Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
48. Di Boyong Suami


__ADS_3

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Semua mata kini di buat bengong di dua sisi.


Mata mereka melihat kedua arah, antara


sosok bidadari cantik jelita di teras rumah


juga pangeran charming yang baru saja


keluar dari mobil mewah.


"Apakah dia Tuan Agra..?"


"Benar.. dia adalah Tuan Bimantara Agra


Bintang.. pemilik Bintang Group.."


"Jadi beliau sendiri yang datang menjemput


pasangannya..?"


"Luar biasa..dia benar-benar tampan dan


gagah.."


"Kita beruntung kali ini bisa mengambil


gambarnya. Harus di abadikan sebanyak


mungkin nih.!"


"Ya benar.. belum tentu ke depannya kita bisa


mendapat keberuntungan ini lagi.."


Itulah isi percakapan para wartawan dengan


suara yang di tekan serendah mungkin.


Semua orang saat ini benar-benar di buat


terkesima oleh penampakan sepasang


suami istri tersebut.


Mata Kiran bertautan dengan mata sosok tadi


yang ternyata adalah Agra. Keduanya saling


mengunci satu sama lain dengan tatapan


terpesona dan saling mengagumi satu sama


lain, tubuh mereka tiba-tiba saja di penuhi


oleh gelenyar aneh yang merambat ke seluruh


nadi dan aliran darah nya. Mata Agra tampak


berbinar senang saat melihat Kiran sudah siap


dengan kostum perginya, ini artinya dia sudah


bisa memboyong istrinya itu ke istana megah


nya. Dan itu berarti siang malam dia akan


selalu bersama nya, berada di dekat nya.


Semua wartawan dan seluruh pelayan dari


dua keluarga langsung membungkuk hormat


saat Agra mulai melangkah tenang menuju ke


arah keberadaan Kiran dan Eyang putri dengan


di dampingi oleh Bara, di kawal ketat oleh


Zack dan beberapa pengawal pilihan. Semua


fokus kamera kini mengarah pada sosoknya


setelah para wartawan pulih dan kembali


pada kewarasan nya. Mereka hanya bisa


berdecak kagum melihat penampakan dua


sosok utama itu.


Hari ini merupakan hari yang luar biasa bagi


mereka semua, karena bisa melihat secara


langsung sosok terhormat Presdir Bintang


Group yang hanya terkenal sebagai pebisnis


ulung berwajah tampan namun sangat dingin.


Tetapi kenyataan yang kini ada di hadapan


mereka adalah pengusaha itu bukan hanya


sekedar tampan tapi luar biasa tampan.


"Tuan Agra.. selamat datang.."


Sambut Tuan Zein yang langsung di balas Agra


dengan mengangkat tangannya. Dia membagi


pandangan nya pada seluruh keluarga Mahesa


yang tertunduk dalam terkecuali Aryella yang


lebih memilih masuk kembali ke kamarnya


sesaat setelah Kiran keluar rumah. Ada rasa


sakit yang tak jelas di rasakan oleh Aryella


di saat dia melihat Kiran di boyong dengan


segala kehormatan oleh keluarga suaminya.


"Tidak perlu terlalu formal, saat ini aku datang


sebagai menantu mu..aku ingin membawa


pulang istriku..!"


Ujar Agra seraya melirik kearah Kiran yang


sedang menundukan kepalanya. Tuan Zein


tersenyum sambil kembali menunduk. Agra


segera menghampiri Kiran dan tanpa basa-


basi dia merengkuh tubuh istrinya itu kedalam


pelukannya, lalu mencium keningnya lama.


Karuan saja hal itu membuat semua orang


melongo, terdiam dalam keterkejutan oleh


perlakuan romantis sang Presdir.


"Sayang.. kendalikan dirimu..ada eyang disini.


Kita juga ada di tempat terbuka.."


Bisik Kiran di tengah dekapan kuat suaminya itu


yang malah semakin mempererat pelukannya.


"Mereka tidak akan tahu bagaimana perasaan


ku saat ini. Betapa aku sangat ingin memakan


mu saat ini juga..!"


"Agra.. hentikan..! kau harus melihat tempat


dan situasi..!"


"Salahmu sendiri kenapa wajahmu begitu


cantik. Apa kau tahu mata mereka semua


sedang melahap mu saat ini..!"


"Tapi tidak harus begini juga sayang.."


"Aku sedang berusaha melindungi milikku dari


mata jahil yang tidak bertanggung jawab.!"


"Kau terlalu berlebihan sayang..sudah ahh..


lepaskan. Aku malu sama eyang..!"


"Maka sembunyikan lah wajah cantikmu itu


di dadaku..!"


"Agra..! aku mohon.."


"Aku ini suamimu.. bicaralah yang sopan.!"


Desis Agra membuat Kiran terdiam, malu sendiri.


Orang-orang masih terdiam bengong tanpa tahu


apa yang di bisikan oleh pasangan itu.


"Ehemm..apa kalian tidak ingin segera pulang.?"


Suara gerah Eyang putri membuat pasangan


yang sedang di mabuk cinta itu tersadar. Agra


segera melepaskan pelukannya. Wajah Kiran


saat ini sudah semerah tomat. Beginilah resiko


yang harus di tanggung oleh nya kalau punya


suami berkelakuan sedikit aneh.!


Eyang putri segera mengambil tempat di depan


para wartawan yang kali ini sudah siap untuk


mendengar pernyataan dari Nyonya Besar


Ambarwati Hadiningrat istri mendiang Tuan


Besar Raksapati Hadiningrat. Mereka semua


menyiapkan mikrofon masing-masing.


Agra dan Kiran mengambil posisi di sisi kanan


Eyang putri, saling menggenggam kuat dengan


berdiri rapat seolah tak ingin berjauhan.Sementara Tuan Zein dan keluarganya berada di sebelah kiri


Nyonya Ambar yang kini mulai membagi perhatian


pada semua awak media.


"Selamat sore semuanya.. terimakasih atas


kehadiran saudara semua di tempat ini. Kali


ini saya sengaja mengumpulkan kalian semua


untuk melihat dan mengetahui sesuatu..."


Nyonya Ambar menjeda ucapannya seraya


melirik kearah Kiran dan Agra yang balas


menatap lembut kearah wanita sepuh itu.


"Aku datang kesini dalam acara prosesi


penjemputan cucu menantuku.. untuk kami


boyong ke istana Hadiningrat..!"


Semua wartawan tampak saling pandang.


Begitupun dengan para tetangga yang hadir


di luar area halaman rumah.


"Untuk selanjutnya cucuku sendiri yang akan


menyampaikan penjelasan nya.."


Nyonya Ambar bergeser kemudian melirik kearah


Agra yang tampak mengangguk pelan. Dia segera


maju ke posisi tengah dengan menarik pinggang


Kiran agar merapat padanya. Para wartawan kini


heboh karena antusias mendapati kenyataan


bahwa Tuan terhormat itu akan berbicara di


hadapan mereka, padahal sebelumnya mereka


bahkan tidak berani berharap akan hal itu.


Agra membagi pandangan nya pada semua


awak media yang terlihat menundukan wajah


tidak kuasa melihat aura kemilau yang keluar


dari sosok sang Presdir.


"Selamat sore..tidak banyak kata yang akan


saya sampaikan di sini. Saya hanya ingin

__ADS_1


memberi pernyataan resmi pada kalian semua."


Agra terdiam sebentar, kembali menarik Kiran


dengan melingkari pinggangnya posesif.


Semua orang tampak menahan napas seraya


memberanikan diri memandang pasangan


yang sangat menyilaukan mata itu.


"Saya Bimantara Agra Bintang.. datang kesini


untuk menjemput dan memboyong istri saya


Nona Evanindhia Sashikirana..! "


Suara riuh dan gaduh kini kembali terdengar


dari semua penjuru. Mereka semua tampak


sibuk beradu argument dan berasumsi sendiri.


"Kami sudah menikah satu bulan yang lalu


karena kebesaran Tuhan yang telah membuat


semua nya begitu mengesankan..Itu saja yang


bisa saya sampaikan. Sekali lagi terimakasih.!"


Agra mengakhiri pernyataan nya di sambut


salam penghormatan dari para awak media


dengan membungkukan badan mereka.


Tanpa kata lagi Agra menarik Kiran ke area


belakang. Semua wartawan kini berkumpul


dan berbincang serius dengan decak kagum


yang tiada henti keluar dari mulut mereka.


Semua pembicaraan mereka terpusat pada


satu sosok yang sangat beruntung di sini.


Evanindhia Sashikirana..dia adalah wanita yang


sangat beruntung karena bisa menjadi bagian


dari kehidupan seorang Bimantara..keturunan


bangsawan kelas satu di negara ini, selain itu


Agra juga mewarisi darah bangsawan kelas


kakap dari negara matahari terbit yang bahkan


lebih kuat lagi karena ayah nya berasal dari


negara maju tersebut.


Ya..Bimantara Agra Bintang adalah seseorang


yang memiliki dua darah bangsawan berbeda


negara. Ayahnya berasal dari negri sakura..


sedang ibunya adalah putri tunggal keluarga


Hadiningrat. Namun ketika Agra berumur 15


tahun dia lebih memilih menetap di negara ini


bersama sang Eyang ketika sang kakek pergi


untuk selamanya. Konflik rumit bersama sang


ayah pun hingga kini masih berlangsung.


"Baiklah..Tuan Zein.. izinkan kami membawa


Kiran pergi sekarang juga. Kita akan bertemu


lagi di acara resepsi nanti.!"


Pamit Eyang putri pada Tuan Zein yang terlihat


langsung membungkuk hormat.


"Baik Nyonya Besar.. selamat jalan."


Nyonya Ambar segera melangkah pergi menuju


ke mobilnya di kawal oleh asisten nya serta 4


orang pengawal pribadinya. Sementara Kiran


saat ini sedang memeluk erat ibunya.


"Baik-baik lah kamu di rumah suamimu sayang..


Ibu akan selalu berdoa untuk kebahagiaan mu.."


Lirih Nyonya Amelia dengan derai air mata.


"Kiran sayang sama ibu..mulai sekarang ibu


harus lebih memperhatikan Aryella.."


"Baiklah.. serahkan dia pada ibu.. pergilah."


Kiran melepaskan pelukannya dari Nyonya


Amelia kemudian berpaling pada Tuan Zein


memeluk erat tubuh ayahnya itu.


"Mulai besok ayah sudah bisa kembali ke kantor.


Kiran sudah memperbaiki semuanya.."


Ucap Kiran setelah melepaskan pelukan dari


ayahnya. Tuan Zein mengangguk seraya


mengelus sayang rambut putrinya itu.


Dan terakhir Kiran memeluk Sam, keduanya


tampak cukup lama saling memeluk hingga


membuat Agra sedikit kesal.


"Mau sampai kapan lagi kalian..?"


Kiran segera melepas pelukannya dari Sam,


lalu melirik kearah Agra yang terlihat memasang


wajah kesal. Kiran menatap keluarga itu sedikit


berat apalagi Aryella tidak ada di sana.


Tidak tahan lagi dengan rasa kesalnya akhirnya


Kiran ke dalam pangkuan nya membuat Kiran


terkejut melotot kearah Agra, wajahnya sontak


saja di penuhi semburat merah yang membuat


Agra gemas sendiri.


"Apa yang kau lakukan sayang.. turunkan


aku.! Aku bisa jalan sendiri.."


"Dengan begini mereka tidak bisa seenaknya


lagi memandangi dirimu..!"


"Tapi kita di lihat semua orang sayang.."


"Biarkan saja..! mereka hanya iri pada kita.!"


"Isshh..kau ini benar-benar buat aku malu."


Ketus Kiran namun tak urung dia melingkarkan tangannya di leher kokoh suaminya itu. Agra


melangkah gagah menuju mobil mewahnya


di ikuti oleh orang-orang kepercayaannya.


Para wartawan tampak berseru histeris dan


segera mengabadikan moment romantis itu


dengan tiada henti memekik dan berdecak


tak jelas, yang pasti mereka semua merasa


gemas dengan pemandangan ini.!


Suasana masih terlihat riuh dan gaduh saat


iring-iringan mobil keluarga Hadiningrat mulai


meninggalkan area kediaman keluarga Mahesa


dimana seluruh penghuni rumah itu kini masih


berdiri mematung di tempat, termasuk Aryella


yang berada di balkon lantai 2 rumah itu. Ada


cairan bening yang meluncur deras membasahi


wajah cantik gadis itu, dia terisak pilu.


******* ******


Hari sudah menjelang waktu maghrib ketika rombongan besar itu tiba di istana Hadiningrat.


Mobil yang membawa Nyonya Ambar langsung


masuk ke halaman paviliun belakang. Selang beberapa menit kemudian Agra baru tiba di


depan pintu utama istana nya.


"Selamat datang di istana kita sayang.. istana


yang sengaja aku buat untukmu.."


Kiran melirik kearah Agra yang sedang menatap


nya dengan raut wajah serius.


" Jangan terlalu berlebihan sayang.."


"Aku serius..! Istana ini memang aku bangun


untuk kita, kau adalah inspirasi ku..!"


Agra mencondongkan tubuhnya, tangannya


bergerak mengelus mesra wajah cantik Kiran


yang menatapnya lekat.


"Sejak kapan kamu tahu keberadaan ku.?"


"Cukup lama..tapi selama ini aku hanya bisa


mengamati mu dari jauh.."


"Memangnya berapa lama kau mencari ku.?"


Kiran menggenggam tangan Agra yang ada


di wajahnya. Tatapan Agra semakin dalam.


"10 tahun..Sejak kau pergi dari negara itu aku


sudah mencari mu..dan aku mengetahui pasti


tentang identitas mu saat kau masuk bangku


kuliah.."


Mata Kiran berkaca-kaca, selama itukah


suaminya ini mencari dirinya dan dia tidak


mengetahuinya sama sekali.


"Lalu kenapa kamu tidak mendatangi ku.?"


"Aku sengaja menundanya..! aku ingin


mendapatkan hatimu dulu..! dan moment


itu akhirnya datang juga.!"


Mata mereka semakin terpaut dalam. Kiran


menggeleng lemah mengetahui fakta ini.


"Jadi sejak kapan kau mulai mencintai ku.?"


"Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama


kali kita bertemu. Di taman bunga itu.."


"Apa kau bercanda..? waktu itu usiaku baru


8 tahun..!"


"Ya.. itulah kegilaanku.! kau memiliki mata


yang sangat indah dan tidak bisa aku lupakan."


Bisik Agra sambil mendekatkan wajahnya.


Pandangan mereka semakin lekat, ada cairan


bening yang kini jatuh menyusuri pipi mulus


Kiran membuat Agra mengusapnya lembut.

__ADS_1


"Aku sudah mencintaimu selama 15 tahun Kiran.


Dan tidak pernah berkeinginan untuk mengenal


cinta lain..kau adalah cinta matiku..aku.."


Kiran sudah membungkam bibir Agra dengan


bibirnya yang langsung di balas Agra dengan


serangan yang lebih liar. Untuk beberapa saat


keduanya terhanyut dalam kehangatan dan


kelembutan ciuman penuh kemesraan.


Setelah lama Kiran mengakhiri pagutan nya


disaat tangan nakal Agra mulai bergerilya


ke daerah sensitif nya.


"Aku tidak akan melepaskan mu malam ini.."


Bisik Agra seraya mengusap lembut bibir


Kiran yang basah memerah. Kiran mendorong


halus dada Agra dengan raut ketegangan


yang terlihat nyata membuat Agra tersenyum


gemas. Dia kembali menyergap bibir ranum


itu yang selalu membuat dirinya kecanduan


********** kuat dan semakin menekan.


Namun saat bersamaan terdengar kumandang


adzan magrib yang membuat mereka langsung melepaskan ciuman nya dengan napas yang sama-sama memburu.


"Tuan..Nona.. Nyonya besar menyuruh anda


untuk langsung menuju paviliun belakang.."


Pak Hans menghampiri Agra dan Kiran begitu


mereka keluar dari mobil. Keduanya tampak


saling pandang, Kiran mulai kembali resah.


"Jangan takut.. ikuti saja yang di perintahkan


oleh Eyang.. semuanya untuk kebaikan kita "


Ujar Agra sambil kemudian menggenggam erat


tangan Kiran yang mengangguk, mereka pun


kini melangkah menuju paviliun belakang.


Tiba di sana Kiran langsung di suruh ganti


baju dengan yang sudah di sediakan. Gaun


rumahan panjang warna putih tulang dengan


bordiran cantik di bagian dadanya.


"Bersiaplah..kita akan sholat berjamaah."


Titah Nyonya Ambar sambil menatap Kiran


yang baru keluar dari ruang ganti di dalam


kamar pribadi Agra yang ada di paviliun itu.


"Baik Eyang.."


Para pelayan dengan sigap menyiapkan segala


hal yang di perlukan untuk momen ini. Tidak


lama Agra yang baru saja selesai membersihkan


diri dan berganti pakaian keluar dari ruang ganti.


Kiran tampak terkesima melihat tampilan Agra


dalam balutan pakaian muslim warna putih.


Suaminya itu terlihat sangat bercahaya dan


kadar ketampanan nya meningkat hingga


berkali-kali lipat. Keduanya saling pandang


lekat dengan pancaran mata saling memuja.


"Apa kalian hanya akan saling menatap.? "


Nyonya Ambar terkekeh pelan sambil kemudian


melangkah keluar dari kamar itu di ikuti oleh


pasangan pengantin itu yang tersipu malu.


Mereka bertiga masuk ke dalam mushola


besar dan indah yang di hiasi oleh ornamen


cantik berlapiskan emas murni. Sebenarnya


di dalam istana ini juga ada sebuah mesjid


cukup megah berukuran sedang yang biasa


di gunakan oleh para pegawai istana. Setiap


masuk waktu sholat semua pegawai wajib


berhenti dari segala aktifitas nya kemudian


melaksanakan sholat berjamaah di masjid itu.


"Ayo..mulai sekarang belajarlah menjadi imam


yang baik untuk istri dan keluargamu.."


Titah Eyang putri yang di balas tatapan Agra.


Terdiam sejenak, melihat kearah Kiran yang


sudah siap dengan mukena cantiknya. Mata


mereka kembali saling menatap kuat.


"Hoshi.. sampai kapan kau akan memandang


nya ? masih banyak waktu untuk kalian.!"


Tegur Nyonya Ambar tidak tahan lagi melihat


tingkah konyol cucunya itu. Agra mengusap


wajahnya seraya menunduk kemudian dengan


cepat dia mengambil tempat di depan. Dan


mulailah mereka melaksanakan sholat


berjamaah untuk pertama kalinya bagi Kiran.


Pak Hans dan Tata menemani mereka bertiga.


Kiran hanya bisa merasa takjub saat suami


nya itu memimpin sholat dengan sangat baik,


lancar dan fasih serta suara yang mantap.


Dia tidak menduga sama sekali kalau keluarga


yang dari luar terlihat begitu glamor jauh dari


kesan agamis tapi kenyataannya semua begitu


seimbang, bagi mereka dunia memang penting


tapi akhirat adalah segala-galanya.


Mereka semua berada di mushola itu sampai


masuk waktu isya. Dan Agra kembali menjadi


imam pada sholat isya.


Selesai menjalankan kewajibannya Kiran dan


Agra beserta Eyang putri melangkah menuju


ruang makan yang ada di paviliun ini. Ini masih


merupakan tradisi keluarga, makan bersama


untuk pertama kalinya dan Kiran harus belajar


melayani suaminya sebaik dan selayak mungkin.


Dengan telaten dan gestur tubuh yang apik


Kiran mulai menuang makanan serta minuman


untuk suami dan nenek mertuanya itu.Setelah


memastikan mereka mulai menyantap makanan


nya barulah dia duduk di samping Agra dan


mulai mengambil untuknya sendiri yang sudah


di siapkan makanan berbeda dari yang lain.


Untuk sesaat Kiran menatap makanan berupa


olahan nasi merah serta sayuran hijau dan


beberapa lauk dengan tampilan yang kurang


menarik. Agra tampak menatap lembut wajah


Kiran seraya mengangguk meyakinkan. Sedang


Eyang putri hanya menatapnya sekilas mengulas


senyum geli. Pada saat sedang makan bersama


seperti ini tidak di perkenankan untuk berbicara


ataupun mengeluarkan suara bila tidak ada


sesuatu yang sangat mendesak.


Akhirnya Kiran mulai menyuapkan makanan


jatahnya. Dia mengerjap.. lagi-lagi makanan


itu tidak seburuk tampilan nya. Eyang putri


hanya tersenyum melihat Kiran menikmati


sajian makanan istimewa itu. Mereka bertiga


menikmati makan malam nya penuh khidmat


dengan gaya yang sangat elegan dan berkelas.


"Malam ini istrimu itu harus menginap di


kamarku..dia harus melalui tradisi lainnya..!"


Ujar Eyang putri setelah mengakhiri makan


malamnya.


"Apa..? tradisi apalagi eyang..?"


Agra langsung protes keberatan. Eyang Putri


bangkit dari duduknya, meraih tongkat emas


nya yang di ulurkan oleh Tata.


"Dia harus memijatku sampai aku tertidur..


setelah itu dia menemaniku tidur..di lantai..!"


"Apa, di lantai ? tidak boleh.!"


Sergah Agra dengan sorot mata yang tampak


menyala tidak suka, tidur di lantai.? yang benar


saja , masa iya istri nya itu harus tidur melantai.


Kiran memegang tangan Agra seraya menatap


nya lembut sambil menggeleng tenang.


"Istrimu saja tidak keberatan.! aku tunggu di


kamar..! dan kau Hoshi..kembalilah ke depan.!


dia di bawah kekuasaan ku saat ini..!"


Ketus Nyonya Ambar sambil kemudian mulai


melangkah menuju ke kamarnya.


"Eyang..! yang benar saja..aku tidak bisa..!"


"Sudah sayang.. ikuti saja maunya eyang.."


Ucap Kiran sambil meraup wajah suaminya


itu yang terlihat memerah menahan kesal.


Agra meraih tubuh Kiran ke dalam dekapan


nya, apa-apaan ini, gara-gara ratu tradisi semua


hayalan dan keinginannya hancur seketika..

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


TBC.....


__ADS_2