
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Kiran berjalan menghampiri Tanisha yang
masih berada di posisinya semula, berdiri
di samping Agra yang mencoba bersikap
sedatar mungkin tanpa ekspresi.
"Apa urusan mu sudah selesai di sini.?"
Tatapan Kiran seakan menembus jantung
Tanisha membuat dia mengerjapkan mata
tidak sanggup lagi beradu tatap.
"Su-sudah Nona Muda..!"
"Kalau begitu kau boleh keluar sekarang..!"
Tanisha mengangguk, lalu melirik kearah Agra
yang terlihat acuh kembali pada kesibukannya.
"Baik Nona.. saya permisi Presdir..!"
Tanisha mulai melangkahkan kakinya.
"Tunggu Tanisha..!"
Kiran maju mendekat kearah Tanisha yang
menghentikan langkahnya.
"Kalau kau masih sayang dengan karirmu
segera lah perbaiki dirimu.! atau kalau tidak
carilah laki-laki yang sepadan dengan mu..!"
Wajah Tanisha terangkat, terlihat memerah.
Kiran tersenyum bersahaja seraya menepuk
bahu Tanisha yang sedikit terbuka.
"Hargailah anugerah Tuhan yang telah begitu
baik memberi mu kesempurnaan fisik. Jangan
menjual harga dirimu hanya demi ambisi dan
napsu duniawi semata..!"
Tanisha mengepalkan tangannya kuat.
"Apakah anda merasa jauh lebih baik dari saya
Nona, hingga bisa seenaknya menjudge saya.?"
"Tentu saja tidak sama sekali. Aku hanya lah
wanita beruntung saja. Tapi setidaknya aku
tidak pernah mencapai sesuatu dengan cara-
cara yang kotor..! "
Tanisha mengetatkan rahang nya, matanya
kini menatap marah kearah Kiran yang tampak
tenang dan tidak terpancing.
"Kita lihat saja Nona Hadiningrat.. apakah
gelar ini pantas kau pertahankan atau hanya
akan sepintas lalu saja.!"
"Baiklah..kita juga akan lihat apakah kau akan
berhasil dengan permainan kotor mu ini atau
justru akan membawa mu pada kehancuran
Nona Danureza Arswendo..!"
Wajah Tanisha langsung berubah pias, dia
mundur dengan goyah. Kiran tersenyum
tipis, kemudian melangkah kembali kearah
meja kerja Agra.
"Kau boleh keluar sekarang..!"
Desis Kiran di samping Tanisha yang masih
tampak terkejut dengan wajah memucat.Tidak
lama dia cepat-cepat keluar dari ruangan itu
dengan langkah yang terseret limbung.
"Apa yang kau rencanakan sebenarnya.?"
Kiran melipat kedua tangan di dadanya, berdiri
di samping Agra yang terlihat sangat sibuk.
Agra melirik sekilas kearah Kiran lalu kembali
pada kesibukannya.
"Tidak ada, hanya sedang main tebak-tebakan
saja dengan nya.! "
"Sayang..aku sedang kesal sekarang. Kau
sudah membuat wanita itu melambung.!"
Agra masih mencoba terlihat acuh. Dia tidak
melirik sedikitpun, matanya fokus pada
tumpukan berkas di tangannya.
"Wanita memang begitu adanya sayang.!"
"Aku tidak suka dengan caramu.! kau bukan
pria abal-abal sayang !"
Agra menghentikan gerakannya, bibir nya
tampak terangkat mencoba sekuat tenaga
untuk tidak mengeluarkan tawanya.
"Sekali-sekali membuat orang bahagia tidak
ada salahnya bukan.?"
"Kau bukan hanya membuat nya bahagia ,
tapi juga besar kepala !"
Agra semakin menguatkan diri untuk menahan
tawa dan rasa geli yang kini menggelitik hati
nya mendengar ungkapan kekesalan Kiran.
"Biarkan saja.. kita kasih kesenangan dulu
sebelum kepahitan itu mendatanginya.!"
Acuh Agra sambil menyembunyikan wajahnya
di balik tumpukan berkas yang di angkat nya
tinggi ke depan muka nya. Kiran kini semakin
kesal, dia berdecak sebal menatap geram
kearah Agra yang masih terlihat acuh.
"Agraa..kau benar-benar menyebalkan.! Aku
mau pulang sekarang..!"
Kiran memutar tubuhnya dengan wajah ditekuk
kesal. Namun sedetik kemudian dia memekik
saat tubuhnya terangkat dan kini sudah ada di
atas pangkuan Agra. Tanpa jeda Agra langsung melancarkan aksinya menyergap bibir ranum
Kiran dengan liar dan buas. Kiran berusaha
menolak dengan mendorong dada Agra dan
mencoba melepaskan ciumannya. Namun
Agra malah semakin meningkatkan aksinya
dengan lebih memperdalam ciumannya.
Akhirnya Kiran tidak bisa berbuat apa-apa
lagi selain membalas ciuman itu karena kini
darahnya pun mulai memanas. Keduanya kini
terhanyut dalam buaian ciuman panas penuh
dengan gejolak hasrat dan gairah yang semakin
lama semakin membara hingga membakar
aliran darah keduanya.
"Aakkhh... sayang sudah hentikan.. nanti
ayah kembali kesini... emhhh.. Agraaa...!"
Kiran mencoba melepaskan diri dari serangan
liar bibir Agra yang kini sudah turun ke bagian
leher jenjang nya, menciumi dan menggigit
ganas hingga Kiran bergerak tidak teratur di
atas pangkuan Agra. Dan kini sesuatu yang
ada di bawah sana sudah terbangun meronta
karena gerakan erotis Kiran.
"Kau sudah membangunkan nya sayang..!"
Agra menggeram dengan mata yang sudah
mulai berkabut. Kiran menggeleng tegang,
dia kembali mencoba melepaskan diri dari
cengkraman tangan Agra di pinggangnya.
"Biarkan aku turun sayang..kita akhiri ini
sekarang juga sebelum ayah kembali.."
"Dia tidak akan kembali dengan cepat sayang.
Gedung ini sangat luas, butuh waktu 3 jam
lebih untuk mengelilingi nya..!"
Bisik Agra dengan suara yang sudah sangat
berat. Dia mengangkat tubuh Kiran ke atas
meja hingga berkas-berkas yang ada di sana
jatuh berhamburan ke bawah lantai, kemudian
langsung menindih tubuh Kiran dan mengunci
kedua tangan nya di atas kepala.
"Sayang... sudah nanti ada yang masuk ke
sini..! Aahhh... Agraa.. kumohon hentikan..!"
Kiran memekik saat Agra membuka paksa
atasannya hingga kedua bukit kembar yang
sangat indah itu kini menyembul keluar dari
balik bra berenda nya membuat gairah Agra
semakin naik tidak terbendung. Dia langsung
menyergap dua benda sintal itu **********
kuat dan menggigit nya gemas.
"Aakhh... Agra kamu benar-benar nakal..!"
Desah Kiran sambil menggelinjang hebat
__ADS_1
karena bibir Agra kini sudah turun menyusuri
perut datarnya, mengecupnya lembut penuh
perasaan dengan sedikit doa dan pengharapan.
Tangan Kiran kini bergerak meraih kancing
kemeja Agra dan membuka nya agar dia bisa
melihat bagaimana gagah nya tubuh suami
nya itu. Kedua mata mereka saling mengunci
dengan sorot mata yang sudah berkabut.
"Kenapa kamu selalu membuatku tidak bisa
menahan diri sayang..kau terlalu menarik.!"
Desis Agra berat sambil kemudian mengangkat
tubuh Kiran yang sudah setengah polos itu di
bawa masuk ke dalam kamar pribadinya, lalu
membaringkan nya di atas tempat tidur. Dia
langsung melucuti pakaian yang menempel
di tubuh mereka hingga kini kedua nya sudah
dalam keadaan sama-sama polos.
Dan sudah bisa di tebak hasil akhirnya. Kiran
harus melayani keinginan suaminya itu yang
tidak pernah melihat waktu, tempat dan situasi.
Mereka berdua bergumul panas di tengah hari
di saat para karyawan sedang sibuk dengan
segala aktivitas dan pekerjaan nya.
Satu jam setengah kemudian....
Keduanya terkulai lemas diatas tempat tidur
dengan tubuh yang masih polos. Wajah Kiran
kini sudah memucat karena kelelahan, Agra
benar-benar buas, tidak membiarkan nya
mengambil jeda sebentar saja hingga kini
tubuh nya hampir kehilangan tenaga. Mereka
saling pandang lekat, masih berusaha untuk
menstabilkan napas yang tidak beraturan.
Agra menarik tubuh ringkih istrinya itu ke
dalam pelukannya, mengecup keningnya
lama, menciumi puncak kepalanya. Tangan
nya kini membelai mesra wajah Kiran yang
terlihat pucat namun tetap mempesona.
Kiran memejamkan mata untuk meredam
segala rasa letih yang kini menderanya.
"Maafkan aku sayang..kau terpaksa harus
selalu melayani semua keinginan ku..! "
Kiran membuka matanya, keduanya kembali
saling pandang lekat, mencoba menyalurkan
segala rasa yang kini membuncah di dada.
"Aku tidak merasa terpaksa sayang..Kau juga
selalu membuatku tidak bisa bertahan. Siapa
yang tahan dengan sentuhan mu itu.!"
Lirih Kiran dengan semburat merah di kedua
pipi bening mulusnya. Agra tersenyum tipis.
"Aku harap kamu akan selalu kuat dan siap
melayani suami perkasa mu ini..!"
"Keberadaan ku memang untuk melayanimu.
Tapi apakah kamu tidak bisa sedikit saja
menahan diri, setidaknya lihat situasi dulu."
Agra menggeleng dengan cepat dan yakin
membuat Kiran cemberut kesal.
"Tidak bisa sayang, kau terlalu menggairahkan.
Aku tidak bisa mengendalikan diri setiap kali
ada di dekatmu. ! Tubuhmu adalah candu bagi
ku..! jiwa kita ini satu ikatan sayang..!"
"Apa kau tidak tertarik saat melihat wanita
lain? Kurang apa Mikhayla di matamu..?"
Agra menatap tenang wajah cantik istrinya itu.
Kemudian mendaratkan ciuman lembut di bibir
nya yang basah dan semerah cherry itu.
"Wanita lain tidak ada yang semurni dirimu
sayang..Apa kau pikir aku laki-laki murahan
yang mau menerima bekas orang lain..?"
Kiran menatap lembut wajah tampan Agra
yang masih di warnai oleh keringat. Perlahan
tangan nya menghapus keringat di kening
suaminya itu dengan senyum semanis madu.
yang sangat berharga. Dan hanya akulah yang
berhak mendapatkan dirimu..!"
Agra tersenyum manis, dan baru kali inilah
Kiran menyaksikan suaminya itu tersenyum
sedahsyat ini hingga membuat dia terpana.
"Tentu saja, hanya kau yang memiliki hak
untuk merasakan keperkasaanku ini.!"
Kiran kembali mengerucutkan bibirnya.
Tapi dia tidak bisa memungkiri hal itu,
benar..suaminya ini memang pria perkasa.
"Apa kau mengetahui sesuatu yang tidak
layak dari wanita-wanita itu.?"
"Kau lupa siapa suamimu ini ? aku bisa
tahu kebusukan orang, bahkan sebelum
orang itu menyadarinya sendiri..!"
"Ya tentu saja..kau adalah Hiroshi Hasimoto
sang Hacker sejati..!"
Kesal Kiran sambil kemudian bergerak ingin
keluar dari kungkungan Agra yang masih
saja memenjarakan tubuhnya.
"Dari kecil sampai sekarang yang ada di mataku hanyalah sosok dirimu sayang..mata indahmu
ini telah membuatku terhipnotis untuk seumur
hidup ku..!"
Bisik Agra membuat Kiran terdiam seketika.
Tatapan mereka semakin dalam, dan akhirnya
keduanya jatuh kembali dalam pagutan mesra
penuh cinta serta sikap saling memuja.
****** ******
Malam yang sangat cerah di lingkungan
istana megah Hadiningrat...
Suasana di ruang makan keluarga yang jarang
di gunakan kini tampak berbeda dengan segala
kesibukan yang terjadi di dalamnya. Gemerlap
cahaya lampu menghiasi ruangan yang sangat
luas dengan fasilitas lengkap untuk acara privat
party itu. Tempat pesta keluarga ini langsung terhubung dengan kolam renang dan taman
air yang sangat indah serta menyejukkan.
Malam ini ternyata di adakan acara makan
bersama untuk seluruh penghuni istana
sebagai sambutan untuk kedatangan kedua
keluarga inti istana ini. Ya.. malam ini akan
diadakan acara syukuran atas kembalinya
anak dan menantu keluarga Hadiningrat.
Tadi sore Eyang putri, Tuan Hasimoto, Nyonya
Yuri serta Kiran sengaja mengunjungi makam
Almarhum Tuan Raksapati Hadiningrat yang
masih berada di lingkungan istana itu. Tepat
nya di dalam hutan buatan. Di sana terdapat
bangunan indah terbuka mirip gazebo besar
yang di dalamnya sudah terdapat kuburan
Tuan Besar Hadiningrat. Tempat itu merupakan
makam keluarga besar Hadiningrat. Mereka
melakukan doa bersama untuk Almarhum.
Eyang putri memerintahkan semua pelayan
dan pekerja di istana ini untuk datang dengan memakai pakaian resmi bernuansa adat atau
pun ciri khas negara ini. Para pria di wajibkan
memakai batik sedang wanita harus memakai
pakaian tradisional. Semua orang tampak
antusias dan semangat untuk datang di acara
spesial ini. Termasuk juga Bara dan Zack
serta barisan para pengawal yang malam ini
terlihat lebih manusiawi. Bahkan Dokter Rey
dan dua dokter keluarga lainnya serta para
perawat pun di wajibkan hadir.
Saat ini suasana di ruang pesta sudah ramai
oleh para pelayan dan pekerja yang malam ini
tampil berbeda dengan kelebihan nya masing-
masing. Semua orang berusaha menampilkan
__ADS_1
jati diri mereka yang sesungguhnya.
Tidak lama Eyang putri muncul ke dalam
ruangan di dampingi Tuan Hasimoto beserta
Nyonya Yuri. Malam ini Kedua orang itu terlihat
sangat memukau dan mempesona dalam
balutan pakaian adat negara ini. Semua orang
langsung berbaris lalu membungkuk memberi
salam penghormatan kepada ketiga keluarga
inti itu. Untuk sesaat mereka tampak bengong
saat melihat kemunculan kedua orang yang
sedikit memilki perbedaan fisik itu. Banyak
dari mereka belum mengenal serta melihat
kedua nya hingga mereka begitu terpukau
saat melihatnya.
Tidak lama Agra dan Kiran muncul ke dalam
ruangan yang membuat fokus semua orang
kini mengarah kepada pasangan muda itu.
Mereka semua terkesima melihat tampilan
Kiran yang begitu memukau dalam balutan
kebaya modern yang sangat istimewa.
Wajahnya terlihat cerah dan berseri.
Mereka berdua langsung bergabung dengan
ketiga keluarga nya dan berdiri di area utama.
Semua pelayan kini berdiri melingkar di semua
area dalam posisi bersiap untuk mendengarkan
apa yang akan di tuturkan oleh Nyonya Besar.
"Malam ini sangat istimewa untuk kita semua..
Karena keluarga ini kembali utuh sekarang..!
Mereka berdua adalah putri dan menantu ku..!"
Eyang putri membuka acara sambil melirik dan
memperkenalkan kedua anak dan menantunya
pada semua orang yang langsung membungkuk
kembali serempak.
"Selamat datang Tuan Besar.. selamat datang
Nyonya Muda..!"
Sambut mereka kompak. Nyonya Yuri tampak
sangat terharu, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Terimakasih semua atas sambutannya.."
Ucapnya sambil membagi pandangan pada
semua orang yang selama bertahun-tahun
telah menemani dan mengabdi pada ibunya
itu. Sementara Tuan Hasimoto tampak hanya
terdiam memperhatikan.
"Baiklah.. Sekarang kita mulai saja acara nya.
Ustadz kau pimpin lah doa terlebih dahulu.!"
Titah Eyang Putri pada seorang pekerja yang
berprofesi sebagai ustadz sekaligus yang
memegang urusan keagamaan di istana ini.
"Baik Nyonya Besar.."
Sahut pak ustadz, dan di mulailah acara doa
bersama untuk acara syukuran ini.
"Sekarang.. kalian nikmati semua makanan
yang tersedia di tempat ini sepuas nya.
Malam ini adalah malam nya kalian...!"
Teriak Eyang Putri di sambut sorak sorai para
pelayan dan pekerja yang begitu bahagia.
Acara pesta seperti ini memang selalu di tunggu-tunggu karena mereka bisa menikmati hidangan yang sangat istimewa sepuasnya.
Eyang Putri beserta anggota keluarga duduk
di meja makan utama. Di sana telah tersedia
berbagai macam hidangan istimewa yang
memenuhi meja makan. Para pelayan pribadi
langsung bergerak cepat dan rapi melayani
para majikan nya di bawah pengawasan Pak
Hans dan Tata.
"Semoga kebahagiaan ini akan bertahan untuk
selamanya. Dan aku bisa tenang menjalani hari
tuaku bersama dengan kalian..!"
Tutur Eyang putri sebelum memulai makan
malamnya. Semua orang tampak mengangguk.
"Kami akan mengusahakan untuk datang
setiap bulan nya kesini Mami."
Ujar Nyonya Yuri sambil mengelus lembut
tangan keriput ibunya.
"Tentu, kalian memiliki kehidupan sendiri, tapi
aku tetap bahagia dengan keadaan sekarang."
Kedua anak dan ibu itu saling tersenyum dan
mengelus lengan. Dari pagi Nyonya Yuri terus
berada di samping Eyang Putri. Berkeliling di
sekitar istana, memasak bersama, sampai
dengan mengenang masa lalu dimana
mereka berdua sangat suka menanam dan
merangkai bunga.
"Baiklah.. mari kita nikmati makan malam ini
dengan penuh sukacita.."
Ujar Eyang Putri. Dan akhirnya makan malam
itupun di mulai dengan tenang penuh khidmat.
Namun.. lagi-lagi ada yang aneh dengan Kiran.
Dia kini malah merasakan pusing dan lemas.
Keringat dingin mulai meremang di dahinya.
Perut nya terasa tidak nyaman saat melihat
hidangan yang kini ada di hadapannya.
Agra memahami situasi yang terjadi dengan
Kiran. Seperti nya Kiran kelelahan akibat
kegiatan intim mereka yang berlebihan.
"Ada apa sayang..apa kau merasa lelah.?"
Kiran yang sedang mengurut keningnya
melirik kearah Agra yang terlihat cemas.
Tangan Kiran bergerak mengelus rahang
kokoh suaminya sambil menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa sayang..aku hanya sedikit
pusing saja. Aku akan mencari sesuatu yang
bisa meredakan rasa pusing ini..!"
Kiran beranjak, tapi Agra menahannya.
"Kita ke ruang kesehatan sekarang. Kau harus
segera di periksa.!"
"Tidak perlu sayang..aku beneran tidak apa-apa.
Aku tidak suka dengan obat-obatan.!"
"Tapi sayang..kau harus segera di periksa.!"
"Baiklah.. nanti setelah acara ini selesai.."
Ucap Kiran sambil meyakinkan Agra yang
masih terlihat khawatir. Agra menarik napas
berat, kemudian mengelus wajah Kiran yang
terlihat semakin memucat.
"Aku mau ke belakang dulu sebentar..!"
Bisik Kiran sambil kemudian berdiri. Eyang
putri, Tuan Hasimoto juga Nyonya Yuri kini
menatap Kiran penuh tanda tanya. Dan ada
reaksi terkejut dari wajah Eyang Putri saat
melihat aura yang keluar dari wajah pucat
Kiran.
"Maaf permisi semuanya.. saya mau ke
belakang dulu sebentar.."
Ucap Kiran pelan nyaris tak terdengar lalu
membungkuk dan memutar tubuh nya.
Namun sesaat kemudian dia memegang
kepalanya yang terasa berputar, pandangan
nya tiba-tiba kabur. Tidak lama tubuh nya
goyah dan limbung lalu jatuh terkulai ke
dalam pangkuan Agra yang telah bersiaga.
"Rey... ikuti aku.. cepatt....!!"
Teriakkan Agra menggema menggegerkan
seluruh istana. Dia melesat pergi memangku
tubuh lemah Kiran menuju ruang kesehatan
di susul oleh Rey dan staf medis lainnya, lalu
Bara, Zack dan para pengawal.
Sementara semua orang masih bengong di
tempat dengan mata terpaku kearah pintu
utama dimana orang-orang tadi melesat pergi
menyusul Sang Tuan Muda yang sedang di
landa kepanikan luar biasa....
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*
TBC......