
**********
Setelah cukup lama akhirnya mereka melepaskan
pelukannya. Keduanya saling pandang, tanpa di
duga Nyonya Yuri mencium lembut kening Kiran
yang langsung memejamkan matanya.
"Istirahatlah..nanti malam kalian harus datang
untuk makan malam.."
Ucapnya kemudian sambil berdiri, Kiran masih
memegang tangan nya. Nyonya Yuri mengelus
lembut wajah Kiran.
"Kau gadis yang sangat cantik..Kau juga memiliki
hati yang tulus.."
"Saya sangat bahagia bisa bertemu dengan
ibu secara langsung.."
Kiran mencium punggung tangan Nyonya Yuri
yang langsung berkaca-kaca seraya mengelus
rambut indah Kiran.
"Maaf..karena ibu tidak bisa berbuat banyak.!"
Lirihnya sambil melirik kearah Agra yang kini
kembali berdiri di dekat jendela, melempar
pandangannya ke kejauhan. Sedang saat ini
para pelayan terlihat sibuk membersihkan
sisa pecahan beling yang berceceran di lantai.
"Jangan lupa nanti malam datang ke ruang
makan.."
Ucapnya kemudian sambil berlalu dari dalam
kamar di tatap oleh Kiran yang masih belum
percaya bisa berinteraksi langsung dengan ibu mertuanya itu. Walau hanya sekilas, namun
dirinya bisa melihat dengan jelas ada kesakitan
yang tersembunyi di balik pancaran mata sendu
ibu mertuanya. Dia benar-benar terpenjara di sini.
Kiran mendekat kearah Agra yang dari tadi hanya terdiam, membisu dan mematung.
"Aku tahu kau sangat merindukan ibumu.."
Agra melirik kearah Kiran yang sedang menatap
nya dengan lembut. Dia menarik tubuh Kiran ke
dalam pelukannya, mendekapnya dari belakang.
Keduanya berdiri menghadap kearah taman.
"Aku jarang bertemu dengan nya. Kalaupun
bertemu hanya sebentar saja..!"
"Aku juga tahu kalau dia sangat merindukan
Eyang.. mereka harus mengakhiri perang
dingin ini, sebelum penyesalan itu datang..!"
Agra terdiam, menciumi puncak kepala Kiran
kemudian menghirup aroma tubuh nya yang
selalu mampu menenangkan jiwanya.
"Pria tua itu penyebabnya..! dia yang sudah
memenjarakan ibu di sini..!"
"Mungkinkah semua nya bisa membaik.?"
Agra terdiam, Kiran menoleh, kedua mata
mereka bertemu.
"Itu mungkin saja, tapi sedikit mustahil..!"
Kiran menarik napas panjang, kembali lagi
menatap kearah taman, dekapan Agra kini
semakin erat, tangannya melingkar kuat
di perut dan dadanya.
"Aku minta jangan pernah lagi berbicara soal
perjodohan itu.! aku membencinya Kiran..!"
Bisik Agra di daun telinga Kiran yang kembali
menoleh dan menatapnya lekat.
"Baiklah.. maafkan aku sayang.."
Kiran membalikan tubuhnya. Tangannya kini
di kalungkan di leher Agra. Mata mereka
saling bertaut dalam. Tatapan mereka saling mengunci di bibir masing-masing.
"Apa kau rela membagi diriku dengan orang
lain.? kau menginginkan itu sayang..?"
Kiran menggeleng kuat. Bibirnya mendekat
dengan tatapan yang semakin dalam.
"Tentu saja tidak, kau adalah milikku seorang.
Hanya aku yang berhak atas dirimu.."
Bisik Kiran sambil kemudian memagut bibir
Agra, ********** lembut. Agra merespon
balik dengan ******* yang lebih kuat lagi.
Keduanya terhanyut dalam manis dan lembut
nya ciuman penuh kemesraan.Ciuman mereka semakin lama semakin liar dan intens dengan
napas yang semakin memburu. Tangan Agra
kini sudah mulai menjelajah ke bagian-bagian kesukaannya. Dia bergerak mengangkat tubuh
Kiran tanpa melepas ciuman mereka, kemudian
duduk diatas sofa yang ada di sudut ruangan
membawa tubuh Kiran untuk duduk di atas pangkuannya.
Atasan Kiran kini sudah terbuka dan Agra
langsung menyusupkan wajahnya di antara
dua bukit kembar Kiran yang sangat indah
dengan ukuran yang sangat pas.
"Emhh.... Agra..sudah hentikan.! ada banyak
pelayan di luar kamar..!"
"Biarkan saja.. mereka hanyalah patung..!"
"Ohhh... Agra..aaww hentikan..aakhh..."
Napas Kiran kian terengah saat Agra semakin
intens bermain diatas buah dadanya dengan
menghisap dan menggigit kecil putingnya.
Hasrat mereka semakin lama semakin naik,
desahan kecil keluar dari mulut Kiran saat bibir
Agra mulai turun menelusuri perut datarnya.
Tangannya kini masuk merayap ke balik rok
nya dan mulai menyentuh daerah sensitif nya.
Kiran menekan tangan nakal Agra yang sudah
semakin tidak terkendali. Kedua mata mereka
bertemu, Kiran menggeleng sementara Agra menatapnya penuh damba.
"Hoshi sama...makan siang sudah siap..!"
Kegiatan panas mereka langsung terhenti saat
terdengar suara dari luar pintu geser. Kiran
cepat-cepat turun dari pangkuan Agra lalu
merapihkan pakaiannya kembali sementara
Agra hanya bisa mendengus kesal.
Tidak lama ke dalam ruangan muncul kepala
pelayan dan 3 orang pelayan membawakan
boks besar berjangka berisi makan siang.
Mereka semua bergerak ke bagian belakang
ruangan, tepatnya taman kecil yang langsung terhubung dengan kamar. Di sana ada bangku
persegi antik dan sudah beralaskan tatami
di bagian bawahnya.
"Tuan Muda..Nona Muda..silahkan menikmati
makan siangnya..Ini di buat khusus oleh Nyonya
Besar untuk kalian.."
Ucap kepala pelayan, seorang wanita matang
dengan pakaian tradisional nya. Dia bersama
3 pelayan lainnya berbaris membungkuk di
hadapan Kiran dan Agra yang sedang berdiri menghadap kearah taman.
"Tolong sampaikan rasa terimakasih saya pada
beliau..dan terimakasih atas pelayanannya..!"
Sahut Kiran sambil tersenyum lembut kearah
__ADS_1
kepala pelayan tadi.
"Baik Nona..nanti saya sampaikan."
Sambut kepala pelayan, kembali membungkuk.
Dan perlahan mereka keluar dengan berjalan
mundur dalam posisi tetap membungkuk.
Kiran mulai bergerak duduk menghadap meja.
Pandangan nya tidak lepas dari berbagai menu makanan khas yang tersaji dan terlihat sangat
menggoda. Semuanya di dominasi oleh olahan
ikan segar yang sangat menggugah selera.
"Jangan di makan dulu sayang..!"
Kiran mendongak, menatap Agra penuh tanda
tanya dan sedikit kecewa.
"Kenapa sayang..? ini semua terlihat sangat
lezat.. apalagi ibu yang membuat nya.."
"Zack.. Bara..!"
Agra memanggil dengan suara bariton nya.
Kedua bawahannya itu tiba-tiba saja sudah
ada di depan pintu geser, mereka langsung
masuk ke dalam kamar.
"Periksa makanan itu..!"
"Baik Tuan..!"
Sambut mereka sambil mendekat kearah meja.
Bara mengeluarkan sebuah alat kecil seukuran
jarum suntik, lalu menekan tombol kecil di
bagian ujungnya. Kemudian dengan sangat
teliti kedua bawahan setia itu memeriksa
setiap makanan yang ada di atas meja tersebut.
Kiran hanya bisa menarik napas gerah melihat
apa yang di perintahkan Agra yang menurutnya
sedikit berlebihan.
"Semuanya aman Tuan..!"
Ucap Zack kemudian. Barulah Agra bisa duduk
di hadapan Kiran. Mulai menuangkan makanan
di piring bagian Kiran yang terdiam bengong
melihat apa yang di lakukan suaminya itu.
"Kalian boleh keluar, setelah ini aku akan pergi menemui sensei. Zack kau tetap berjaga di sini.
Perhatikan setiap pergerakan pria itu..!"
Titahnya sambil mulai menyuapi Kiran yang
tampak berbinar saat mencicipi makanan
tersebut. Sungguh makanan ini rasanya lezat
sekali, lumer dan meleleh di mulut.
"Baik Tuan..kalau begitu kami permisi.!"
Sahut Zack dan Bara, mereka melihat sesaat
pada apa yang sedang di lakukan oleh Tuan
nya itu. Pemandangan yang menakjubkan !
Tapi mereka adalah orang-orang yang paling
tahu bagaimana besarnya cinta dan perasaan
Tuan nya pada istri nya itu. Keduanya berlalu
keluar dari kamar.
"Ini enak sekali sayang.. cobalah..!"
Kiran terlihat begitu semangat , kini giliran dia
yang menyuapi Agra. Dan akhirnya mereka
berdua menikmati makan siang nya dengan
tenang penuh nikmat.
****** ******
Malam mulai menyelimuti kawasan istana.
sudah sejak sore cuaca dingin melanda, salju
ringan turun menyelimuti seluruh area istana.
Kiran berjalan mondar mandir di dalam kamar
dengan perasaan yang di liputi oleh kegelisahan
karena Agra belum juga kembali sejak siang.
"Nona Muda.. anda di tunggu di ruang makan..!"
Suara kepala pelayan terdengar dari luar. Tidak
kepala pelayan yang membawakan mantel
cantik di tangannya.
"Ijinkan saya memakaikan mantel nya, ini
dari Nyonya Besar..!"
Ucap kepala pelayan seraya menunduk sopan.
Kiran melirik kearah Zack yang berdiri di depan
pintu. Pria itu mengangguk sedikit.
"Baiklah.. terimakasih.."
Kepala pelayan bergerak mengenakkan mantel
tersebut ke tubuh indah Kiran. Sesungguhnya
dalam hati kepala pelayan dia merasa sangat terpesona pada kecantikan Kiran yang begitu
alami, tanpa polesan, tanpa kepalsuan, benar-
benar kecantikan yang sangat murni. Zack tak
pernah lepas memperhatikan setiap gerak
gerik dari kepala pelayan.
"Mari Nona.. ikuti saya..!"
Ucap kepala pelayan begitu selesai memakaikan
mantel ke tubuh Kiran.
"Tapi Agra belum kembali..aku tidak bisa pergi
tanpa dia..!"
Kiran masih terdiam bingung dan ragu.
"Tuan muda sudah di depan Nona..dia akan
langsung menuju ke ruang makan.."
Zack menyahut meyakinkan membuat Kiran
menarik napas lega.
"Baiklah kalau begitu..mari kita pergi..!"
Sahut nya sambil kemudian mulai melangkah
bersama dengan kepala pelayan di ikuti oleh
Zack dan dua orang pengawal pribadi. Cukup
jauh juga jaraknya dari bilik menuju ke ruang
makan. Tubuh Kiran mulai merasakan sedikit kedinginan walau sudah mengenakkan mantel
dan syal karena cuaca memang sangat dingin.
Ketika sudah dekat ke bangunan yang ada
ruang makan keluarga, dari arah lain terlihat
kemunculan Agra bersama dengan Bara dan
para pengawalnya. Kiran langsung berlari ke
arah Agra dan masuk kedalam pelukannya.
Untuk beberapa saat keduanya terdiam saling
memeluk erat. Agra menciumi puncak kepala
Kiran di penuhi rasa rindu dan khawatir.
"Kau baik-baik saja kan..?"
"Hemm..kenapa kamu lama sekali.?"
"Ada sedikit masalah..! Ayo kita masuk.!"
Agra menggandeng Kiran dengan memeluk
pinggangnya posesif. keduanya kini sudah
sampai di pintu masuk. Untuk sesaat mereka
saling menatap, meyakinkan masing-masing.
Para pelayan yang ada di tempat itu berdiri
rapi membungkuk rendah di hadapan mereka.
Pintu sudah di geser, keduanya masuk ke
dalam ruangan. Di sana sudah menunggu
Nyonya Yuri dengan tatapan teduhnya.
"Selamat malam ibu.."
Sapa Kiran seraya membungkuk hormat
dengan gestur yang sangat halus dan anggun.
"Selamat malam.. duduklah..!"
Kiran dan Agra duduk di hadapan Nyonya
Yuri. Tidak lama kemudian di pintu muncul
Tuan Hasimoto yang datang bersama dengan
Ryuzen, sepertinya dia juga baru saja datang
__ADS_1
dari kegiatan luar istana nya.
Kiran kembali berdiri, kali ini rasa tegang dan
takut itu sudah tidak di rasakan nya lagi. Agra
hanya terdiam acuh, tanpa melirik sedikit pun
kearah kedatangan ayah nya itu.
"Selamat malam Tuan..!"
Kiran menyapa dengan suara yang sangat halus
seraya membungkuk sopan. Tatapan mata elang
Tuan Hasimoto kini langsung jatuh menghujam
sosok Kiran, mengamatinya sebentar. Begitupun
dengan Ryu..tidak bisa di sembunyikan lagi dia
terlihat begitu terpesona pada sosok kakak
iparnya tersebut.
Tanpa respon Tuan Hasimoto langsung duduk
di tempat nya. Dan Kiran pun kini kembali duduk
di samping Agra berhadapan dengan Ryuzen.
"Ryu..jaga matamu..atau kau tidak akan bisa
menikmati kebebasan mu lagi..!"
Agra menatap Ryu penuh ancaman saat adik
sepupunya itu masih saja melihat kearah Kiran.
Ryu tersenyum kecut lalu menundukan kepala.
Kini para pelayan mulai bergerak rapi dan halus menyajikan makanan dan minuman di hadapan
para anggota keluarga dengan porsi dan bagian
masing-masing yang sudah di atur sedemikian
rapi dan teratur. Ryu ikut makan malam bersama mereka. Selama ini dia sudah menjadi pengganti
Agra bagi keluarga ini dengan menjadi asisten
pribadi serta tangan kanan Tuan Hasimoto.
Agra mencicipi dulu makanan yang tersaji di
piring Kiran membuat Tuan Hasimoto terdiam
mengetatkan rahangnya. Nyonya Yuri dan Ryu
pun tidak kalah terkejut nya melihat hal itu.
Sebegitu posesif kah Agra terhadap istrinya?
Sementara Kiran hanya bisa menahan malu
atas apa yang di lakukan oleh suaminya itu.
Makan malam pun berlangsung walau ada aura
mencekam yang menyelimuti ruangan tersebut.
Tuan Hasimoto sesekali melihat kearah Kiran
dan Agra dengan sorot mata yang tidak terbaca.
Wajah anak dan ayah yang masih saja terlibat
ketegangan itu terlihat semakin dingin. Tak ada
raut ketenangan diantara keduanya.
Kiran melirik kearah Agra yang terlihat datar
dengan aura mencekam. Dia meraih gelas air
putih di berikan kepada Agra.Tuan Hasimoto
menekan tangannya ke meja makan melihat kemesraan pasangan tersebut. Sementara
Nyonya Yuriko hanya bisa menyembunyikan
perasaan yang sesungguhnya.
"Aku sudah memutuskan, tiga hari lagi kamu
akan segera melangsungkan pernikahan mu
dengan Mikhayla..!"
Brak !
Tinju Agra jatuh menghantam meja makan
dengan keras hingga seluruh ruangan rasanya
bergetar hebat. Kiran melebarkan mata terkejut,
menatap tidak percaya kearah Tuan Hasimoto.
Nyonya Yuri pun tidak kalah terkejut nya.
"Kau sudah benar-benar menikam ku dari
belakang. Apa kau pikir semua yang kau
rencanakan bisa berjalan dengan baik.?"
Agra menggeram dengan kepala tertunduk
dan kedua tinju menekan meja hingga terasa
bergetar seluruhnya. Kiran memundurkan diri
nya dengan wajah memucat sempurna.
"Apa yang sudah aku rencanakan pasti akan
terjadi..!"
"Dan aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi.!"
"Kau menolak, maka hubungan kita berakhir.!
Kita akan menjadi orang asing detik ini juga !"
Agra terkekeh pelan membuat semua orang
semakin tegang sekaligus ngeri. Dia tampak
menegakkan badannya, wajahnya kini sudah
berubah kelam dan mengerikan. Mata tajam
mereka beradu panas di udara.
"Itu akan lebih baik bagiku..!"
Bug !
Kali ini tinju besi Tuan Hasimoto yang jatuh di
atas meja. Matanya tampak berkilat murka.
Dia berdiri, begitupun dengan Agra. Yang lain
pun ikut berdiri gemetar. Nyonya Yuri sudah
kembali berurai air mata, sedang Kiran mulai
berkaca-kaca. Tuhan.. situasi macam apakah
ini.? kenapa harus se mengerikan ini ?
"Kau sudah benar-benar berani menantang
ku..! dan hanya karena wanita biasa itu !"
Bentak Tuan Hasimoto membahana. Luruh
sudah air mata Kiran, jatuh tak tertahankan.
"Dia adalah istriku..! wanita biasa itu istriku.!
Kau tidak berhak menghinanya..!"
Agra balik membentak dengan mata menyala
bagai harimau buas. Dengan gerakan cepat
Tuan Hasimoto mengangkat tangannya ke
arah Agra tapi dengan cepat di tangkap oleh
Agra. Situasi semakin bergejolak, Zack dan
Bara beserta beberapa tetua di istana itu
tiba-tiba sudah masuk ke ruangan itu.
Kiran mundur ke sisi ruangan, tubuhnya
tiba-tiba saja goyah, kepala nya kini terasa
pusing, pandangannya pun mulai kabur.
Ada sesuatu yang kini seakan menyumbat
pernapasannya. Dia kesulitan bernapas
dan tenaganya perlahan menghilang.
Sementara Agra dan Tuan Hasimoto saat ini
masih mengadu kekuatan lewat tangan mereka.
Orang-orang hanya bisa berdiri tegang di sisi
ruangan, Nyonya Yuri terduduk lemas di lantai.
"Aku tidak akan ragu memutuskan hubungan
darah diantara kita daripada harus menduakan
istri dan perasaanku Tuan Hasimoto...!".
Tegas Agra menggelegar membuat semua
orang terkesiap bagai tersambar petir. !
Bruk !.
"Nona Muda..!"
Agra segera menoleh, jantungnya langsung
melemah ketika melihat tubuh Kiran saat ini
sudah tergeletak di atas lantai. Secepat kilat
dia menyambar tubuh Kiran, mengangkatnya
ke dalam pangkuan. Tak peduli apapun lagi
dia segera melangkah keluar dari ruangan itu
membawa tubuh Kiran menuju ke bilik nya
di ikuti oleh semua bawahannya..
**********
__ADS_1
TBC.....