Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
4. Pengawal Aneh


__ADS_3

 


**********


 


Sudah sekitar satu jam perjalanan tanpa ada


suara yang keluar dari mulut keduanya. Kiran


memalingkan wajah kearah jendela mobil yang


hanya berhias kegelapan dan sesekali tersinari


oleh lampu mobil, sementara pria tadi fokus ke


jalanan yang semakin lama semakin terjal


karena sebagian aspal nya sudah terkelupas.


Hawa dingin semakin lama semakin menusuk


kulit membuat Kiran melipat kedua tangannya


di depan dada. Wajahnya kini sudah mulai terasa membeku. Kiran membuka masker yang di


pakainya karena rasa tidak nyaman kini mulai


menggangu perutnya. Sepertinya dia mengalami


mabuk perjalanan.


Pria tadi tampak menoleh kearah Kiran saat


gadis itu bersin-bersin. Wajahnya terlihat


semakin dingin melihat kondisi Kiran yang


sepertinya cukup tersiksa dengan hawa dingin


di tempat ini dan perlu adaptasi khusus dengan


cuaca di tempat ini.


Kiran merebahkan kepalanya ke sandaran jok


sambil memejamkan matanya. Saat ini kepala


nya terasa semakin pusing dan perutnya juga


mulai di penuhi oleh gejolak yang tidak nyaman.


"Hei.. berhenti.! aku tidak kuat lagi..!"


Seru Kiran tiba-tiba dengan menutup mulutnya.


Pria tadi langsung menghentikan mobilnya


begitu melihat reaksi Kiran. Dengan tergesa-gesa


Kiran segera membuka pintu mobil yang sialnya


sedikit susah untuk di buka.


Dia segera meloncat keluar dari mobil kemudian


berjongkok di pinggir jalan mengeluarkan segala


gejolak yang ada di dalam perutnya. Pria tadi


tampak sedikit panik melihat kondisi Kiran yang


terlihat sangat menderita saat memuntahkan


semua isi perutnya.


Pria itu ikut berjongkok seraya memijat tengkuk


leher Kiran yang meliriknya sekilas namun tidak


berdaya untuk menolak perlakuan laki-laki itu.


Dia segera memberikan botol air mineral pada


Kiran saat gadis itu mulai tenang. Wajahnya


terlihat pucat pasi, tubuhnya kini lemas tak


bertenaga.


"Bagaimana.. keadaan anda Nona..?"


Tanya pria itu seraya menatap kuat wajah cantik


Kiran yang kini terlihat jelas di depan matanya.


Kiran berusaha berdiri dengan gontai di bantu


oleh pria tadi.


"Lumayan..hanya saja lemas rasanya.!"


Lirih Kiran sambil kemudian melangkah pelan


kearah mobil, dia berdiri ragu di depan mobil


saat dirinya akan naik ke dalam nya.


"Maaf Nona..!"


Pria tadi langsung mengangkat tubuh Kiran yang terkejut sesaat. Matanya langsung menatap kesal


kearah pria itu yang terlihat cuek saja menutup


kembali pintu mobil.


Tidak lama mobil kembali melaju menyusuri


jalanan yang kini mulai memasuki kawasan


pemukiman yang terlihat jarang-jarang.


"Berapa lama kita akan sampai di perkebunan.?"


Tanya Kiran yang terlihat semakin gelisah karena


kondisi tubuh nya yang tidak stabil.


"Butuh waktu 4 jam untuk mencapai perkebunan


Nona, sebaiknya kita mencari tempat istirahat


saja. !"


"Apa.? tidak.! kita harus sampai malam ini juga.!"


"Jalanan menuju perkebunan sangat rawan Nona


apalagi di malam hari.!"


"Bukankah kamu ada untuk memastikan bahwa


aku baik-baik saja selama ada di tempat ini.!"


"Kondisi anda tidak memungkinkan untuk


melanjutkan perjalanan Nona.!"


"Aku tidak apa-apa.! kita lanjutkan saja..!"


"Maaf Nona, saya tidak bisa mengambil resiko


dengan mengabaikan kesehatan anda.!"


"Aku di sini yang berhak memutuskan semuanya,


kenapa jadi kamu yang membuat aturan.?"


Kesal Kiran sambil menegakkan badannya,


melirik tajam kearah pria tadi yang masih saja


terlihat datar, dia membelokan mobilnya ke


jalanan yang lebih padat penduduknya,


sepertinya ini sebuah kota kecamatan.


"Hei.. kenapa kita kesini.? "


Kiran memperhatikan suasana ketika pria tadi


memasukan mobilnya ke halaman sebuah


bangunan yang kelihatan nya seperti sebuah


penginapan sederhana.


"Kita istirahat di sini malam ini, besok pagi


baru melanjutkan perjalanan.!"


"Aku tidak mau, kita lanjutkan saja perjalanan


nya, aku ingin segera sampai di villa.!"

__ADS_1


"Pakai kembali masker penutup wajahnya


Nona, anda terlalu mencolok di tempat ini.!"


Tukas pria itu sambil keluar dari mobil dengan


menutup pintu cukup keras membuat Kiran


terlonjak kaget. Isshh.. dasar laki-laki aneh.!


sebenarnya yang jadi bos di sini siapa sih.?


Kenapa jadi dia yang mengatur dirinya.?


------ ------


"Maaf Tuan..hanya tersisa satu kamar lagi


dengan satu bed."


Ucap resepsionis pria itu sambil menatap sedikit curiga pada pasangan yang ada di hadapannya


itu. Kiran nampak terkejut langsung keberatan.


"Yasudah kami tidak jadi menginap..!"


"Tidak apa, kami ambil saja.!"


Potong pria itu memutuskan seenaknya, Kiran


tampak membulatkan matanya tidak percaya.


Maunya apa sih nih pria aneh.? enak banget dia


main mutusin semua sesuka hatinya.!


Kiran menatap tajam wajah datar pria tadi yang


terlihat acuh dan tidak peduli.


"Apa kau gila ? aku tidak mau.! kenapa kamu


memutuskan semua seenaknya saja.?"


Debatnya mulai emosi, namun pria itu tampak


kembali menatap kearah resepsionis tadi.


"Antar kami ke kamarnya. !"


Titah pria itu pada resepsionis tadi, dia benar-


benar tidak peduli dengan semua protes yang


di lontarkan oleh Kiran.


"Baik Tuan, mari ikuti saya."


Sambut resepsionis itu sambil mulai melangkah


kearah lorong di sebelah kiri ruangan.


"Silahkan Nona.."


Pria itu berucap enteng sambil mengulurkan


tangannya untuk mengarahkan Kiran. Kiran


melengos sebal, dengan segudang kekesalan


akhirnya dia menghentakkan kakinya terpaksa melangkah mengikuti resepsionis tadi. Sedang


pria itu hanya tersenyum tipis seraya berjalan


mengawal langkah Kiran.


Kiran terlihat menautkan alisnya melihat kamar


hotel yang jauh dari kata mewah itu. Ukurannya


hanya seluas kamar mandi di kamar tidur milik


nya. Hanya ada sebuah tempat tidur dengan dua bantal dan sebuah selimut tipis. Tidak ada sarana


atau fasilitas penunjang lainnya seperti televisi,


kursi santai atau yang lainnya.


Dia melongok ke dalam kamar mandi yang


membuat Kiran semakin mengurut dadanya


karena ukurannya yang terlalu kecil bahkan


Tuhan..apa ini ? apa dia akan bisa memejamkan


matanya di tempat seperti ini.? Kiran terduduk


lemas di sisi tempat tidur yang terasa sedikit


keras bagi dirinya yang terbiasa tidur di atas


kasur empuk dan nyaman.


"Jangan melihat kondisinya Nona, yang penting


anda bisa istirahat malam ini.!"


Pria itu tampak memasukan kedua tangannya


ke saku celana seraya berdiri di ambang pintu


menatap datar kearah Kiran yang masih saja


mengamati keadaan kamar itu.


"Aku bisa tidur dimanapun, tapi tidak satu


kamar dengan orang asing.!"


Ketus Kiran dengan wajah kesal yang sudah


mencapai batasnya.


"Tenang saja, saya akan tidur di mobil. Ada di


depan kamar ini. !"


Tunjuk pria tadi kearah luar dimana mobil yang


membawa mereka sudah terparkir di sana.


"Selamat malam Nona.!"


Ucapnya kemudian sambil berlalu keluar dari


kamar. Kiran menatap punggung pria itu hingga


dia menghilang di balik pintu. Huhh..baru awal


saja Kiran sudah di hadapkan pada kondisi ini.


Bagaimana ke depannya apalagi dia harus


berinteraksi dengan mahluk aneh seperti


pengawalnya tadi.!


Akhirnya Kiran beranjak masuk ke dalam kamar


mandi yang untung nya airnya ternyata hangat


karena berasal dari kawah gunung yang berada


di sekitar daerah itu.


Setengah jam kemudian Kiran keluar dari kamar


mandi setelah selesai membersihkan dirinya dan sudah berganti pakaian dengan yang lebih santai. Rambutnya yang sedikit basah di biarkan terurai.


Namun dia langsung membeku di tempat, saat


melihat pria aneh itu tiba-tiba saja sudah ada di


dalam kamar. Keduanya saling pandang dalam keterkejutan yang sama. Mata pria itu tampak mengerjap saat melihat penampakan Kiran saat


ini dalam kondisi yang membuat jiwa lelakinya


langsung saja meronta.


Bagaimana tidak ! saat ini Kiran hanya memakai


kaos oblong tipis dengan celana jeans pendek


di atas lututnya. Karuan saja keindahan tubuh


nya terlihat jelas di depan mata pria itu. Kulitnya


yang putih mulus bening bak porselen terlihat


begitu berkilau di bawah kilatan lampu kamar


yang sedikit temaram.


"Sedang apa kamu di sini.? kenapa tidak permisi

__ADS_1


dulu kalau mau masuk.? kau sungguh tidak


sopan.!"


Seru Kiran setengah emosi. Pria itu memalingkan


wajahnya kearah luar.


" Maaf Nona, tadi tidak ada jawaban. Saya hanya


ingin mengantarkan makan malam.!"


"Aku tidak butuh makan malam.! bawa lagi


sana, dan cepat keluar.!"


Ketus Kiran sambil menunjuk keluar mengusir


pria tadi yang langsung beranjak kearah pintu.


"Makanlah Nona, jangan keras kepala.!"


"Kubilang bawa lagi..!"


"Anda harus memulihkan kondisi.!


"Keluar sekarang juga.!"


Pekik Kiran tidak tahan lagi dengan semua rasa


kesal campur geram terhadap pengawal nya


yang tidak tahu diri itu.!


"Selamat malam Nona..!"


Ucap pria itu sebelum akhirnya melangkah keluar dengan santai. Kiran menutup pintu kamar


dengan keras meluapkan emosinya yang kini


sudah mencapai ubun-ubun nya.


Ayaaah..kenapa kamu mengirim penjaga model


begini sih.! belum apa-apa sudah membuat


tensi darahnya naik. Kiran menjatuhkan dirinya


di atas tempat tidur dengan wajah tertekuk.


Dia melirik kearah makanan di atas tempat tidur.


Perut nya tiba-tiba saja berbunyi memalukan


seakan mengkhianati ucapannya tadi. Kiran


memejamkan matanya mencoba untuk


mengontrol emosinya dan menahan rasa lapar


yang kini semakin menyiksanya. Dari tadi siang


dia memang belum mengisi perutnya. Waktu


di pesawat juga dia tidak selera untuk mencicipi


makanan yang tersedia.


Tidak peduli pada rasa malunya, akhir nya Kiran


melahap makan malam yang di bawakan oleh


pengawalnya itu yang sepertinya sengaja di beli


nya dari luar. Uuhh.. ternyata rasanya cukup lezat


membuat Kiran merasa puas.! Dia tersenyum


sendiri saat mengingat ucapannya tadi yang


terang-terangan menolak makanan itu.


Peduli amat ! yang penting sekarang ini perutnya


kenyang dan dia bisa tidur nyenyak.


Kiran mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat


tidur dengan ukuran yang sangat sempit itu. Dia


mencoba untuk memejamkan matanya. Selimut


yang tersedia tidak di gunakannya karena takut


akan membuat kulit nya alergi.


Sampai tengah malam tidur Kiran terlihat terus


saja gelisah, sepertinya dia tidak bisa untuk


menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar.


Kiran tersentak, membuka matanya dengan cepat ketika mendengar suara burung hantu yang begitu


nyaring dan menyeramkan. Dia menutup rapat


telinganya dengan bantal untuk menghalau


suara burung itu yang terus saja mengusiknya.


Namun semakin lama suara burung itu semakin


membuat Kiran ketakutan, belum lagi suara


hewan-hewan malam lainnya yang semakin


malam semakin terdengar nyaring.


Tidak tahan lagi Kiran segera turun dari tempat


tidur kemudian dengan tergesa-gesa dia keluar


dari kamar melangkah kearah mobil. Dia berdiri


ketakutan di dekat pintu mobil sambil menatap


ke dalam mobil dimana pria itu tampak tengah


duduk bersandar ke jok mobil dengan kedua


tangan di lipat di dadanya, matanya terpejam


rapat.


Sedikit ragu Kiran membuka pintu mobil, lalu


dia menepuk pelan tangan pria aneh itu.


"Hei..Tuan bangun.!"


Usiknya dengan meringis merasa malu sendiri.


Setelah beberapa kali di tepuk akhirnya pria itu


membuka matanya, melirik bingung kearah


Kiran yang sedang menunduk resah.


"Ada apa Nona.?"


Setelah sadar sepenuhnya dia terlihat terkejut


melihat keberadaan Kiran di dekatnya.


"Aku tidak bisa tidur, aku takut..ada banyak


suara mahluk aneh yang menggangu tidurku."


Lirih Kiran dengan suara pelan nyaris tak


terdengar. Pria itu menautkan alisnya.


"Lalu, apa mau anda Nona..?"


"Bi-bisakah kau menemani di kamar sampai


aku tertidur.?"


Ucap Kiran dengan penuh keraguan. Pria itu


tampak menatap tajam wajah Kiran dengan


sesungging senyum tercipta di sudut bibir nya.


Tidak lama dia keluar dari mobil, lalu menutup pintunya kemudian berjalan mendahului Kiran


yang hanya bisa melongo melihat tindakannya.


 


**********


 


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2