Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
70. Pingsan


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Kiran berjalan menghampiri Tanisha yang


masih berada di posisinya semula, berdiri


di samping Agra yang mencoba bersikap


sedatar mungkin tanpa ekspresi.


"Apa urusan mu sudah selesai di sini.?"


Tatapan Kiran seakan menembus jantung


Tanisha membuat dia mengerjapkan mata


tidak sanggup lagi beradu tatap.


"Su-sudah Nona Muda..!"


"Kalau begitu kau boleh keluar sekarang..!"


Tanisha mengangguk, lalu melirik kearah Agra


yang terlihat acuh kembali pada kesibukannya.


"Baik Nona.. saya permisi Presdir..!"


Tanisha mulai melangkahkan kakinya.


"Tunggu Tanisha..!"


Kiran maju mendekat kearah Tanisha yang


menghentikan langkahnya.


"Kalau kau masih sayang dengan karirmu


segera lah perbaiki dirimu.! atau kalau tidak


carilah laki-laki yang sepadan dengan mu..!"


Wajah Tanisha terangkat, terlihat memerah.


Kiran tersenyum bersahaja seraya menepuk


bahu Tanisha yang sedikit terbuka.


"Hargailah anugerah Tuhan yang telah begitu


baik memberi mu kesempurnaan fisik. Jangan


menjual harga dirimu hanya demi ambisi dan


napsu duniawi semata..!"


Tanisha mengepalkan tangannya kuat.


"Apakah anda merasa jauh lebih baik dari saya


Nona, hingga bisa seenaknya menjudge saya.?"


"Tentu saja tidak sama sekali. Aku hanya lah


wanita beruntung saja. Tapi setidaknya aku


tidak pernah mencapai sesuatu dengan cara-


cara yang kotor..! "


Tanisha mengetatkan rahang nya, matanya


kini menatap marah kearah Kiran yang tampak


tenang dan tidak terpancing.


"Kita lihat saja Nona Hadiningrat.. apakah


gelar ini pantas kau pertahankan atau hanya


akan sepintas lalu saja.!"


"Baiklah..kita juga akan lihat apakah kau akan


berhasil dengan permainan kotor mu ini atau


justru akan membawa mu pada kehancuran


Nona Danureza Arswendo..!"


Wajah Tanisha langsung berubah pias, dia


mundur dengan goyah. Kiran tersenyum


tipis, kemudian melangkah kembali kearah


meja kerja Agra.


"Kau boleh keluar sekarang..!"


Desis Kiran di samping Tanisha yang masih


tampak terkejut dengan wajah memucat.Tidak


lama dia cepat-cepat keluar dari ruangan itu


dengan langkah yang terseret limbung.


"Apa yang kau rencanakan sebenarnya.?"


Kiran melipat kedua tangan di dadanya, berdiri


di samping Agra yang terlihat sangat sibuk.


Agra melirik sekilas kearah Kiran lalu kembali


pada kesibukannya.


"Tidak ada, hanya sedang main tebak-tebakan


saja dengan nya.! "


"Sayang..aku sedang kesal sekarang. Kau


sudah membuat wanita itu melambung.!"


Agra masih mencoba terlihat acuh. Dia tidak


melirik sedikitpun, matanya fokus pada


tumpukan berkas di tangannya.


"Wanita memang begitu adanya sayang.!"


"Aku tidak suka dengan caramu.! kau bukan


pria abal-abal sayang !"


Agra menghentikan gerakannya, bibir nya


tampak terangkat mencoba sekuat tenaga


untuk tidak mengeluarkan tawanya.


"Sekali-sekali membuat orang bahagia tidak


ada salahnya bukan.?"


"Kau bukan hanya membuat nya bahagia ,


tapi juga besar kepala !"


Agra semakin menguatkan diri untuk menahan


tawa dan rasa geli yang kini menggelitik hati


nya mendengar ungkapan kekesalan Kiran.


"Biarkan saja.. kita kasih kesenangan dulu


sebelum kepahitan itu mendatanginya.!"


Acuh Agra sambil menyembunyikan wajahnya


di balik tumpukan berkas yang di angkat nya


tinggi ke depan muka nya. Kiran kini semakin


kesal, dia berdecak sebal menatap geram


kearah Agra yang masih terlihat acuh.


"Agraa..kau benar-benar menyebalkan.! Aku


mau pulang sekarang..!"


Kiran memutar tubuhnya dengan wajah ditekuk


kesal. Namun sedetik kemudian dia memekik


saat tubuhnya terangkat dan kini sudah ada di


atas pangkuan Agra. Tanpa jeda Agra langsung melancarkan aksinya menyergap bibir ranum


Kiran dengan liar dan buas. Kiran berusaha


menolak dengan mendorong dada Agra dan


mencoba melepaskan ciumannya. Namun


Agra malah semakin meningkatkan aksinya


dengan lebih memperdalam ciumannya.


Akhirnya Kiran tidak bisa berbuat apa-apa


lagi selain membalas ciuman itu karena kini


darahnya pun mulai memanas. Keduanya kini


terhanyut dalam buaian ciuman panas penuh


dengan gejolak hasrat dan gairah yang semakin


lama semakin membara hingga membakar


aliran darah keduanya.


"Aakkhh... sayang sudah hentikan.. nanti


ayah kembali kesini... emhhh.. Agraaa...!"


Kiran mencoba melepaskan diri dari serangan


liar bibir Agra yang kini sudah turun ke bagian


leher jenjang nya, menciumi dan menggigit


ganas hingga Kiran bergerak tidak teratur di


atas pangkuan Agra. Dan kini sesuatu yang


ada di bawah sana sudah terbangun meronta


karena gerakan erotis Kiran.


"Kau sudah membangunkan nya sayang..!"


Agra menggeram dengan mata yang sudah


mulai berkabut. Kiran menggeleng tegang,


dia kembali mencoba melepaskan diri dari


cengkraman tangan Agra di pinggangnya.


"Biarkan aku turun sayang..kita akhiri ini


sekarang juga sebelum ayah kembali.."


"Dia tidak akan kembali dengan cepat sayang.


Gedung ini sangat luas, butuh waktu 3 jam


lebih untuk mengelilingi nya..!"


Bisik Agra dengan suara yang sudah sangat


berat. Dia mengangkat tubuh Kiran ke atas


meja hingga berkas-berkas yang ada di sana


jatuh berhamburan ke bawah lantai, kemudian


langsung menindih tubuh Kiran dan mengunci


kedua tangan nya di atas kepala.


"Sayang... sudah nanti ada yang masuk ke


sini..! Aahhh... Agraa.. kumohon hentikan..!"


Kiran memekik saat Agra membuka paksa


atasannya hingga kedua bukit kembar yang


sangat indah itu kini menyembul keluar dari


balik bra berenda nya membuat gairah Agra


semakin naik tidak terbendung. Dia langsung


menyergap dua benda sintal itu **********


kuat dan menggigit nya gemas.


"Aakhh... Agra kamu benar-benar nakal..!"


Desah Kiran sambil menggelinjang hebat

__ADS_1


karena bibir Agra kini sudah turun menyusuri


perut datarnya, mengecupnya lembut penuh


perasaan dengan sedikit doa dan pengharapan.


Tangan Kiran kini bergerak meraih kancing


kemeja Agra dan membuka nya agar dia bisa


melihat bagaimana gagah nya tubuh suami


nya itu. Kedua mata mereka saling mengunci


dengan sorot mata yang sudah berkabut.


"Kenapa kamu selalu membuatku tidak bisa


menahan diri sayang..kau terlalu menarik.!"


Desis Agra berat sambil kemudian mengangkat


tubuh Kiran yang sudah setengah polos itu di


bawa masuk ke dalam kamar pribadinya, lalu


membaringkan nya di atas tempat tidur. Dia


langsung melucuti pakaian yang menempel


di tubuh mereka hingga kini kedua nya sudah


dalam keadaan sama-sama polos.


Dan sudah bisa di tebak hasil akhirnya. Kiran


harus melayani keinginan suaminya itu yang


tidak pernah melihat waktu, tempat dan situasi.


Mereka berdua bergumul panas di tengah hari


di saat para karyawan sedang sibuk dengan


segala aktivitas dan pekerjaan nya.


Satu jam setengah kemudian....


Keduanya terkulai lemas diatas tempat tidur


dengan tubuh yang masih polos. Wajah Kiran


kini sudah memucat karena kelelahan, Agra


benar-benar buas, tidak membiarkan nya


mengambil jeda sebentar saja hingga kini


tubuh nya hampir kehilangan tenaga. Mereka


saling pandang lekat, masih berusaha untuk


menstabilkan napas yang tidak beraturan.


Agra menarik tubuh ringkih istrinya itu ke


dalam pelukannya, mengecup keningnya


lama, menciumi puncak kepalanya. Tangan


nya kini membelai mesra wajah Kiran yang


terlihat pucat namun tetap mempesona.


Kiran memejamkan mata untuk meredam


segala rasa letih yang kini menderanya.


"Maafkan aku sayang..kau terpaksa harus


selalu melayani semua keinginan ku..! "


Kiran membuka matanya, keduanya kembali


saling pandang lekat, mencoba menyalurkan


segala rasa yang kini membuncah di dada.


"Aku tidak merasa terpaksa sayang..Kau juga


selalu membuatku tidak bisa bertahan. Siapa


yang tahan dengan sentuhan mu itu.!"


Lirih Kiran dengan semburat merah di kedua


pipi bening mulusnya. Agra tersenyum tipis.


"Aku harap kamu akan selalu kuat dan siap


melayani suami perkasa mu ini..!"


"Keberadaan ku memang untuk melayanimu.


Tapi apakah kamu tidak bisa sedikit saja


menahan diri, setidaknya lihat situasi dulu."


Agra menggeleng dengan cepat dan yakin


membuat Kiran cemberut kesal.


"Tidak bisa sayang, kau terlalu menggairahkan.


Aku tidak bisa mengendalikan diri setiap kali


ada di dekatmu. ! Tubuhmu adalah candu bagi


ku..! jiwa kita ini satu ikatan sayang..!"


"Apa kau tidak tertarik saat melihat wanita


lain? Kurang apa Mikhayla di matamu..?"


Agra menatap tenang wajah cantik istrinya itu.


Kemudian mendaratkan ciuman lembut di bibir


nya yang basah dan semerah cherry itu.


"Wanita lain tidak ada yang semurni dirimu


sayang..Apa kau pikir aku laki-laki murahan


yang mau menerima bekas orang lain..?"


Kiran menatap lembut wajah tampan Agra


yang masih di warnai oleh keringat. Perlahan


tangan nya menghapus keringat di kening


suaminya itu dengan senyum semanis madu.


yang sangat berharga. Dan hanya akulah yang


berhak mendapatkan dirimu..!"


Agra tersenyum manis, dan baru kali inilah


Kiran menyaksikan suaminya itu tersenyum


sedahsyat ini hingga membuat dia terpana.


"Tentu saja, hanya kau yang memiliki hak


untuk merasakan keperkasaanku ini.!"


Kiran kembali mengerucutkan bibirnya.


Tapi dia tidak bisa memungkiri hal itu,


benar..suaminya ini memang pria perkasa.


"Apa kau mengetahui sesuatu yang tidak


layak dari wanita-wanita itu.?"


"Kau lupa siapa suamimu ini ? aku bisa


tahu kebusukan orang, bahkan sebelum


orang itu menyadarinya sendiri..!"


"Ya tentu saja..kau adalah Hiroshi Hasimoto


sang Hacker sejati..!"


Kesal Kiran sambil kemudian bergerak ingin


keluar dari kungkungan Agra yang masih


saja memenjarakan tubuhnya.


"Dari kecil sampai sekarang yang ada di mataku hanyalah sosok dirimu sayang..mata indahmu


ini telah membuatku terhipnotis untuk seumur


hidup ku..!"


Bisik Agra membuat Kiran terdiam seketika.


Tatapan mereka semakin dalam, dan akhirnya


keduanya jatuh kembali dalam pagutan mesra


penuh cinta serta sikap saling memuja.


****** ******


Malam yang sangat cerah di lingkungan


istana megah Hadiningrat...


Suasana di ruang makan keluarga yang jarang


di gunakan kini tampak berbeda dengan segala


kesibukan yang terjadi di dalamnya. Gemerlap


cahaya lampu menghiasi ruangan yang sangat


luas dengan fasilitas lengkap untuk acara privat


party itu. Tempat pesta keluarga ini langsung terhubung dengan kolam renang dan taman


air yang sangat indah serta menyejukkan.


Malam ini ternyata di adakan acara makan


bersama untuk seluruh penghuni istana


sebagai sambutan untuk kedatangan kedua


keluarga inti istana ini. Ya.. malam ini akan


diadakan acara syukuran atas kembalinya


anak dan menantu keluarga Hadiningrat.


Tadi sore Eyang putri, Tuan Hasimoto, Nyonya


Yuri serta Kiran sengaja mengunjungi makam


Almarhum Tuan Raksapati Hadiningrat yang


masih berada di lingkungan istana itu. Tepat


nya di dalam hutan buatan. Di sana terdapat


bangunan indah terbuka mirip gazebo besar


yang di dalamnya sudah terdapat kuburan


Tuan Besar Hadiningrat. Tempat itu merupakan


makam keluarga besar Hadiningrat. Mereka


melakukan doa bersama untuk Almarhum.


Eyang putri memerintahkan semua pelayan


dan pekerja di istana ini untuk datang dengan memakai pakaian resmi bernuansa adat atau


pun ciri khas negara ini. Para pria di wajibkan


memakai batik sedang wanita harus memakai


pakaian tradisional. Semua orang tampak


antusias dan semangat untuk datang di acara


spesial ini. Termasuk juga Bara dan Zack


serta barisan para pengawal yang malam ini


terlihat lebih manusiawi. Bahkan Dokter Rey


dan dua dokter keluarga lainnya serta para


perawat pun di wajibkan hadir.


Saat ini suasana di ruang pesta sudah ramai


oleh para pelayan dan pekerja yang malam ini


tampil berbeda dengan kelebihan nya masing-


masing. Semua orang berusaha menampilkan

__ADS_1


jati diri mereka yang sesungguhnya.


Tidak lama Eyang putri muncul ke dalam


ruangan di dampingi Tuan Hasimoto beserta


Nyonya Yuri. Malam ini Kedua orang itu terlihat


sangat memukau dan mempesona dalam


balutan pakaian adat negara ini. Semua orang


langsung berbaris lalu membungkuk memberi


salam penghormatan kepada ketiga keluarga


inti itu. Untuk sesaat mereka tampak bengong


saat melihat kemunculan kedua orang yang


sedikit memilki perbedaan fisik itu. Banyak


dari mereka belum mengenal serta melihat


kedua nya hingga mereka begitu terpukau


saat melihatnya.


Tidak lama Agra dan Kiran muncul ke dalam


ruangan yang membuat fokus semua orang


kini mengarah kepada pasangan muda itu.


Mereka semua terkesima melihat tampilan


Kiran yang begitu memukau dalam balutan


kebaya modern yang sangat istimewa.


Wajahnya terlihat cerah dan berseri.


Mereka berdua langsung bergabung dengan


ketiga keluarga nya dan berdiri di area utama.


Semua pelayan kini berdiri melingkar di semua


area dalam posisi bersiap untuk mendengarkan


apa yang akan di tuturkan oleh Nyonya Besar.


"Malam ini sangat istimewa untuk kita semua..


Karena keluarga ini kembali utuh sekarang..!


Mereka berdua adalah putri dan menantu ku..!"


Eyang putri membuka acara sambil melirik dan


memperkenalkan kedua anak dan menantunya


pada semua orang yang langsung membungkuk


kembali serempak.


"Selamat datang Tuan Besar.. selamat datang


Nyonya Muda..!"


Sambut mereka kompak. Nyonya Yuri tampak


sangat terharu, matanya terlihat berkaca-kaca.


"Terimakasih semua atas sambutannya.."


Ucapnya sambil membagi pandangan pada


semua orang yang selama bertahun-tahun


telah menemani dan mengabdi pada ibunya


itu. Sementara Tuan Hasimoto tampak hanya


terdiam memperhatikan.


"Baiklah.. Sekarang kita mulai saja acara nya.


Ustadz kau pimpin lah doa terlebih dahulu.!"


Titah Eyang Putri pada seorang pekerja yang


berprofesi sebagai ustadz sekaligus yang


memegang urusan keagamaan di istana ini.


"Baik Nyonya Besar.."


Sahut pak ustadz, dan di mulailah acara doa


bersama untuk acara syukuran ini.


"Sekarang.. kalian nikmati semua makanan


yang tersedia di tempat ini sepuas nya.


Malam ini adalah malam nya kalian...!"


Teriak Eyang Putri di sambut sorak sorai para


pelayan dan pekerja yang begitu bahagia.


Acara pesta seperti ini memang selalu di tunggu-tunggu karena mereka bisa menikmati hidangan yang sangat istimewa sepuasnya.


Eyang Putri beserta anggota keluarga duduk


di meja makan utama. Di sana telah tersedia


berbagai macam hidangan istimewa yang


memenuhi meja makan. Para pelayan pribadi


langsung bergerak cepat dan rapi melayani


para majikan nya di bawah pengawasan Pak


Hans dan Tata.


"Semoga kebahagiaan ini akan bertahan untuk


selamanya. Dan aku bisa tenang menjalani hari


tuaku bersama dengan kalian..!"


Tutur Eyang putri sebelum memulai makan


malamnya. Semua orang tampak mengangguk.


"Kami akan mengusahakan untuk datang


setiap bulan nya kesini Mami."


Ujar Nyonya Yuri sambil mengelus lembut


tangan keriput ibunya.


"Tentu, kalian memiliki kehidupan sendiri, tapi


aku tetap bahagia dengan keadaan sekarang."


Kedua anak dan ibu itu saling tersenyum dan


mengelus lengan. Dari pagi Nyonya Yuri terus


berada di samping Eyang Putri. Berkeliling di


sekitar istana, memasak bersama, sampai


dengan mengenang masa lalu dimana


mereka berdua sangat suka menanam dan


merangkai bunga.


"Baiklah.. mari kita nikmati makan malam ini


dengan penuh sukacita.."


Ujar Eyang Putri. Dan akhirnya makan malam


itupun di mulai dengan tenang penuh khidmat.


Namun.. lagi-lagi ada yang aneh dengan Kiran.


Dia kini malah merasakan pusing dan lemas.


Keringat dingin mulai meremang di dahinya.


Perut nya terasa tidak nyaman saat melihat


hidangan yang kini ada di hadapannya.


Agra memahami situasi yang terjadi dengan


Kiran. Seperti nya Kiran kelelahan akibat


kegiatan intim mereka yang berlebihan.


"Ada apa sayang..apa kau merasa lelah.?"


Kiran yang sedang mengurut keningnya


melirik kearah Agra yang terlihat cemas.


Tangan Kiran bergerak mengelus rahang


kokoh suaminya sambil menggeleng pelan.


"Tidak apa-apa sayang..aku hanya sedikit


pusing saja. Aku akan mencari sesuatu yang


bisa meredakan rasa pusing ini..!"


Kiran beranjak, tapi Agra menahannya.


"Kita ke ruang kesehatan sekarang. Kau harus


segera di periksa.!"


"Tidak perlu sayang..aku beneran tidak apa-apa.


Aku tidak suka dengan obat-obatan.!"


"Tapi sayang..kau harus segera di periksa.!"


"Baiklah.. nanti setelah acara ini selesai.."


Ucap Kiran sambil meyakinkan Agra yang


masih terlihat khawatir. Agra menarik napas


berat, kemudian mengelus wajah Kiran yang


terlihat semakin memucat.


"Aku mau ke belakang dulu sebentar..!"


Bisik Kiran sambil kemudian berdiri. Eyang


putri, Tuan Hasimoto juga Nyonya Yuri kini


menatap Kiran penuh tanda tanya. Dan ada


reaksi terkejut dari wajah Eyang Putri saat


melihat aura yang keluar dari wajah pucat


Kiran.


"Maaf permisi semuanya.. saya mau ke


belakang dulu sebentar.."


Ucap Kiran pelan nyaris tak terdengar lalu


membungkuk dan memutar tubuh nya.


Namun sesaat kemudian dia memegang


kepalanya yang terasa berputar, pandangan


nya tiba-tiba kabur. Tidak lama tubuh nya


goyah dan limbung lalu jatuh terkulai ke


dalam pangkuan Agra yang telah bersiaga.


"Rey... ikuti aku.. cepatt....!!"


Teriakkan Agra menggema menggegerkan


seluruh istana. Dia melesat pergi memangku


tubuh lemah Kiran menuju ruang kesehatan


di susul oleh Rey dan staf medis lainnya, lalu


Bara, Zack dan para pengawal.


Sementara semua orang masih bengong di


tempat dengan mata terpaku kearah pintu


utama dimana orang-orang tadi melesat pergi


menyusul Sang Tuan Muda yang sedang di


landa kepanikan luar biasa....

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*


TBC......


__ADS_2