Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
78. Malam Kebahagiaan


__ADS_3

 


**********


 


Dua hari berlalu tanpa terasa...


Sore ini penjagaan di sekitar wilayah kediaman


pribadi istana Hadiningrat tampak di perketat.


Dari mulai pintu gerbang masuk kawasan sudah terlihat aparat keamanan yang bersiaga penuh.


Malam ini merupakan moment yang sangat


penting untuk seluruh keluarga Hadiningrat


juga keluarga Mahesa. Karena acara resepsi


pernikahan Tuan dan Nona Muda Hadiningrat


akan di gelar. Semua persiapan sudah selesai,


hanya tinggal menunggu waktu pelaksanaan


saja yang rencananya akan di mulai pukul 7.


Kamar khusus ruang pingitan...


Semua orang yang ada di kamar itu saat ini


sedang menatap takjub pada sosok bidadari


yang baru saja selesai melakukan persiapan.


Orang-orang melongo dengan mulut terbuka


begitu Michelle selesai memakaikan gaun


pengantin rancangannya yang terlihat begitu


Woww..luar biasa indah dan memukau.


Gaun pengantin warna navy gold yang telah


di desain khusus dengan sentuhan modern


futuristik tampak begitu glamor membalut


tubuh indah Kiran dengan aksen mutiara


cantik di bagian depannya. Terlihat sangat


menyatu dengan sosok pemakainya. Di


lengkapi dengan sentuhan ajaib tangan


Angela sang Master MUA yang mampu


menyulap Kiran menjadi sosok berbeda.


Tidak ada kata yang bisa menggambarkan


keindahan yang kini tersaji di depan mata


semua orang. Yang jelas saat ini Kiran tampak


menakjubkan..cantik luar biasa dengan segala


pesona yang mampu membuat hati setiap


orang bergetar tanpa terkecuali..


"Baiklah..kita keluar sekarang.. biarkan dia


bersama dengan adiknya saja..!"


Suara Eyang putri menyadarkan semua orang


dari keterpesonaan nya. Mereka semua tersipu


sendiri masih begitu takjub akan kecantikan


sang mempelai wanita. Akhirnya semua orang


keluar dari kamar itu dan kini hanya tersisa


Aryella berserta Angela dan satu asisten nya.


"Kakak..aku iri padamu..!"


Aryella cemberut sambil menatap Kiran yang


sedang melihat pantulan dirinya di cermin.


"Aryella..semua wanita itu cantik pada dasar


nya. Kita hanya tinggal merawat dan sebisa


mungkin untuk selalu mensyukuri nya.."


"Iya..tapi Tuhan memang sangat menyayangi


mu.. hingga kau di beri kelebihan fisik yang


begitu sempurna.."


Kiran tersenyum lembut sambil melirik kearah


Aryella , menatapnya penuh ketenangan.


"Kau pun sangat cantik malam ini.. Lihatlah


kelebihan yang ada pada dirimu. Senyum


indahmu adalah aset berharga mu.."


Kiran benar, Aryella memang memiliki senyum


yang indah hingga bisa membuat mata setiap


orang tidak bosan saat melihatnya.


"Baiklah kau benar..Oke kalau begitu kita


tinggal menunggu kedatangan Tuan Agra


untuk menjemput bidadari nya kesini.."


"Aryella..dia adalah kakak iparmu..!"


Aryella tersenyum sedikit canggung. Dia masih


mengingat dengan jelas perbuatan memalukan


yang pernah di lakukannya dulu.


"Dia terlalu tinggi untuk ku perlakukan sebagai


kakak iparku. Biarkan aku menempatkan diri


di posisi seharusnya..!"


Kiran menggeleng pelan sambil tersenyum geli.


Matanya kini bergulir kearah pintu kamar.


"Kak Sam... Nathan..."


Dua pria tinggi tegap yang berdiri di ambang


pintu sedang tersihir saat ini. Mata mereka


terpaku dengan sorot mata penuh takjub.


"Hei..apa kalian akan terus berdiri di sana..?"


Tegur Aryella dengan tatapan sedikit kesal dan


tidak suka mengarah pada Nathan. Kedua pria


itu langsung mengerjapkan mata kembali pada


kesadarannya. Mereka menggaruk tengkuk


dengan wajah memerah, malu sendiri.


Samuel menghampiri Kiran lalu memeluknya


erat. Kiran balas memeluk kakak tirinya itu.


"Aku ikut bahagia untuk mu Kiran..Kau pantas


mendapatkan semua ini.."


Bisik Samuel di tengah-tengah pelukannya.


"Terimakasih ya Kak.. selama ini kamu sudah


menjadi kakak terbaik untuk ku..Selalu menjadi


malaikat penjagaku.."


Lirih Kiran. Keduanya saling melepaskan diri.


"Apa kakak datang bersama dengan seseorang


yang sangat spesial..?"


Kiran menatap Samuel penuh harap. Pria itu


hanya tersenyum tenang.


"Aku akan mengenalkan nya nanti..!"


Ucapnya dengan kedipan mata penuh arti.


Kiran tersenyum seraya mengangguk.


Nathan maju berhadapan dengan Kiran,


untuk sesaat keduanya saling pandang.


"Selamat Kiran..mau tidak mau, mulai saat


ini aku harus benar-benar melepasmu..!"


Ujar Nathan dengan suara dan tatapan yang


sangat berat. Aryella memperhatikan mereka


dalam diam. Dia sangat mengerti kalau Nathan


masih kesulitan untuk melepaskan hatinya


dari sosok Kiran.


"Terimakasih..Aku berharap kalian berdua akan


segera menemukan kebahagiaan yang sejati."


"Apa aku boleh memeluk mu untuk yang


terakhir kali..?"


Kiran membeku di tempat dengan wajah tidak


enak. Namun tatapan Nathan terlihat penuh permohonan. Kiran melirik ragu kearah Aryella


yang terlihat mengangguk tenang.


"Sebagai saudara ipar.."


Tegas Nathan dengan seringai senyum tipis


di bibirnya. Kiran tersenyum lembut sambil


mengangguk. Nathan merengkuh tubuh


Kiran kedalam pelukannya.


"Kau tahu..aku masih sangat mencintaimu


Kiran..Mungkin rasa cinta ini akan terbawa


sampai aku mati.."


Kiran mencoba menarik tubuh nya, tapi Nathan


tetap menahannya, mempererat pelukannya.


"Aku mohon Nathan.. buatlah dirimu pergi


dari bayang-bayang masa lalu. Karena itu


hanya akan membuatmu tersiksa sendiri.!"


Lirih Kiran sambil berusaha kembali menarik


dirinya dari dekapan Nathan.


"Tapi aku akan berusaha untuk menerima


Aryella sepenuhnya sebagai istriku dan akan


belajar mencintainya dengan pelan-pelan.."


Kiran, Aryella dan Sam menarik napas lega


mendengar kata-kata Nathan. Akhirnya


Nathan melepaskan Kiran dari pelukannya.


"Nona..Tuan Muda sedang menuju kesini.."


Tiba-tiba saja Tata sudah muncul di luar pintu


membuat semua orang terkejut. Wajah Kiran


langsung berbinar, jantungnya saat ini seakan bergelombang. Rasa rindunya yang tertahan


selama dua hari membuat dadanya berdebar


hebat, hingga mampu melemaskan sendi-


sendi dalam tubuhnya.


"Baiklah..kalau begitu kita akan keluar duluan


karena harus menyambut tamu di depan..!"


Ujar Samuel sambil kembali menatap Kiran


yang mengangguk pelan.

__ADS_1


"Aku akan menunggu mu di luar.."


Nathan berbisik sambil mencium kening


Aryella yang mematung di tempat dengan


wajah di penuhi semburat merah, hatinya


terasa begitu hangat.


Samuel dan Nathan cepat-cepat keluar dari


ruangan karena sebagai anggota keluarga


dari mempelai wanita, mereka mendapat


tugas untuk menyambut kedatangan tamu


undangan.


Tidak lama dari arah koridor utama muncul


rombongan mempelai pria yang melangkah


tenang di kawal ketat oleh para pria gagah


perkasa. Ryu dan Bara berada di sisi kanan


kiri Agra mengapit langkahnya .


Tiba di depan pintu..kedua mata yang sudah


saling merindu itu kini terpaku, terkesima


oleh sosok masing-masing. Saat ini Agra


tampil bak seorang raja yang sangat gagah


dan penuh kharisma. Wajahnya yang luar


biasa tampan tampak begitu bercahaya


dengan aura kemilau melingkupi seluruh


sosok gagah nya hingga mampu membuat


semua orang tak sanggup memandang nya


lama-lama. Dia begitu bersinar terang dalam


balutan jas mengkilap warna senada dengan


gaun pengantin yang di kenakkan Kiran.


Keduanya saling menatap kuat tanpa berkedip.


Agra menelan salivanya berat menahan gejolak perasaan yang kini meluber melihat kecantikan istrinya saat ini, begitu indah tak terjabarkan..


"Kalian keluar sekarang..!"


Titah Agra dengan tatapan tidak pernah lepas


sedetikpun dari wajah Kiran. Semua orang kini


keluar dengan senyap sambil membungkukan


badan termasuk Aryella, Angela dan asistennya


yang benar-benar tidak tahan untuk tidak melirik kearah Kiran dan Agra dengan tatapan takjub.


"Apa yang kau lakukan.. lancang sekali kamu


berani memandangi mereka berdua..!"


Geram Angela sambil menyeret sang asisten


keluar ruangan sambil mengipasi wajahnya


yang full make up itu. Kini mereka semua


menunggu di luar kamar.


Beberapa saat kemudian sudah terdengar


suara desahan lembut yang keluar dari mulut


Kiran saat Agra menyergap bibir ranum nya, ********** rakus di penuhi gelora kerinduan


yang sudah tidak terbendung. Keduanya larut


dalam manis dan lembut nya ciuman penuh


kerinduan yang hampir saja membuat mereka


hilang kendali. Kiran yang masih bisa kontrol


mendorong halus dada Agra, namun lagi-lagi


Agra menyambar bibirnya, semakin menekan


dan memperdalam ciumannya.


"Aku sangat merindukanmu sayang...!"


Suara Agra terdengar parau saat dia melepas


pagutannya karena Kiran hampir kehabisan


napas. Keduanya saling menempelkan hidung


dengan tatapan mata yang sangat dalam.


"Aku juga sangat merindukan mu..Aku tidak


bisa tidur dua malam ini karena memikirkan


mu..Kau membuatku gelisah sayang.."


Balas Kiran sambil meraup wajah tampan


Agra, mengelusnya lembut penuh kerinduan


kemudian mendaratkan ciuman di seluruh


wajah itu membuat Agra semakin memanas.


Dia segera merengkuh tubuh Kiran ke dalam


dekapannya, memeluknya erat-erat.


"Semua nya sudah berakhir. Siksaan berat


ini sudah berlalu, kita akan selalu bersama


setelah ini.."


Kiran mengangguk seraya merebahkan


kepalanya di dada bidang Agra. Dan riasan


di kepalanya kini sedikit berantakan.


"Angela...!"


Agra berseru keras dari dalam kamar.


"Yes darling...aku datang..tenang..aku akan merapihkan nya dalam waktu cepat.."


Angela masuk dengan gaya gemulainya dan


saja terjadi, dengan cepat dia membimbing


Kiran untuk kembali duduk di kursi meja rias.


Agra memperhatikan semua yang di lakukan


oleh pria lemah gemulai itu, sesekali matanya


saling bertautan dengan mata Kiran lewat


cermin. Sorot mata mereka masih memendam


gejolak kerinduan yang terpaksa harus di tahan.


------- ------


Ekspresi yang di tampilkan oleh setiap tamu


yang masuk ke dalam ruang resepsi adalah


menganga dan berdecak kagum saat melihat


kemegahan serta kemewahan tempat itu.


Bagaimana tidak.. ruangan luas dengan atap


yang sangat megah itu telah di sulap menjadi


sebuah tempat pesta yang di hiasi dekorasi


mewah nan glamor serta di penuhi lighting


dengan konsep futuristik yang super canggih


menggambarkan dengan jelas sosok sang


empunya pesta.


Hampir semua tamu sudah hadir memenuhi


area pesta dengan penampilan yang serba


mewah dan elegan. Maklum tamu yang hadir


hampir semuanya adalah orang-orang kalangan


atas yang merupakan rekan bisnis Agra juga


para bangsawan kenalan Nyonya Ambarwati.


Tuan Hasimoto tampak sedang berbincang


dengan Tuan Zein. Keduanya sempat merasa


sedikit canggung saat pertama kali bertemu


mengingat diantara mereka pernah ada moment


yang tidak mengenakkan. Namun setelah lama


dan sedikit berbasa-basi akhirnya keduanya kini


malah terlihat sangat akrab, berbincang hangat


di selingi oleh tawa keakraban.


Acara mulai bergulir di pimpin oleh dua orang


MC populer. Mereka berbicara saling menyahut


seakan semua kata mengalir begitu saja dari


mulut keduanya tanpa jeda.


Acara pertama adalah sambutan dari Tuan


Rumah sebagai pihak yang mengadakan acara.


Tuan Hasimoto naik ke atas panggung. Semua


tamu tampak terdiam di tempat, terhipnotis


oleh keberadaan Sang Ketua Klan yang mampu


membuat lutut semua orang sedikit gemetar.


Dia memberikan sambutannya dengan suara


yang sangat tegas namun tetap bersahaja.


Tidak banyak kata yang di sampaikan oleh


Tuan Hasimoto, hanya ucapan terimakasih


atas kehadiran serta doa dari semua hadirin.


"Baiklah... sepertinya kita semua sudah tidak


sabar ingin segera melihat kehadiran kedua


mempelai di pelaminan megah ini ya kaan.."


"Ohh.. tentu dong.. kalau begitu kita panggil


saja kedua mempelai untuk hadir di tempat


ini.. raja dan ratu.. perlihatkan diri kalian.."


Itulah ocehan para MC yang berlanjut dengan


memanggil kehadiran kedua mempelai untuk


segera datang ke tempat pesta.


Tidak lama dari arah pintu utama ada pecahan


kembang api yang langsung meluncur ke atap


bangunan yang terbuka pas di tengah ruangan.


Malam ini tepat bulan purnama..genap sebulan


bagi Kiran menjadi penghuni istana megah


milik suaminya ini.


Semua tamu dibuat bengong di tempat saat


melihat kemunculan kedua mempelai yang


berjalan bergandengan tangan. Kiran menebar


senyum lembut penuh kesantunan kepada para


tamu yang berbaris di kanan kiri karpet merah


yang mereka lewati. Posisi tangan Agra kini


beralih melingkari pinggang Kiran posesif


dengan raut wajah mulai gerah saat melihat


tatapan para tamu yang begitu terpesona


pada istrinya itu.

__ADS_1


Mata para tamu rasanya tidak ingin berpaling


dari semua keindahan yang tersaji di depan


mata saat ini, dimana dua sosok yang begitu menyilaukan mata kini sudah berdiri tenang, bersanding mesra di atas pelaminan bersama


kedua orang tua mereka yang mendampingi.


Mereka berdua benar-benar bak raja dan ratu


yang begitu luar biasa mempesona membuat


mata semua orang tiada jemu memandangi


keduanya dengan bebas tanpa larangan.


"Baiklah.. karena kedua mempelai sudah ada


di tengah-tengah kita.. selanjutnya kami akan


memberi kesempatan kepada keduanya untuk memberikan sepatah dua patah kata sebagai sambutan untuk para tamu undangan yang


hadir di sini..silahkan Tuan..."


MC membungkukan badan ke hadapan Agra.


Lalu sang pimpinan WO menyerahkan mic


pada Agra yang langsung menegakkan badan


nya menghadap lurus kearah para tamu.


Tangan nya masih setia menggengam tangan


Kiran yang ikut maju di samping suaminya.


"Selamat malam semuanya.. salam sejahtera


untuk kita semua. Saya ucapkan terimakasih


kepada para tamu semuanya yang telah hadir


di tempat ini, meluangkan waktu berharga nya


hanya untuk menghadiri undangan kami.."


Agra membuka sambutannya, lalu membagi


perhatian kepada seluruh tamu undangan


yang sedang berdiri fokus menatap kearah


mereka berdua. Tidak lama Agra kembali


berbicara dengan tenang penuh wibawa.


Tepuk tangan meriah terdengar dari semua


hadirin mengiringi akhir sambutan yang di


sampaikan oleh Agra. Selanjutnya pembawa


acara mempersilahkan semua tamu untuk


naik ke pelaminan sesuai dengan pengaturan


yang telah di berlakukan oleh panitia acara.


Mereka semua naik secara teratur untuk


mengucapkan selamat dan menyampaikan


rasa sukacita serta ikut berbahagia kepada


keluarga besar khususnya kedua mempelai.


Eyang Putri yang duduk di satu area khusus


tampak tersenyum bahagia melihat sang cucu


tercinta duduk di pelaminan bersanding mesra


dengan wanita yang sangat di cintainya dari


kecil hingga dia rela hidup terpisah dari kedua


orang tuanya hanya untuk mencari dirinya.


Panggung hiburan kini mulai di warnai oleh


penampilan beberapa penyanyi kenamaan.


Sedang para tamu bergerak rapi dan teratur


menuju ke area lain di luar ruangan untuk


menikmati berbagai hidangan istimewa yang


telah tersedia di sana. Jadi ruang pelaminan


terpisah keberadaan nya dengan ruang jamuan.


"Selamat Tuan Bimantara.. semoga kalian


selalu berbahagia.."


Dirga yang datang bersama dengan istri dan


putra tercinta tampak berangkulan hangat


dengan Agra.


"Terimakasih Tuan Moolay atas kehadiran nya."


Sambut Agra, kemudian menundukkan kepala


sedikit kearah Mayra yang tersenyum lembut


kearah nya, melakukan hal yang sama sambil mengatupkan kedua tangan penuh kesantunan.


Malam ini seperti biasa Mayra tampil anggun


dan mempesona dalam balutan gaun pesta


yang sangat indah. Sedang Rein sang putra


tampan nya terlihat begitu menawan dengan


setelah jas mewah senada dengan sang Papa.


"Selamat ya Nona Kiran, semoga kasih sayang


Allah akan selalu menemani perjalanan hidup


kalian berdua.."


Ujar Mayra di sambut hangat oleh Kiran. Kedua


nya berangkulan hangat dengan senyum yang


sama-sama terkembang indah.


"Aamiin..Terimakasih banyak Nyonya Moolay.."


Sahut Kiran lembut, mereka saling melepas


rangkulan.


"Hai..cowok tampan.. siapa namamu.? Kau


terlihat sangat bersinar malam ini.."


Kiran berpaling pada Rein yang tersipu malu


sambil menyembunyikan wajah ganteng nya


di tangan sang Mama.


"Panggil saja Rein..Dia sedikit pemalu kalau


berada di hadapan wanita cantik.."


Jelas Mayra dengan senyum terkulum. Rein


tampak cemberut, dia segera mengulurkan


tangan mencium punggung tangan Kiran yang langsung membungkuk, mengecup lembut


pipi Rein yang lagi-lagi tersipu malu, wajahnya


kini tampak memerah. Para orang dewasa


yang melihatnya hanya bisa tersenyum


melihat Rein salah tingkah.


Panitia WO mengarahkan mereka semua


untuk melakukan sesi fhoto bersama. Dan


Rein berdiri tegak diantara dua mempelai.


"Silahkan Tuan Moolay.. nikmati pestanya..!"


Agra mempersilahkan di sambut anggukan


kepala Dirga. Keluarga kecil itu pun turun


dari pelaminan.


Tidak lama muncul Aham yang menggandeng


mesra istri super cantiknya serta menggendong


putri kecilnya yang terlihat begitu istimewa.


Freya saat ini sudah berumur 2 tahun, wajah


nya yang cantik dengan segala keistimewaan


yang di milikinya makin terlihat menggemaskan


hingga mampu menyedot perhatian para tamu


yang lain. Bahkan banyak diantaranya yang


mengambil gambar Freya dengan kamera


ponsel mereka.


"Tuan Mahendra.. selamat datang..terimakasih


telah menyempatkan waktu nya untuk hadir di


sini sekeluarga.."


Sambut Agra saling menepuk punggung tangan


Aham karena mereka tidak bisa berangkulan.


Aham sepertinya sangat enggan melepaskan


putri kecilnya itu dari gendongannya.


"Selamat Tuan Agra..aku harap kalian segera


di anugerahi momongan.."


"Aamiin.. Tuhan sudah mengatur semuanya


dengan baik.."


Sahut Agra. Dia berpaling pada Kanaya yang


terlihat menundukkan kepala sedikit seraya


tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya.


"Selamat Tuan Agra, semoga berbahagia.."


"Terimakasih Nyonya Mahendra.."


Kiran kembali merasa gemas melihat Freya,


dia mencubit halus pipi putih kemerahan gadis


kecil itu yang tersenyum lucu menyembunyikan


wajahnya di bahu lebar sang Ayah.


"Lucu banget sih kamu.. cantik nya bahkan


mampu mengalahkan rembulan malam ini.."


Puji Kiran sambil mengelus rambut Freya.


Aham tersenyum lebar sambil menyalami Kiran dengan menatapnya tenang. Kemudian Freya


ikut menyalami dan mencium pipi Kiran yang


langsung tersenyum senang. Tidak lama Naya


berangkulan hangat dengan Kiran .


" Selamat ya Nona Kiran..kami turut berbahagia.


Semoga kalian segera memperoleh keturunan


yang sholeh dan solehah..aamiin.."


"Aamiin...Terimakasih banyak Nyonya Aham.."


Kiran dan Naya saling melepaskan pelukan,


dan masih tersisa senyum lembut di bibir


keduanya. Kembali seperti tadi, mereka


semua melakukan sesi fhoto bersama dulu


untuk mengabadikan moment yang sangat


langka ini. Setelah itu Aham beserta keluarga


kecilnya bergabung dengan para tamu yang


lain untuk mencicipi hidangan yang ada..


Pesta mewah itupun terus berlanjut dan


berjalan lancar sampai dengan batas waktu


yang telah di tentukan, yakni pukul 10 malam.


**********

__ADS_1


TBC......


__ADS_2