Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
58. Makan Malam Mencekam


__ADS_3

 


**********


 


Setelah cukup lama akhirnya mereka melepaskan


pelukannya. Keduanya saling pandang, tanpa di


duga Nyonya Yuri mencium lembut kening Kiran


yang langsung memejamkan matanya.


"Istirahatlah..nanti malam kalian harus datang


untuk makan malam.."


Ucapnya kemudian sambil berdiri, Kiran masih


memegang tangan nya. Nyonya Yuri mengelus


lembut wajah Kiran.


"Kau gadis yang sangat cantik..Kau juga memiliki


hati yang tulus.."


"Saya sangat bahagia bisa bertemu dengan


ibu secara langsung.."


Kiran mencium punggung tangan Nyonya Yuri


yang langsung berkaca-kaca seraya mengelus


rambut indah Kiran.


"Maaf..karena ibu tidak bisa berbuat banyak.!"


Lirihnya sambil melirik kearah Agra yang kini


kembali berdiri di dekat jendela, melempar


pandangannya ke kejauhan. Sedang saat ini


para pelayan terlihat sibuk membersihkan


sisa pecahan beling yang berceceran di lantai.


"Jangan lupa nanti malam datang ke ruang


makan.."


Ucapnya kemudian sambil berlalu dari dalam


kamar di tatap oleh Kiran yang masih belum


percaya bisa berinteraksi langsung dengan ibu mertuanya itu. Walau hanya sekilas, namun


dirinya bisa melihat dengan jelas ada kesakitan


yang tersembunyi di balik pancaran mata sendu


ibu mertuanya. Dia benar-benar terpenjara di sini.


Kiran mendekat kearah Agra yang dari tadi hanya terdiam, membisu dan mematung.


"Aku tahu kau sangat merindukan ibumu.."


Agra melirik kearah Kiran yang sedang menatap


nya dengan lembut. Dia menarik tubuh Kiran ke


dalam pelukannya, mendekapnya dari belakang.


Keduanya berdiri menghadap kearah taman.


"Aku jarang bertemu dengan nya. Kalaupun


bertemu hanya sebentar saja..!"


"Aku juga tahu kalau dia sangat merindukan


Eyang.. mereka harus mengakhiri perang


dingin ini, sebelum penyesalan itu datang..!"


Agra terdiam, menciumi puncak kepala Kiran


kemudian menghirup aroma tubuh nya yang


selalu mampu menenangkan jiwanya.


"Pria tua itu penyebabnya..! dia yang sudah


memenjarakan ibu di sini..!"


"Mungkinkah semua nya bisa membaik.?"


Agra terdiam, Kiran menoleh, kedua mata


mereka bertemu.


"Itu mungkin saja, tapi sedikit mustahil..!"


Kiran menarik napas panjang, kembali lagi


menatap kearah taman, dekapan Agra kini


semakin erat, tangannya melingkar kuat


di perut dan dadanya.


"Aku minta jangan pernah lagi berbicara soal


perjodohan itu.! aku membencinya Kiran..!"


Bisik Agra di daun telinga Kiran yang kembali


menoleh dan menatapnya lekat.


"Baiklah.. maafkan aku sayang.."


Kiran membalikan tubuhnya. Tangannya kini


di kalungkan di leher Agra. Mata mereka


saling bertaut dalam. Tatapan mereka saling mengunci di bibir masing-masing.


"Apa kau rela membagi diriku dengan orang


lain.? kau menginginkan itu sayang..?"


Kiran menggeleng kuat. Bibirnya mendekat


dengan tatapan yang semakin dalam.


"Tentu saja tidak, kau adalah milikku seorang.


Hanya aku yang berhak atas dirimu.."


Bisik Kiran sambil kemudian memagut bibir


Agra, ********** lembut. Agra merespon


balik dengan ******* yang lebih kuat lagi.


Keduanya terhanyut dalam manis dan lembut


nya ciuman penuh kemesraan.Ciuman mereka semakin lama semakin liar dan intens dengan


napas yang semakin memburu. Tangan Agra


kini sudah mulai menjelajah ke bagian-bagian kesukaannya. Dia bergerak mengangkat tubuh


Kiran tanpa melepas ciuman mereka, kemudian


duduk diatas sofa yang ada di sudut ruangan


membawa tubuh Kiran untuk duduk di atas pangkuannya.


Atasan Kiran kini sudah terbuka dan Agra


langsung menyusupkan wajahnya di antara


dua bukit kembar Kiran yang sangat indah


dengan ukuran yang sangat pas.


"Emhh.... Agra..sudah hentikan.! ada banyak


pelayan di luar kamar..!"


"Biarkan saja.. mereka hanyalah patung..!"


"Ohhh... Agra..aaww hentikan..aakhh..."


Napas Kiran kian terengah saat Agra semakin


intens bermain diatas buah dadanya dengan


menghisap dan menggigit kecil putingnya.


Hasrat mereka semakin lama semakin naik,


desahan kecil keluar dari mulut Kiran saat bibir


Agra mulai turun menelusuri perut datarnya.


Tangannya kini masuk merayap ke balik rok


nya dan mulai menyentuh daerah sensitif nya.


Kiran menekan tangan nakal Agra yang sudah


semakin tidak terkendali. Kedua mata mereka


bertemu, Kiran menggeleng sementara Agra menatapnya penuh damba.


"Hoshi sama...makan siang sudah siap..!"


Kegiatan panas mereka langsung terhenti saat


terdengar suara dari luar pintu geser. Kiran


cepat-cepat turun dari pangkuan Agra lalu


merapihkan pakaiannya kembali sementara


Agra hanya bisa mendengus kesal.


Tidak lama ke dalam ruangan muncul kepala


pelayan dan 3 orang pelayan membawakan


boks besar berjangka berisi makan siang.


Mereka semua bergerak ke bagian belakang


ruangan, tepatnya taman kecil yang langsung terhubung dengan kamar. Di sana ada bangku


persegi antik dan sudah beralaskan tatami


di bagian bawahnya.


"Tuan Muda..Nona Muda..silahkan menikmati


makan siangnya..Ini di buat khusus oleh Nyonya


Besar untuk kalian.."


Ucap kepala pelayan, seorang wanita matang


dengan pakaian tradisional nya. Dia bersama


3 pelayan lainnya berbaris membungkuk di


hadapan Kiran dan Agra yang sedang berdiri menghadap kearah taman.


"Tolong sampaikan rasa terimakasih saya pada


beliau..dan terimakasih atas pelayanannya..!"


Sahut Kiran sambil tersenyum lembut kearah

__ADS_1


kepala pelayan tadi.


"Baik Nona..nanti saya sampaikan."


Sambut kepala pelayan, kembali membungkuk.


Dan perlahan mereka keluar dengan berjalan


mundur dalam posisi tetap membungkuk.


Kiran mulai bergerak duduk menghadap meja.


Pandangan nya tidak lepas dari berbagai menu makanan khas yang tersaji dan terlihat sangat


menggoda. Semuanya di dominasi oleh olahan


ikan segar yang sangat menggugah selera.


"Jangan di makan dulu sayang..!"


Kiran mendongak, menatap Agra penuh tanda


tanya dan sedikit kecewa.


"Kenapa sayang..? ini semua terlihat sangat


lezat.. apalagi ibu yang membuat nya.."


"Zack.. Bara..!"


Agra memanggil dengan suara bariton nya.


Kedua bawahannya itu tiba-tiba saja sudah


ada di depan pintu geser, mereka langsung


masuk ke dalam kamar.


"Periksa makanan itu..!"


"Baik Tuan..!"


Sambut mereka sambil mendekat kearah meja.


Bara mengeluarkan sebuah alat kecil seukuran


jarum suntik, lalu menekan tombol kecil di


bagian ujungnya. Kemudian dengan sangat


teliti kedua bawahan setia itu memeriksa


setiap makanan yang ada di atas meja tersebut.


Kiran hanya bisa menarik napas gerah melihat


apa yang di perintahkan Agra yang menurutnya


sedikit berlebihan.


"Semuanya aman Tuan..!"


Ucap Zack kemudian. Barulah Agra bisa duduk


di hadapan Kiran. Mulai menuangkan makanan


di piring bagian Kiran yang terdiam bengong


melihat apa yang di lakukan suaminya itu.


"Kalian boleh keluar, setelah ini aku akan pergi menemui sensei. Zack kau tetap berjaga di sini.


Perhatikan setiap pergerakan pria itu..!"


Titahnya sambil mulai menyuapi Kiran yang


tampak berbinar saat mencicipi makanan


tersebut. Sungguh makanan ini rasanya lezat


sekali, lumer dan meleleh di mulut.


"Baik Tuan..kalau begitu kami permisi.!"


Sahut Zack dan Bara, mereka melihat sesaat


pada apa yang sedang di lakukan oleh Tuan


nya itu. Pemandangan yang menakjubkan !


Tapi mereka adalah orang-orang yang paling


tahu bagaimana besarnya cinta dan perasaan


Tuan nya pada istri nya itu. Keduanya berlalu


keluar dari kamar.


"Ini enak sekali sayang.. cobalah..!"


Kiran terlihat begitu semangat , kini giliran dia


yang menyuapi Agra. Dan akhirnya mereka


berdua menikmati makan siang nya dengan


tenang penuh nikmat.


****** ******


Malam mulai menyelimuti kawasan istana.


sudah sejak sore cuaca dingin melanda, salju


ringan turun menyelimuti seluruh area istana.


Kiran berjalan mondar mandir di dalam kamar


dengan perasaan yang di liputi oleh kegelisahan


karena Agra belum juga kembali sejak siang.


"Nona Muda.. anda di tunggu di ruang makan..!"


Suara kepala pelayan terdengar dari luar. Tidak


kepala pelayan yang membawakan mantel


cantik di tangannya.


"Ijinkan saya memakaikan mantel nya, ini


dari Nyonya Besar..!"


Ucap kepala pelayan seraya menunduk sopan.


Kiran melirik kearah Zack yang berdiri di depan


pintu. Pria itu mengangguk sedikit.


"Baiklah.. terimakasih.."


Kepala pelayan bergerak mengenakkan mantel


tersebut ke tubuh indah Kiran. Sesungguhnya


dalam hati kepala pelayan dia merasa sangat terpesona pada kecantikan Kiran yang begitu


alami, tanpa polesan, tanpa kepalsuan, benar-


benar kecantikan yang sangat murni. Zack tak


pernah lepas memperhatikan setiap gerak


gerik dari kepala pelayan.


"Mari Nona.. ikuti saya..!"


Ucap kepala pelayan begitu selesai memakaikan


mantel ke tubuh Kiran.


"Tapi Agra belum kembali..aku tidak bisa pergi


tanpa dia..!"


Kiran masih terdiam bingung dan ragu.


"Tuan muda sudah di depan Nona..dia akan


langsung menuju ke ruang makan.."


Zack menyahut meyakinkan membuat Kiran


menarik napas lega.


"Baiklah kalau begitu..mari kita pergi..!"


Sahut nya sambil kemudian mulai melangkah


bersama dengan kepala pelayan di ikuti oleh


Zack dan dua orang pengawal pribadi. Cukup


jauh juga jaraknya dari bilik menuju ke ruang


makan. Tubuh Kiran mulai merasakan sedikit kedinginan walau sudah mengenakkan mantel


dan syal karena cuaca memang sangat dingin.


Ketika sudah dekat ke bangunan yang ada


ruang makan keluarga, dari arah lain terlihat


kemunculan Agra bersama dengan Bara dan


para pengawalnya. Kiran langsung berlari ke


arah Agra dan masuk kedalam pelukannya.


Untuk beberapa saat keduanya terdiam saling


memeluk erat. Agra menciumi puncak kepala


Kiran di penuhi rasa rindu dan khawatir.


"Kau baik-baik saja kan..?"


"Hemm..kenapa kamu lama sekali.?"


"Ada sedikit masalah..! Ayo kita masuk.!"


Agra menggandeng Kiran dengan memeluk


pinggangnya posesif. keduanya kini sudah


sampai di pintu masuk. Untuk sesaat mereka


saling menatap, meyakinkan masing-masing.


Para pelayan yang ada di tempat itu berdiri


rapi membungkuk rendah di hadapan mereka.


Pintu sudah di geser, keduanya masuk ke


dalam ruangan. Di sana sudah menunggu


Nyonya Yuri dengan tatapan teduhnya.


"Selamat malam ibu.."


Sapa Kiran seraya membungkuk hormat


dengan gestur yang sangat halus dan anggun.


"Selamat malam.. duduklah..!"


Kiran dan Agra duduk di hadapan Nyonya


Yuri. Tidak lama kemudian di pintu muncul


Tuan Hasimoto yang datang bersama dengan


Ryuzen, sepertinya dia juga baru saja datang

__ADS_1


dari kegiatan luar istana nya.


Kiran kembali berdiri, kali ini rasa tegang dan


takut itu sudah tidak di rasakan nya lagi. Agra


hanya terdiam acuh, tanpa melirik sedikit pun


kearah kedatangan ayah nya itu.


"Selamat malam Tuan..!"


Kiran menyapa dengan suara yang sangat halus


seraya membungkuk sopan. Tatapan mata elang


Tuan Hasimoto kini langsung jatuh menghujam


sosok Kiran, mengamatinya sebentar. Begitupun


dengan Ryu..tidak bisa di sembunyikan lagi dia


terlihat begitu terpesona pada sosok kakak


iparnya tersebut.


Tanpa respon Tuan Hasimoto langsung duduk


di tempat nya. Dan Kiran pun kini kembali duduk


di samping Agra berhadapan dengan Ryuzen.


"Ryu..jaga matamu..atau kau tidak akan bisa


menikmati kebebasan mu lagi..!"


Agra menatap Ryu penuh ancaman saat adik


sepupunya itu masih saja melihat kearah Kiran.


Ryu tersenyum kecut lalu menundukan kepala.


Kini para pelayan mulai bergerak rapi dan halus menyajikan makanan dan minuman di hadapan


para anggota keluarga dengan porsi dan bagian


masing-masing yang sudah di atur sedemikian


rapi dan teratur. Ryu ikut makan malam bersama mereka. Selama ini dia sudah menjadi pengganti


Agra bagi keluarga ini dengan menjadi asisten


pribadi serta tangan kanan Tuan Hasimoto.


Agra mencicipi dulu makanan yang tersaji di


piring Kiran membuat Tuan Hasimoto terdiam


mengetatkan rahangnya. Nyonya Yuri dan Ryu


pun tidak kalah terkejut nya melihat hal itu.


Sebegitu posesif kah Agra terhadap istrinya?


Sementara Kiran hanya bisa menahan malu


atas apa yang di lakukan oleh suaminya itu.


Makan malam pun berlangsung walau ada aura


mencekam yang menyelimuti ruangan tersebut.


Tuan Hasimoto sesekali melihat kearah Kiran


dan Agra dengan sorot mata yang tidak terbaca.


Wajah anak dan ayah yang masih saja terlibat


ketegangan itu terlihat semakin dingin. Tak ada


raut ketenangan diantara keduanya.


Kiran melirik kearah Agra yang terlihat datar


dengan aura mencekam. Dia meraih gelas air


putih di berikan kepada Agra.Tuan Hasimoto


menekan tangannya ke meja makan melihat kemesraan pasangan tersebut. Sementara


Nyonya Yuriko hanya bisa menyembunyikan


perasaan yang sesungguhnya.


"Aku sudah memutuskan, tiga hari lagi kamu


akan segera melangsungkan pernikahan mu


dengan Mikhayla..!"


Brak !


Tinju Agra jatuh menghantam meja makan


dengan keras hingga seluruh ruangan rasanya


bergetar hebat. Kiran melebarkan mata terkejut,


menatap tidak percaya kearah Tuan Hasimoto.


Nyonya Yuri pun tidak kalah terkejut nya.


"Kau sudah benar-benar menikam ku dari


belakang. Apa kau pikir semua yang kau


rencanakan bisa berjalan dengan baik.?"


Agra menggeram dengan kepala tertunduk


dan kedua tinju menekan meja hingga terasa


bergetar seluruhnya. Kiran memundurkan diri


nya dengan wajah memucat sempurna.


"Apa yang sudah aku rencanakan pasti akan


terjadi..!"


"Dan aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi.!"


"Kau menolak, maka hubungan kita berakhir.!


Kita akan menjadi orang asing detik ini juga !"


Agra terkekeh pelan membuat semua orang


semakin tegang sekaligus ngeri. Dia tampak


menegakkan badannya, wajahnya kini sudah


berubah kelam dan mengerikan. Mata tajam


mereka beradu panas di udara.


"Itu akan lebih baik bagiku..!"


Bug !


Kali ini tinju besi Tuan Hasimoto yang jatuh di


atas meja. Matanya tampak berkilat murka.


Dia berdiri, begitupun dengan Agra. Yang lain


pun ikut berdiri gemetar. Nyonya Yuri sudah


kembali berurai air mata, sedang Kiran mulai


berkaca-kaca. Tuhan.. situasi macam apakah


ini.? kenapa harus se mengerikan ini ?


"Kau sudah benar-benar berani menantang


ku..! dan hanya karena wanita biasa itu !"


Bentak Tuan Hasimoto membahana. Luruh


sudah air mata Kiran, jatuh tak tertahankan.


"Dia adalah istriku..! wanita biasa itu istriku.!


Kau tidak berhak menghinanya..!"


Agra balik membentak dengan mata menyala


bagai harimau buas. Dengan gerakan cepat


Tuan Hasimoto mengangkat tangannya ke


arah Agra tapi dengan cepat di tangkap oleh


Agra. Situasi semakin bergejolak, Zack dan


Bara beserta beberapa tetua di istana itu


tiba-tiba sudah masuk ke ruangan itu.


Kiran mundur ke sisi ruangan, tubuhnya


tiba-tiba saja goyah, kepala nya kini terasa


pusing, pandangannya pun mulai kabur.


Ada sesuatu yang kini seakan menyumbat


pernapasannya. Dia kesulitan bernapas


dan tenaganya perlahan menghilang.


Sementara Agra dan Tuan Hasimoto saat ini


masih mengadu kekuatan lewat tangan mereka.


Orang-orang hanya bisa berdiri tegang di sisi


ruangan, Nyonya Yuri terduduk lemas di lantai.


"Aku tidak akan ragu memutuskan hubungan


darah diantara kita daripada harus menduakan


istri dan perasaanku Tuan Hasimoto...!".


Tegas Agra menggelegar membuat semua


orang terkesiap bagai tersambar petir. !


Bruk !.


"Nona Muda..!"


Agra segera menoleh, jantungnya langsung


melemah ketika melihat tubuh Kiran saat ini


sudah tergeletak di atas lantai. Secepat kilat


dia menyambar tubuh Kiran, mengangkatnya


ke dalam pangkuan. Tak peduli apapun lagi


dia segera melangkah keluar dari ruangan itu


membawa tubuh Kiran menuju ke bilik nya


di ikuti oleh semua bawahannya..


 


**********


 

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2