Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
22. Persiapan


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Zack dan bawahannya sempat terkesima sesaat


sebelum akhirnya berloncatan ke arah sisi tebing


saat melihat Agra tergeletak dengan posisi tubuh


telungkup. Pria perkasa itu sempat melompat


keluar sebelum akhirnya mobil yang di kendarai


nya itu terjun ke lembah. Tubuhnya berguling


hebat di atas rumput dan untungnya tidak


membentur bebatuan yang ada di tempat itu.


Zack segera mendekat dengan wajah sudah di


penuhi kekhawatiran akan nasib Tuan nya.


"Tuan Muda.. anda tidak apa-apa.?"


Zack segera membantu Agra yang membalikan


posisi badannya menjadi terlentang. Matanya


masih terpejam, ada luka gores di sekitar wajah


dan pelipis nya yang mengeluarkan darah.


"Tuan..anda dengar suara saya ?"


Zack tampak semakin panik melihat Agra masih


terdiam memejamkan matanya dengan kondisi


tubuh yang kotor terkena lumpur.


"Tuan Muda..apa anda bisa mendengar saya ?"


"Berisik Zack..! aku baik-baik saja.!"


Ketus Agra yang membuat Zack menarik napas


lega begitu pun anak buahnya. Agra kelihatannya


masih mencoba untuk memulihkan kondisinya.


"Seperti dugaan kita, mereka merusak rem mobil


nya. Tapi aku masih bisa mengendalikannya.!"


Rutuk Agra sambil kemudian bangkit duduk di


bantu oleh Zack yang langsung membuka


kostum safety Agra yang dipenuhi lumpur.


"Mereka melakukan rencana keduanya Tuan,


maaf saya terlambat datang, padahal Nona


Kiran sudah memberi peringatan agar saya


mengikuti pergerakan Tuan.!"


"Kiran.? bagaimana keadaannya.?"


Agra nampak sedikit cemas saat ingat istrinya


itu. Dia berdiri sedikit tertatih karena tulangnya


terasa remuk saat ini. Zack mencoba membantu


tapi Agra menolaknya.


"Nona baik-baik saja Tuan, Bara bersamanya."


"Mereka menembak semua ban mobil. Apa kau


sudah mengamankan orang nya ?"


"Sudah Tuan..! Roman dan yang lain sudah membawanya.!"


Sahut Zack, tadi memang sesaat setelah insiden


jatuhnya mobil Agra anak buahnya langsung


meringkus pelaku yang berusaha melarikan diri.


"Hemm.. baiklah..kita akan urus mereka nanti.!"


Gumam Agra dengan wajah yang sangat dingin.


Setelah itu dia berjalan menuju ke bawah pohon


besar yang cukup rindang. Dia harus memulihkan


tenaganya saat ini. Agra meregangkan otot-otot lehernya bersamaan dengan kedatangan Moza


dan teman temannya yang berloncatan turun dari mobil kemudian berlari kearah Agra dengan raut


wajah di penuhi kecemasan. Namun akhirnya


mereka semua menarik napas lega saat melihat


Agra selamat dari maut.


Zack membantu Agra untuk duduk bersandar


di bawah pohon besar tadi. Moza bergegas menghampiri Agra.


"Tuan Agra.. syukurlah anda selamat. Anda tidak apa-apa kan.?"


Moza segera mengecek kondisi Agra dengan


menyentuh wajah dan tangannya. Agra segera


menepis tangan Moza.


"Saya baik-baik saja Nona, tapi sepertinya hari


ini cukup sial bagi saya ,maaf sekali mobil anda


harus masuk jurang.!"


Ucap Agra, semua orang menoleh kearah tebing


yang terlihat masih mengeluarkan asap tebal


akibat mobil yang terbakar di dasar lembah.


Moza terdiam sambil menatap teduh wajah Agra


dengan perasaan lega melihat laki-laki itu baik


baik saja.


"Itu tidak penting buat saya, yang penting anda


selamat, apa yang terjadi sebenarnya.?"


Moza terlihat masih belum percaya bahwa semua


ini bisa terjadi. Dia meraih kembali tangan Agra


dan menggenggam nya kuat.


"Saya hanya kurang beruntung, sepertinya ban


mobilnya bermasalah Nona..!"


Moza dan kawan-kawan nya saling pandang


tidak percaya sebab setahu mereka kondisi


mobil yang di gunakan Agra dalam keadaan


stabil bahkan sangat ready.


"Saya tidak mengerti kenapa bisa terjadi hal


seperti ini karena semuanya sudah di cek dulu


dan tidak ada kendala apapun.!"


Ucap Moza masih terlihat heran. Dari kejauhan


terlihat kedatangan Kiran yang tengah berlari


sekuat tenaga kearah Agra dengan wajah pucat


penuh kepanikan di kawal oleh Bara yang tidak


kalah cemasnya melihat keadaan Tuannya. Agra segera melepaskan tangan Moza, dia mencoba


berdiri dengan menatap kuat kearah kedatangan


Kiran yang sudah berurai air mata.


Agra berjalan tertatih menyongsong kedatangan


Kiran yang langsung melompat berhambur


memeluk dirinya sambil menangis sesegukan.


"Agraa..apa yang terjadi padamu ? kau tidak


apa-apa kan..hiks hiks.."


"Aku baik-baik saja Kiran..tidak ada yang perlu


kau khawatirkan..!"


"Kamu sudah membuatku tidak bisa bernapas.!"


"Semuanya terjadi di luar kendali.."


"Aku kan sudah bilang jangan ikut balapan ini,


kenapa kamu tidak mendengarkan aku..!"


Omel Kiran seraya mempererat pelukannya. Agra


hanya bisa tersenyum getir, dia mencium puncak


kepala Kiran sambil mengusap lembut rambut


indah istrinya itu.


"Maaf karena aku tidak menuruti mu..! yang


penting kan sekarang aku baik-baik saja.."


Kiran melonggarkan pelukannya, keduanya kini


saling pandang kuat, wajah Kiran kembali cemas


saat melihat tetesan darah di wajah dan pelipis


Agra. Tangannya perlahan mengusap halus


tetesan darah itu dengan tatapan yang sangat


lembut penuh kekhawatiran hingga mampu melumpuhkan saraf-saraf dalam tubuh Agra.


"Kau harus janji tidak akan membuat ku khawatir


lagi, aku tidak bisa melihatmu dalam bahaya.."

__ADS_1


Lirih Kiran dengan suara yang sangat lembut


dan pelan penuh perasaan. Hati Agra rasanya


seakan ingin meledak saat ini. Wanita ini.? apa


dia sudah mulai mulai merasakan apa yang


selama ini di rasakannya.?


"Apa kau sangat mengkhawatirkan ku.?"


Tanya Agra dengan tatapan yang sangat dalam,


dia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya


saat ini. Tatapan penuh cinta kasih kini terlihat


jelas dari sorot matanya. Kiran menatap wajah


Agra yang di penuhi keringat dan darah.


"Tentu saja, walau bagaimanapun kau adalah


suamiku, kau selalu ada untuk ku selama ini."


Jawab Kiran dengan wajah di penuhi semburat


merah yang membuat Agra gemas sendiri, kalau


tidak melihat tempat ingin rasanya dia menciumi


wajah kemerahan istrinya itu.


"Baiklah.. setelah semuanya beres kita akan


segera pulang.!"


Ujar Agra di balas anggukan kepala Kiran.


"Apa tubuhmu terluka.?"


Kiran melepaskan pelukannya, meneliti keadaan


Agra secara seksama.


"Tidak ada yang serius Nona Kiran.."


Jawab Agra sambil kembali menarik tubuh kiran


ke dalam pelukannya. Keduanya kini terdiam


saling memeluk merasakan isi hati masing-


masing yang saat ini berkecamuk.


Orang-orang yang ada di tempat itu hanya bisa


berdiri seolah menjadi patung hiasan saja bagi


mereka berdua. Hati Moza semakin panas


melihat kedekatan mereka. Dia menghampiri


keduanya yang kini melepaskan pelukannya.


"Baiklah.. sepertinya kita akhiri saja kegiatan


ini sampai di sini. Tuan Agra harus segera


mendapatkan perawatan.."


Ucap Moza memutuskan. Dia menatap semua


teman-temannya yang terlihat mengangguk


setuju. Moza kembali berpaling menatap Agra.


"Tuan Agra.. bagaimana kalau anda ikut saya ke


kota untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut."


Tawar Moza dengan tatapan penuh harapan.


"Nona Moza.. sepertinya itu tidak di perlukan.


Saya bisa merawatnya sendiri.!"


Tolak Kiran dengan tatapan yang terlihat datar


namun cukup membuat hati Moza terbakar.


"Tapi Nona Kiran..saya merasa bersalah atas


apa yang telah menimpa Tuan Agra hari ini, jadi


sebagai gantinya saya akan merawat Tuan.."


"Nona Moza..Agra adalah suami saya, jadi saya


sendiri yang akan merawatnya.!"


Moza tampak terkejut dengan raut wajah kini


berubah pucat pasi. Apa yang baru dia dengar?


suami..?? tidak, ini pasti salah.!


"A-apa.. Maksud anda, Tuan Agra itu..?"


"Iya..dia adalah suami saya.!"


Tegas Kiran sambil menggenggam tangan Agra


yang terlihat hanya bisa mengulum senyumnya


melihat sikap impulsif istrinya itu. Moza tampak


"Kalian.. suami istri..?"


Dia kembali mencoba meyakinkan. Agra maju


merengkuh bahu Kiran, menatap tenang wajah


Moza yang terlihat menggeleng tidak terima


semua kenyataan ini.


"Benar Nona Moza..Kiran adalah istri saya.!"


Agra meyakinkan seraya mempererat dekapan


tangannya di bahu Kiran. Moza dan kawan-


kawannya hanya bisa terdiam masih mencoba menerima kenyataan di luar harapannya itu.


******* *******


Agra berdiri di ujung landasan yang baru saja


selesai di kerjakan. Semuanya sudah siap kini.


Landasan itu bisa memuat lebih dari 5 buah


helikopter sekaligus, dan ini yang dia inginkan.


"Semuanya sudah siap Tuan.!"


Badar membungkuk hormat di hadapan Agra


yang sedang menatap puas pada hasil kerja


semua penjaga dan pekerja lainnya.


"Hemm..aku cukup puas melihat nya.!"


"Tuan.. landasan seluas ini apa memang di


perlukan.?"


Badar masih merasa bingung dengan fungsi


dari landasan itu. Agra tersenyum miring.


"Kau akan tahu nanti. Lagipula tempat ini akan


berguna untuk semua orang. Kalian jadi punya


landasan strategis untuk para investor asing


yang akan datang ke tempat ini.!"


Badar mengangguk-angguk mulai memahami


maksud Agra membangun tempat ini.


"Baiklah..kita kembali ke pondok sekarang.


Besok adalah hari yang cukup penting, kita


harus mempersiapkan nya sebaik mungkin.!"


Ucap Agra kemudian sambil berjalan kearah


mobilnya di ikuti oleh 3 bawahan setianya.


Besok adalah hari pertama penebangan dan


semua hal yang di butuhkan kini sudah siap


sepenuhnya, hanya tinggal pelaksanaan saja.


Sore ini di adakan ritual syukuran di pondok


seperti yang biasa di adakan. Acara ini punya


tujuan sebagai ungkapan rasa syukur kepada


Sang Maha Pemberi Rejeki karena telah memberi kelancaran dan keberhasilan hingga akhirnya


hasil jerih payah selama 8 tahun bisa di petik


dengan penuh suka cita walaupun begitu banyak cerita duka di balik keberhasilan ini.


Acara ini juga di hadiri oleh semua pekerja


perkebunan dan orang-orang yang terlibat di


dalam perkebunan Grandnindia.


Malam ini Kiran memutuskan untuk menginap


di pondok karena besok Agra tidak akan bisa


menjemput dirinya di Villa akibat kesibukannya


sebab penebangan akan di mulai pagi sekali


bertepatan dengan terbitnya matahari.


Semua penjaga bersiaga malam ini bersama


dengan beberapa bawahan Zack. Saat ini Zack


sendiri pergi untuk mengurus kedua orang yang


tadi pagi sudah menyerang Agra.


"Apa Nona mau Mbak buatkan minuman jahe


panas..?"

__ADS_1


Tawar Rasmi seraya memakaikan mantel ke


tubuh Kiran saat gadis itu berdiri di dekat jendela kamarnya. Melihat keluar menembus kegelapan malam yang pekat.


"Tidak perlu mbak, saya hanya ingin beristirahat


sekarang."


Tolak Kiran sambil tersenyum lembut kearah


Rasmi.


"Baiklah.. kalau begitu mbak permisi ya Nona."


"Iya mbak.. terimakasih..selama ini mbak sudah


menjaga Kiran dengan baik."


"Apa yang Nona katakan..ini semua sudah jadi


kewajiban Mbak.."


"Mungkin ini adalah hari-hari terakhir Kiran ada


di tempat ini.. sebenarnya Kiran sudah mulai


kerasan tinggal di tempat ini.."


Ucap Kiran berat, dia kembali menatap keluar.


Rasmi terlihat sedih, menatap wajah cantik


Nona nya dalam diam.


"Nona kan bisa berkunjung lagi kesini kapan


pun Nona inginkan.."


Kiran tersenyum manis seraya mengangguk.


"Mbak benar.. baiklah sekarang Mbak juga


istirahat ya.."


"Baik Nona.. selamat malam.."


Rasmi akhirnya keluar kamar meninggalkan


Kiran yang kembali menatap keluar jendela.


Dia merenungkan semua hal yang di alaminya


selama berada di tempat ini. Semuanya terasa


bagaikan mimpi. Hampir dua minggu dia berada


di desa ini dengan rentetan kejadian yang tidak


pernah di bayangkan nya sama sekali.


"Apa kau sedang merenungkan sesuatu.?"


Kiran terperanjat saat tiba-tiba Agra sudah ada


di belakangnya, memeluknya erat, melingkarkan


tangan di perutnya membuat tubuh Kiran


langsung panas dingin dengan detak jantung


tidak beraturan.


"Agra..a-apa yang kau lakukan.?"


Lirih Kiran sambil mencoba melepaskan diri


dari pelukan Agra yang semakin kuat dan erat.


"Aku sedang memberimu kehangatan, memang


nya apalagi.?"


"Tapi..ini tidak benar, tolong lepaskan aku.."


"Apanya yang tidak benar.? bukankah aku


punya hak untuk melakukan semua ini ?"


Kiran terdiam seraya memejamkan matanya


mencoba melawan desiran halus yang merasuk


ke dalam jiwanya seakan memaksa dirinya untuk menerima semua perlakuan Agra. Tangan Agra bergerak menyingkap rambut yang menutupi


leher jenjang Kiran.


"Kau butuh kehangatan saat ini sayang.."


Bisik Agra lembut membuat hati dan angan Kiran melayang di penuhi bunga-bunga bermekaran.


Bibir Agra mulai bergerak nakal menyusuri


tengkuk leher Kiran menjilatnya halus membuat


Kiran berjingkat kaget, semua bulu-bulu halus


dalam tubuhnya meremang seketika.


"Agra..tolong.. biarkan aku tidur sekarang..


aakhh..Agra..!"


Kiran mendesah pelan saat bibir Agra menggigit


kecil leher jenjangnya meninggalkan jejak di sana.


Aksinya semakin liar dengan mencumbu seluruh


leher putih istrinya itu.


"Emhh..Agra sudah.. hentikan..!"


Kiran melenguh mulai tidak tahan dengan semua


sentuhan lembut yang di lancarkan Agra, aliran


darahnya kini mulai terbakar hebat.


Agra membalikkan tubuh Kiran, keduanya saling


pandang kuat, wajah Kiran saat ini sudah terlihat


memerah seluruhnya.


"Setelah kita kembali ke kota..aku akan datang


pada orang tuamu, memintamu secara baik-baik


untuk menjadi istriku, kita akan meresmikan


hubungan ini.."


Mata Kiran menatap tidak percaya pada Agra


yang terlihat sangat serius dengan ucapan nya.


"Tapi Agra..kita bahkan belum..emmhh.."


Agra sudah membungkam bibir Kiran dengan


bibirnya, ********** lembut dan intens.Saat ini


Kiran sudah tidak punya daya lagi untuk menolak


perlakuan Agra, perlahan dia mulai ikut terhanyut


dalam buaian ciuman panas dan lembut yang di lancarkan Agra. Dia pun mulai membalasnya


membuat Agra semakin bersemangat .


Cukup lama mereka larut dalam kehangatan


ciuman manis dan lembut yang mampu


mengalahkan dinginnya cuaca malam ini.


Hingga akhirnya keduanya mengakhirinya


saat napas mereka hampir habis.


"Istirahatlah..aku akan keluar sebentar.."


Ucap Agra seraya mengelus lembut bibir Kiran


yang membengkak karena ulahnya. Kiran hanya


mengganguk dengan wajah yang tertunduk malu


membuat Agra tersenyum puas melihat sikap


polos istrinya itu.


"Jangan khawatir..aku akan menemanimu tidur


di sini, malam ini..!"


Ujar Agra kemudian dengan senyum smirk nya, kembali mengecup lembut bibir Kiran setelah


itu dia keluar dari kamar tanpa rasa bersalah


membuat Kiran hanya bisa berdiri membeku


di tempat.


Cuaca di perkebunan sangat dingin dengan


suasana yang sangat aneh dan berbeda dari


biasanya. Cuaca dingin ini bahkan mampu


membekukan kulit.


Setelah melaksanakan sholat isya Kiran segera menggulung tubuhnya di atas tempat tidur


sederhana dengan ukuran sedang yang ada di


dalam kamar tempat nya beristirahat. Selimut


tebal membungkus tubuhnya yang kini mulai kedinginan karena cuaca semakin menusuk.


Dia mulai memejamkan matanya mencoba


untuk beristirahat. Tidak lama kemudian dia


sudah terlelap karena tidak kuat menahan rasa


kantuk akibat lelah yang mendera tubuhnya.


Namun menjelang dini hari tiba-tiba saja Kiran


tersentak bangun dari tidurnya ketika terdengar


gemuruh tembakan yang sangat mengerikan.


Saat ini tengah terjadi sesuatu yang tidak di


inginkan di luar pondok..


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2