
Fajar menyambut pagi hari yang indah. Alunan suara merdu dari lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema di sebuah rumah mewah di lantai tiga. Sayup-sayup suara itu redup dan berganti dengan kicauan burung yang seakan menjawab setiap ayat yang dibacakan Naira.
" Ra, sarapan dulu.." panggil Umi, sebutan Naura pada ibunya.
" baik, Umi. Beberapa ayat lagi aku turun." jawab Naira yang kemudian melanjutkan bacaannya.
" Zain!! Jangan lari!!" terdengar teriakan dari luar kamarnya.
" astagfirullah.. Kedua kakak-ku ini. Tidak pernah ada hari tanpa bertengkar." gerutu Naira yang kesal karena ia menjadi tidak fokus membaca karena kedua kakaknya.
Brak!!
Akhirnya, seperti yang Naira duga. Kakak laki-lakinya itu berlari masuk ke kamarnya, disusul kakak perempuannya yang begitu marah membawa sapu ditangannya.
" ada apa lagi sih, kak? Naira lagi ngaji, lho. Tanggung ini.."
" maaf, Ra. Ini nih kak Zahra, ngejar kakak terus."
" Zain!! Jangan berbohong, kakak gak akan ngejar kamu kalo kamunya gak bikin ulah!"
" kak Zain ngapain lagi, kak?" tanya Naira yang sudah tahu kakak laki-lakinya ini selalu saja mengganggu saudara yang lain.
" dia sudah membuat celana mas Fatah robek, Ra!!"
" kan aku gak sengaja, kak. Lagian mana aku tahu celananya bakalan robek sebesar itu?" timpal kak Zain.
" sudah tau bobotmu besar, jauh dari mas Fatah. Masih saja maksa minjem celananya dia. Jadi robek kan?"
" iya, iya maaf.. Aku gak akan minjem celana kak Fatah lagi."
" oh, ya. Kakak ipar udah tahu celananya robek?" tanya Naira pada kak Zahra.
" belum, mas Fatah belum pulang dari perjalanan dinas nya. Mungkin besok atau lusa."
" ya sudah, celananya kak Fatah biar aku yang jahit saja. Biar kakak gak kena marah sama kakak ipar." ujar Naira.
" masya Allah, makasih ya Naira. Bentar, kakak ambil dulu celananya." ujar kak Zahra seraya langsung berlari sebelum adik bungsunya ini berubah pikiran.
Setelah semua keributan itu usai, Naira turun untuk sarapan. Hanya ada Umi disana. Mungkin kak Zain dan kak Zahra sudah lebih dulu sarapan.
" Abi mana?" tanya Naira.
" ada hal penting di pesantren, Abi berangkat setelah shalat subuh tadi."
" oh." jawab Naira singkat.
Ia langsung menyantap sarapan paginya dengan lahap. Seraya menghafal ayat-ayat yang ia baca dini hari tadi.
" oh, ya. Naira, minggu depan kamu pulang ke pesantren. Ada barang yang mau kamu beli atau mau dibawa?"
" nggak deh, Umi. Di asramaku udah numpuk semua. Kasian temen-temenku nanti gak kebagian ruang."
" yaudah, kalo gitu bawa makanan aja ya?"
" iya." jawab Naira singkat.
Naira memang dikenal tidak terlalu banyak bicara. Tapi paling pengertian pada keluarganya.
Malam tiba, Naira melihat raut wajah lelah pada ayahnya. Abi panggilnya.
" assalamu'alaikum, Abi."
" eh, Naira? Wa'alaikumsalam. Kenapa malam-malam ke ruangan Abi? Belum tidur?"
" belum, Abi." jawab Naira.
" Abi lelah, ya? Mau Naira buatin apa?"
" gak usah, Abi juga mau tidur habis ini. Kamu lekas tidur juga."
" iya, Abi." Naira menjawab tapi tak lekas pergi dari sana.
__ADS_1
" Abi, apa Naira boleh tau ada masalah apa di pesantren? Sampai Abi harus pergi subuh-subuh, dan pulang sampai lelah begini?"
" tidak ada masalah berat. Hanya saja, santri baru itu kabur lagi."
" santri baru? Yang mana, Abi?"
" kamu belum tahu, Naira. Dia masuk pas santri lain sedang libur. Belum dua hari dia di pesantren, sudah kabur sampai keluar kecamatan."
" apa keluar kecamatan? Bukannya akses kendaraan umum lumayan sulit di wilayah pesantren, Abi?"
" itu dia masalahnya, Naira. Santri satu ini terlalu nekat. Pantas saja sehari semalam dia sempat hilang."
" dia berjalan kaki sejauh itu?"
" Abi juga bingung, bagaimana membuatnya jera."
" kira-kira apa yang membuatnya tidak betah di pesantren, bi?"
" setiap santri yang dipaksa masuk pesantren oleh orang tuanya, hampir semua bersikap demikian. Kita sebagai pihak pesantren tentunya mengemban amanah besar dalam menjaganya. Tapi anak ini, dia terlalu pintar dan nekat." ujar Abi seraya mengelus dahinya.
" Abi, Naira minggu depan akan pulang ke pesantren. Jika nanti ada masalah seperti ini lagi, Abi bisa cerita sama Naira."
" anak Abi yang satu ini memang benar-benar baik hati. Terima kasih ya, Naira."
" iya Abi.. Kalau begitu, Naira ke kamar dulu."
" ya, lekas tidur agar subuh nanti tidak kesiangan."
" iya, Abi. Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam."
Naira melangkah keluar dengan rasa penuh penasaran. Kenapa ada santri yang begitu nekat seharian menghilang dan berjalan sampai keluar kecamatan? Ada hutan dan sawah luas yang membentang mengelilingi pesantren. Selain motor dan sepeda, jarang sekali ada mobil apalagi kendaraan umum.
" dia memang terpaksa, mana mungkin bisa kabur begitu. Astagfirullah, kenapa aku malah membicarakan hal buruknya." gumam Naira.
Satu minggu kemudian.
" iya Abi, sebentar."
" kak, udah ya.. Tas Naira udah penuh, nih." ujar Naira pada kak Zahra yang terus menjejal tas nya dengan gamis-gamis.
" udah diem dulu, bentar lagi di pesantren bakalan ada acara satu minggu full. Ini gamis punya kakak kamu pake, ya. Biar kelihatan kece." 😍
" kak.. 😩 Di lemariku sudah penuh, aku mau simpan ini dimana?"
" digantung aja, atau simpan di kardus. Lagian kamu kemarin bantuin kakak jahitin celananya mas Fatah. Ini hadiah dari kakak."
" Naira!!" teriak kak Zain yang masuk ke kamar Naira.
" ini makanan dari Umi, katanya buat temen-temen kamu. Masih ada tiga box lagi. Cepetan gih, Abi udah nungguin dimobil."
"tuh, kan.. Ini makanan mau disimpan dimana? Mana berat lagi.." 😩
" simpan dibagasi aja, nanti minta tolong sama temen kamu buat bawain." ujar kak Zain.
" yaudah, kakak bawa ke bagasi ya?" ujar Kak Zain yang langsung menghilang begitu saja.
" yaudah, kak. Naira berangkat ya." ujar Naira berpamitan.
" ya, jangan nakal-nakal kayak kakak dulu. Kamu yang rajin ngaji nya."
" iya, iya.. Assalamu'alaikum."
" wa'alaikumsalam."
Naira masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang. Perjalanan akan sangat panjang dan membosankan. Ia memilih untuk tertidur agar cepat sampai.
Beberapa jam kemudian..
" Naira, ayo bangun. Kita sudah sampai."
__ADS_1
" ahh, sudah Abi?" ujar Naira menggosok matanya yang berat karena tidur terlalu lama.
" Naira!! Selamat datang!!" sapa salah satu temannya yang ternyata sedang menunggunya.
" Fatma? Kamu nungguin aku disini?"
" bukan aku aja, tuh!" Fatma menunjuk ke arah teman-teman Naira yang lain.
" mereka lagi ngapain?" tanya Naira melihat teman- temannya yang lain tidak menghampirinya.
" biasa, mumpung belum masuk asrama.. Beli stok jajanan dulu." 😁
" ohh, padahal aku bawa banyak makanan lho. Umi yang kirim buat kalian."
" oh, ya? Kalo begitu aku gak bakalan jajan deh hari ini." 😅
" iya, gak perlu. Mending simpen dulu buat tanggal tua nanti." 😆
" yaudah, aku bantu kamu bawa barang ya?" ujar Fatma menawarkan diri.
" boleh." ☺
Sampai di Asrama.
" eh, Fatma. Kamu tahu gak santri baru yang semingguan lalu pernah kabur?"
" santri baru?" 🤔 Fatma mengkerut bingung.
" yang ganteng itu, bukan?" 😍 sahut Marwa tiba-tiba.
" gantengnya mengalihkan duniaku.." sahut Shofa juga.
" haissh, kalian berdua ini. Kalo sama yang ganteng-ganteng langsung cekatan." timpal Ayana, santri asal Korea.
Satu kamar Asrama biasa diisi 8 santri putri atau 10 santri putra. Karena di asrama Naira sudah ada 3 santri yang keluar karena menikah, jadi hanya tersisa 5 orang saja. Shofa, Marwa, Ayana, Fatma dan Naira.
" oh, ya Naira.. Kenapa kamu nanya santri nakal itu?" tanya Ayana.
" gak apa-apa, penasaran aja. Senakal apa sih dia, sampai-sampai membuat Abi ku pusing memikirkannya. Aku gak pernah lihat Abi sebingung itu."
" benarkah? Aku dengar dari asrama lain, santri itu berasal dari Kota Gandaria." ujar Marwa.
" Ga-Gandaria?" Fatma kaget mendengar nama kota itu.
" kenapa? Ada apa dengan Kota Gandaria?" tanya Naira penasaran.
" semua kriminal di negeri ini, sebagian besar berasal dari kota itu." sahut Ayana dengan nada misterius.
" Kota dengan dunia malam yang liar, sepanjang jalan tidak akan pernah tidak menemukan Bar atau Diskotik. Banyak jalanan sepi digunakan balapan liar. Prostitusi masih umum disana. Dan Adzan pun bahkan sudah jarang terdengar disana." timpal Fatma panjang lebar.
" seganteng itu kenapa berasal dari Gandaria, sih. Kenapa gak dari Arab aja." ujar Shofa.
" hush! Jangan ngebayangin dia mulu, itu sama aja kayak zina tau!" tegur Ayana.
" aku baru tahu ada kota seperti itu di negeri kita."
" yang parah bukan kotanya sih, Ra. Jika mereka Yahudi atau Nasrani ya gak masalah juga, itu hidup mereka. Tapi masalahnya mereka itu Islam. Mayoritas disana bahkan sudah menutup mata tentang agama mereka sendiri." ujar Ayana.
" Naudzubillah, jangan sampai kita seperti mereka. Kita do'akan saja.. Semoga santri nakal itulah, cikal bakal hadirnya hidayah di tempat mereka."
" aamiin.." jawab semua santri di Asrama.
Malam tiba, semua santri tertidur. Menanti esok hari dimana mereka akan menimba ilmu kembali.
" santri baru.."
" lihat saja,"
" jika kau sampai membuat masalah lagi,"
" aku akan berhadapan langsung denganmu."
__ADS_1
To Be Continue..