Sudahi Atau Halalkan?

Sudahi Atau Halalkan?
9. Pertempuran


__ADS_3

" Abi?! Jadi rumor itu benar?" Naira terhentak mendengar fakta itu dari ayahnya.


" Abi belum memastikan. Makanya abi tanya kamu dulu. Kamu udah siap menikah belum?"


" Abii.. Usiaku baru saja 18 tahun." 😩


" tapi itu usia yang ideal untuk menikah lho, Ra." 🙁


" usia yang ideal itu 21 tahun Abii.."


" oh, ya? Sejak kapan pemerintah kita mengubahnya?" 🤔


" sudah sejak lama, Abii.. Pokoknya Naira belum mau menikah."


" tapi, Ra. Bagi wanita, menikah adalah sumber pahala yang terbesar. Kamu yakin mau melewatkan kesempatan ini?"


" tapi Abi.."


" Hasbi anak yang baik, pintar.. Dia bahkan tidak pernah berbicara dengan gadis manapun selain dirimu. Dia juga katanya sudah lama menyukaimu. Abi yakin dia akan bersikap baik padamu."


" dia memang baik Abi, tapi.."


" keluarga Hasbi pun baik, sangat baik.. Mereka pasti akan menerimamu apa adanya Naira."


" bukan begitu, Abi. Masalah pekerjaan rumah aku sudah biasa melakukannya sendiri di asrama. Walaupun aku anak bungsu, aku bukan anak yang manja."


" lalu? Kenapa kamu masih belum ingin menikah?"


" aku.. Masih ingin belajar disini Abi.." 😰


" sampai kapan?"


" ehm.. D-Dua tahun lagi saja Abi.. Naira janji, setelah usia Naira menginjak 20 tahun. Naira akan menikah dengan pria yang Abi jodohkan."


" baiklah kalau begitu, Abi pegang janji kamu. Abi akan minta Hasbi untuk menunggu kamu dua tahun lagi disini. Supaya kalian bisa lebih akrab juga."


" H-Hasbi? Dua tahun lagi pun Abi masih akan menjodohkanku dengan Hasbi?"


" ya tentu saja, dengan siapa lagi?" 🙁


Entah kenapa Naira berharap bukan demikian keputusan yang akan dibuat ayahnya. Naira benar-benar tak berharap sosok Hasbi ini akan menjadi suaminya kelak. Entahlah, ia merasa tidak ada satu celah pun di hatinya menginginkan sosok yang di idamkan semua gadis di sana.


" aku memang bodoh!! Disaat semua gadis ingin berada di posisiku, aku malah terus berusaha menghindar."


" kenapa kau menghindar?"


" ahh!! Zidaan?!" 😱


" apa kemunculanku selalu mengagetkanmu?"


" kau yang selalu muncul tiba-tiba!! Ucap salam atau apa kek!" 😫


" ahh iya aku lupa. Assalamu'alaikum, Naira." 😊


" Wa'alaikumsalam."  😒


" pantas saja setiap aku muncul kamu selalu teriak. Ternyata aku harus ngucap salam dulu kalo ketemu kamu." 🤔


" gak ketemu aku aja, ketemu semua orang juga harus gitu." 😒


" oh, ya? Lalu kenapa kamu cuman jawab salam sambil senyum nya sama Hasbi doang?"


" hah? Apa maksud kamu?"


" aku juga mau kamu jawab salam aku pake senyum bukan pake tatapan sinis gitu." 😞


" yaudah lain kali aku senyum, oke? Aku pamit pulang asrama ya. Assalamu'alaikum." 😊


" Wa'alaikumsalam." 😍


Naira bergegas pergi meninggalkan Zidan karena tak ingin kembali jadi pusat perhatian. Sudah cukup rumornya hanya dia yang akan dijodohkan dengan Hasbi. Jangan ada rumor yang lain.


" ahh, senyum Naira memang secantik bidadari." 😍


" katakan sekali lagi." 😠

__ADS_1


" ahhh!!" 😱


" kau berani menatap putriku seperti itu, Zidan?!" 😠


" ahh, tidak Abi Yusuf.. Saya tidak berani." 😰


" bagus kalo begitu, cepat bawa kardus-kardus ini keluar."


" baik, Abi."


" haish, belum apa-apa calon mertuaku sudah marah." 😒


Asrama Naira.


" gimana hasilnya?" tanya Fatma melihat wajah temannya yang muram saat tiba di asrama.


" mau aku menunda sampai kapanpun, Abi akan tetap menjodohkanku dengan Hasbi."


" ahh, mungkin memang dia yang terbaik buat kamu Naira." ujar Ayana.


" tapi entah kenapa hatiku kayak gak srek gitu sama Hasbi."


" kenapa? Padahal dia ganteng lho, pinter juga. Kalo aku sih bakalan seneng dijodohin sama dia." ujar Shofa.


" yaudah, kamu aja gih yang nikah sama dia!" 😒 ucap Marwa.


" aku lebih suka sama Zidan." 😍 jawab Shofa.


" santri nakal kayak gitu kamu suka?" sindir Ayana.


Sepertinya Ayana memang begitu tidak menyukai sosok Zidan ini.


" tapi dia kayaknya gak se nakal itu." ujar Naira yang membuat hening seisi asrama.


" kamu gak salah bilang begitu, Ra? Waktu di awal-awal bukannya kamu sama seperti Ayana? Gak suka sama dia?" 😕 ujar Fatma heran.


" ehm, bukan begitu.. Aku.. Akhir-akhir ini liat dia ada kemajuan. Suka nurut sama perintah Abi dan guru lain. Gak banyak kabur lagi."


" iya juga sih, damai banget rasanya gak denger kabar Zidan kabur lagi." 🙁 pungkas Ayana.


" aku juga.." 😍 lanjut Marwa.


" jangan harap! Kalian itu gak boleh lihat Zidan, dia bukan mahram kalian!" 😒 gertak Naira membuat seisi asrama kembali hening.


" bukan Zidan aja kan? Semua santri cowo disini bahkan guru juga bukan mahram kita." 🙁 timpal Marwa.


Naira hanya terdiam. Mengingat ia bahkan sudah lebih dekat dengan Zidan dibanding Shofa Marwa yang mengaguminya dari jauh. Bahkan ia sudah beberapa kali berduaan dengan nya. Pernah sesekali menatapnya, bahkan bicara panjang lebar dengannya. Belum pernah sekalipun ia berbincang dengan laki-laki selain ayah dan kakaknya, sampai selama itu.


'Astagfirullah, ya Allah maafkan aku." 😫


Naira berusaha menyadarkan dirinya. Menghapus Zidan dari ingatannya. Tapi semakin ia menghindar, semakin terus terbayang wajah dan senyum pahitnya itu. Ia tak bisa mendeskripsikan, rasa apa ini. Mungkinkah hanya simpati?


" dia bilang, orang selalu memandangnya buruk. Karena ia berasal dari kota Gandaria. Tapi yang kulihat, ia justru berhati lembut." pikir Naira.


" dia pernah meragukan kepercayaanku padanya, apa memang hanya aku yang percaya pada kemampuannya?"


" haish, kenapa aku begitu mengkhawatirkan si bodoh itu!" 😑


Madrasah, tengah hari.


" gawat!!" teriak Shofa saat masuk madrasah.


" kenapa?? Katanya kamu mau manggil ustadzah Nisa?" tanya Fatma yang ikut panik.


" semua guru gak ada di kantor!! Katanya.." Shofa masih menghela nafas.


" ada apa?!" ujar Naira panik melihat ekspresi Shofa.


" ada yang menyerang pesantren kita!!"


" apaa?!" teriak seisi madrasah yang disertai bubarnya semua santri disana.


Mereka mencari dimana keributan itu terjadi. Berharap tidak akan ada yang terluka disana.


" siapa yang menyerang pesantren kita?!" tanya Naira sepanjang perjalanan.

__ADS_1


" mereka.. Dari kota Gandaria!!"


" apa?! Kenapa mereka tiba-tiba kemari?" tanya Fatma.


" mereka mencari Zidan." jawab Shofa.


" terus Zidan kemana sekarang?!" tanya Naira semakin panik.


" aku juga gak tahu! Katanya lagi dicariin."


Tak butuh waktu lama mereka sampai di gerbang masuk utama. Banyak pemuda memberontak disana meneriakan nama Zidan. Tapi tak seorang pun yang berani menghadapi mereka. Pak Satpam pun sampai kewalahan mengatasinya.


" mana Zidan!!"


" bawa dia kemari!!"


" kalau tidak, kami akan merobohkan pesanten ini!!"


Mereka berteriak tanpa henti. Hanya lima belas orang, tapi mereka terlihat begitu kuat.


" Naira ngapain kamu kesini? Cepat balik asrama, disini bahaya!" ujar Abi Yusuf melihat putrinya itu datang.


" tidak Abi, harusnya Abi yang pergi. Biar kami para santri yang menjaga disini."


" tidak, nak. Ini terlalu bahaya. Mereka dari kota Gandaria, kami masih mencari Zidan. Semoga masalah mereka bisa di selesaikan baik-baik."


Tak perlu waktu lama. Sosok yang dicari para pemberontak itupun tiba. Dengan tenang Zidan menghampiri lima belas orang di luar gerbang itu.


" mau apa kalian kemari?!" tanya Zidan.


" jangan pura-pura bego!! Pertempuran kita belum selesai! Setahun yang lalu lu mukulin anak buah gue!"


" lu bego, ya? Gak liat ini tempat apa?!" gertak Zidan dengan berani.


" kenapa, lu takut?! Kalo berani ayo tempur diluar?!"


" haha!! Aku yang seorang diri ini melawan kalian yang ber-lima belas? Kalian gak malu?!"


" bukannya lu jagoan?! Empat anak buah gue lu buat cacat dalam sehari?! Dan kali ini, gue harus buat lu cacat seumur hidup!"


" oke!! Gak usah banyak bacot! Ayo kita selesaikan hari ini juga!!" ujar Zidan yang kemudian membuka pintu gerbang.


" Zidaan!! Jangaann!!" teriak Naira dari kejauhan.


Zidan hanya menoleh dan tersenyum kepadanya. Tatapan nya itu seakan memberi isyarat.


" aku akan baik-baik saja."


Semua tatapan tertuju pada Naira yang tiba-tiba mencegah Zidan. Tapi kemudian tatapan itu kembali tertuju pada Zidan yang sudah memulai perkelahian dengan kelima belas orang itu.


" Zidaann!!" teriak Naira ketakutan.


" Abi!! Tolong minta santri lain buat bantuin Zidan!! Dia pasti kalah kalo melawan lima belas orang itu!! Dia bakalan terluka!" bujuk Naira pada ayahnya, tapi Abi Yusuf seakan tak bergeming.


Abi Yusuf tak ingin mencampuri urusan pribadi Zidan. Apalagi ini menyangkut kota Gandaria. Jika ia sampai turun tangan, maka takutnya akan terjadi pertempuran kembali dari kota itu ke pesantrennya.


" Naira, Abi dengar Zidan pernah menjuarai kompetisi bela diri. Dia juga anak jalanan yang berkelahi saja sudah hobinya. Kita percayakan urusan pribadinya pada dirinya sendiri." ujar Abi dengan tenang.


" tapi Abi, dia.. Zidaann!! Abi!! Zidan terluka!!" Naira kembali kaget dan menangis melihat darah sudah mengucur di pelipis kirinya Zidan.


Tapi Abi Yusuf justru heran melihat tangis putrinya ini yang tak biasa. Kenapa Naira bisa begitu khawatir pada orang yang belum dikenalnya?


" lari!!" teriak para pemberontak itu melihat hampir semua kawanan nya ambruk.


Melihat keadaan sudah aman, Zidan masuk kembali ke pesantren dengan tertatih dan dengan sarungnya yang berlumuran darah. Peci nya bahkan sudah terlempar entah kemana.


" Zidaan!!" panggil Naira yang hendak menghampiri Zidan.


" Naira, jangan.." ujar Abi Yusuf yang langsung menahan lengan Naira agar berhenti.


Naira menatap raut wajah ayahnya yang terlihat marah.


" Naira, kendalikan dirimu. Jangan melewati batas." ujar Abi Yusuf yang membuat Naira seketika merinding hingga terdiam.


" Naira, aku baik-baik saja."

__ADS_1


To be continue..


__ADS_2