Suamiku Pelindungku

Suamiku Pelindungku
39. Eyang Putri


__ADS_3

 


**********


 


Hari sudah larut malam saat Kiran mengakhiri


kegiatannya membereskan sisa pekerjaan yang


telah menyita seluruh waktunya seharian ini.


Dia baru menyadari kalau tubuhnya saat ini


sudah sangat lelah dan penat.


Rasa lelah itu seolah semakin terasa ketika


dia tiba di parkiran ternyata lagi-lagi Zack yang


datang menjemputnya, bukanlah orang yang


di harapkannya yang saat ini bayangan wajah


nya sudah ada di pelupuk mata. Entah kenapa


kejadian tadi siang di ruang bawah meninggalkan bekas yang sangat mendalam di ingatan Kiran. Tubuhnya pun hingga kini masih merasakan


panas dingin saat mengingatnya. Bahkan gejolak


itu masih menguasai tubuhnya sampai saat ini.


"Selamat malam Nona..Tuan tidak bisa datang


menjemput anda malam ini, jadi saya mendapat


perintah untuk mengantar jemput anda."


Zack berucap sembari membukakan pintu


mobil kemudian berdiri menunduk di hadapan


Kiran yang membeku di tempat. Tubuhnya


benar-benar lemas saat ini. Ada desakan air


mata yang ingin keluar namun sekuat tenaga


Kiran mencoba menahan nya.


"Antarkan saya ke rumah ayah.!"


Titah Kiran seraya masuk ke dalam mobil.


Zack tampak bingung sesaat namun tidak


lama dia menutup pintu lalu memutar tubuh


nya masuk ke balik kemudi. Dia mengintip


kearah spion tengah, terlihat Nona Muda nya


itu saat ini sedang merebahkan kepalanya


ke sandaran jok, matanya terpejam rapat.


"Mohon maaf Nona..tapi Tuan menyuruh


saya mengantar Nona ke istana Hadiningrat.."


"Buat apa aku kesana kalau tidak bersamanya,


itu rumah orang, aku tidak bisa pergi kesana


tanpa suamiku.!"


Sahut Kiran masih merebahkan tubuhnya.


Zack menarik napas panjang.


"Cepat jalan Zack..ini sudah sangat malam.!"


"Baik Nona.."


Zack mulai melajukan mobil mewahnya menuju


ke kediaman keluarga Mahesa.


Tadi siang setelah proses penangkapan beres


Agra memang langsung pamit pada Kiran dan


terlihat sangat terburu-buru. Tapi dia tidak mengatakan akan pergi kemana. Satu hal yang


sangat di sesali Kiran adalah karena dia tidak


pernah memperdulikan apa saja yang di lakukan


ataupun di kerjakan oleh suaminya itu.


Kiran meraih ponselnya mencoba menghubungi


nomor Agra dengan hati penuh harapan. Namun


dia menautkan alisnya ketika nomor Agra tiba-


tiba saja tidak bisa di hubungi. Kiran kembali


mencoba nya berulangkali, namun hasilnya


tetap sama, tidak aktif sama sekali.


"Zack..apa kau tahu kemana perginya Tuan mu?"


Kiran mencoba bertanya pada Zack yang sedang


fokus ke jalanan.


"Maaf Nona.. sepertinya Tuan ada urusan bisnis


yang sangat darurat .!"


"Apakah dia pergi ke luar kota, atau luar negeri?"


"Seperti nya kali ini Tuan pergi untuk mengurus


bisnis yang ada di luar negeri Nona."


"Apa, luar negeri.? memangnya bisnis apa ?"


"Saya kurang faham juga Nona.."


"Bisakah kamu ceritakan sedikit saja tentang


dia padaku.?"


Zack tampak terdiam, menatap lurus ke depan.


Tapi sekilas dia melihat kearah spion tengah.


"Untuk hal itu sebaiknya Nona tanyakan saja


pada Tuan secara langsung. Saya tidak di


perkenankan untuk mengatakan apapun.!"


Ujar Zack. Kiran mendengus kesal, dia kembali memalingkan pandangan ke luar jendela.


Hatinya kini semakin merasakan gelisah.


Sampai tiba di rumah Kiran lebih memilih


diam dan hanya memejamkan matanya.


"Besok saya akan menjemput Nona kembali."


"Tidak perlu, saya bisa berangkat sendiri.!"


"Ini adalah perintah Tuan Agra Nona.."


Kiran berdecak sebal sambil melangkah masuk


meninggalkan Zack yang terlihat tersenyum tipis


untuk pertama kalinya. Laki-laki bertubuh tinggi


tegap dengan garis wajah yang sangat tegas itu masuk ke balik kemudi kemudian melesatkan mobilnya meninggalkan kediaman Mahesa.


Dengan tubuh yang sedikit lemas Kiran keluar


dari kamar mandi sudah siap dengan setelan


tidurnya. Dia meraih ponsel di atas nakas, lalu


berjalan kearah balkon kemudian berdiri disana mencoba menikmati semilir angin malam. Dia


melihat layar ponselnya siapa tahu ada chat


atau panggilan masuk dari Agra, namun nihil


yang di harapkan nya ternyata tidak terwujud.


"Agraa..kemana kamu.. kenapa selalu begini.


Tidak di desa tidak di sini kamu selalu saja


menghilang semaunya sendiri.."


Lirih Kiran seraya melipat kedua tangan di dada.


Matanya menembus langit yang berhias kerlip


bintang dan cahaya bulan yang sudah mendekati


sempurna. Dia mencoba menerawang jauh


melukis wajah tampan Agra yang telah membuat


hati dan jiwanya seolah tersayat oleh kesakitan, terbelenggu rasa rindu, yang semakin di rasa


semakin membuat dia resah, gelisah, merana


dan tersiksa sendiri.


Cinta..Kiran yakin seyakin-yakinnya bahwa


hatinya saat ini sedang di penuhi oleh bunga


cinta yang sedang mekar, tapi kenapa rasanya


malah sesakit ini. Kiran menyadari perasaan


nya terhadap Agra semakin kesini semakin


mendalam. Bahkan dulu pada saat dia dekat


dan menjalin hubungan dengan Nathan dirinya


tidak pernah merasakan siksaan sehebat ini


hanya karena sebuah kerinduan.


Tidak terasa cairan bening mulai berjatuhan


membasahi wajahnya. Semakin lama semakin


deras hingga membuat dia tersedu sendiri.


Kiran menatap kembali layar ponselnya, hati


nya semakin terasa sakit saat melihat fhoto


Agra yang sedang duduk santai tumpang kaki


di ruang kerjanya dengan wajah yang tampak


sedikit tersembunyi di balik topi, terlihat sangat


keren dan misterius. Kiran sengaja mengambil


gambar Agra ketika suaminya itu sedang asik memainkan ponselnya hingga tidak menyadari


dirinya memotret nya.


"Agraa...aku mohon hubungi aku..agar hati ini


setidaknya bisa tenang. Kenapa kamu suka


sekali membuatku khawatir.."


Gumam Kiran dengan derai air mata yang tidak


kunjung reda. Dia mendekap ponsel di dadanya


sambil kembali terisak semakin pilu.


"Tuhan...apa ini, kenapa rasanya ini lebih sakit


daripada di khianati oleh orang itu..Aku takut


rasaku ini hanya bertepuk sebelah tangan.."


Lirih Kiran sambil menengadahkan wajahnya.


Matanya kini sudah mulai sembab.


"Agra..pulanglah..aku mencintaimu. Akan aku


katakan semuanya, akan aku pasrahkan diriku


seutuhnya padamu, aku adalah milikmu Agra.."


Kembali Kiran bergumam lirih menahan pedih.

__ADS_1


Kerinduan yang di rasakannya begitu menyiksa.


Suaminya itu benar-benar telah berhasil membuat


dirinya gelisah galau merana..


Sampai tengah malam Kiran masih mencoba


menghubungi nomor Agra, namun tetap tidak


jua terhubung. Semalaman dia tidak bisa tidur


lena, jiwanya selalu saja terjaga karena gelisah.


****** ******


Pagi ini Kiran menyempatkan diri dulu untuk


datang ke rumah sakit menjenguk ayahnya.


Hari ini tampaknya kondisi Tuan Zein sudah


mulai stabil sepenuhnya. Bahkan dia sudah


di ijinkan untuk pulang dan melakukan


pemulihan di rumah saja.


Mereka tampak asik berbincang tentang


banyak hal mengenai perkembangan yang


terjadi di perusahaan.


"Ada apa Kiran sayang..? matamu kelihatan


sembab ? apa kau ada masalah.?"


Nyonya Amelia mengelus rambut indah Kiran


sambil menatap lembut wajah cantik putrinya


itu yang terlihat kurang bergairah dan sedikit


pucat dengan tatapan yang sayu. Gadis itu


langsung memeluk erat tubuh Nyonya Amelia


berusaha menumpahkan segala macam rasa


yang berkecamuk di hatinya.


"Ada apa sayang..? bicaralah pada ibu.."


"Tidak ada apa-apa Bu..Kiran baik-baik saja."


Lirih Kiran sambil mempererat pelukannya.


Tuan Zein hanya terdiam memperhatikan


kedua anak dan ibu itu.


"Baiklah kalau kau baik-baik saja. Tapi sangat


terlihat kalau putri kesayangan ibu ini sedang


ada masalah.."


"Kiran masih bisa mengatasinya sendiri Bu..


Ini hanya masalah hati saja..!"


Nyonya Amelia saling pandang dengan Tuan


Zein yang tersenyum penuh arti.


"Jangan memendam perasaan sendiri. Cobalah


untuk terbuka agar beban di hatimu berkurang.."


Ucap Nyonya Amelia yang membuat Kiran


terdiam dalam renungan. Dia melepaskan


pelukannya, kemudian menatap kedua orang


tuanya itu bergantian.


"Baiklah..Kiran berangkat ke kantor sekarang.


Maaf Kiran tidak bisa menjemput ayah pulang."


"Pergilah.. jangan pikirkan ayah.. fokuslah pada


apa yang ada di depanmu sekarang."


Ucap Tuan Zein. Kiran mengangguk, kemudian


dia memeluk dan mencium punggung tangan


kedua orang tuanya, setelah itu barulah pergi.


Seperti biasa Kiran di sibukkan dengan berbagai


urusan pekerjaan hingga tidak ada waktu luang


sama sekali. Tapi di tengah kesibukannya dia


tidak pernah lupa untuk mengecek ponselnya.


Namun hanya kepahitan dan kesakitan yang


dia dapatkan saat menyadari tidak ada kabar


secuil pun yang bisa dia dapatkan tentang Agra.


Menjelang sore barulah Kiran bisa sedikit


bernapas lega saat semua urusan urgent nya


selesai. Dia bisa bersantai sekarang, perutnya


sudah minta di isi saat ini karena tadi siang dia


tidak sempat makan siang. Dari kemarin pola


makan nya juga sudah kacau balau.


Kiran bersama team produksi baru saja keluar


dari ruang meeting saat tiba-tiba ada beberapa


security dan resepsionis yang menghampirinya.


Dia menatap heran kearah mereka yang kini


berdiri menunduk di hadapan nya.


"Apa ada masalah.?"


bertemu dengan anda."


"Tamu..? siapa..?"


"Nyo-Nyonya..Besar Hadiningrat.."


"Apa ?? Nyonya Besar..?"


Kiran tampak membulatkan matanya terkejut.


Ada apa Nyonya Besar itu datang kesini.? apa


dia tahu soal penanaman modal perusahaan


Bintang Group di perusahaan ayahnya ini.?


"Benar Bu.. beliau ingin bertemu anda."


Jantung Kiran langsung berdetak kencang


dengan ritme yang cepat. Apa mungkin ini


ada hubungannya dengan masalah kemarin.


Dia memang tidak mematuhi perintah nya.


"Baiklah..ayo kita kesana.!"


Putus Kiran sambil kemudian melangkah


menuju lobby di ikuti oleh Lia, para staf dan


para security serta resepsionis yang tadi


menyambangi nya.


Tiba di lobyy Kiran nampak menghentikan


langkah nya, tepat di depan pintu utama kini


telah terparkir sebuah mobil super mewah.


Ada 4 orang pengawal wanita dengan tubuh


tinggi berpenampilan maskulin berseragam


dan berkacamata hitam, terlihat gagah untuk


ukuran seorang perempuan.


Mata Kiran menatap diam dengan tubuh sedikit


tegang mengingat bagaimana sikap dan watak


Nyonya Ambar yang sedikit menyebalkan itu.


Namun tidak lama dia kembali melangkah ke


arah pintu utama.


4 orang pengawal tadi langsung serempak


membungkuk di hadapan Kiran yang terkejut


sesaat melihat sambutan mereka.


Kiran segera mendekat kearah pintu mobil


yang sudah terbuka dari tadi. Dia menunduk


hormat kearah Nyonya Ambar. Wanita tua itu


nampak duduk tenang di jok sebelah kanan,


di tangannya ada sebuah Al-Qur'an kecil yang


sedang di bacanya.


"Selamat sore Nyonya Besar.. merupakan suatu kehormatan mendapat kunjungan anda di sini..!"


"Hemm..masuk ke mobil..!"


Titah Nyonya Ambar dengan mata yang tetap


fokus ke Al-Qur'an di tangan nya. Kiran terdiam,


bingung dengan perintah Nyonya Besar.


"Mohon maaf Nyonya.."


"Apa aku harus mengulangi nya..!"


Nyonya Ambar melirik sekilas kearah Kiran


dengan sudut matanya, kembali fokus ke depan.


"Tapi Nyonya..barang saya masih ada di atas.!"


"Nona Mahesa..aku tidak terbiasa di bantah.!"


"Baik Nyonya.."


Sedikit ragu akhirnya Kiran masuk ke dalam


mobil dengan perlahan dan hati-hati. Pintu


mobil pun tertutup otomatis. Semua orang


yang ada di lobby hanya bisa melongo melihat


Bos mereka di bawa pergi oleh Nyonya Besar


Hadiningrat yang sangat terkenal itu.


Kiran duduk sedikit gelisah di samping kiri


nyonya Ambar yang masih fokus dengan


bacaan di tangannya.


"Mohon maaf nyonya.. sebenarnya kita mau


pergi kemana, kalau boleh jujur saya masih


banyak pekerjaan di kantor."


Dengan hati-hati Kiran bertanya seraya


melirik sekilas kearah Nyonya Ambar yang


terlihat acuh saja.


"Kau akan tahu nanti..tidak perlu risau, duduk

__ADS_1


saja yang tenang.!"


Jawab Nyonya Ambar membuat Kiran terdiam.


Dia menarik napas pelan melempar pandangan


keluar jendela. Pikirannya kembali melayang


pada sosok yang sangat di rindukannya. Rasa


sakit akibat merindu itu kini kembali menggigit


ulu hatinya membuat dadanya sesak dan matanya tiba-tiba terasa panas. Kiran mengusap lembut


cairan bening yang sempat menetes. Sudut


mata Nyonya Ambar yang jeli melihat kearah


Kiran, sesungging senyum tipis terukir di bibir


keriputnya.


Tidak lama mobil mewah itu masuk ke sebuah


restauran berkonsep tradisional namun tentu


berkelas. Kiran mengernyitkan alisnya, kenapa


Nyonya Ambar membawa dirinya ke tempat ini.


Mobil mewah tersebut berhenti tepat di loby


restauran. Beberapa pelayan tergopoh-gopoh


datang menghampiri langsung membungkuk


hormat di depan pintu belakang yang terbuka


otomatis.


"Ayo turun..temani aku makan..!"


Titah Nyonya Ambar sambil kemudian meraih


tongkat emas dengan ukiran unik di bagian


atas nya. Kiran terdiam sejenak namun tidak


lama dia segera keluar mendahului kemudian


berjalan cepat memutar haluan nya. Asisten


pribadi sang Nyonya segera berdiri di depan


pintu namun Nyonya Ambar memberi isyarat


padanya agar dia menyingkir memberi ruang


pada Kiran. Asisten dengan penampilan yang


sangat rapi itu mengangguk faham.


"Mari saya bantu Nyonya.."


Dengan sigap Kiran mengulurkan tangannya


membantu nenek tua itu keluar mobil. Untuk


sesaat Nyonya Ambar menatap wajah cantik


Kiran yang menunduk sopan di hadapan nya.


Senyum tipis kembali terukir di bibirnya.


"Selamat datang Nyonya Besar.."


Sambut manager restauran yang baru saja


tiba di pintu utama dengan tergesa-gesa.


"Hemm.. tempat yang biasa aku pakai..!"


"Sudah kami siapkan Nyonya, silahkan.."


Ucap sang manajer seraya mengulurkan


tangan membimbing langkah Nyonya Ambar.


"Ayo masuk..!"


Ajak Nyonya Ambar pada Kiran yang hanya bisa


mengangguk patuh. Dia berjalan mensejajari


langkah nenek itu. Di belakangnya mengiringi


sang asisten pribadi beserta 2 orang pengawal.


Akhirnya kini mereka berdua sudah duduk


lesehan di sebuah gazebo di tengah kolam


ikan. Nyonya Ambar memang tidak pernah


memilih tempat tertutup kalau dia pergi ke


restauran. Ruangan terbuka dengan gemercik


air kolam adalah tempat pavorite nya.


Hidangan kini sudah tersaji, menu yang sangat


tradisional namun sungguh menggugah selera


apalagi bagi Kiran yang sudah kelaparan.


"Ayo makanlah.."


Tawar Nyonya Ambar setelah Kiran selesai


menuang sajian ke piring nenek itu sesuai


dengan permintaan nya tadi . Nyonya Ambar


sengaja memberi perintah pada asisten nya


untuk menjauh, membiarkan mereka berdua


tanpa ada kehadiran orang lain.


Dengan sedikit segan akhirnya Kiran mulai


makan. Hemm.. ternyata makanan itu sangat


lezat hingga membuat Kiran tampak begitu


lahap menikmati makan sore nya. Nyonya


Ambar sesekali mencuri pandang kearah


Kiran yang terlihat begitu cantik dan anggun


tanpa kepalsuan, sikapnya benar-benar apa


adanya. Nenek tua itu menggeleng pelan


dengan tak henti menyunggingkan senyum.


"Kenapa kamu tidak datang untuk menginap


kembali.? apa kamu tidak berminat lagi pada


barangmu.?"


Tanya Nyonya Ambar setelah mereka selesai


makan menu utamanya. Saat ini Kiran sedang


melayani nenek tua itu dengan menghidangkan


makanan penutup. Kiran menundukkan kepala.


"Mohon maaf Nyonya, saya hanya merasa


tidak pantas untuk kembali ke rumah anda."


"Kenapa.? apa alasannya.?"


"Kami hanya orang rendahan.! tidak cukup


layak berada di tempat anda yang sangat indah."


"Tapi kau sudah mengabaikan perintahku.!"


"Sekali lagi saya mohon maaf Nyonya.. saya


tidak bermaksud membangkang."


"Panggil aku Eyang Putri..!"


Kiran terkejut, dia mendongak, menatap tidak


percaya pada Nyonya Ambar yang sedang


asik memberikan pakan pada ikan di kolam.


"Eyang putri..?"


Kiran mengulang kata itu setengah bergumam.


"Hemm.. mulai sekarang itu yang harus kau


ucapkan.! aku bukan Nyonya mu..!"


"Tapi Nyonya..itu rasanya sedikit lancang."


"Itu adalah perintah ! dan aku tidak suka di


bantah !"


Ketus Nyonya Ambar sambil menatap tajam


wajah Kiran yang langsung menunduk.


"Baiklah Eyang.."


"Nah.. begitu kan lebih enak di dengar. Ayo


sekarang kita pergi.!"


Ucap Nyonya Ambar seraya berdiri di bantu


oleh Kiran. Dia segera membimbing Nenek


itu keluar dari gazebo. Tangan Nyonya Ambar


memegang kuat pergelangan tangan Kiran.


Keduanya berjalan beriringan di ikuti oleh


orang-orang nya.


Mobil mewah yang membawa mereka kembali


meluncur membelah jalanan ibukota yang kini


sudah padat merayap. Tidak lama mobil itu


masuk ke satu bangunan butik ternama yang


sudah sangat terkenal akan hasil rancangan


nya yang mendunia.


Kiran melongo melihat bangunan itu. Mau apa


lagi nenek tua itu membawa dirinya ke tempat


ini. Mobil mereka berhenti tepat di depan loby


bersamaan dengan mobil mewah lainnya.


Semua pelayan, pegawai serta para pengunjung


butik memusatkan perhatian pada kedatangan


mobil mewah yang satunya. Sedang Nyonya


Ambar dan Kiran masih berdiam diri di dalam


mobil nya.


Seorang wanita pemilik rupa super cantik


dengan bentuk tubuh yang sangat sempurna


tampak keluar dari mobil tersebut bersama


asisten nya di sambut histeris para pegawai


dan pengunjung butik.


"Ya Tuhan..Nona Mikhayla Alexandria...!"


Jerit histeris itu kini menggema di sekitar loby


membuat Nyonya Ambar berdecak sebal seraya memalingkan wajahnya kearah lain. Sementara


Kiran hanya bisa terdiam menatap lurus kearah


wanita super cantik itu...


 

__ADS_1


**********


 


__ADS_2