Sudahi Atau Halalkan?

Sudahi Atau Halalkan?
6. Kota Kelam


__ADS_3

" keluar."


" N-Naira? Kau disini?" 😳


Naira tak berkata-kata. Ia langsung pergi setelah mengucapkan satu kata itu pada Zidan yang baru selesai menumpahkan dua ember besar air. Zidan tanpa ragu mengikuti putri kepala pesantren itu.


" kemana?" tanya Zidan pada Naira yang tak kunjung berhenti.


" duduk." ujar Naira singkat.


Menunjuk pada sebuah kursi kayu. Pesanten memang di kelilingi oleh hutan dan sawah. Tapi tempat ini, adalah tempat yang hanya diketahui oleh Naira seorang.


" k-kau mau kemana?" tanya Zidan lagi saat ia duduk dan Naira malah menjauh.


" kau kira aku akan duduk disitu bersamamu? Sudah untung kau aku beri tempat yang biasa aku duduki." 😒


" yang sudah biasa? Jadi kau selalu kesini?"


" Ya, tapi ingat. Tempat ini hanya aku dan kau yang boleh tahu. Selama kita disini, tidak akan ada siapapun yang menemukan kita."


" benarkah?" 😃


" jangan berpikiran aneh! Aku membawamu hanya sekali ini. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau memanfaatkan tempat ini untuk kenakalanmu!" 😒


" lalu kenapa kau membawaku kemari? Kau tak takut aku bolos dan malah kabur kesini?" 😄


" aku percaya kau tidak akan selalu seperti itu." 😒


Zidan seketika terpaku. Tidak oernah ada seseorang pun yang mengucapkan kata itu padanya. Sekalipun itu orang tuanya. Sekejap ia mengingat kehidupan masa lalunya. Saa ia masih tinggal di kota Gandaria.


" Naira.." ujar Zidan lembut tanpa menatap Naira yang duduk jauh di belakangnya.


" hm?" 😒 sahut Naira dingin.


" sepercaya itukah kau padaku?"


" kenapa dengan nada bicaramu? Apa kau se-putus asa itu ingin keluar dari sini? Bahkan aku sudah memberikanmu tempat rahasiaku ini, agar kau lebih betah dan tidak merasa sendirian."


" haha, kau seakan sudah mengenalku sejak lama. Kau mana tahu siapa aku dan darimana asalku."


" kau dari kota Gandaria, aku benar kan?"


" iya. Semua orang tahu seperti apa kota itu." ujar Zidan dengan senyum pahitnya.


" ya, walaupun begitu.. Para kaum hawa di wilayahku masih saja begitu terobsesi padamu." 😒 ujar Naira.


" apa kau berusah menghiburku?"


" untuk apa aku menghiburmu? Memangnya kau sedang sedih?" 🙁


" haish, wanita ini." 😑 gerutu Zidan dalam hatinya.


" kalau kau, terobsesi padaku tidak?" 😅


" huh? Aku?" 🙁


" enggak."


" lidah wanita ini memang tajam." 😓


" kalau aku, apa boleh aku terobsesi padamu?" 😅


" diam. Atau aku akan membuatmu mengangkut air dua bulan lagi. Kebetulan kemarau masih panjang." 😒


" haha, tenang nona Naira. Aku hanya bercanda." 😅


" kejam sekali.." 😑


" ngomong-ngomong, kamu tahu darimana aku dihukum ayahmu mengisi air sebulan ini?"


" siapa juga yang dengan rajin mau mengisi bak kamar mandi itu?" 😑


" iya juga sih." 😅


Keduanya terdiam. Hendak memecah keheningan, tapi entah apa yang harus mereka bicarakan. Ini hari minggu, dan sekolah sedang libur. Jadwal mengaji tengah hari tinggal beberapa jam lagi.


" oh, ya. Kau bilang aku duduk di tempat yang biasa kau tempati. Dan tempat ini hanya kau saja yang tahu awalnya. Selain itu, di asramamu juga ada tempat semacam itu. Kenapa? Aku tidak tahu bahwa anak kepala pesantren sepertimu juga bisa nakal seperti ini." 😅


" nakal? Kau bilang aku nakal?! Ayahku saja belum pernah menyebutku begitu!" 😡


" ah, iya. Karena beliau belum tahu." 😆


" kau!" 😡

__ADS_1


" tenang saja, aku tidak berencana memberitahu ayahmu."


" haish." 😒


" dengan satu syarat!" 😃


" hei! Kau ini!!" 😡


" asalkan kau mau menerima syaratku, aku akan tetap bungkam." 😌


" bodoh sekali aku percaya dan membawamu kesini." 😫


" setuju apa tidak?"


" aku gak mau!" 😫


" diam dan dengarkan ceritaku, itu syaratku. Jika kau diam, aku anggap itu setuju." 😉


Naira dengan spontan tiba-tiba diam. Dan Zidan hanya tersenyum melihat baru kali ini ada gadis yang begitu menurut padanya. Naira juga tidak habis pikir dengan tindakan nya kali ini.


' ada apa denganku?!' 😫


' mana kutahu ceritanya akan sepanjang apa, aku harus segera pergi dari sini!'


' Fatma dan yang lainnya pasti sudah mencariku!' 😫


" aku tahu kau mengenalku sebagai orang yang seperti apa, dan tentu saja setelah kau tahu juga aku berasal dari mana."


" kota Gandaria."


" kota kelam yang merupakan surga bari para kriminal."


" asal kau tahu Naira,"


" begitu pula pandangan orang lain terhadapku.."


Kota Gandaria, satu tahun yang lalu.


" yo! Zeed!!" panggil seseorang pada Zeed, nama panggilan Zidan disana.


" what's up bro!" lanjut orang itu.


" ke bar, yok?" tukasnya melihat tak ada reaksi dari Zidan.


" lu kenapa? Gak pernah gue lihat lu segalau ini, bro?"


" lu tau laah.."


" nyokap apa bokap?"


" double."


" wihh, hebat lu. Dapet apa nih kali ini?"


" lu liat aja sendiri." Zidan menengadahkan kepalanya yang semula tertunduk.


" wah! Mantap betul ini mah. Kanan kiri jadi!" 😆


" lu emang jagonya tertawa diatas penderitaan orang, ya?" 😒


" ya iyalah, bokap nyokap gue gak kayak gitu. Gue patut bersyukur." 😌


" tapi kok gue ngerasa aneh ya, Glenn." panggil Zidan pada sobatnya itu.


" aneh kenapa Zeed?"


" kayaknya kali ini bokap nyokap gue gak main-main."


" mereka beneran mau bawa lu ke pesantren?!"


" gak tau juga sih. Mana mau gue ke tempat begituan. Gak ngerti gue sama cara pikir mereka!" 😪


" gak usah dipikirin, mending ikut gue aja ke bar. Semakin nakal diri lu, bokap nyokap lu juga pasti makin ragu bawa lu ke pesantren. Yang ada, lu bisa bikin malu mereka." 😂


" iya juga, sih. Pokoknya lu harus bantuin gue buat batalin rencana mereka."


" ya tentu lah!"


Di Bar.


" wah ada cewe semok tuh di depan. Lu tunggu sini ya, hitung 10 detik. Kalo gue bisa bawa dia kesini, lu harus turutin mau gue. Kalo gagal, lu boleh minta apapun sama gue."


" taruhan apaan sih ini? Ogah ahk!" 😑

__ADS_1


" hitungan dimulai!"


" err, Glenn!!"


" ..."


" bocah!!" 😑


9 detik kemudian..


" berhasil, gue menang."


" haish, taruhan yang dibuat satu pihak apanya yang menang?" 😪


" pokoknya gue menang."


" dan gue minta, lu malam ini harus tidur bareng dia." ujar Glenn menunjuk wanita dengan dress merah seksi disampingnya.


" Glenn, lu bercanda."


" yaa, gue tahu. Se nakal-nakalnya lu, tapi lu gak pernah tidur bareng cewe selain sama bokap lu kan?" 😆


" kau memang ingin mati hari ini Glenn?" 😃


" wihh, galak amat sih Zeed. Cuman tidur doang kok gak lebih."


" gak!"


" katanya mau gue bantuin supaya lu gak jadi ke pesantren?" 😒


" Zeed, kamu mau ke tempat kayak gitu?" tanya wanita dress merah itu.


" kamu kenal dia sayang?" ujar lembut Glenn padanya.


" siapa yang gak kenal Zidane Khalied, raja jalanan ini. Semua wanita pasti tahu padanya. Aku setuju kau bawa kemari juga karena aku melihat ada Zidane disini." 😍


" lu kalah, Glenn." 😒


" gak gitu kesepakatannya, Zeed. Gue menang, dan lu tetap harus tidur bareng dia! " 😫


" tuan Zidane, namaku Lucia. Aku akan merasa sangat tersanjung jika anda mau tidur dengan saya malam ini."


" Lucia, maaf.. Tapi aku.."


" udah ikut aja sana!! Ribet amat sih!!" 😑


Glenn mendorong Zidan dalam lubang setan itu. Bahkan Zidan tak sadar bahwa Glenn memberinya segelas alkohol yang dicampur dengan obat perangsang. Zidan sama sekali tidak menginginkan keadaan ini.


" Lucia.. Hentikan.." Zidan berusaha mengontrol dirinya sendiri malam itu.


Tapi wanita bernama Lucia seakan buta. Gadis manapun tidak akan melewatkan kesempatan ini, berada satu ranjang dengan pria paling populer disana. Namun baru setengah telanjang dari mereka, tiba-tiba saja..


" Zidaaann!!"


" keluar kau!!"


Brak!!


Bugh!


Plak!!


Dalam kesadaran yang belum sepenuhnya stabil, Zidan melihat kedua orang tuanya di hadapannya. Samar-samar ia melihat raut wajah kedua orang tuanya itu.


" kau memang anak yang tidak tahu malu!" gertak ibunya setelah menampar pipi kiri yang belum 24 jam dari tamparan sebelumnya.


" ayah menyesal memiliki anak sepertimu!" lanjut ayahnya seraya terus memukuli badan Zidan yang sudah ambruk di lantai hanya memakai celana pendeknya.


" kau memang tidak bisa dipercaya, kau bukan anakku!! Kau bukan darah dagingku!!"


" kau membuatku malu!!"


" tak disangka aku bisa melahirkan anak sepertimu!"


Ibunya terus memarahinya dengan kalimat yang sudah tak bisa menembus telinga Zidan lagi. Di sertai pukulan ayahnya yang begitu keras menghatamnya. Hingga ia akhirnya tak berdaya dan tergeletak di lantai.


" ayah, ibu.."


" sebenci itukah kalian padaku?"


" aku ini anakmu atau bukan?"


" apa mungkin kalian sudah tidak menganggapku sebagai manusia?"

__ADS_1


To Be Continue..


__ADS_2