
Setelah Melvi dan Riska pergi ke kantor, Putri membereskan meja makan. Kemudian dia pergi ke kamarnya.
"Kenapa tadi malam aku tidur begitu nyenyak tanpa ada rasa curiga apapun mengenainya." Tanya Putri pada dirinya sendiri.
"Hahh sudahlah. Tidur lagi enak kali ya." Kata Putri kemudian memejamkan matanya.
DI TEMPAT BAGAS
Tok... tok... tok.... Ibu mengetuk pintu kamar Bagas.
"Gas... bangun nak makan siang dulu." Kata ibu dari luar.
"Iya bu sebentar..." jawab Bagas dengan masih memejamkan matanya.
"Ibu tunggu dimeja makan." kata ibu
"hemmm" sahut Bagas
Bagas beranjak dari tempat tidurnya, mengambil handuk kemudian mandi. Setelah mandi dia berpakaian menggunakan kaos polos lengan pendek berwarna putih dengan celana jeans selutut. Tidak lupa jam tangan yang selalu melingkar di pergelangan tangannya.
"Jam 11. " Kata Bagas. Kemudian dia turun untuk makan siang bersama ibunya.
"Ibu belum makan?" tanya Bagas.
"Belum nak, ibu nunggu kamu." Jawab Ibu sambil tersenyum kepada anaknya.
Mereka berdua makan tanpa berbicara. Hanya suara dentingan sendok yang saling bersahutan.
"Gas..." panggil Ibu memecah keheningan.
"hemm..." jawab Bagas.
"Kamu kapan mau menikah." Tanya ibu yang menghentikan Bagas untuk mengunyah makanannya.
Bagas menelan makanannya dengan susah payah.
"Ibu kenapa tanya begitu. Aku ini masih muda bu.." Jawab Bagas .
"Iya nak ibu tau kalau kamu masih muda. Tapi apa kamu gak kasihan sama ibu. Setelah ayahmu meninggal ibu merasa kesepian, belum lagi kakakmu yang tinggal di Surabaya bersama istrinya. Dan kamu jarang dirumah." Kata ibu dengan nada sedih.
"Bu.... aku belum mau menikah. Kalau ibu ingin aku dirumah iya aku bisa bekerja dari rumah. Tapi untuk menikah Bagas belum tertarik. Lagipula pacar pun Bagas gak punya." Kata Bagas.
"Kamu sudah berumur 22 tahun. Tiga tahun lalu Kakakmu menikah juga masih berumur 22 tahun. Dan sekarang dia malah sudah mau mempunyai anak. Kalau saja kakakmu mau tinggal disini, mungkin ibu tidak akan kesepian." Kata ibu memelas.
"Inilah salah satu alasan kenapa aku lebih suka diluar rumah. Ibu selalu saja melibatkan kakak dalam setiap pembicaraan, dan itu terkesan seperti ibu membandingkan aku dengan kak Rasta." Kata Bagas dengan nada sedikit kecewa.
"Bukan seperti itu maksud ibu nak, tapi..." kata ibu terpotong.
"Sudahlah bu... Bagas sudah kenyang, Bagas mau keluar." Kata Bagas beranjak dari kursinya.
Kemudian Bagas pergi ke kamarnya mengambil jaket dan kunci mobil.
Didalam mobil Bagas memberi kabar pada teman-temannya.
...Vitamin BHA π...
__ADS_1
^^^Gue tunggu di restoran gue.^^^
Anton π
oke
Hasan π
oke
Kemudian dia menghidupkan mesin dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
.......
Di apartemen, Putri yang baru bangun dari tidurnya langsung pergi mandi. Setelah mandi dia berpakaian. Dia duduk sebentar di balkon.
Tingg.... sebuah pesan masuk di ponselnya.
Melvi π
Makan siang bareng yuk Put, di restoran BP π sama Riska juga.
^^^Oke. Bentar ya aku ganti baju dulu.^^^
Melviπ
Ok aku sama Riska nanti nyusul ya, Kamu udah aku pesanin taksi online tinggal berangkat aja π
Setelah berbalas pesan, Putri membuka lemari pakaiannya. Seketika matanya tertuju pada dress selutut berwarna Navy.
"Ke Restoran BP pak " Kata Putri pada Supir taksi online.
"Baik non." Kata supir taksi.
DITEMPAT BAGAS
Diruangan VVIP khusus pemilik restoran.
"Ada yang bisa saya bantu tuan." Kata manager restoran.
"Berikan saya laporan bulanannya." kata Bagas
"Baik tuan." kata manager sambil membungkukkan badan lalu pergi.
Beberapa menit kemudian.
Tok.. tok... tok...
"Masuk" sahut Bagas
"Maaf tuan.. Pak Anton dan Pak Hasan sedang menunggu anda di meja nomor 12." Kata pelayan.
"Baik saya akan kesana." Bagas beranjak dari tempat duduknya. Kemudian pergi menemui teman-temannya.
"Udah lama?" tanya Bagas
__ADS_1
"Belum, baru nyape ini juga." Kata Hasan
"Yaudah pesen, gue tau kalian belum pada makan." Kata Bagas
"Wahhh emang teman yang paling pengertian lo gas.." Kata Anton
"Biasa aja kali ah" Balas Bagas.
.....
Putri yang baru sampai di restoran langsung memilih tempat duduk nomor 9 yang tak terlalu jauh dari meja Bagas dan teman-temannya.
"Mau pesan apa nona?" tanya pelayan.
"Cumi pedas manis sama lemon tea aja mbak." jawab Putri
"Tunggu sebentar ya nona." Kata pelayan dibalas anggukan oleh Putri.
"Heiiii Put... Maaf ya lama." Kata Riska
"Iya gapapa. Pesan sekarang aja nanti waktu makan siang keburu abis nanti." Kata Putri.
Putri, Melvi, dan Riska menyantap makanan mereka. Sesekali mereka tertawa karena obrolan mereka bicarakan. Tiba-tiba...
"Haiii boleh duduk disini gak?." Tanya Bagas
"Pak Bagas?" kata Melvi dan Riska.
"Boleh gak nih?" tanya Bagas lagi.
"Boleh pak silahkan, tapi kursinya...." Belum selesai Riska berbicara Bagas, Anton, dan Hasan sudah menyeret kursi yang ada di meja sebelah.
FLASHBACK ON...
"Katanya tadi jam 3." tanya Hasan
"Males dirumah gue, ibu yang awalnya ngomongin apa ujung-ujungnya pasti ngomongin kak Rasta." Jawab Bagas
"Gak biasanya lo kek gini." Kata Anton heran
"Gini.... ibu tadi tanya Kamu kapan nikah terus gue jawab kalau gue tu masih muda, masih 22 tahun. Ehh balasnya malah kak Rasta dulu menikah juga berumur 22 tahun." Kata Bagas.
"Dan yang lebih bikin gue sakit hati, katanya ibu itu kesepian semenjak Ayah meninggal dan kakak tinggal di Surabaya bersama istrinya. Serasa gak dianggap sebagai anaknya gue." Kata Bagas lagi.
"Kasian lu Gas ternyata, Tapi ngomong-ngomong lo kan ganteng, keren, kaya wanita mana coba yang gak mau sama lo." kata Anton
"Bener juga kata lo kalau gue ini Ganteng, keren, kaya. Tapi 1 kekurangan gue... Gue kagak laku." Kata Bagas.
"Hahahhhahahhhahhh...." Anton dan Hasan tertawa.
"Ehh... ehhh... itu kan sekretaris lo sama temen-temennya Gas cantik-cantik ya. Kita gabung aja kesana yuk siapa tau ada yang nyantol hahaha." Ajak Anton
"Okelah kita gabung sama mereka." Jawab Bagas
FLASHBACK OFF....
__ADS_1
Bersambung......