Sudahi Atau Halalkan?

Sudahi Atau Halalkan?
7. Posisi tidak penting


__ADS_3

" lalu bagaimana?" tanya Naira antusias.


" kau mendengarkanku?"


" tentu saja, ahh maaf.. Kau memintaku untuk diam, tapi aku malah bertanya. Apa syaratnya gagal aku penuhi?" 😰


" tidak, cerintanya selesai. Kau lolos." 😃


" ahh, syukurlah."


" tapi ada syarat bonusnya." 😌


" tidak ada hal seperti itu sebelumnya." 😒


" aku hanya ingin tahu. Jika bukan karena kau nakal, kenapa kau menbuat dua tempat persembunyian seperti ini?"


" aku memang tidak nakal. Kau cukup tahu hal itu saja." 😒


" aku tidak percaya. Bisa saja kan kau lebih nakal dariku?"


" kau ini! Aku tidak pernah mabuk-mabukan, apalagi sampai tidur dengan lawan jenis!" 😡


" ya, ya.. Baiklah. Kalau begitu apa buktinya?" 😏


" aku kesini hanya setelah ujian selesai saja. Jadi pada saat-saat itu, kau dilarang kesini. Paham?"


" kenapa?"


" karena aku hanya ingin sendirian."


" kenapa?"


" karena aku tidak ingin siapapun tahu keadaanku."


" kenapa?"


" tuan, apa tidak ada pertanyaan yang lain?" 😃


" jawabanmu yang bertele-tele. Makanya aku mengajukan pertanyaan yang sama."


" tapi kau belum menjawab pertanyaanku juga." 😒


" ahh, benarkah? Yang mana?" 🙁


" bagaimana kelanjutan dari ceritamu itu, kau pingsan. Apa kau dibawa ke rumah sakit atau dibiarkan saja disana?"


" ohh, aku tidak tahu. Tapi saat aku bangun, aku sudah berada disini. Itu sebabnya mau aku kabur bagaimanapun, aku tidak tahu kemana aku harus pergi." 😅


Naira hanya terdiam. Ia mengerti kenapa Zidan bisa berjalan sejauh itu saat berusaha kabur dari pesantren. Itu karena ia tak tahu arah jalan pulangnya kemana.


" lalu kau?? Jangan mengelak dengan pura-pura terdiam." 😒


" ahh, iya?" 🙁


" jangan pura-pura lupa juga, apa yang harus kau jawab padaku."


" ahh, iya baiklah." 😑


" aku.." 😞


" sebenarnya agak tertekan menyandang status sebagai anak dari kepala pesantren ini. Sebenarnya.. Abi juga tidak terlalu menekanku agar menjadi santri terbaik disini. Tapi aku merasa.."


" aku selalu merasa gagal di mata semua orang, ketika aku tidak bisa menjadi yang terbaik disini."


" aku malu.."


" semua orang disini begitu menyangjungku, menghormatiku, meng elu-elukan aku."


" padahal aku tidak se istimewa itu. Aku hanya ingin menjadi anak yang benar-benar bisa dibanggakan oleh ayah dan ibuku. Bukan hanya menyandang status sebagai putri dari seorang Abi Yusuf."


" aku ingin di kenal sebagai Naira Humaira, dengan prestasi yang aku raih sendiri."


" aku dengar kau memiliki dua saudara? Kenapa kau merasa terbebani sendirian?"


" kau mungkin belum tahu, kakak perempuanku kak Zahra. Dia dikeluarkan oleh Abi sendiri, karena tertangkap berpacaran jarak jauh dengan santri lain. Aku tidak tahu detailnya seperti apa."


" sedangkan kakak laki-lakiku, kak Zain. Dia bersikeras mengejar cita-citanya dan kuliah di luar negeri."


" kau anak terakhir?"


" ya." 😅


" itulah kenapa, kau merasa semua beban ada dipundakmu? Kau ingin menjadi penerus ayahmu?? Hebat sekali.." ☺ puji Zidan pada Naira.


" ya, impianku begitu. Tapi tidak semudah yang aku impikan. Kemampuan setiap manusia ada batasnya."


" jadi setiap selesai ujian kau selalu kesini karena.."


" ya, aku selalu gagal mendapatkan posisi pertama. Aku selalu jadi yang kedua, sejak awal sampai saat ini." 😞


" Naira,"

__ADS_1


" asalkan kau tahu.."


" orang sepertiku saja sudah sulit ingin mendapatkan pengakuan baik dari orang lain."


" kau beruntung terlahir sebagai orang yang patut di hormati bahkan sebelum kau menoreh prestasi."


" kau hanya perlu bersungguh-sungguh."


" memang benar, kemampuan manusia ada batasnya."


" tapi ketika kita sudah mencapai batas dan berusaha melampauinya, bukankah itu sudah sangat luar biasa?"


" apa artinya sebuah posisi?"


" itu hanya gelar, aku percaya kau punya lebih dari itu."


" apa?" 🙁


" tekad." 😉


Naira hanya terdiam. Anak ini, sedikitnya membuat Naira sadar. Tidak penting berada dimana posisinya saat ini. Ia hanya perlu berusaha lebih baik dari sebelumnya. Jangan sampai berhenti apalagi mundur.


" Zidan.."


" terima kasih." 😊


" ya." jawab Zidan singkat.


" hoaam! Bisakah kau pergi? Aku lelah.."


" mumpung ayahmu sedang tidak ada disini, aku ingin istirahat sejenak. Tidak salah kau memberitahuku tempat ini." 😌


" kau.." 😑


" aku tidak akan bolos, tenang saja. Lagipula airnya cukup banyak untuk wudhu siang ini. Aku akan lanjut mengisi air sore nanti."


" haish. Dia kira ini hotel atau apa?" 😒 gerutu Naira seraya beranjak pergi.


" assalamu'alaikum!" teriak Naira mengagetkan Zidan.


" eh, Wa'alaikumsalam." 😑


Asrama Naira.


" Ra, kamu kemana aja?"


" err, aku.. Itu.. Habis bantuin ustadzah Nisa di ruangannya." 😰


" ohh, pantesan aku cari kemana-mana gak ada. Ini sop buah kamu udah banjir tuh."


" iya sama-sama."


" btw, ujian tengah semester gak kerasa udah tinggal seminggu lagi ya?" ujar Marwa membuka topik.


" apa?! Seminggu lagi?" ujar Ayana yang begitu kaget.


" kenapa memangnya?" 🙁 tanya Marwa.


" aku belum menghafal!!" 😫


" yaelah, masih jauh ini.. Seminggu ini cukup lah."


" buatku gak cukup!!" 😫


" ujian kali ini pasti gak terlalu sulit kok." 😉 ujar Naira menyemangati Ayana.


Padahal dalam hati kecilnya, ia lah yang justru sangat takut menghadapi ujian ini.


Seminggu berlalu bagai satu kedipan saja. Ujian tengah semester tiba. Naira kembali dihantui rasa gugupnya. Tapi ia berusaha tenang. Terkadang ucapan Zidan waktu itu terngiang di telinganya.


" kau hanya perlu bersungguh-sungguh."


" memang benar, kemampuan manusia ada batasnya."


" tapi ketika kita sudah mencapai batas dan berusaha melampauinya, bukankah itu sudah sangat luar biasa?"


" apa artinya sebuah posisi?"


" itu hanya gelar, aku percaya kau punya lebih dari itu."


" apa?" 🙁


" tekad." 😉


Naira kembali menguatkan tekadnya.


" aku hanya perlu berusaha, yaa berusaha.."


" memaksimalkan apa yang ku punya, melampaui batasan yang masih bisa aku capai."


" aku tidak menginginkan posisi itu lagi!"

__ADS_1


Semangat Naira membara, ia mengerjakan semuanya sesuai kemampuannya. Hingga tak terasa waktu demi waktu ujian berlalu begitu saja. Tiba akhirnya pengumuman bagi yang menerima posisi nilai tertinggi pertama.


" asrama kita selalu mendapatkan ranking 10 besar." 😃


" semoga saja sekarang pun begitu." ujar Naira pada Shofa.


" aku yakin kali ini kamu mendapat posisi pertama, Naira." 😉 ujar Fatma.


" jangan besar harapan, aku tidak se ambisius dulu. Aku tidak peduli sekarang posisiku akan dimana." 😅


" jangan pura-pura tidak tegang." 😒


" ahh, iya baiklah. Kau menang Fatma." 😅


Ujar Naira berusaha membuat batin nya tidak merasa kecewa dengan pengumuman yang akan segera tiba.


" peringkat ke 10, Shofa Awaliyah."


" hah? Aku turun ke peringkat 10?!" 😫


" sebelumnya kau peringkat 8 bukan?" tanya Marwa.


" iya!" 😫


" Shofa saja peringkat 10, apa aku tak akan masuk 10 besar kali ini?? Kemarin saja aku yang mendapat posisi ke-10 itu." 😰 Ayana semakin gugup.


" tenang, baru satu peringkat. Kita belum tahu siapa yang naik dan siapa yang turun." 😅 Naira berusaha menenangkan teman-temannya.


" peringkat 9, Marwa Khairunnisa."


" syukurlah, aku masih konsisten." 😪


" tapi aku sekarang ada di belakangmu!!" 😫 ujar Shofa kesal.


" tenang aku hanya akan mengejekmu saat kita di asrama saja." 😉


" Marwa!!" 😩


" peringkat 8, Fajar Fadilah."


" peringkat 7, Agnia Agustina."


" peringkat 6, Gibran Siddiq Mulyana."


" aku pasrah.. Mana mungkin aku bisa masuk jajaran 5 besar." 😢


" sabar, Ayana.." 😟 ujar Fatma menenangkan Ayana.


" Peringkat 5, Ayana Moon."


" Ayanaa!!" 😱 teriak Fatma menyadarkan Ayana.


" ahh, apa hanya aku yang salah dengar disini?" 😳


" tidak, Ayana. Kau memang memberikan progres yng luar biasa. Kau mendapatkan peringkat ke-5, selamat."


" kau sunggul licik, Ayana. Kenapa kau bisa secepat itu mendahuluiku dan Marwa?!" 😭


" mana kutahu, aku pun tidak menyangka hal ini akan terjadi. Jangan tanyakan padaku." 😫


" peringkat keempat, Dimas Cahya Maulana."


" peringkat ketiga, Fatma Azizah."


" aku naik dari peringkat ke empat, jadi peringkat ketiga." 😜 ejek Fatma pada ketiga sahabatnya yang berada di posisi belakangnya.


" peringkat kedua, Alfan Khairan Fauzi."


" apa?! Alfan peringkat dua?? Lalu Naira?" 😱 Fatma kaget karena belum mendengar nama Naira.


Justru ia malah mendengar nama lain yang belum pernah masuk jajaran 10 besar.


" siapa Alfan Khairan Fauzi ini?" tanya Shofa penasaran.


" selamat nak Alfan, kamu baru masuk tapi sudah mendapat posisi kedua."


" santri baru?" bisik Marwa.


" kayaknya iya.." jawab Ayana.


" terus Naira gimana?" 😰


" gak mungkin kan dia ada di belakang kita? Selama ini dia selalu mendapat peringkat 2?"


" sudahlah, teman-teman. Aku bilang jangan terlalu berharap kepadaku. Aku baik-baik aja kok." ☺


" dan peringkat pertama diraih oleh.."


" pasti Hasbi Athallah lagi." ujar semua santri disana.


" Naira Humaira. Selamat, kamu berhasil menduduki peringkat pertama."

__ADS_1


" apa?! Saya pak Ustadz?!" 😳


To be continue..


__ADS_2