
**********
Hari sudah larut malam saat Kiran mengakhiri
kegiatannya membereskan sisa pekerjaan yang
telah menyita seluruh waktunya seharian ini.
Dia baru menyadari kalau tubuhnya saat ini
sudah sangat lelah dan penat.
Rasa lelah itu seolah semakin terasa ketika
dia tiba di parkiran ternyata lagi-lagi Zack yang
datang menjemputnya, bukanlah orang yang
di harapkannya yang saat ini bayangan wajah
nya sudah ada di pelupuk mata. Entah kenapa
kejadian tadi siang di ruang bawah meninggalkan bekas yang sangat mendalam di ingatan Kiran. Tubuhnya pun hingga kini masih merasakan
panas dingin saat mengingatnya. Bahkan gejolak
itu masih menguasai tubuhnya sampai saat ini.
"Selamat malam Nona..Tuan tidak bisa datang
menjemput anda malam ini, jadi saya mendapat
perintah untuk mengantar jemput anda."
Zack berucap sembari membukakan pintu
mobil kemudian berdiri menunduk di hadapan
Kiran yang membeku di tempat. Tubuhnya
benar-benar lemas saat ini. Ada desakan air
mata yang ingin keluar namun sekuat tenaga
Kiran mencoba menahan nya.
"Antarkan saya ke rumah ayah.!"
Titah Kiran seraya masuk ke dalam mobil.
Zack tampak bingung sesaat namun tidak
lama dia menutup pintu lalu memutar tubuh
nya masuk ke balik kemudi. Dia mengintip
kearah spion tengah, terlihat Nona Muda nya
itu saat ini sedang merebahkan kepalanya
ke sandaran jok, matanya terpejam rapat.
"Mohon maaf Nona..tapi Tuan menyuruh
saya mengantar Nona ke istana Hadiningrat.."
"Buat apa aku kesana kalau tidak bersamanya,
itu rumah orang, aku tidak bisa pergi kesana
tanpa suamiku.!"
Sahut Kiran masih merebahkan tubuhnya.
Zack menarik napas panjang.
"Cepat jalan Zack..ini sudah sangat malam.!"
"Baik Nona.."
Zack mulai melajukan mobil mewahnya menuju
ke kediaman keluarga Mahesa.
Tadi siang setelah proses penangkapan beres
Agra memang langsung pamit pada Kiran dan
terlihat sangat terburu-buru. Tapi dia tidak mengatakan akan pergi kemana. Satu hal yang
sangat di sesali Kiran adalah karena dia tidak
pernah memperdulikan apa saja yang di lakukan
ataupun di kerjakan oleh suaminya itu.
Kiran meraih ponselnya mencoba menghubungi
nomor Agra dengan hati penuh harapan. Namun
dia menautkan alisnya ketika nomor Agra tiba-
tiba saja tidak bisa di hubungi. Kiran kembali
mencoba nya berulangkali, namun hasilnya
tetap sama, tidak aktif sama sekali.
"Zack..apa kau tahu kemana perginya Tuan mu?"
Kiran mencoba bertanya pada Zack yang sedang
fokus ke jalanan.
"Maaf Nona.. sepertinya Tuan ada urusan bisnis
yang sangat darurat .!"
"Apakah dia pergi ke luar kota, atau luar negeri?"
"Seperti nya kali ini Tuan pergi untuk mengurus
bisnis yang ada di luar negeri Nona."
"Apa, luar negeri.? memangnya bisnis apa ?"
"Saya kurang faham juga Nona.."
"Bisakah kamu ceritakan sedikit saja tentang
dia padaku.?"
Zack tampak terdiam, menatap lurus ke depan.
Tapi sekilas dia melihat kearah spion tengah.
"Untuk hal itu sebaiknya Nona tanyakan saja
pada Tuan secara langsung. Saya tidak di
perkenankan untuk mengatakan apapun.!"
Ujar Zack. Kiran mendengus kesal, dia kembali memalingkan pandangan ke luar jendela.
Hatinya kini semakin merasakan gelisah.
Sampai tiba di rumah Kiran lebih memilih
diam dan hanya memejamkan matanya.
"Besok saya akan menjemput Nona kembali."
"Tidak perlu, saya bisa berangkat sendiri.!"
"Ini adalah perintah Tuan Agra Nona.."
Kiran berdecak sebal sambil melangkah masuk
meninggalkan Zack yang terlihat tersenyum tipis
untuk pertama kalinya. Laki-laki bertubuh tinggi
tegap dengan garis wajah yang sangat tegas itu masuk ke balik kemudi kemudian melesatkan mobilnya meninggalkan kediaman Mahesa.
Dengan tubuh yang sedikit lemas Kiran keluar
dari kamar mandi sudah siap dengan setelan
tidurnya. Dia meraih ponsel di atas nakas, lalu
berjalan kearah balkon kemudian berdiri disana mencoba menikmati semilir angin malam. Dia
melihat layar ponselnya siapa tahu ada chat
atau panggilan masuk dari Agra, namun nihil
yang di harapkan nya ternyata tidak terwujud.
"Agraa..kemana kamu.. kenapa selalu begini.
Tidak di desa tidak di sini kamu selalu saja
menghilang semaunya sendiri.."
Lirih Kiran seraya melipat kedua tangan di dada.
Matanya menembus langit yang berhias kerlip
bintang dan cahaya bulan yang sudah mendekati
sempurna. Dia mencoba menerawang jauh
melukis wajah tampan Agra yang telah membuat
hati dan jiwanya seolah tersayat oleh kesakitan, terbelenggu rasa rindu, yang semakin di rasa
semakin membuat dia resah, gelisah, merana
dan tersiksa sendiri.
Cinta..Kiran yakin seyakin-yakinnya bahwa
hatinya saat ini sedang di penuhi oleh bunga
cinta yang sedang mekar, tapi kenapa rasanya
malah sesakit ini. Kiran menyadari perasaan
nya terhadap Agra semakin kesini semakin
mendalam. Bahkan dulu pada saat dia dekat
dan menjalin hubungan dengan Nathan dirinya
tidak pernah merasakan siksaan sehebat ini
hanya karena sebuah kerinduan.
Tidak terasa cairan bening mulai berjatuhan
membasahi wajahnya. Semakin lama semakin
deras hingga membuat dia tersedu sendiri.
Kiran menatap kembali layar ponselnya, hati
nya semakin terasa sakit saat melihat fhoto
Agra yang sedang duduk santai tumpang kaki
di ruang kerjanya dengan wajah yang tampak
sedikit tersembunyi di balik topi, terlihat sangat
keren dan misterius. Kiran sengaja mengambil
gambar Agra ketika suaminya itu sedang asik memainkan ponselnya hingga tidak menyadari
dirinya memotret nya.
"Agraa...aku mohon hubungi aku..agar hati ini
setidaknya bisa tenang. Kenapa kamu suka
sekali membuatku khawatir.."
Gumam Kiran dengan derai air mata yang tidak
kunjung reda. Dia mendekap ponsel di dadanya
sambil kembali terisak semakin pilu.
"Tuhan...apa ini, kenapa rasanya ini lebih sakit
daripada di khianati oleh orang itu..Aku takut
rasaku ini hanya bertepuk sebelah tangan.."
Lirih Kiran sambil menengadahkan wajahnya.
Matanya kini sudah mulai sembab.
"Agra..pulanglah..aku mencintaimu. Akan aku
katakan semuanya, akan aku pasrahkan diriku
seutuhnya padamu, aku adalah milikmu Agra.."
Kembali Kiran bergumam lirih menahan pedih.
__ADS_1
Kerinduan yang di rasakannya begitu menyiksa.
Suaminya itu benar-benar telah berhasil membuat
dirinya gelisah galau merana..
Sampai tengah malam Kiran masih mencoba
menghubungi nomor Agra, namun tetap tidak
jua terhubung. Semalaman dia tidak bisa tidur
lena, jiwanya selalu saja terjaga karena gelisah.
****** ******
Pagi ini Kiran menyempatkan diri dulu untuk
datang ke rumah sakit menjenguk ayahnya.
Hari ini tampaknya kondisi Tuan Zein sudah
mulai stabil sepenuhnya. Bahkan dia sudah
di ijinkan untuk pulang dan melakukan
pemulihan di rumah saja.
Mereka tampak asik berbincang tentang
banyak hal mengenai perkembangan yang
terjadi di perusahaan.
"Ada apa Kiran sayang..? matamu kelihatan
sembab ? apa kau ada masalah.?"
Nyonya Amelia mengelus rambut indah Kiran
sambil menatap lembut wajah cantik putrinya
itu yang terlihat kurang bergairah dan sedikit
pucat dengan tatapan yang sayu. Gadis itu
langsung memeluk erat tubuh Nyonya Amelia
berusaha menumpahkan segala macam rasa
yang berkecamuk di hatinya.
"Ada apa sayang..? bicaralah pada ibu.."
"Tidak ada apa-apa Bu..Kiran baik-baik saja."
Lirih Kiran sambil mempererat pelukannya.
Tuan Zein hanya terdiam memperhatikan
kedua anak dan ibu itu.
"Baiklah kalau kau baik-baik saja. Tapi sangat
terlihat kalau putri kesayangan ibu ini sedang
ada masalah.."
"Kiran masih bisa mengatasinya sendiri Bu..
Ini hanya masalah hati saja..!"
Nyonya Amelia saling pandang dengan Tuan
Zein yang tersenyum penuh arti.
"Jangan memendam perasaan sendiri. Cobalah
untuk terbuka agar beban di hatimu berkurang.."
Ucap Nyonya Amelia yang membuat Kiran
terdiam dalam renungan. Dia melepaskan
pelukannya, kemudian menatap kedua orang
tuanya itu bergantian.
"Baiklah..Kiran berangkat ke kantor sekarang.
Maaf Kiran tidak bisa menjemput ayah pulang."
"Pergilah.. jangan pikirkan ayah.. fokuslah pada
apa yang ada di depanmu sekarang."
Ucap Tuan Zein. Kiran mengangguk, kemudian
dia memeluk dan mencium punggung tangan
kedua orang tuanya, setelah itu barulah pergi.
Seperti biasa Kiran di sibukkan dengan berbagai
urusan pekerjaan hingga tidak ada waktu luang
sama sekali. Tapi di tengah kesibukannya dia
tidak pernah lupa untuk mengecek ponselnya.
Namun hanya kepahitan dan kesakitan yang
dia dapatkan saat menyadari tidak ada kabar
secuil pun yang bisa dia dapatkan tentang Agra.
Menjelang sore barulah Kiran bisa sedikit
bernapas lega saat semua urusan urgent nya
selesai. Dia bisa bersantai sekarang, perutnya
sudah minta di isi saat ini karena tadi siang dia
tidak sempat makan siang. Dari kemarin pola
makan nya juga sudah kacau balau.
Kiran bersama team produksi baru saja keluar
dari ruang meeting saat tiba-tiba ada beberapa
security dan resepsionis yang menghampirinya.
Dia menatap heran kearah mereka yang kini
berdiri menunduk di hadapan nya.
"Apa ada masalah.?"
bertemu dengan anda."
"Tamu..? siapa..?"
"Nyo-Nyonya..Besar Hadiningrat.."
"Apa ?? Nyonya Besar..?"
Kiran tampak membulatkan matanya terkejut.
Ada apa Nyonya Besar itu datang kesini.? apa
dia tahu soal penanaman modal perusahaan
Bintang Group di perusahaan ayahnya ini.?
"Benar Bu.. beliau ingin bertemu anda."
Jantung Kiran langsung berdetak kencang
dengan ritme yang cepat. Apa mungkin ini
ada hubungannya dengan masalah kemarin.
Dia memang tidak mematuhi perintah nya.
"Baiklah..ayo kita kesana.!"
Putus Kiran sambil kemudian melangkah
menuju lobby di ikuti oleh Lia, para staf dan
para security serta resepsionis yang tadi
menyambangi nya.
Tiba di lobyy Kiran nampak menghentikan
langkah nya, tepat di depan pintu utama kini
telah terparkir sebuah mobil super mewah.
Ada 4 orang pengawal wanita dengan tubuh
tinggi berpenampilan maskulin berseragam
dan berkacamata hitam, terlihat gagah untuk
ukuran seorang perempuan.
Mata Kiran menatap diam dengan tubuh sedikit
tegang mengingat bagaimana sikap dan watak
Nyonya Ambar yang sedikit menyebalkan itu.
Namun tidak lama dia kembali melangkah ke
arah pintu utama.
4 orang pengawal tadi langsung serempak
membungkuk di hadapan Kiran yang terkejut
sesaat melihat sambutan mereka.
Kiran segera mendekat kearah pintu mobil
yang sudah terbuka dari tadi. Dia menunduk
hormat kearah Nyonya Ambar. Wanita tua itu
nampak duduk tenang di jok sebelah kanan,
di tangannya ada sebuah Al-Qur'an kecil yang
sedang di bacanya.
"Selamat sore Nyonya Besar.. merupakan suatu kehormatan mendapat kunjungan anda di sini..!"
"Hemm..masuk ke mobil..!"
Titah Nyonya Ambar dengan mata yang tetap
fokus ke Al-Qur'an di tangan nya. Kiran terdiam,
bingung dengan perintah Nyonya Besar.
"Mohon maaf Nyonya.."
"Apa aku harus mengulangi nya..!"
Nyonya Ambar melirik sekilas kearah Kiran
dengan sudut matanya, kembali fokus ke depan.
"Tapi Nyonya..barang saya masih ada di atas.!"
"Nona Mahesa..aku tidak terbiasa di bantah.!"
"Baik Nyonya.."
Sedikit ragu akhirnya Kiran masuk ke dalam
mobil dengan perlahan dan hati-hati. Pintu
mobil pun tertutup otomatis. Semua orang
yang ada di lobby hanya bisa melongo melihat
Bos mereka di bawa pergi oleh Nyonya Besar
Hadiningrat yang sangat terkenal itu.
Kiran duduk sedikit gelisah di samping kiri
nyonya Ambar yang masih fokus dengan
bacaan di tangannya.
"Mohon maaf nyonya.. sebenarnya kita mau
pergi kemana, kalau boleh jujur saya masih
banyak pekerjaan di kantor."
Dengan hati-hati Kiran bertanya seraya
melirik sekilas kearah Nyonya Ambar yang
terlihat acuh saja.
"Kau akan tahu nanti..tidak perlu risau, duduk
__ADS_1
saja yang tenang.!"
Jawab Nyonya Ambar membuat Kiran terdiam.
Dia menarik napas pelan melempar pandangan
keluar jendela. Pikirannya kembali melayang
pada sosok yang sangat di rindukannya. Rasa
sakit akibat merindu itu kini kembali menggigit
ulu hatinya membuat dadanya sesak dan matanya tiba-tiba terasa panas. Kiran mengusap lembut
cairan bening yang sempat menetes. Sudut
mata Nyonya Ambar yang jeli melihat kearah
Kiran, sesungging senyum tipis terukir di bibir
keriputnya.
Tidak lama mobil mewah itu masuk ke sebuah
restauran berkonsep tradisional namun tentu
berkelas. Kiran mengernyitkan alisnya, kenapa
Nyonya Ambar membawa dirinya ke tempat ini.
Mobil mewah tersebut berhenti tepat di loby
restauran. Beberapa pelayan tergopoh-gopoh
datang menghampiri langsung membungkuk
hormat di depan pintu belakang yang terbuka
otomatis.
"Ayo turun..temani aku makan..!"
Titah Nyonya Ambar sambil kemudian meraih
tongkat emas dengan ukiran unik di bagian
atas nya. Kiran terdiam sejenak namun tidak
lama dia segera keluar mendahului kemudian
berjalan cepat memutar haluan nya. Asisten
pribadi sang Nyonya segera berdiri di depan
pintu namun Nyonya Ambar memberi isyarat
padanya agar dia menyingkir memberi ruang
pada Kiran. Asisten dengan penampilan yang
sangat rapi itu mengangguk faham.
"Mari saya bantu Nyonya.."
Dengan sigap Kiran mengulurkan tangannya
membantu nenek tua itu keluar mobil. Untuk
sesaat Nyonya Ambar menatap wajah cantik
Kiran yang menunduk sopan di hadapan nya.
Senyum tipis kembali terukir di bibirnya.
"Selamat datang Nyonya Besar.."
Sambut manager restauran yang baru saja
tiba di pintu utama dengan tergesa-gesa.
"Hemm.. tempat yang biasa aku pakai..!"
"Sudah kami siapkan Nyonya, silahkan.."
Ucap sang manajer seraya mengulurkan
tangan membimbing langkah Nyonya Ambar.
"Ayo masuk..!"
Ajak Nyonya Ambar pada Kiran yang hanya bisa
mengangguk patuh. Dia berjalan mensejajari
langkah nenek itu. Di belakangnya mengiringi
sang asisten pribadi beserta 2 orang pengawal.
Akhirnya kini mereka berdua sudah duduk
lesehan di sebuah gazebo di tengah kolam
ikan. Nyonya Ambar memang tidak pernah
memilih tempat tertutup kalau dia pergi ke
restauran. Ruangan terbuka dengan gemercik
air kolam adalah tempat pavorite nya.
Hidangan kini sudah tersaji, menu yang sangat
tradisional namun sungguh menggugah selera
apalagi bagi Kiran yang sudah kelaparan.
"Ayo makanlah.."
Tawar Nyonya Ambar setelah Kiran selesai
menuang sajian ke piring nenek itu sesuai
dengan permintaan nya tadi . Nyonya Ambar
sengaja memberi perintah pada asisten nya
untuk menjauh, membiarkan mereka berdua
tanpa ada kehadiran orang lain.
Dengan sedikit segan akhirnya Kiran mulai
makan. Hemm.. ternyata makanan itu sangat
lezat hingga membuat Kiran tampak begitu
lahap menikmati makan sore nya. Nyonya
Ambar sesekali mencuri pandang kearah
Kiran yang terlihat begitu cantik dan anggun
tanpa kepalsuan, sikapnya benar-benar apa
adanya. Nenek tua itu menggeleng pelan
dengan tak henti menyunggingkan senyum.
"Kenapa kamu tidak datang untuk menginap
kembali.? apa kamu tidak berminat lagi pada
barangmu.?"
Tanya Nyonya Ambar setelah mereka selesai
makan menu utamanya. Saat ini Kiran sedang
melayani nenek tua itu dengan menghidangkan
makanan penutup. Kiran menundukkan kepala.
"Mohon maaf Nyonya, saya hanya merasa
tidak pantas untuk kembali ke rumah anda."
"Kenapa.? apa alasannya.?"
"Kami hanya orang rendahan.! tidak cukup
layak berada di tempat anda yang sangat indah."
"Tapi kau sudah mengabaikan perintahku.!"
"Sekali lagi saya mohon maaf Nyonya.. saya
tidak bermaksud membangkang."
"Panggil aku Eyang Putri..!"
Kiran terkejut, dia mendongak, menatap tidak
percaya pada Nyonya Ambar yang sedang
asik memberikan pakan pada ikan di kolam.
"Eyang putri..?"
Kiran mengulang kata itu setengah bergumam.
"Hemm.. mulai sekarang itu yang harus kau
ucapkan.! aku bukan Nyonya mu..!"
"Tapi Nyonya..itu rasanya sedikit lancang."
"Itu adalah perintah ! dan aku tidak suka di
bantah !"
Ketus Nyonya Ambar sambil menatap tajam
wajah Kiran yang langsung menunduk.
"Baiklah Eyang.."
"Nah.. begitu kan lebih enak di dengar. Ayo
sekarang kita pergi.!"
Ucap Nyonya Ambar seraya berdiri di bantu
oleh Kiran. Dia segera membimbing Nenek
itu keluar dari gazebo. Tangan Nyonya Ambar
memegang kuat pergelangan tangan Kiran.
Keduanya berjalan beriringan di ikuti oleh
orang-orang nya.
Mobil mewah yang membawa mereka kembali
meluncur membelah jalanan ibukota yang kini
sudah padat merayap. Tidak lama mobil itu
masuk ke satu bangunan butik ternama yang
sudah sangat terkenal akan hasil rancangan
nya yang mendunia.
Kiran melongo melihat bangunan itu. Mau apa
lagi nenek tua itu membawa dirinya ke tempat
ini. Mobil mereka berhenti tepat di depan loby
bersamaan dengan mobil mewah lainnya.
Semua pelayan, pegawai serta para pengunjung
butik memusatkan perhatian pada kedatangan
mobil mewah yang satunya. Sedang Nyonya
Ambar dan Kiran masih berdiam diri di dalam
mobil nya.
Seorang wanita pemilik rupa super cantik
dengan bentuk tubuh yang sangat sempurna
tampak keluar dari mobil tersebut bersama
asisten nya di sambut histeris para pegawai
dan pengunjung butik.
"Ya Tuhan..Nona Mikhayla Alexandria...!"
Jerit histeris itu kini menggema di sekitar loby
membuat Nyonya Ambar berdecak sebal seraya memalingkan wajahnya kearah lain. Sementara
Kiran hanya bisa terdiam menatap lurus kearah
wanita super cantik itu...
__ADS_1
**********