ruangan bersamaan ponsel Agra
bergetar dan satu panggilan rahasia masuk.
Kiran menautkan alisnya melihat nomor asing
dan unik tersebut.
Dia meraih ponsel tersebut kemudian berjalan
kearah kamar mandi menekan tombol di sisi
pintu untuk berbicara dengan Agra.
"Sayang..ada panggilan masuk di ponsel mu,
apa kau akan menerimanya.?"
"Dari siapa sayang..?"
Agra terdengar menyahut dari dalam kamar mandi.
"Privat nomber sayang..".
"Angkat saja..!"
"Tapi..aku tidak berani.. siapa tahu ini penting."
"Angkat saja tidak apa-apa.."
Dengan sedikit ragu Kiran menekan tombol
hijau, jantung nya tiba-tiba saja berdetak tidak
karuan.
"Hallo... dengan siapa ini..?"
Kiran bertanya dengan suara yang lembut dan
tenang. Tidak ada sahutan dari sebrang sana.
"Hallo..mohon maaf dengan siapa ini.?"
"Apa..apa kau istrinya Hoshi.?"
Deg !
Jantung Kiran seolah bermarathon mendengar
suara yang sangat lembut dan bersahaja dengan
intonasi yang kuat tersebut. Kiran menutup mulut
nya, angan nya tiba-tiba saja melayang entah
kemana, ada semacam ketenangan yang di rasa
saat mendengar suara ini.
"Kau istrinya Agra bukan..?"
Kembali suara lembut itu bertanya membuat
Kiran mengerjap kembali pada kesadarannya.
"Benar..saya Sashikirana.. istrinya Agra.."
"Ada dimana dia sekarang..?"
"Kebetulan dia sedang ada di air. Maaf kalau
boleh tahu ini dengan siapa ? biar bisa saya
sampaikan padanya nanti.."
"Tidak perlu, senang sekali mendengar suaramu.
Sudah dulu ya nak.."
Tut Tut Tut...
Sambungan telepon itu sudah terputus. Nak.?
apa dia tidak salah dengar tadi.? suara merdu
wanita itu memanggil nya nak..
"Dari siapa sayang..?"
Kiran terlonjak kaget saat tiba-tiba Agra sudah
mengurungnya dari belakang, merengkuh tubuh
nya kedalam pelukannya yang saat ini hanya
mengenakkan handuk tipis saja.
"Seorang wanita sayang..lihat saja nomornya.
Apa kau mengenalnya.?"
Kiran memperlihatkan layar ponsel tersebut
ke dekat wajah Agra yang sedang bersandar
di bahunya. Agra menatap ponselnya tersebut,
wajahnya sedikit bereaksi, namun kemudian
datar kembali.
"Ohh..itu ibuku..!"
"Ibumu...?"
Kiran berseru dengan suara yang sangat lantang
membuat Agra berjingkat, menatap geli wajah
Kiran yang justru terlihat syok.
"Kenapa harus beraksi seperti itu sayang..?"
Desis Agra seraya menyusupkan wajahnya ke
tengkuk leher Kiran kemudian menghirup aroma
wangi menenangkan yang menguar dari tubuh
istrinya itu yang sangat di sukainya. Kiran masih
terdiam dengan pikirannya.
"Eyang akan menceritakan tentang kehidupan
ku selengkapnya padamu, sekarang aku harus
segera bersiap, ayo.. jalankan peranmu sebagai
ratuku sekarang juga.."
Agra mengecup lembut bibir Kiran kemudian
menarik tangan nya di bawa masuk ke dalam
walk in closet yang berada di sebelah kanan
ruangan di samping kamar mandi dan sebenar
nya terhubung langsung dengan kamar mandi.
"Apa mereka tinggal terpisah dengan mu..?"
Kiran bertanya seraya memakaikan kemeja
ke tubuh gagah suaminya itu yang kini dalam
keadaan polos dan cukup membuat Kiran
panas dingin saat melihatnya apalagi sekarang
dia harus menyentuhnya.
"Hemm...sudah 13 tahun aku terpisah dengan
mereka, aku lebih memilih tinggal bersama
Eyang..!"
Kiran terdiam, tidak percaya mendengarnya.
Agra menatap lekat wajah Kiran yang tertunduk.
"Rencana nya lusa aku akan membawamu pada
mereka. Kau harus mengenal mereka. !"
Kiran mendongak, wajahnya tampak sedikit
tegang, ada ketakutan tersendiri dalam hatinya.
"Tidak ada yang perlu di takutkan.. bukankah
aku ada di sampingmu.?"
Agra mengelus lembut wajah Kiran sangat
faham apa yang ada dalam pikiran istrinya itu.
Kiran tersenyum lembut seraya mengangguk.
Dia kembali merapihkan pakaian yang kini
sudah membalut tubuh Agra dengan sedikit
tegang karena tatapan Agra tidak pernah
lepas dari wajahnya.
"Hei..kenapa kau gugup sekali ? mulai sekarang
kau harus terbiasa melihat tubuhku ini. Bukan
kah semuanya adalah milikmu.?"
Wajah Kiran langsung memerah membuat
hasrat Agra langsung naik. Sayang sekali ada
hal penting yang harus dia urus di kantor, kalau
tidak dia pasti sudah membawa istrinya itu ke
tempat tidur. Tidak apa masih banyak waktu.
Agra mengangkat dagu indah Kiran, keduanya
__ADS_1
saling menatap. Dalam sekali gerakan Agra
menyergap bibir ranum Kiran, **********
rakus, dan untuk beberapa saat keduanya
larut dalam ciuman yang manis dan hangat.
Tangan nakal Agra berada di kedua bukit
kembar Kiran yang menjadi tempat pavorite
nya, meremas dan memilin nya kuat hingga
Kiran menggelinjang tidak tahan.
Kiran segera melepaskan diri sebelum semua
berlanjut ke hal yang lebih ekstrim karena kini
tubuh mereka sudah memanas kembali. Dia
segera menyelesaikan sisa tugas nya dengan
memasang dasi di leher suaminya itu yang
tiada henti memandang nya seolah tiada
bosan melakukannya, sungguh risih.!
"Apa kau tidak bosan menatapku terus.?"
Kiran merasa gerah dengan tatapan Agra yang
terus saja mengunci wajahnya.
"Apa kau tidak suka aku melakukan nya.?"
Agra menautkan alisnya tidak suka. Kiran
tersenyum lembut, menatap balik wajah Agra
yang terlihat begitu segar dan bercahaya.
"Tentu saja aku suka. Aku hanya malu di tatap
oleh pria setampan kamu.."
Agra langsung saja tertawa geli, dia merengkuh
tubuh Kiran ke dalam pelukannya. Kiran terdiam
menyandarkan wajahnya di dada bidang suami
nya itu.
"Sejak kapan kamu jadi pandai menggombal
seperti ini sayang.."
"Sejak aku sadar kalau kau begitu tampan."
"Bukankah sejak pertama kali kita bertemu pun
aku sudah tampan..!"
"Iya kau memang tampan..hanya saja sedikit
menyeramkan.."
Agra melonggarkan pelukannya, keduanya kini
saling pandang lekat.
"Tapi tetap terlihat keren kan.."
"Tentu saja.. apapun gaya mu dan apapun yang melekat pada tubuh mu tidak akan pernah bisa
mengurangi pesonamu..!"
Cup !
Agra kembali mendaratkan ciuman lembut
di bibir merah basah Kiran yang langsung
memundurkan dirinya dengan mendelik kesal.
"Oya..ngomong-ngomong..darimana kamu tahu
kalau aku pergi ke perkebunan itu ?"
Kiran baru menyadari sesuatu saat ini. Dia
bahkan belum sempat membicarakan hal ini
dengan suaminya itu. Agra tampak merapihkan kembali dasi dan jas nya.
"Ayahmu menjual perkebunan itu padaku. Tepat sebelum kamu pergi kesana..!"
"Apa menjualnya..?"
Kiran berseru terkejut. Agra menatap tenang
wajah Kiran yang kini memucat. Dia meraup
wajah cantik istrinya itu.
"Iya..dia meminta izin padaku untuk membiarkan
dirimu pergi ke perkebunan itu. Dia bahkan tidak
menyadari sudah mengirim mu ke kandang singa.
Dan mana mungkin aku membiarkan dirimu
dalam kesulitan..!"
Kiran menatap Agra masih berusaha mencerna
semua informasi yang di dengarnya. Semuanya
sudah jelas sekarang.
"Kau melakukan penyamaran itu hanya demi
aku.? Aku bahkan tidak ada hubungannya
lagi dengan perkebunan itu.!"
"Kau salah, perkebunan itu memang milikmu."
Kiran menatap Agra tidak mengerti.
"Aku membalikan kepemilikan perkebunan itu
semua atas namamu. Termasuk uang hasil
panen kemarin sudah aku masukan semua ke
akun mu..! kau hanya tidak pernah mengecek nya."
semua yang di dengarnya. Jadi ayah nya sudah
menjual perkebunan itu pada Agra sebelum dia
memaksa pergi kesana.
"Kenapa kamu tidak pernah mengatakan nya?
Ayah juga menyembunyikan semua ini.!"
"Untuk apa aku mengatakan nya, bukan kah
itu semua memang milikmu.?"
Kiran menarik napas panjang, menggengam
tangan Agra kemudian mencium nya.
"Kau sudah melakukan banyak hal untuk ku
dan keluarga ku, tapi aku tidak pernah sadar
dengan semua pengorbanan mu..!"
"Itu bukanlah apa-apa.. Dirimu lebih berharga
dari apapun yang kumiliki.."
"Maaf kalau aku sudah sering mengecewakan
mu selama ini, aku sungguh malu."
"Ssttt.. jangan bicara lagi sayang..Apa yang
aku miliki sekarang itu adalah milik mu juga."
Kiran tidak tahan lagi dia memeluk erat tubuh
Agra yang membalasnya dengan lebih erat.
"Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah..
jadilah ratu yang berbahagia di istanaku ini.
Kau hanya harus tinggal di rumah, menemani
masa tua Eyang..memberikan keturunan yang
berharga untuk ku, tetap berada di dekatku.!"
Keduanya terdiam saling memeluk dan meresapi
segala isi hati yang saat ini seakan membuncah
di penuhi oleh kebahagiaan dan bunga cinta.
******* ******
Setelah mengantar Agra sampai ke pintu depan
istana dan memastikan suaminya itu pergi dengan
damai, tugas Kiran kini adalah pergi ke paviliun
tengah . Hari ini dia akan di perkenalkan kepada
seluruh pelayan dan pegawai istana itu.
Saat ini semua pelayan dan pekerja sudah berada
di aula utama paviliun tengah yang terlihat seperti
sebuah ballroom dengan bentuk bangunan bundar
dan beratap seperti kubah berornamen emas yang
di hiasi ukiran indah di setiap sisi ruangan nya,
terlihat sangat mewah dan megah.
Para pelayan memang sudah banyak yang tahu
tentang Kiran, hanya saja belum di perkenalkan
secara resmi. Nyonya Ambar sudah ada di ruang
itu, tengah duduk di kursi utama yang ada di atas
podium di depan semua pegawai yang sudah
berbaris rapi di hadapannya dengan menunduk
hormat. Hari ini mereka semua berseragam rapi
khas istana Hadiningrat.
Para pegawai tampak melirik ragu-ragu kearah
pintu masuk saat Kiran muncul di sana bersama
dengan Pak Hans dan Tata. Mata para pegawai
tampak terkesima melihat penampilan Nona
Muda Hadiningrat tersebut. Saat ini Kiran tampak
mengenakan gaun cantik di bawah lutut bermotif
lembut dengan warga gaun yang soft sangat
cocok berpadu dengan kulitnya yang bening bak porselen. Wajahnya di poles ringan, rambutnya
di gulung manis menambah kesan menggemaskan.
Eyang Putri hanya tersenyum tenang melihat
bagaimana pandangan terpesona dari para
pegawai nya. Mau bagaimana lagi, jangankan
mereka dirinya pun saat ini sama terpesonanya
hanya saja dia bersikap tenang dan wajar.
Kiran menghampiri Eyang putri dengan tak lupa
memberikan senyum lembutnya, lalu meraih
punggung tangan nenek mertuanya itu kemudian
mengecupnya lembut.
"Kalian.. semua tentu sudah banyak yang tahu
siapa dia. Tapi aku tetap akan memperkenalkan
nya secara resmi..!"
__ADS_1
Nyonya Ambar mulai berbicara seraya berdiri,
membagi pandangan pada seluruh pegawainya
yang berjumlah sekitar 120 orang itu. Semua
tampak menunduk dalam, mendengarkan
dengan seksama setiap kata yang keluar dari
mulut Nyonya Besar nya.
"Dia adalah Evanindhia Sashikirana.. putri dari
Tuan Zein Mahesa. Istri sah cucuku Bimantara
Agra Bintang Hadiningrat..Dan sekarang secara
resmi, aku memberi gelar kehormatan padanya
sebagai Nona Muda Hadiningrat..!"
"Selamat Nona Kiran.. selamat atas gelarnya
sebaga Nona Muda Hadiningrat..!"
Serempak semua pegawai sambil membungkuk
bersamaan hingga menimbulkan suara gaduh,
riuh rendah karena mereka saling berbisik dengan kawannya. Kiran yang berdiri di samping Eyang
putri tampak melirik cepat kearah Nyonya Ambar
yang juga meliriknya. Matanya kini berkaca-kaca,
dia benar-benar tidak menduga akan secepat
ini di terima oleh Eyang putri dan menyandang
gelar sebagai Nona muda keluarga terhormat
ini, bahkan mimpi pun dia tidak pernah.
Eyang putri menggengam tangan Kiran seraya
menatap lembut wajah cantik menantunya itu.
"Kau pantas mendapatkannya.. cucuku..!"
"Terimakasih banyak eyang..ini adalah sebuah
kehormatan besar bagi Kiran bisa mendapatkan
pengakuan sekaligus menerima semua ini...!"
Lirih Kiran seraya membungkuk dalam di depan
Nyonya Ambar dengan gestur yang sangat luwes
dan anggun. Eyang putri tersenyum seraya meraih
bahu Kiran lalu mengelus wajahnya.
"Aku sudah mendapatkan putriku kembali.."
Lirihnya pelan, Kiran terdiam, ada nada berat dan
sakit yang tertangkap dari ucapan eyang putri
barusan, tapi dia tidak bisa menafsirkannya.
"Sekarang.. setelah dia masuk ke dalam keluarga
ini, untuk pertama kalinya dia akan melakukan
tradisi berikutnya..!"
Kiran nampak sedikit terkejut mendengar kata
tradisi lagi-lagi di ucapkan eyang putri. Sedang
Eyang putri hanya tersenyum tenang seakan
puas sudah membuat Kiran tegang.
"Dia akan membuatkan satu menu makanan
dan satu minuman yang bisa di cicipi oleh
semua orang yang ada di rumah ini..!"
Ujar Nyonya Ambar kemudian yang di sambut
tepuk tangan meriah para pegawai namun di
respon Kiran dengan menganga tidak percaya.
Membuatkan makanan dan minuman untuk
ratusan orang..? yang benar saja Eyang..!!
------ ------
Akhirnya Kiran menjalani tradisi lagi...
Dia memutuskan untuk membuat sebuah menu
makanan yang bisa di buat tanpa terlalu ribet
namun rasanya bisa masuk di lidah setiap orang.
Dia membuat puding beras susu.. juga sebuah
minuman dingin yang terbuat dari 4 bahan yang
di olah dalam sebuah mesin mix besar dengan
tampilan yang sangat menarik tidak kalah dari
minuman mahal yang ada di resto mewah.
Dia di bantu oleh para pelayan bagian dapur
dalam pengolahannya, tanpa ikut campur urusan
bahan dan menu nya, benar-benar hanya urusan
tenaga saja, bahkan para koki pun hanya berperan
sebagai asisten Kiran saja.
Semua selesai setelah sholat Dzuhur. Dan menu
tersebut menjadi sajian spesial bagi para pegawai
saat mereka baru saja selesai menjalankan sholat
dzuhur berjamaah di mesjid istana. Makanan dan
minuman itu sengaja di hidangkan di depan pintu
mesjid, mereka semua tampak mengantri untuk
mengambil bagian nya masing-masing.
Dan respon dari para pegawai sungguh luar biasa.
Tidak ada yang tidak ketagihan pada kedua menu
tersebut hingga banyak dari mereka mengambil
kembali dan menikmatinya penuh kepuasan.
Kiran mendapat nilai 100 dari para pegawai.
Sore hari yang cerah...
Kiran menghampiri Eyang putri yang sedang
duduk santai di gazebo yang ada di tengah
kolam ikan sambil memberi makan ikan-ikan
kesayangannya.
Dengan hati-hati Kiran menyimpan nampan
berisi puding beras yang tadi telah di buatnya
bersama secangkir teh hijau di atas meja bulat
yang terbuat dari kayu di hadapan Eyang putri.
"Selamat sore Eyang.."
Sapa Kiran karena melihat neneknya itu tampak
sedang larut dalam lamunannya. Tatapannya
terlihat kosong menerawang jauh. Eyang putri
sedikit terkejut, dia melirik kearah Kiran yang
duduk bersimpuh di hadapan nya, dia tersenyum
di paksakan. Ada tanda tanya besar dalam hati
Kiran saat melihat sorot mata hampa Eyang putri.
"Eyang.. cobalah cicipi ini. Yang lain semuanya
sudah mencobanya.."
Kiran mencoba mencairkan suasana. Dia meraih
mangkuk berisi puding beras tadi kemudian
menggeser duduknya lebih maju ke hadapan
Eyang putri, lalu menyendok puding tersebut di
dekatkan ke mulut Eyang putri yang terlihat
menatapnya tenang dengan senyum bahagia.
Eyang putri menerima suapan dari Kiran.
"Emm.. ini enak sekali.! kau belajar dimana cara
membuat puding ini.?"
"Ibu yang mengajarkan semuanya."
Sahut Kiran dengan wajah cerah berbinar.
"Dia ibu yang sangat beruntung. Bisa memberikan
semua ilmu yang di milikinya kepada putrinya.."
Lirih Eyang putri dengan nada yang kembali
terdengar begitu berat. Kiran menatap teduh
wajah tua nenek nya itu kemudian kembali
menyuapinya hingga semangkuk puding tadi
tandas tak bersisa. Dia memberikan cangkir
berisi teh hijau buatannya yang langsung di
seruput penuh nikmat oleh Eyang putri.
"Eyang..mohon maaf sebelum nya..apa Kiran
boleh tahu tentang detail kehidupan Tuan Agra
selengkapnya..?"
Kiran bertanya dengan hati-hati seraya menerima
kembali cangkir yang sudah kosong. Eyang putri
tampak menarik napas panjang, menatap wajah
Kiran penuh ketenangan.
"Kau memang perlu mengetahuinya.. Baiklah..
Aku akan menceritakan singkat nya saja..!"
Kiran menggeser duduknya, bersiap mendengar
apa yang akan di tuturkan oleh neneknya itu.
Nyonya Ambar kembali menarik napas berat.
Dia meraih sebuah album fhoto yang ada di
bawah meja. Kemudian menyodorkan nya ke
depan Kiran yang tampak ragu menerimanya.
Namun akhirnya dia membuka nya juga..
Matanya tampak terpaku pada sebuah fhoto
pasangan pengantin yang memakai pakaian
adat negeri sakura...
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....
Jangan cuma baca gaiss... berikan juga like
& koment nya yaa...😁😘
__ADS_1
Bantu vote juga, oke...👍🙏