
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Semua mata kini di buat bengong di dua sisi.
Mata mereka melihat kedua arah, antara
sosok bidadari cantik jelita di teras rumah
juga pangeran charming yang baru saja
keluar dari mobil mewah.
"Apakah dia Tuan Agra..?"
"Benar.. dia adalah Tuan Bimantara Agra
Bintang.. pemilik Bintang Group.."
"Jadi beliau sendiri yang datang menjemput
pasangannya..?"
"Luar biasa..dia benar-benar tampan dan
gagah.."
"Kita beruntung kali ini bisa mengambil
gambarnya. Harus di abadikan sebanyak
mungkin nih.!"
"Ya benar.. belum tentu ke depannya kita bisa
mendapat keberuntungan ini lagi.."
Itulah isi percakapan para wartawan dengan
suara yang di tekan serendah mungkin.
Semua orang saat ini benar-benar di buat
terkesima oleh penampakan sepasang
suami istri tersebut.
Mata Kiran bertautan dengan mata sosok tadi
yang ternyata adalah Agra. Keduanya saling
mengunci satu sama lain dengan tatapan
terpesona dan saling mengagumi satu sama
lain, tubuh mereka tiba-tiba saja di penuhi
oleh gelenyar aneh yang merambat ke seluruh
nadi dan aliran darah nya. Mata Agra tampak
berbinar senang saat melihat Kiran sudah siap
dengan kostum perginya, ini artinya dia sudah
bisa memboyong istrinya itu ke istana megah
nya. Dan itu berarti siang malam dia akan
selalu bersama nya, berada di dekat nya.
Semua wartawan dan seluruh pelayan dari
dua keluarga langsung membungkuk hormat
saat Agra mulai melangkah tenang menuju ke
arah keberadaan Kiran dan Eyang putri dengan
di dampingi oleh Bara, di kawal ketat oleh
Zack dan beberapa pengawal pilihan. Semua
fokus kamera kini mengarah pada sosoknya
setelah para wartawan pulih dan kembali
pada kewarasan nya. Mereka hanya bisa
berdecak kagum melihat penampakan dua
sosok utama itu.
Hari ini merupakan hari yang luar biasa bagi
mereka semua, karena bisa melihat secara
langsung sosok terhormat Presdir Bintang
Group yang hanya terkenal sebagai pebisnis
ulung berwajah tampan namun sangat dingin.
Tetapi kenyataan yang kini ada di hadapan
mereka adalah pengusaha itu bukan hanya
sekedar tampan tapi luar biasa tampan.
"Tuan Agra.. selamat datang.."
Sambut Tuan Zein yang langsung di balas Agra
dengan mengangkat tangannya. Dia membagi
pandangan nya pada seluruh keluarga Mahesa
yang tertunduk dalam terkecuali Aryella yang
lebih memilih masuk kembali ke kamarnya
sesaat setelah Kiran keluar rumah. Ada rasa
sakit yang tak jelas di rasakan oleh Aryella
di saat dia melihat Kiran di boyong dengan
segala kehormatan oleh keluarga suaminya.
"Tidak perlu terlalu formal, saat ini aku datang
sebagai menantu mu..aku ingin membawa
pulang istriku..!"
Ujar Agra seraya melirik kearah Kiran yang
sedang menundukan kepalanya. Tuan Zein
tersenyum sambil kembali menunduk. Agra
segera menghampiri Kiran dan tanpa basa-
basi dia merengkuh tubuh istrinya itu kedalam
pelukannya, lalu mencium keningnya lama.
Karuan saja hal itu membuat semua orang
melongo, terdiam dalam keterkejutan oleh
perlakuan romantis sang Presdir.
"Sayang.. kendalikan dirimu..ada eyang disini.
Kita juga ada di tempat terbuka.."
Bisik Kiran di tengah dekapan kuat suaminya itu
yang malah semakin mempererat pelukannya.
"Mereka tidak akan tahu bagaimana perasaan
ku saat ini. Betapa aku sangat ingin memakan
mu saat ini juga..!"
"Agra.. hentikan..! kau harus melihat tempat
dan situasi..!"
"Salahmu sendiri kenapa wajahmu begitu
cantik. Apa kau tahu mata mereka semua
sedang melahap mu saat ini..!"
"Tapi tidak harus begini juga sayang.."
"Aku sedang berusaha melindungi milikku dari
mata jahil yang tidak bertanggung jawab.!"
"Kau terlalu berlebihan sayang..sudah ahh..
lepaskan. Aku malu sama eyang..!"
"Maka sembunyikan lah wajah cantikmu itu
di dadaku..!"
"Agra..! aku mohon.."
"Aku ini suamimu.. bicaralah yang sopan.!"
Desis Agra membuat Kiran terdiam, malu sendiri.
Orang-orang masih terdiam bengong tanpa tahu
apa yang di bisikan oleh pasangan itu.
"Ehemm..apa kalian tidak ingin segera pulang.?"
Suara gerah Eyang putri membuat pasangan
yang sedang di mabuk cinta itu tersadar. Agra
segera melepaskan pelukannya. Wajah Kiran
saat ini sudah semerah tomat. Beginilah resiko
yang harus di tanggung oleh nya kalau punya
suami berkelakuan sedikit aneh.!
Eyang putri segera mengambil tempat di depan
para wartawan yang kali ini sudah siap untuk
mendengar pernyataan dari Nyonya Besar
Ambarwati Hadiningrat istri mendiang Tuan
Besar Raksapati Hadiningrat. Mereka semua
menyiapkan mikrofon masing-masing.
Agra dan Kiran mengambil posisi di sisi kanan
Eyang putri, saling menggenggam kuat dengan
berdiri rapat seolah tak ingin berjauhan.Sementara Tuan Zein dan keluarganya berada di sebelah kiri
Nyonya Ambar yang kini mulai membagi perhatian
pada semua awak media.
"Selamat sore semuanya.. terimakasih atas
kehadiran saudara semua di tempat ini. Kali
ini saya sengaja mengumpulkan kalian semua
untuk melihat dan mengetahui sesuatu..."
Nyonya Ambar menjeda ucapannya seraya
melirik kearah Kiran dan Agra yang balas
menatap lembut kearah wanita sepuh itu.
"Aku datang kesini dalam acara prosesi
penjemputan cucu menantuku.. untuk kami
boyong ke istana Hadiningrat..!"
Semua wartawan tampak saling pandang.
Begitupun dengan para tetangga yang hadir
di luar area halaman rumah.
"Untuk selanjutnya cucuku sendiri yang akan
menyampaikan penjelasan nya.."
Nyonya Ambar bergeser kemudian melirik kearah
Agra yang tampak mengangguk pelan. Dia segera
maju ke posisi tengah dengan menarik pinggang
Kiran agar merapat padanya. Para wartawan kini
heboh karena antusias mendapati kenyataan
bahwa Tuan terhormat itu akan berbicara di
hadapan mereka, padahal sebelumnya mereka
bahkan tidak berani berharap akan hal itu.
Agra membagi pandangan nya pada semua
awak media yang terlihat menundukan wajah
tidak kuasa melihat aura kemilau yang keluar
dari sosok sang Presdir.
"Selamat sore..tidak banyak kata yang akan
saya sampaikan di sini. Saya hanya ingin
__ADS_1
memberi pernyataan resmi pada kalian semua."
Agra terdiam sebentar, kembali menarik Kiran
dengan melingkari pinggangnya posesif.
Semua orang tampak menahan napas seraya
memberanikan diri memandang pasangan
yang sangat menyilaukan mata itu.
"Saya Bimantara Agra Bintang.. datang kesini
untuk menjemput dan memboyong istri saya
Nona Evanindhia Sashikirana..! "
Suara riuh dan gaduh kini kembali terdengar
dari semua penjuru. Mereka semua tampak
sibuk beradu argument dan berasumsi sendiri.
"Kami sudah menikah satu bulan yang lalu
karena kebesaran Tuhan yang telah membuat
semua nya begitu mengesankan..Itu saja yang
bisa saya sampaikan. Sekali lagi terimakasih.!"
Agra mengakhiri pernyataan nya di sambut
salam penghormatan dari para awak media
dengan membungkukan badan mereka.
Tanpa kata lagi Agra menarik Kiran ke area
belakang. Semua wartawan kini berkumpul
dan berbincang serius dengan decak kagum
yang tiada henti keluar dari mulut mereka.
Semua pembicaraan mereka terpusat pada
satu sosok yang sangat beruntung di sini.
Evanindhia Sashikirana..dia adalah wanita yang
sangat beruntung karena bisa menjadi bagian
dari kehidupan seorang Bimantara..keturunan
bangsawan kelas satu di negara ini, selain itu
Agra juga mewarisi darah bangsawan kelas
kakap dari negara matahari terbit yang bahkan
lebih kuat lagi karena ayah nya berasal dari
negara maju tersebut.
Ya..Bimantara Agra Bintang adalah seseorang
yang memiliki dua darah bangsawan berbeda
negara. Ayahnya berasal dari negri sakura..
sedang ibunya adalah putri tunggal keluarga
Hadiningrat. Namun ketika Agra berumur 15
tahun dia lebih memilih menetap di negara ini
bersama sang Eyang ketika sang kakek pergi
untuk selamanya. Konflik rumit bersama sang
ayah pun hingga kini masih berlangsung.
"Baiklah..Tuan Zein.. izinkan kami membawa
Kiran pergi sekarang juga. Kita akan bertemu
lagi di acara resepsi nanti.!"
Pamit Eyang putri pada Tuan Zein yang terlihat
langsung membungkuk hormat.
"Baik Nyonya Besar.. selamat jalan."
Nyonya Ambar segera melangkah pergi menuju
ke mobilnya di kawal oleh asisten nya serta 4
orang pengawal pribadinya. Sementara Kiran
saat ini sedang memeluk erat ibunya.
"Baik-baik lah kamu di rumah suamimu sayang..
Ibu akan selalu berdoa untuk kebahagiaan mu.."
Lirih Nyonya Amelia dengan derai air mata.
"Kiran sayang sama ibu..mulai sekarang ibu
harus lebih memperhatikan Aryella.."
"Baiklah.. serahkan dia pada ibu.. pergilah."
Kiran melepaskan pelukannya dari Nyonya
Amelia kemudian berpaling pada Tuan Zein
memeluk erat tubuh ayahnya itu.
"Mulai besok ayah sudah bisa kembali ke kantor.
Kiran sudah memperbaiki semuanya.."
Ucap Kiran setelah melepaskan pelukan dari
ayahnya. Tuan Zein mengangguk seraya
mengelus sayang rambut putrinya itu.
Dan terakhir Kiran memeluk Sam, keduanya
tampak cukup lama saling memeluk hingga
membuat Agra sedikit kesal.
"Mau sampai kapan lagi kalian..?"
Kiran segera melepas pelukannya dari Sam,
lalu melirik kearah Agra yang terlihat memasang
wajah kesal. Kiran menatap keluarga itu sedikit
berat apalagi Aryella tidak ada di sana.
Tidak tahan lagi dengan rasa kesalnya akhirnya
Kiran ke dalam pangkuan nya membuat Kiran
terkejut melotot kearah Agra, wajahnya sontak
saja di penuhi semburat merah yang membuat
Agra gemas sendiri.
"Apa yang kau lakukan sayang.. turunkan
aku.! Aku bisa jalan sendiri.."
"Dengan begini mereka tidak bisa seenaknya
lagi memandangi dirimu..!"
"Tapi kita di lihat semua orang sayang.."
"Biarkan saja..! mereka hanya iri pada kita.!"
"Isshh..kau ini benar-benar buat aku malu."
Ketus Kiran namun tak urung dia melingkarkan tangannya di leher kokoh suaminya itu. Agra
melangkah gagah menuju mobil mewahnya
di ikuti oleh orang-orang kepercayaannya.
Para wartawan tampak berseru histeris dan
segera mengabadikan moment romantis itu
dengan tiada henti memekik dan berdecak
tak jelas, yang pasti mereka semua merasa
gemas dengan pemandangan ini.!
Suasana masih terlihat riuh dan gaduh saat
iring-iringan mobil keluarga Hadiningrat mulai
meninggalkan area kediaman keluarga Mahesa
dimana seluruh penghuni rumah itu kini masih
berdiri mematung di tempat, termasuk Aryella
yang berada di balkon lantai 2 rumah itu. Ada
cairan bening yang meluncur deras membasahi
wajah cantik gadis itu, dia terisak pilu.
******* ******
Hari sudah menjelang waktu maghrib ketika rombongan besar itu tiba di istana Hadiningrat.
Mobil yang membawa Nyonya Ambar langsung
masuk ke halaman paviliun belakang. Selang beberapa menit kemudian Agra baru tiba di
depan pintu utama istana nya.
"Selamat datang di istana kita sayang.. istana
yang sengaja aku buat untukmu.."
Kiran melirik kearah Agra yang sedang menatap
nya dengan raut wajah serius.
" Jangan terlalu berlebihan sayang.."
"Aku serius..! Istana ini memang aku bangun
untuk kita, kau adalah inspirasi ku..!"
Agra mencondongkan tubuhnya, tangannya
bergerak mengelus mesra wajah cantik Kiran
yang menatapnya lekat.
"Sejak kapan kamu tahu keberadaan ku.?"
"Cukup lama..tapi selama ini aku hanya bisa
mengamati mu dari jauh.."
"Memangnya berapa lama kau mencari ku.?"
Kiran menggenggam tangan Agra yang ada
di wajahnya. Tatapan Agra semakin dalam.
"10 tahun..Sejak kau pergi dari negara itu aku
sudah mencari mu..dan aku mengetahui pasti
tentang identitas mu saat kau masuk bangku
kuliah.."
Mata Kiran berkaca-kaca, selama itukah
suaminya ini mencari dirinya dan dia tidak
mengetahuinya sama sekali.
"Lalu kenapa kamu tidak mendatangi ku.?"
"Aku sengaja menundanya..! aku ingin
mendapatkan hatimu dulu..! dan moment
itu akhirnya datang juga.!"
Mata mereka semakin terpaut dalam. Kiran
menggeleng lemah mengetahui fakta ini.
"Jadi sejak kapan kau mulai mencintai ku.?"
"Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama
kali kita bertemu. Di taman bunga itu.."
"Apa kau bercanda..? waktu itu usiaku baru
8 tahun..!"
"Ya.. itulah kegilaanku.! kau memiliki mata
yang sangat indah dan tidak bisa aku lupakan."
Bisik Agra sambil mendekatkan wajahnya.
Pandangan mereka semakin lekat, ada cairan
bening yang kini jatuh menyusuri pipi mulus
Kiran membuat Agra mengusapnya lembut.
__ADS_1
"Aku sudah mencintaimu selama 15 tahun Kiran.
Dan tidak pernah berkeinginan untuk mengenal
cinta lain..kau adalah cinta matiku..aku.."
Kiran sudah membungkam bibir Agra dengan
bibirnya yang langsung di balas Agra dengan
serangan yang lebih liar. Untuk beberapa saat
keduanya terhanyut dalam kehangatan dan
kelembutan ciuman penuh kemesraan.
Setelah lama Kiran mengakhiri pagutan nya
disaat tangan nakal Agra mulai bergerilya
ke daerah sensitif nya.
"Aku tidak akan melepaskan mu malam ini.."
Bisik Agra seraya mengusap lembut bibir
Kiran yang basah memerah. Kiran mendorong
halus dada Agra dengan raut ketegangan
yang terlihat nyata membuat Agra tersenyum
gemas. Dia kembali menyergap bibir ranum
itu yang selalu membuat dirinya kecanduan
********** kuat dan semakin menekan.
Namun saat bersamaan terdengar kumandang
adzan magrib yang membuat mereka langsung melepaskan ciuman nya dengan napas yang sama-sama memburu.
"Tuan..Nona.. Nyonya besar menyuruh anda
untuk langsung menuju paviliun belakang.."
Pak Hans menghampiri Agra dan Kiran begitu
mereka keluar dari mobil. Keduanya tampak
saling pandang, Kiran mulai kembali resah.
"Jangan takut.. ikuti saja yang di perintahkan
oleh Eyang.. semuanya untuk kebaikan kita "
Ujar Agra sambil kemudian menggenggam erat
tangan Kiran yang mengangguk, mereka pun
kini melangkah menuju paviliun belakang.
Tiba di sana Kiran langsung di suruh ganti
baju dengan yang sudah di sediakan. Gaun
rumahan panjang warna putih tulang dengan
bordiran cantik di bagian dadanya.
"Bersiaplah..kita akan sholat berjamaah."
Titah Nyonya Ambar sambil menatap Kiran
yang baru keluar dari ruang ganti di dalam
kamar pribadi Agra yang ada di paviliun itu.
"Baik Eyang.."
Para pelayan dengan sigap menyiapkan segala
hal yang di perlukan untuk momen ini. Tidak
lama Agra yang baru saja selesai membersihkan
diri dan berganti pakaian keluar dari ruang ganti.
Kiran tampak terkesima melihat tampilan Agra
dalam balutan pakaian muslim warna putih.
Suaminya itu terlihat sangat bercahaya dan
kadar ketampanan nya meningkat hingga
berkali-kali lipat. Keduanya saling pandang
lekat dengan pancaran mata saling memuja.
"Apa kalian hanya akan saling menatap.? "
Nyonya Ambar terkekeh pelan sambil kemudian
melangkah keluar dari kamar itu di ikuti oleh
pasangan pengantin itu yang tersipu malu.
Mereka bertiga masuk ke dalam mushola
besar dan indah yang di hiasi oleh ornamen
cantik berlapiskan emas murni. Sebenarnya
di dalam istana ini juga ada sebuah mesjid
cukup megah berukuran sedang yang biasa
di gunakan oleh para pegawai istana. Setiap
masuk waktu sholat semua pegawai wajib
berhenti dari segala aktifitas nya kemudian
melaksanakan sholat berjamaah di masjid itu.
"Ayo..mulai sekarang belajarlah menjadi imam
yang baik untuk istri dan keluargamu.."
Titah Eyang putri yang di balas tatapan Agra.
Terdiam sejenak, melihat kearah Kiran yang
sudah siap dengan mukena cantiknya. Mata
mereka kembali saling menatap kuat.
"Hoshi.. sampai kapan kau akan memandang
nya ? masih banyak waktu untuk kalian.!"
Tegur Nyonya Ambar tidak tahan lagi melihat
tingkah konyol cucunya itu. Agra mengusap
wajahnya seraya menunduk kemudian dengan
cepat dia mengambil tempat di depan. Dan
mulailah mereka melaksanakan sholat
berjamaah untuk pertama kalinya bagi Kiran.
Pak Hans dan Tata menemani mereka bertiga.
Kiran hanya bisa merasa takjub saat suami
nya itu memimpin sholat dengan sangat baik,
lancar dan fasih serta suara yang mantap.
Dia tidak menduga sama sekali kalau keluarga
yang dari luar terlihat begitu glamor jauh dari
kesan agamis tapi kenyataannya semua begitu
seimbang, bagi mereka dunia memang penting
tapi akhirat adalah segala-galanya.
Mereka semua berada di mushola itu sampai
masuk waktu isya. Dan Agra kembali menjadi
imam pada sholat isya.
Selesai menjalankan kewajibannya Kiran dan
Agra beserta Eyang putri melangkah menuju
ruang makan yang ada di paviliun ini. Ini masih
merupakan tradisi keluarga, makan bersama
untuk pertama kalinya dan Kiran harus belajar
melayani suaminya sebaik dan selayak mungkin.
Dengan telaten dan gestur tubuh yang apik
Kiran mulai menuang makanan serta minuman
untuk suami dan nenek mertuanya itu.Setelah
memastikan mereka mulai menyantap makanan
nya barulah dia duduk di samping Agra dan
mulai mengambil untuknya sendiri yang sudah
di siapkan makanan berbeda dari yang lain.
Untuk sesaat Kiran menatap makanan berupa
olahan nasi merah serta sayuran hijau dan
beberapa lauk dengan tampilan yang kurang
menarik. Agra tampak menatap lembut wajah
Kiran seraya mengangguk meyakinkan. Sedang
Eyang putri hanya menatapnya sekilas mengulas
senyum geli. Pada saat sedang makan bersama
seperti ini tidak di perkenankan untuk berbicara
ataupun mengeluarkan suara bila tidak ada
sesuatu yang sangat mendesak.
Akhirnya Kiran mulai menyuapkan makanan
jatahnya. Dia mengerjap.. lagi-lagi makanan
itu tidak seburuk tampilan nya. Eyang putri
hanya tersenyum melihat Kiran menikmati
sajian makanan istimewa itu. Mereka bertiga
menikmati makan malam nya penuh khidmat
dengan gaya yang sangat elegan dan berkelas.
"Malam ini istrimu itu harus menginap di
kamarku..dia harus melalui tradisi lainnya..!"
Ujar Eyang putri setelah mengakhiri makan
malamnya.
"Apa..? tradisi apalagi eyang..?"
Agra langsung protes keberatan. Eyang Putri
bangkit dari duduknya, meraih tongkat emas
nya yang di ulurkan oleh Tata.
"Dia harus memijatku sampai aku tertidur..
setelah itu dia menemaniku tidur..di lantai..!"
"Apa, di lantai ? tidak boleh.!"
Sergah Agra dengan sorot mata yang tampak
menyala tidak suka, tidur di lantai.? yang benar
saja , masa iya istri nya itu harus tidur melantai.
Kiran memegang tangan Agra seraya menatap
nya lembut sambil menggeleng tenang.
"Istrimu saja tidak keberatan.! aku tunggu di
kamar..! dan kau Hoshi..kembalilah ke depan.!
dia di bawah kekuasaan ku saat ini..!"
Ketus Nyonya Ambar sambil kemudian mulai
melangkah menuju ke kamarnya.
"Eyang..! yang benar saja..aku tidak bisa..!"
"Sudah sayang.. ikuti saja maunya eyang.."
Ucap Kiran sambil meraup wajah suaminya
itu yang terlihat memerah menahan kesal.
Agra meraih tubuh Kiran ke dalam dekapan
nya, apa-apaan ini, gara-gara ratu tradisi semua
hayalan dan keinginannya hancur seketika..
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
TBC.....