Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
50. Nona Muda Hadiningrat


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Cuaca pagi ini rasanya begitu cerah di lingkungan


istana Hadiningrat. Semua pegawai dan pelayan


bekerja dengan sepenuh hati. Kehidupan mereka


di tempat ini sangatlah nyaman dan bahagia.Tidak


ada satu hal pun yang bisa membuat mereka tidak betah berada di dalam istana ini. Walaupun kedua majikan mereka terkesan dingin dan cuek namun


soal kesejahteraan dan kesehatan para pengabdi istana ini selalu menjadi prioritas.


Hari ini Kiran memulai tugasnya sebagai seorang


istri Agra Bintang. Dari mulai menyiapkan pakaian


nya, makanan dan minumannya, sampai dengan


hal kecil lain yang berhubungan dengan suaminya tersebut yang biasanya di siapkan oleh Pak Hans ataupun Tata.


Dia sempat turun ke lantai dasar menuju dapur


mewah yang sebenarnya jarang di gunakan


karena pengolahan makanan semua di lakukan


di dapur khusus yang ada di paviliun belakang.


Lagipula selama ini Agra selalu sarapan di dalam


kamarnya ataupun bersama neneknya.


"Saya minta mulai sekarang siapkan semua


bahan makanan dan minuman di dapur ini."


Pinta Kiran pada Pak Hans dan Tata yang pagi


ini menemani Kiran berkeliling seluruh ruangan


di dalam istana utama ini. Semua ruangan yang


ada cukup membuat Kiran seolah sedang berada


di masa depan dengan sengaja kecanggihannya.


Setelah cukup berkeliling Kiran kembali lagi ke


kamar nya dengan membawa secangkir kopi


racikan nya sendiri yang dibuat khusus untuk


suami tercinta.Tiba di kamar ternyata Agra


sudah tidak ada di tempat tidur. Sepertinya


dia sedang berada di kamar mandi.


Kiran menyimpan kopi di atas meja kecil yang


ada di sudut ruangan bersamaan ponsel Agra


bergetar dan satu panggilan rahasia masuk.


Kiran menautkan alisnya melihat nomor asing


dan unik tersebut.


Dia meraih ponsel tersebut kemudian berjalan


kearah kamar mandi menekan tombol di sisi


pintu untuk berbicara dengan Agra.


"Sayang..ada panggilan masuk di ponsel mu,


apa kau akan menerimanya.?"


"Dari siapa sayang..?"


Agra terdengar menyahut dari dalam kamar mandi.


"Privat nomber sayang..".


"Angkat saja..!"


"Tapi..aku tidak berani.. siapa tahu ini penting."


"Angkat saja tidak apa-apa.."


Dengan sedikit ragu Kiran menekan tombol


hijau, jantung nya tiba-tiba saja berdetak tidak


karuan.


"Hallo... dengan siapa ini..?"


Kiran bertanya dengan suara yang lembut dan


tenang. Tidak ada sahutan dari sebrang sana.


"Hallo..mohon maaf dengan siapa ini.?"


"Apa..apa kau istrinya Hoshi.?"


Deg !


Jantung Kiran seolah bermarathon mendengar


suara yang sangat lembut dan bersahaja dengan


intonasi yang kuat tersebut. Kiran menutup mulut


nya, angan nya tiba-tiba saja melayang entah


kemana, ada semacam ketenangan yang di rasa


saat mendengar suara ini.


"Kau istrinya Agra bukan..?"


Kembali suara lembut itu bertanya membuat


Kiran mengerjap kembali pada kesadarannya.


"Benar..saya Sashikirana.. istrinya Agra.."


"Ada dimana dia sekarang..?"


"Kebetulan dia sedang ada di air. Maaf kalau


boleh tahu ini dengan siapa ? biar bisa saya


sampaikan padanya nanti.."


"Tidak perlu, senang sekali mendengar suaramu.


Sudah dulu ya nak.."


Tut Tut Tut...


Sambungan telepon itu sudah terputus. Nak.?


apa dia tidak salah dengar tadi.? suara merdu


wanita itu memanggil nya nak..


"Dari siapa sayang..?"


Kiran terlonjak kaget saat tiba-tiba Agra sudah


mengurungnya dari belakang, merengkuh tubuh


nya kedalam pelukannya yang saat ini hanya


mengenakkan handuk tipis saja.


"Seorang wanita sayang..lihat saja nomornya.


Apa kau mengenalnya.?"


Kiran memperlihatkan layar ponsel tersebut


ke dekat wajah Agra yang sedang bersandar


di bahunya. Agra menatap ponselnya tersebut,


wajahnya sedikit bereaksi, namun kemudian


datar kembali.


"Ohh..itu ibuku..!"


"Ibumu...?"


Kiran berseru dengan suara yang sangat lantang


membuat Agra berjingkat, menatap geli wajah


Kiran yang justru terlihat syok.


"Kenapa harus beraksi seperti itu sayang..?"


Desis Agra seraya menyusupkan wajahnya ke


tengkuk leher Kiran kemudian menghirup aroma


wangi menenangkan yang menguar dari tubuh


istrinya itu yang sangat di sukainya. Kiran masih


terdiam dengan pikirannya.


"Eyang akan menceritakan tentang kehidupan


ku selengkapnya padamu, sekarang aku harus


segera bersiap, ayo.. jalankan peranmu sebagai


ratuku sekarang juga.."


Agra mengecup lembut bibir Kiran kemudian


menarik tangan nya di bawa masuk ke dalam


walk in closet yang berada di sebelah kanan


ruangan di samping kamar mandi dan sebenar


nya terhubung langsung dengan kamar mandi.


"Apa mereka tinggal terpisah dengan mu..?"


Kiran bertanya seraya memakaikan kemeja


ke tubuh gagah suaminya itu yang kini dalam


keadaan polos dan cukup membuat Kiran


panas dingin saat melihatnya apalagi sekarang


dia harus menyentuhnya.


"Hemm...sudah 13 tahun aku terpisah dengan


mereka, aku lebih memilih tinggal bersama


Eyang..!"


Kiran terdiam, tidak percaya mendengarnya.


Agra menatap lekat wajah Kiran yang tertunduk.


"Rencana nya lusa aku akan membawamu pada


mereka. Kau harus mengenal mereka. !"


Kiran mendongak, wajahnya tampak sedikit


tegang, ada ketakutan tersendiri dalam hatinya.


"Tidak ada yang perlu di takutkan.. bukankah


aku ada di sampingmu.?"


Agra mengelus lembut wajah Kiran sangat


faham apa yang ada dalam pikiran istrinya itu.


Kiran tersenyum lembut seraya mengangguk.


Dia kembali merapihkan pakaian yang kini


sudah membalut tubuh Agra dengan sedikit


tegang karena tatapan Agra tidak pernah


lepas dari wajahnya.


"Hei..kenapa kau gugup sekali ? mulai sekarang


kau harus terbiasa melihat tubuhku ini. Bukan


kah semuanya adalah milikmu.?"


Wajah Kiran langsung memerah membuat


hasrat Agra langsung naik. Sayang sekali ada


hal penting yang harus dia urus di kantor, kalau


tidak dia pasti sudah membawa istrinya itu ke


tempat tidur. Tidak apa masih banyak waktu.


Agra mengangkat dagu indah Kiran, keduanya

__ADS_1


saling menatap. Dalam sekali gerakan Agra


menyergap bibir ranum Kiran, **********


rakus, dan untuk beberapa saat keduanya


larut dalam ciuman yang manis dan hangat.


Tangan nakal Agra berada di kedua bukit


kembar Kiran yang menjadi tempat pavorite


nya, meremas dan memilin nya kuat hingga


Kiran menggelinjang tidak tahan.


Kiran segera melepaskan diri sebelum semua


berlanjut ke hal yang lebih ekstrim karena kini


tubuh mereka sudah memanas kembali. Dia


segera menyelesaikan sisa tugas nya dengan


memasang dasi di leher suaminya itu yang


tiada henti memandang nya seolah tiada


bosan melakukannya, sungguh risih.!


"Apa kau tidak bosan menatapku terus.?"


Kiran merasa gerah dengan tatapan Agra yang


terus saja mengunci wajahnya.


"Apa kau tidak suka aku melakukan nya.?"


Agra menautkan alisnya tidak suka. Kiran


tersenyum lembut, menatap balik wajah Agra


yang terlihat begitu segar dan bercahaya.


"Tentu saja aku suka. Aku hanya malu di tatap


oleh pria setampan kamu.."


Agra langsung saja tertawa geli, dia merengkuh


tubuh Kiran ke dalam pelukannya. Kiran terdiam


menyandarkan wajahnya di dada bidang suami


nya itu.


"Sejak kapan kamu jadi pandai menggombal


seperti ini sayang.."


"Sejak aku sadar kalau kau begitu tampan."


"Bukankah sejak pertama kali kita bertemu pun


aku sudah tampan..!"


"Iya kau memang tampan..hanya saja sedikit


menyeramkan.."


Agra melonggarkan pelukannya, keduanya kini


saling pandang lekat.


"Tapi tetap terlihat keren kan.."


"Tentu saja.. apapun gaya mu dan apapun yang melekat pada tubuh mu tidak akan pernah bisa


mengurangi pesonamu..!"


Cup !


Agra kembali mendaratkan ciuman lembut


di bibir merah basah Kiran yang langsung


memundurkan dirinya dengan mendelik kesal.


"Oya..ngomong-ngomong..darimana kamu tahu


kalau aku pergi ke perkebunan itu ?"


Kiran baru menyadari sesuatu saat ini. Dia


bahkan belum sempat membicarakan hal ini


dengan suaminya itu. Agra tampak merapihkan kembali dasi dan jas nya.


"Ayahmu menjual perkebunan itu padaku. Tepat sebelum kamu pergi kesana..!"


"Apa menjualnya..?"


Kiran berseru terkejut. Agra menatap tenang


wajah Kiran yang kini memucat. Dia meraup


wajah cantik istrinya itu.


"Iya..dia meminta izin padaku untuk membiarkan


dirimu pergi ke perkebunan itu. Dia bahkan tidak


menyadari sudah mengirim mu ke kandang singa.


Dan mana mungkin aku membiarkan dirimu


dalam kesulitan..!"


Kiran menatap Agra masih berusaha mencerna


semua informasi yang di dengarnya. Semuanya


sudah jelas sekarang.


"Kau melakukan penyamaran itu hanya demi


aku.? Aku bahkan tidak ada hubungannya


lagi dengan perkebunan itu.!"


"Kau salah, perkebunan itu memang milikmu."


Kiran menatap Agra tidak mengerti.


"Aku membalikan kepemilikan perkebunan itu


semua atas namamu. Termasuk uang hasil


panen kemarin sudah aku masukan semua ke


akun mu..! kau hanya tidak pernah mengecek nya."


semua yang di dengarnya. Jadi ayah nya sudah


menjual perkebunan itu pada Agra sebelum dia


memaksa pergi kesana.


"Kenapa kamu tidak pernah mengatakan nya?


Ayah juga menyembunyikan semua ini.!"


"Untuk apa aku mengatakan nya, bukan kah


itu semua memang milikmu.?"


Kiran menarik napas panjang, menggengam


tangan Agra kemudian mencium nya.


"Kau sudah melakukan banyak hal untuk ku


dan keluarga ku, tapi aku tidak pernah sadar


dengan semua pengorbanan mu..!"


"Itu bukanlah apa-apa.. Dirimu lebih berharga


dari apapun yang kumiliki.."


"Maaf kalau aku sudah sering mengecewakan


mu selama ini, aku sungguh malu."


"Ssttt.. jangan bicara lagi sayang..Apa yang


aku miliki sekarang itu adalah milik mu juga."


Kiran tidak tahan lagi dia memeluk erat tubuh


Agra yang membalasnya dengan lebih erat.


"Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah..


jadilah ratu yang berbahagia di istanaku ini.


Kau hanya harus tinggal di rumah, menemani


masa tua Eyang..memberikan keturunan yang


berharga untuk ku, tetap berada di dekatku.!"


Keduanya terdiam saling memeluk dan meresapi


segala isi hati yang saat ini seakan membuncah


di penuhi oleh kebahagiaan dan bunga cinta.


******* ******


Setelah mengantar Agra sampai ke pintu depan


istana dan memastikan suaminya itu pergi dengan


damai, tugas Kiran kini adalah pergi ke paviliun


tengah . Hari ini dia akan di perkenalkan kepada


seluruh pelayan dan pegawai istana itu.


Saat ini semua pelayan dan pekerja sudah berada


di aula utama paviliun tengah yang terlihat seperti


sebuah ballroom dengan bentuk bangunan bundar


dan beratap seperti kubah berornamen emas yang


di hiasi ukiran indah di setiap sisi ruangan nya,


terlihat sangat mewah dan megah.


Para pelayan memang sudah banyak yang tahu


tentang Kiran, hanya saja belum di perkenalkan


secara resmi. Nyonya Ambar sudah ada di ruang


itu, tengah duduk di kursi utama yang ada di atas


podium di depan semua pegawai yang sudah


berbaris rapi di hadapannya dengan menunduk


hormat. Hari ini mereka semua berseragam rapi


khas istana Hadiningrat.


Para pegawai tampak melirik ragu-ragu kearah


pintu masuk saat Kiran muncul di sana bersama


dengan Pak Hans dan Tata. Mata para pegawai


tampak terkesima melihat penampilan Nona


Muda Hadiningrat tersebut. Saat ini Kiran tampak


mengenakan gaun cantik di bawah lutut bermotif


lembut dengan warga gaun yang soft sangat


cocok berpadu dengan kulitnya yang bening bak porselen. Wajahnya di poles ringan, rambutnya


di gulung manis menambah kesan menggemaskan.


Eyang Putri hanya tersenyum tenang melihat


bagaimana pandangan terpesona dari para


pegawai nya. Mau bagaimana lagi, jangankan


mereka dirinya pun saat ini sama terpesonanya


hanya saja dia bersikap tenang dan wajar.


Kiran menghampiri Eyang putri dengan tak lupa


memberikan senyum lembutnya, lalu meraih


punggung tangan nenek mertuanya itu kemudian


mengecupnya lembut.


"Kalian.. semua tentu sudah banyak yang tahu


siapa dia. Tapi aku tetap akan memperkenalkan


nya secara resmi..!"

__ADS_1


Nyonya Ambar mulai berbicara seraya berdiri,


membagi pandangan pada seluruh pegawainya


yang berjumlah sekitar 120 orang itu. Semua


tampak menunduk dalam, mendengarkan


dengan seksama setiap kata yang keluar dari


mulut Nyonya Besar nya.


"Dia adalah Evanindhia Sashikirana.. putri dari


Tuan Zein Mahesa. Istri sah cucuku Bimantara


Agra Bintang Hadiningrat..Dan sekarang secara


resmi, aku memberi gelar kehormatan padanya


sebagai Nona Muda Hadiningrat..!"


"Selamat Nona Kiran.. selamat atas gelarnya


sebaga Nona Muda Hadiningrat..!"


Serempak semua pegawai sambil membungkuk


bersamaan hingga menimbulkan suara gaduh,


riuh rendah karena mereka saling berbisik dengan kawannya. Kiran yang berdiri di samping Eyang


putri tampak melirik cepat kearah Nyonya Ambar


yang juga meliriknya. Matanya kini berkaca-kaca,


dia benar-benar tidak menduga akan secepat


ini di terima oleh Eyang putri dan menyandang


gelar sebagai Nona muda keluarga terhormat


ini, bahkan mimpi pun dia tidak pernah.


Eyang putri menggengam tangan Kiran seraya


menatap lembut wajah cantik menantunya itu.


"Kau pantas mendapatkannya.. cucuku..!"


"Terimakasih banyak eyang..ini adalah sebuah


kehormatan besar bagi Kiran bisa mendapatkan


pengakuan sekaligus menerima semua ini...!"


Lirih Kiran seraya membungkuk dalam di depan


Nyonya Ambar dengan gestur yang sangat luwes


dan anggun. Eyang putri tersenyum seraya meraih


bahu Kiran lalu mengelus wajahnya.


"Aku sudah mendapatkan putriku kembali.."


Lirihnya pelan, Kiran terdiam, ada nada berat dan


sakit yang tertangkap dari ucapan eyang putri


barusan, tapi dia tidak bisa menafsirkannya.


"Sekarang.. setelah dia masuk ke dalam keluarga


ini, untuk pertama kalinya dia akan melakukan


tradisi berikutnya..!"


Kiran nampak sedikit terkejut mendengar kata


tradisi lagi-lagi di ucapkan eyang putri. Sedang


Eyang putri hanya tersenyum tenang seakan


puas sudah membuat Kiran tegang.


"Dia akan membuatkan satu menu makanan


dan satu minuman yang bisa di cicipi oleh


semua orang yang ada di rumah ini..!"


Ujar Nyonya Ambar kemudian yang di sambut


tepuk tangan meriah para pegawai namun di


respon Kiran dengan menganga tidak percaya.


Membuatkan makanan dan minuman untuk


ratusan orang..? yang benar saja Eyang..!!


------ ------


Akhirnya Kiran menjalani tradisi lagi...


Dia memutuskan untuk membuat sebuah menu


makanan yang bisa di buat tanpa terlalu ribet


namun rasanya bisa masuk di lidah setiap orang.


Dia membuat puding beras susu.. juga sebuah


minuman dingin yang terbuat dari 4 bahan yang


di olah dalam sebuah mesin mix besar dengan


tampilan yang sangat menarik tidak kalah dari


minuman mahal yang ada di resto mewah.


Dia di bantu oleh para pelayan bagian dapur


dalam pengolahannya, tanpa ikut campur urusan


bahan dan menu nya, benar-benar hanya urusan


tenaga saja, bahkan para koki pun hanya berperan


sebagai asisten Kiran saja.


Semua selesai setelah sholat Dzuhur. Dan menu


tersebut menjadi sajian spesial bagi para pegawai


saat mereka baru saja selesai menjalankan sholat


dzuhur berjamaah di mesjid istana. Makanan dan


minuman itu sengaja di hidangkan di depan pintu


mesjid, mereka semua tampak mengantri untuk


mengambil bagian nya masing-masing.


Dan respon dari para pegawai sungguh luar biasa.


Tidak ada yang tidak ketagihan pada kedua menu


tersebut hingga banyak dari mereka mengambil


kembali dan menikmatinya penuh kepuasan.


Kiran mendapat nilai 100 dari para pegawai.


Sore hari yang cerah...


Kiran menghampiri Eyang putri yang sedang


duduk santai di gazebo yang ada di tengah


kolam ikan sambil memberi makan ikan-ikan


kesayangannya.


Dengan hati-hati Kiran menyimpan nampan


berisi puding beras yang tadi telah di buatnya


bersama secangkir teh hijau di atas meja bulat


yang terbuat dari kayu di hadapan Eyang putri.


"Selamat sore Eyang.."


Sapa Kiran karena melihat neneknya itu tampak


sedang larut dalam lamunannya. Tatapannya


terlihat kosong menerawang jauh. Eyang putri


sedikit terkejut, dia melirik kearah Kiran yang


duduk bersimpuh di hadapan nya, dia tersenyum


di paksakan. Ada tanda tanya besar dalam hati


Kiran saat melihat sorot mata hampa Eyang putri.


"Eyang.. cobalah cicipi ini. Yang lain semuanya


sudah mencobanya.."


Kiran mencoba mencairkan suasana. Dia meraih


mangkuk berisi puding beras tadi kemudian


menggeser duduknya lebih maju ke hadapan


Eyang putri, lalu menyendok puding tersebut di


dekatkan ke mulut Eyang putri yang terlihat


menatapnya tenang dengan senyum bahagia.


Eyang putri menerima suapan dari Kiran.


"Emm.. ini enak sekali.! kau belajar dimana cara


membuat puding ini.?"


"Ibu yang mengajarkan semuanya."


Sahut Kiran dengan wajah cerah berbinar.


"Dia ibu yang sangat beruntung. Bisa memberikan


semua ilmu yang di milikinya kepada putrinya.."


Lirih Eyang putri dengan nada yang kembali


terdengar begitu berat. Kiran menatap teduh


wajah tua nenek nya itu kemudian kembali


menyuapinya hingga semangkuk puding tadi


tandas tak bersisa. Dia memberikan cangkir


berisi teh hijau buatannya yang langsung di


seruput penuh nikmat oleh Eyang putri.


"Eyang..mohon maaf sebelum nya..apa Kiran


boleh tahu tentang detail kehidupan Tuan Agra


selengkapnya..?"


Kiran bertanya dengan hati-hati seraya menerima


kembali cangkir yang sudah kosong. Eyang putri


tampak menarik napas panjang, menatap wajah


Kiran penuh ketenangan.


"Kau memang perlu mengetahuinya.. Baiklah..


Aku akan menceritakan singkat nya saja..!"


Kiran menggeser duduknya, bersiap mendengar


apa yang akan di tuturkan oleh neneknya itu.


Nyonya Ambar kembali menarik napas berat.


Dia meraih sebuah album fhoto yang ada di


bawah meja. Kemudian menyodorkan nya ke


depan Kiran yang tampak ragu menerimanya.


Namun akhirnya dia membuka nya juga..


Matanya tampak terpaku pada sebuah fhoto


pasangan pengantin yang memakai pakaian


adat negeri sakura...


\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....


Jangan cuma baca gaiss... berikan juga like


& koment nya yaa...😁😘

__ADS_1


Bantu vote juga, oke...👍🙏


__ADS_2