
**********
Dua hari berlalu tanpa terasa...
Sore ini penjagaan di sekitar wilayah kediaman
pribadi istana Hadiningrat tampak di perketat.
Dari mulai pintu gerbang masuk kawasan sudah terlihat aparat keamanan yang bersiaga penuh.
Malam ini merupakan moment yang sangat
penting untuk seluruh keluarga Hadiningrat
juga keluarga Mahesa. Karena acara resepsi
pernikahan Tuan dan Nona Muda Hadiningrat
akan di gelar. Semua persiapan sudah selesai,
hanya tinggal menunggu waktu pelaksanaan
saja yang rencananya akan di mulai pukul 7.
Kamar khusus ruang pingitan...
Semua orang yang ada di kamar itu saat ini
sedang menatap takjub pada sosok bidadari
yang baru saja selesai melakukan persiapan.
Orang-orang melongo dengan mulut terbuka
begitu Michelle selesai memakaikan gaun
pengantin rancangannya yang terlihat begitu
Woww..luar biasa indah dan memukau.
Gaun pengantin warna navy gold yang telah
di desain khusus dengan sentuhan modern
futuristik tampak begitu glamor membalut
tubuh indah Kiran dengan aksen mutiara
cantik di bagian depannya. Terlihat sangat
menyatu dengan sosok pemakainya. Di
lengkapi dengan sentuhan ajaib tangan
Angela sang Master MUA yang mampu
menyulap Kiran menjadi sosok berbeda.
Tidak ada kata yang bisa menggambarkan
keindahan yang kini tersaji di depan mata
semua orang. Yang jelas saat ini Kiran tampak
menakjubkan..cantik luar biasa dengan segala
pesona yang mampu membuat hati setiap
orang bergetar tanpa terkecuali..
"Baiklah..kita keluar sekarang.. biarkan dia
bersama dengan adiknya saja..!"
Suara Eyang putri menyadarkan semua orang
dari keterpesonaan nya. Mereka semua tersipu
sendiri masih begitu takjub akan kecantikan
sang mempelai wanita. Akhirnya semua orang
keluar dari kamar itu dan kini hanya tersisa
Aryella berserta Angela dan satu asisten nya.
"Kakak..aku iri padamu..!"
Aryella cemberut sambil menatap Kiran yang
sedang melihat pantulan dirinya di cermin.
"Aryella..semua wanita itu cantik pada dasar
nya. Kita hanya tinggal merawat dan sebisa
mungkin untuk selalu mensyukuri nya.."
"Iya..tapi Tuhan memang sangat menyayangi
mu.. hingga kau di beri kelebihan fisik yang
begitu sempurna.."
Kiran tersenyum lembut sambil melirik kearah
Aryella , menatapnya penuh ketenangan.
"Kau pun sangat cantik malam ini.. Lihatlah
kelebihan yang ada pada dirimu. Senyum
indahmu adalah aset berharga mu.."
Kiran benar, Aryella memang memiliki senyum
yang indah hingga bisa membuat mata setiap
orang tidak bosan saat melihatnya.
"Baiklah kau benar..Oke kalau begitu kita
tinggal menunggu kedatangan Tuan Agra
untuk menjemput bidadari nya kesini.."
"Aryella..dia adalah kakak iparmu..!"
Aryella tersenyum sedikit canggung. Dia masih
mengingat dengan jelas perbuatan memalukan
yang pernah di lakukannya dulu.
"Dia terlalu tinggi untuk ku perlakukan sebagai
kakak iparku. Biarkan aku menempatkan diri
di posisi seharusnya..!"
Kiran menggeleng pelan sambil tersenyum geli.
Matanya kini bergulir kearah pintu kamar.
"Kak Sam... Nathan..."
Dua pria tinggi tegap yang berdiri di ambang
pintu sedang tersihir saat ini. Mata mereka
terpaku dengan sorot mata penuh takjub.
"Hei..apa kalian akan terus berdiri di sana..?"
Tegur Aryella dengan tatapan sedikit kesal dan
tidak suka mengarah pada Nathan. Kedua pria
itu langsung mengerjapkan mata kembali pada
kesadarannya. Mereka menggaruk tengkuk
dengan wajah memerah, malu sendiri.
Samuel menghampiri Kiran lalu memeluknya
erat. Kiran balas memeluk kakak tirinya itu.
"Aku ikut bahagia untuk mu Kiran..Kau pantas
mendapatkan semua ini.."
Bisik Samuel di tengah-tengah pelukannya.
"Terimakasih ya Kak.. selama ini kamu sudah
menjadi kakak terbaik untuk ku..Selalu menjadi
malaikat penjagaku.."
Lirih Kiran. Keduanya saling melepaskan diri.
"Apa kakak datang bersama dengan seseorang
yang sangat spesial..?"
Kiran menatap Samuel penuh harap. Pria itu
hanya tersenyum tenang.
"Aku akan mengenalkan nya nanti..!"
Ucapnya dengan kedipan mata penuh arti.
Kiran tersenyum seraya mengangguk.
Nathan maju berhadapan dengan Kiran,
untuk sesaat keduanya saling pandang.
"Selamat Kiran..mau tidak mau, mulai saat
ini aku harus benar-benar melepasmu..!"
Ujar Nathan dengan suara dan tatapan yang
sangat berat. Aryella memperhatikan mereka
dalam diam. Dia sangat mengerti kalau Nathan
masih kesulitan untuk melepaskan hatinya
dari sosok Kiran.
"Terimakasih..Aku berharap kalian berdua akan
segera menemukan kebahagiaan yang sejati."
"Apa aku boleh memeluk mu untuk yang
terakhir kali..?"
Kiran membeku di tempat dengan wajah tidak
enak. Namun tatapan Nathan terlihat penuh permohonan. Kiran melirik ragu kearah Aryella
yang terlihat mengangguk tenang.
"Sebagai saudara ipar.."
Tegas Nathan dengan seringai senyum tipis
di bibirnya. Kiran tersenyum lembut sambil
mengangguk. Nathan merengkuh tubuh
Kiran kedalam pelukannya.
"Kau tahu..aku masih sangat mencintaimu
Kiran..Mungkin rasa cinta ini akan terbawa
sampai aku mati.."
Kiran mencoba menarik tubuh nya, tapi Nathan
tetap menahannya, mempererat pelukannya.
"Aku mohon Nathan.. buatlah dirimu pergi
dari bayang-bayang masa lalu. Karena itu
hanya akan membuatmu tersiksa sendiri.!"
Lirih Kiran sambil berusaha kembali menarik
dirinya dari dekapan Nathan.
"Tapi aku akan berusaha untuk menerima
Aryella sepenuhnya sebagai istriku dan akan
belajar mencintainya dengan pelan-pelan.."
Kiran, Aryella dan Sam menarik napas lega
mendengar kata-kata Nathan. Akhirnya
Nathan melepaskan Kiran dari pelukannya.
"Nona..Tuan Muda sedang menuju kesini.."
Tiba-tiba saja Tata sudah muncul di luar pintu
membuat semua orang terkejut. Wajah Kiran
langsung berbinar, jantungnya saat ini seakan bergelombang. Rasa rindunya yang tertahan
selama dua hari membuat dadanya berdebar
hebat, hingga mampu melemaskan sendi-
sendi dalam tubuhnya.
"Baiklah..kalau begitu kita akan keluar duluan
karena harus menyambut tamu di depan..!"
Ujar Samuel sambil kembali menatap Kiran
yang mengangguk pelan.
__ADS_1
"Aku akan menunggu mu di luar.."
Nathan berbisik sambil mencium kening
Aryella yang mematung di tempat dengan
wajah di penuhi semburat merah, hatinya
terasa begitu hangat.
Samuel dan Nathan cepat-cepat keluar dari
ruangan karena sebagai anggota keluarga
dari mempelai wanita, mereka mendapat
tugas untuk menyambut kedatangan tamu
undangan.
Tidak lama dari arah koridor utama muncul
rombongan mempelai pria yang melangkah
tenang di kawal ketat oleh para pria gagah
perkasa. Ryu dan Bara berada di sisi kanan
kiri Agra mengapit langkahnya .
Tiba di depan pintu..kedua mata yang sudah
saling merindu itu kini terpaku, terkesima
oleh sosok masing-masing. Saat ini Agra
tampil bak seorang raja yang sangat gagah
dan penuh kharisma. Wajahnya yang luar
biasa tampan tampak begitu bercahaya
dengan aura kemilau melingkupi seluruh
sosok gagah nya hingga mampu membuat
semua orang tak sanggup memandang nya
lama-lama. Dia begitu bersinar terang dalam
balutan jas mengkilap warna senada dengan
gaun pengantin yang di kenakkan Kiran.
Keduanya saling menatap kuat tanpa berkedip.
Agra menelan salivanya berat menahan gejolak perasaan yang kini meluber melihat kecantikan istrinya saat ini, begitu indah tak terjabarkan..
"Kalian keluar sekarang..!"
Titah Agra dengan tatapan tidak pernah lepas
sedetikpun dari wajah Kiran. Semua orang kini
keluar dengan senyap sambil membungkukan
badan termasuk Aryella, Angela dan asistennya
yang benar-benar tidak tahan untuk tidak melirik kearah Kiran dan Agra dengan tatapan takjub.
"Apa yang kau lakukan.. lancang sekali kamu
berani memandangi mereka berdua..!"
Geram Angela sambil menyeret sang asisten
keluar ruangan sambil mengipasi wajahnya
yang full make up itu. Kini mereka semua
menunggu di luar kamar.
Beberapa saat kemudian sudah terdengar
suara desahan lembut yang keluar dari mulut
Kiran saat Agra menyergap bibir ranum nya, ********** rakus di penuhi gelora kerinduan
yang sudah tidak terbendung. Keduanya larut
dalam manis dan lembut nya ciuman penuh
kerinduan yang hampir saja membuat mereka
hilang kendali. Kiran yang masih bisa kontrol
mendorong halus dada Agra, namun lagi-lagi
Agra menyambar bibirnya, semakin menekan
dan memperdalam ciumannya.
"Aku sangat merindukanmu sayang...!"
Suara Agra terdengar parau saat dia melepas
pagutannya karena Kiran hampir kehabisan
napas. Keduanya saling menempelkan hidung
dengan tatapan mata yang sangat dalam.
"Aku juga sangat merindukan mu..Aku tidak
bisa tidur dua malam ini karena memikirkan
mu..Kau membuatku gelisah sayang.."
Balas Kiran sambil meraup wajah tampan
Agra, mengelusnya lembut penuh kerinduan
kemudian mendaratkan ciuman di seluruh
wajah itu membuat Agra semakin memanas.
Dia segera merengkuh tubuh Kiran ke dalam
dekapannya, memeluknya erat-erat.
"Semua nya sudah berakhir. Siksaan berat
ini sudah berlalu, kita akan selalu bersama
setelah ini.."
Kiran mengangguk seraya merebahkan
kepalanya di dada bidang Agra. Dan riasan
di kepalanya kini sedikit berantakan.
"Angela...!"
Agra berseru keras dari dalam kamar.
"Yes darling...aku datang..tenang..aku akan merapihkan nya dalam waktu cepat.."
Angela masuk dengan gaya gemulainya dan
saja terjadi, dengan cepat dia membimbing
Kiran untuk kembali duduk di kursi meja rias.
Agra memperhatikan semua yang di lakukan
oleh pria lemah gemulai itu, sesekali matanya
saling bertautan dengan mata Kiran lewat
cermin. Sorot mata mereka masih memendam
gejolak kerinduan yang terpaksa harus di tahan.
------- ------
Ekspresi yang di tampilkan oleh setiap tamu
yang masuk ke dalam ruang resepsi adalah
menganga dan berdecak kagum saat melihat
kemegahan serta kemewahan tempat itu.
Bagaimana tidak.. ruangan luas dengan atap
yang sangat megah itu telah di sulap menjadi
sebuah tempat pesta yang di hiasi dekorasi
mewah nan glamor serta di penuhi lighting
dengan konsep futuristik yang super canggih
menggambarkan dengan jelas sosok sang
empunya pesta.
Hampir semua tamu sudah hadir memenuhi
area pesta dengan penampilan yang serba
mewah dan elegan. Maklum tamu yang hadir
hampir semuanya adalah orang-orang kalangan
atas yang merupakan rekan bisnis Agra juga
para bangsawan kenalan Nyonya Ambarwati.
Tuan Hasimoto tampak sedang berbincang
dengan Tuan Zein. Keduanya sempat merasa
sedikit canggung saat pertama kali bertemu
mengingat diantara mereka pernah ada moment
yang tidak mengenakkan. Namun setelah lama
dan sedikit berbasa-basi akhirnya keduanya kini
malah terlihat sangat akrab, berbincang hangat
di selingi oleh tawa keakraban.
Acara mulai bergulir di pimpin oleh dua orang
MC populer. Mereka berbicara saling menyahut
seakan semua kata mengalir begitu saja dari
mulut keduanya tanpa jeda.
Acara pertama adalah sambutan dari Tuan
Rumah sebagai pihak yang mengadakan acara.
Tuan Hasimoto naik ke atas panggung. Semua
tamu tampak terdiam di tempat, terhipnotis
oleh keberadaan Sang Ketua Klan yang mampu
membuat lutut semua orang sedikit gemetar.
Dia memberikan sambutannya dengan suara
yang sangat tegas namun tetap bersahaja.
Tidak banyak kata yang di sampaikan oleh
Tuan Hasimoto, hanya ucapan terimakasih
atas kehadiran serta doa dari semua hadirin.
"Baiklah... sepertinya kita semua sudah tidak
sabar ingin segera melihat kehadiran kedua
mempelai di pelaminan megah ini ya kaan.."
"Ohh.. tentu dong.. kalau begitu kita panggil
saja kedua mempelai untuk hadir di tempat
ini.. raja dan ratu.. perlihatkan diri kalian.."
Itulah ocehan para MC yang berlanjut dengan
memanggil kehadiran kedua mempelai untuk
segera datang ke tempat pesta.
Tidak lama dari arah pintu utama ada pecahan
kembang api yang langsung meluncur ke atap
bangunan yang terbuka pas di tengah ruangan.
Malam ini tepat bulan purnama..genap sebulan
bagi Kiran menjadi penghuni istana megah
milik suaminya ini.
Semua tamu dibuat bengong di tempat saat
melihat kemunculan kedua mempelai yang
berjalan bergandengan tangan. Kiran menebar
senyum lembut penuh kesantunan kepada para
tamu yang berbaris di kanan kiri karpet merah
yang mereka lewati. Posisi tangan Agra kini
beralih melingkari pinggang Kiran posesif
dengan raut wajah mulai gerah saat melihat
tatapan para tamu yang begitu terpesona
pada istrinya itu.
__ADS_1
Mata para tamu rasanya tidak ingin berpaling
dari semua keindahan yang tersaji di depan
mata saat ini, dimana dua sosok yang begitu menyilaukan mata kini sudah berdiri tenang, bersanding mesra di atas pelaminan bersama
kedua orang tua mereka yang mendampingi.
Mereka berdua benar-benar bak raja dan ratu
yang begitu luar biasa mempesona membuat
mata semua orang tiada jemu memandangi
keduanya dengan bebas tanpa larangan.
"Baiklah.. karena kedua mempelai sudah ada
di tengah-tengah kita.. selanjutnya kami akan
memberi kesempatan kepada keduanya untuk memberikan sepatah dua patah kata sebagai sambutan untuk para tamu undangan yang
hadir di sini..silahkan Tuan..."
MC membungkukan badan ke hadapan Agra.
Lalu sang pimpinan WO menyerahkan mic
pada Agra yang langsung menegakkan badan
nya menghadap lurus kearah para tamu.
Tangan nya masih setia menggengam tangan
Kiran yang ikut maju di samping suaminya.
"Selamat malam semuanya.. salam sejahtera
untuk kita semua. Saya ucapkan terimakasih
kepada para tamu semuanya yang telah hadir
di tempat ini, meluangkan waktu berharga nya
hanya untuk menghadiri undangan kami.."
Agra membuka sambutannya, lalu membagi
perhatian kepada seluruh tamu undangan
yang sedang berdiri fokus menatap kearah
mereka berdua. Tidak lama Agra kembali
berbicara dengan tenang penuh wibawa.
Tepuk tangan meriah terdengar dari semua
hadirin mengiringi akhir sambutan yang di
sampaikan oleh Agra. Selanjutnya pembawa
acara mempersilahkan semua tamu untuk
naik ke pelaminan sesuai dengan pengaturan
yang telah di berlakukan oleh panitia acara.
Mereka semua naik secara teratur untuk
mengucapkan selamat dan menyampaikan
rasa sukacita serta ikut berbahagia kepada
keluarga besar khususnya kedua mempelai.
Eyang Putri yang duduk di satu area khusus
tampak tersenyum bahagia melihat sang cucu
tercinta duduk di pelaminan bersanding mesra
dengan wanita yang sangat di cintainya dari
kecil hingga dia rela hidup terpisah dari kedua
orang tuanya hanya untuk mencari dirinya.
Panggung hiburan kini mulai di warnai oleh
penampilan beberapa penyanyi kenamaan.
Sedang para tamu bergerak rapi dan teratur
menuju ke area lain di luar ruangan untuk
menikmati berbagai hidangan istimewa yang
telah tersedia di sana. Jadi ruang pelaminan
terpisah keberadaan nya dengan ruang jamuan.
"Selamat Tuan Bimantara.. semoga kalian
selalu berbahagia.."
Dirga yang datang bersama dengan istri dan
putra tercinta tampak berangkulan hangat
dengan Agra.
"Terimakasih Tuan Moolay atas kehadiran nya."
Sambut Agra, kemudian menundukkan kepala
sedikit kearah Mayra yang tersenyum lembut
kearah nya, melakukan hal yang sama sambil mengatupkan kedua tangan penuh kesantunan.
Malam ini seperti biasa Mayra tampil anggun
dan mempesona dalam balutan gaun pesta
yang sangat indah. Sedang Rein sang putra
tampan nya terlihat begitu menawan dengan
setelah jas mewah senada dengan sang Papa.
"Selamat ya Nona Kiran, semoga kasih sayang
Allah akan selalu menemani perjalanan hidup
kalian berdua.."
Ujar Mayra di sambut hangat oleh Kiran. Kedua
nya berangkulan hangat dengan senyum yang
sama-sama terkembang indah.
"Aamiin..Terimakasih banyak Nyonya Moolay.."
Sahut Kiran lembut, mereka saling melepas
rangkulan.
"Hai..cowok tampan.. siapa namamu.? Kau
terlihat sangat bersinar malam ini.."
Kiran berpaling pada Rein yang tersipu malu
sambil menyembunyikan wajah ganteng nya
di tangan sang Mama.
"Panggil saja Rein..Dia sedikit pemalu kalau
berada di hadapan wanita cantik.."
Jelas Mayra dengan senyum terkulum. Rein
tampak cemberut, dia segera mengulurkan
tangan mencium punggung tangan Kiran yang langsung membungkuk, mengecup lembut
pipi Rein yang lagi-lagi tersipu malu, wajahnya
kini tampak memerah. Para orang dewasa
yang melihatnya hanya bisa tersenyum
melihat Rein salah tingkah.
Panitia WO mengarahkan mereka semua
untuk melakukan sesi fhoto bersama. Dan
Rein berdiri tegak diantara dua mempelai.
"Silahkan Tuan Moolay.. nikmati pestanya..!"
Agra mempersilahkan di sambut anggukan
kepala Dirga. Keluarga kecil itu pun turun
dari pelaminan.
Tidak lama muncul Aham yang menggandeng
mesra istri super cantiknya serta menggendong
putri kecilnya yang terlihat begitu istimewa.
Freya saat ini sudah berumur 2 tahun, wajah
nya yang cantik dengan segala keistimewaan
yang di milikinya makin terlihat menggemaskan
hingga mampu menyedot perhatian para tamu
yang lain. Bahkan banyak diantaranya yang
mengambil gambar Freya dengan kamera
ponsel mereka.
"Tuan Mahendra.. selamat datang..terimakasih
telah menyempatkan waktu nya untuk hadir di
sini sekeluarga.."
Sambut Agra saling menepuk punggung tangan
Aham karena mereka tidak bisa berangkulan.
Aham sepertinya sangat enggan melepaskan
putri kecilnya itu dari gendongannya.
"Selamat Tuan Agra..aku harap kalian segera
di anugerahi momongan.."
"Aamiin.. Tuhan sudah mengatur semuanya
dengan baik.."
Sahut Agra. Dia berpaling pada Kanaya yang
terlihat menundukkan kepala sedikit seraya
tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya.
"Selamat Tuan Agra, semoga berbahagia.."
"Terimakasih Nyonya Mahendra.."
Kiran kembali merasa gemas melihat Freya,
dia mencubit halus pipi putih kemerahan gadis
kecil itu yang tersenyum lucu menyembunyikan
wajahnya di bahu lebar sang Ayah.
"Lucu banget sih kamu.. cantik nya bahkan
mampu mengalahkan rembulan malam ini.."
Puji Kiran sambil mengelus rambut Freya.
Aham tersenyum lebar sambil menyalami Kiran dengan menatapnya tenang. Kemudian Freya
ikut menyalami dan mencium pipi Kiran yang
langsung tersenyum senang. Tidak lama Naya
berangkulan hangat dengan Kiran .
" Selamat ya Nona Kiran..kami turut berbahagia.
Semoga kalian segera memperoleh keturunan
yang sholeh dan solehah..aamiin.."
"Aamiin...Terimakasih banyak Nyonya Aham.."
Kiran dan Naya saling melepaskan pelukan,
dan masih tersisa senyum lembut di bibir
keduanya. Kembali seperti tadi, mereka
semua melakukan sesi fhoto bersama dulu
untuk mengabadikan moment yang sangat
langka ini. Setelah itu Aham beserta keluarga
kecilnya bergabung dengan para tamu yang
lain untuk mencicipi hidangan yang ada..
Pesta mewah itupun terus berlanjut dan
berjalan lancar sampai dengan batas waktu
yang telah di tentukan, yakni pukul 10 malam.
**********
__ADS_1
TBC......