
" Naira!! Apa-apaan ini!!" 😡
" Abi.. Maaf, Naira.." 😰
" kamu bohong, katanya asrama kamu berantakan. Abi lihat asrama kamu justru yang paling rapi." 😒
" ehm, itu.."
" yaudah, kamu lanjut istirahat aja. Abi mau cek asrama lain."
" i-iya Abi."
" oh, ya. Kamu tolong berhati-hati dengan santri baru itu. Abi yakin kamu sudah mengenalnya."
" t-tidak Abi, Naira belum melihat dia." 😰
" yaudah, pokoknya kamu harus hati-hati. Jangan deket2 sama dia. Lagipula dia kan laki-laki, bukan mahram kamu."
" tentu saja Abi." 😰
" yaudah, Abi pergi yaa. Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam."
Klek.
" haish, hampir saja." Zidan yang sudah merasa aman kemudian muncul.
" keluar!" 😡
" galak amat sih, baru juga ngambil nafas." 😒
" gara-gara kamu! Aku harus bohong sama Abi!!"
" iya, iya, maaf.. Kan aku juga gak maksa kamu buat nolongin aku." 🙁
Naira tercengang, benar juga apa kata anak ini. Kenapa dia bersikeras menolongnya? Ahh, mungkin hanya karena ia juga tak mau terjerat masalah. Jika hanya Abi yang datang tak apa, Naira akan kangsung menyerahkan Zidan. Tapi masalahnya ada banyak santri pria juga di luar sana. Jika mereka tahu pernah ada santri pria yang berhasil masuk asrama putri, maka wilayah ini sudah tidak aman lagi.
" kamu sendiri yang nyuruh aku sembunyi disitu." 😒
" udah! Udah!! Iya aku tau. Tapi kamu seenggaknya harus ngucapi terima kasih dong!"
" ya, makasih."
" yaudah keluar!!" 😫
" btw, kenapa ada tempat tersembunyi seperti itu di asramamu? Di tempatku tidak ada." 🙁
" ya, karena ini asramaku! Aku sendiri yang membuat ruangan rahasia itu!" 😫
" kenapa? Untuk apa?" 🙁
" banyak nanya banget sih!!" 😫
" ya, aku juga mau bikin ruangan kayak kamu juga. Biar gak repot-repot masuk asrama kamu lagi buat ngumpet."
" jadi kamu berencana bhat ngunpet kesini lagi, gitu?!" 😱
" baru rencana sih." 😁
Sudah Naira duga, asrama nya sekarang sudah tidak aman lagi.
" pergi, gak?! Keluaarr!!" 😫
Zidan tetap menancapkan kakinya di lantai. Tak beranjak satu cm pun.
" kalo teman-temanku sampai kesini bisa jadi masalah besar!" 😫
Naira ingin mengusir santri nakal ini, tapi ia tidak mau menyentuhnya. Ia terpaksa mengambil sebuah sapu ijuk di sudut ruangan.
" pergi, gak?!" 😠
" haish, sekarang aku dianggap kecoa yang di usir dengan sapu." 😑
" 1..!! 2..!! " 😡
" iya!! Aku pergi!! Tapi, aku mau ketemu kamu lagi besok. Di kamar mandi umum, besok pagi jam 7."
" hah?! Kamu gila, ya?!" 😫
" aku tunggu, ya. Dahh!!" ujar Zidan yang kemudian pergi.
" Wa'alaikumsalam!" 😒
Selang lima belas menit, akhirnya penduduk asrama itu tiba. Naira menghela nafas lega.
" Ra, aku bawain cimol nih." ujar Fatma.
__ADS_1
" makasih, ya.." ☺
" dimakan, jangan cuman diliatin." 😒
" i-iya, iya.."
" lho, ada tapak kaki gede banget disini?" 🙁 ujar Shofa.
" mana?" lanjut Marwa.
'Tapak kaki?! Jangan-jangan bekas Zidan tadi??!!' 😳
" gede banget.. Emang di asrama kita ada cewe yang kakinya segede ini?" 🙁
" ehm, itu.." 😰
" Ini kayaknya kaki cowok, deh." 🤔
" iya, kotor banget sih!" 😩
" Naira, apa kamu lihat ada cowok masuk asrama kita sebelum kamu kesini?" tanya Fatma.
'bukan sebelum aku masuk!! Tapi aku yang membuatnya masuk asramaku!!'😫
Keringat dingin mengucur di sela-sela tubuh Naira. Ia mendadak bingung harus memakai alasan apa.
Tok!!
Tok!!
Tok!!
" siapa?" 🙁
" gak tau, tapi suaranya kayaknya aku kenal." 🤔
Semua disana saling menebak karena yang mengetuk selembut itu pasti bukan tetangga kamarnya.
" Assalamu'alaikum Naira, ini Abi.. Buka sebentar."
" Abi Yusuf!!" 😱
Semua santriwati disana gugup segera membereskan ini itu, merapihkan diri mereka.
Klek.
" Eh, Abi. Wa'alaikumsalam." sapa Naira.
" i-iya Abi."
" oh, ya. Jangan lupa kunci asrama kalian kalo lagi keluar, dan sebelum tidur juga." pungkas Abi Yusuf.
" iya Abi, sepertinya asrama putri sekarang kurang aman. Barusan saja kami menemukan_"
" ahh!! Iya Abi! Kami menemukan jejak kaki pria di luar asrama. Ya kan?" Naira berusaha memotong pembicaraan Marwa.
Ia tahu jelas itu pasti jejak Zidan. Karena sepatu Abi nya selalu bersih. Jangan sampai Abi Yusuf tahu, jejak Zidan sampai di kamar Naira.
" ahh, iya. Dia memang sempat berlari ke daerah asrama putri. Tapi tenang saja, dia sudah di hukum sekarang."
" dihukum?" 😳
" ya, itu memang pantas baginya. Biar dia sadar dengan keadaannya saat ini."
" dia diberi hukuman apa Abi?"
" tumben kamu penasaran Naira." 🙁
" er.. Itu.." 😰
" dia akan mengisi bak di kamar mandi umum selama sebulan ini. Kebetulan sekarang musim kemarau, bak air disana selalu surut." 😃
" oh, begitu." 😞
" ya sudah, Abi pamit dulu ya. Abi harus ke rumah dulu dua minggu ini. Umi kamu ngambek karena Abi jarang di rumah akhir-akhir ini." 😅
" iya, Abi. Tidak apa-apa. Naira baik-baik aja kok. Nanti kalo ada apa-apa, Naira pasti hubungi Abi."
" baik, jaga diri kalian baik-baik ya."
" iya Abi.." jawab semuanya.
" Assalamu'alaikum.."
" Wa'alaikumsalam."
Klek.
__ADS_1
" Ra, kenapa kamu barusan gak bilang ada jejak kaki laki-laki juga di dalam asrama kita?" 🙁
Bam! Akhirnya pertanyaan itu muncul. Naira tak habis pikir ia dengan spontan menyela kalimat Marwa tadi. Entahlah, ia begitu takut jika Abi Yusuf tahu Zidan sempat masuk asrama Naira. Padalah ia tinggal bilang saja, mungkin Zidan masuk saat Naira belum di asrama.
" i-itu.. Bisa saja jejak kaki Abi, kan?"
" lho, kok kamu tahu?" tanya Fatma.
" soalnya.. Pas Abi nyari Zi- eh santri itu, aku lagi di asrama. Abi sempat masuk dan menggeledah kamar kita. Mungkin Abi lupa membuka sepatunya."
" ahh, iya juga." 🤔
" jika saja aku sampai bilang ada jejak kaki besar dan kotor di asrama kita, tamat riwayatku!" 😱 ujar Marwa seraya menghela nafas lega.
" makasih ya, Naira." lanjutnya.
" i-iya sama-sama." 😰
Malam tiba, suasana menjadi hening. Hanya desiran angin dan detik jam yang terdengar nyaring. Bahkan sesekali para hewan malam bersahut-sahutan mengisi keheningan malam, hingga fajar tiba.
" hoaam, hari minggu enaknya ngapain ya?" 😪 tanya Fatma saat kami baru pulang dari madrasah.
" bobo." 😴 ujar Ayana.
" kamu emang ratunya tidur, Ayana." 😒
" akhir-akhir ini aku capek banget."
" masa kita gak ada agenda sih?" 😩
" kamu maunya kemana?" tanya Naira.
" ke warung depan, yuk? Katanya ada seblak varian baru lho!" 😃
" beneran? Aku setuju!" sahut Marwa.
" aku juga!" lanjut Shofa.
" Ayana?" tanya Fatma pada Ayana yang masih menyisakan setengah nyawanya.
" sepertinya aku juga perlu mengisi amunisi." 😪
" oke, kita berangkat habis ini!" 😃
" t-tapi, kayaknya.. Aku gak bisa deh, Fatma." 😰
" lho, kenapa?" 🙁
" itu.. Perut aku lagi agak sakit akhir-akhir ini. Aku kayaknya belum bisa makan-makanan pedes dulu deh kayaknya." 😞
" yaudah, ikut aja dulu. Udah disana terserah kamu mau pesen apa. Manu nya gak cuma seblak aja kok." 😃
" gak dulu deh, Fatma. Aku.. Nitip aja, soalnya mau ke toilet dulu. Mules gini takutnya bikin kalian nunggu lama. Dan juga kalo aku sampai kebelet lagi disana gimana?" 😞
" iya juga sih, kamu yang gak bisa pake kamar mandi selain di pesantren dan di rumahmu ini.. Memang merepotkan!" 😑
" yaudah mau nitip apa?"
" sop buah!" 😋
" wokeh." 😑
Sekejap mereka menghilang dari pandangan Naira. Tapi sekali lagi Naira merasa bingung dengan isi kepalanya saat ini.
' kenapa?!!'
' kenapa aku harus sampai bohong seperti ini?!'
' ada apa denganku!?' 😫
Isi kepala Naira :
" pergi, gak?!" 😠
" haish, sekarang aku dianggap kecoa yang di usir dengan sapu." 😑
" 1..!! 2..!! " 😡
" iya!! Aku pergi!! Tapi, aku mau ketemu kamu lagi besok. Di kamar mandi umum, besok pagi jam 7."
" hah?! Kamu gila, ya?!" 😫
" aku tunggu, ya. Dahh!!"
Naira terus memukul-mukul kepalanya. Ia terus tak menyangka dengan apa yang sudah ia perbuat akhir-akhir ini. Membohongi ayahnya, teman-temannya. Tapi entah kenapa, ia begitu ingin tahu. Siapa sebenarnya Zidan ini. Kenapa ia bersikeras ingin kabur dari pesantren? Apa yang membuatnya bisa berakhir disini?
" keluar."
__ADS_1
" N-Naira? Kau disini?" 😳
To Be Continue..