Sudahi Atau Halalkan?

Sudahi Atau Halalkan?
3. Zidan


__ADS_3

ASRAMA.


" ahh, kakiku ternyata malah semakin parah. Apa benar-benar hanya kram?" gumam Naira seraya terus mengelus kakinya.


" Naira?" sapa Fatma yang tiba-tiba masuk asrama.


" lho, kok kamu gak ngaji?"


" aku panik pas nyari kamu di madrasah kok gak ada."


" ya, aku pulang asrama. Kayaknya kaki aku malah tambah parah deh."


" beneran? Gimana kalo diobatin aja?"


" gak usah, paling besok juga sembuh."


" gak usah, paling besok juga sembuh." ejek Fatma.


" aku udah bosen denger kalimat itu." 😑 lanjutnya.


" ya, emang kenyataan nya. Aku kan kalo sakit gak pernah lama-lama." 🙁


" nurut ya.. 😊Di periksa aja kok, gak bakalan ada yang patahin kaki kamu."


" Fatma, kamu kejam banget sih." 😩


" udah, ayo!!"


" Fatma.." 😭


Naira meringis karena digusur paksa oleh Fatma. Bukan sembuh, kakinya malah semakin bengkak. Untung saja Fatma segera membawa Naira ke tukang urut di pesantren itu.


" gimana, nek?" tanya Fatma.


"ini mah salah urat, neng. Harus di urut. Sembuhnya juga gak bisa sehari dua hari."


" beneran, nek?" tanya Naira panik.


" besok nenek ke asrama kamu buat dipijit lagi, ya?" tawar nenek itu.


" gak apa-apa nek, biar saya aja yang kesini. Kasian nenek harus jalan jauh ke asrama cuman buat mijitin saya." ujar Naira.


" jalan kamu juga belum bener, Ra. So' so' an mau datang sendiri kesini." 😑 bisik Fatma.


" kan ada kamu!" 😉


" haish.." 😒


Fatma kembali menyeret temannya itu ke asrama. Namun saat mereka tiba di halaman, Abi Yusuf sudah berada disana.


" Naira? Kamu kenapa dibopong Fatma??" tanya Abi.


" ini.. Aku.. Kram Abi." ujar Naira.


" maaf Abi, saya tidak ingin berbohong seperti Naira. Tapi kondisi Naira cukup serius, ada pembengkakan syaraf di kakinya. Harus di urut selama beberapa hari."


" Fatmaa!!" 😩


" benar Naira?" tanya Abi dengan nada sedikit marah.


" b-benar, Abi. Naira juga gak tahu kenapa bisa begini. Tapi Naira janji, acara dua hari lagi Naira akan hadir kok."


" Naira.. Abi gak khawatir masalah acara itu. Kamu hadir atau enggak, itu pilihan kamu. Apalagi kamu lagi sakit begini, mending istirahat."


" tapi Abi.. Naira ingin hadir, ini acara setahun sekali."


" tahun kemarin kan kamu juga ikut? Masih ada tahun depan juga."


" tetap saja, tahun ini berbeda. Tahun depan juga belum tentu Naira masih ada." 😞


Abi Yusuf menghela nafas karena sifat keras kepala anaknya ini.


" ya sudah, dua hari ini kamu libur dulu ngaji nya. Istirahat di asrama, nurut sama nenek Icah. Jangan banyak berjalan."


" Tapi Abi.. Naira gak mau izin ngaji, juga kasian Nenek Icah kalo diminta pulang pergi pijitin Naira." 😟


" Abi yang izinin kamu, nanti Abi juga yang akan minta santri lain buat antar jemput Nenek Icah ke asrama."


" Abi.." 😰

__ADS_1


Naira bukan anak yang membangkang kepada orang tuanya, tapi ia hanya tak mau mendapat perlakuan istimewa selama di pesantren. Ia tidak mau hanya karena ayahnya pemilik pesantren ini, ia mendapat banyak kemudahan dan keistimewaan.


" Naira nurut, ya.. Kalo santri lain pun yang ada di posisi kamu, Abi pasti akan melakukan hal yang sama." ☺ tegas Abi Yusuf seraya mengelus kepala anaknya.


" iya, Abi. Terima kasih." ujar Naira.


" ya sudah, Abi pamit ya. Dua hari ini Abi pulang ke rumah dulu. Kamu jaga diri baik-baik."


" baik, Abi."


" Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumsalam." jawab Naira dan Fatma.


Kemudian mereka berdua masuk asrama malam itu.


Keesokan harinya.


" baik-baik ya, Naira. Jangan kabur lho.." ☺


" biasa aja, jangan kayak yang lagi negur pacarnya." 😒


" Wah, Naira sama Fatma udah sejauh itu ya hubungannya?!" 😃 canda Marwa.


" tuh, mereka aja udah pacaran. Kita kapan?" 😩 timpal Shofa.


" kalian gila." 😑 gerutu Ayana.


" ciee.. Cemburu nih, ye." 😆 goda Shofa.


" lagian, aku gak mau pacaran sama Shofa. Kan aku udah punya Zidan." 😍


" Zidan, siapa lagi itu?" tanya Naira.


" itu.. Santri baru yang ganteng." 😍 timpal Shofa.


" cepet banget, kalian udah tau namanya." 😑


" ya, iyalah.." 😃


" inget lho, ucapanku kemarin. Jangan terlalu berlebihan!!" 😒


" i-iya, iya.. Enggak kok." 😅


" haish, membosankan!" 😩


" mendengarkan ustadzah Nisa bercerita kayaknya lebih seru." 😟


Naira terus menggerutu seraya membolak-balik kitab untuk mengusir rasa bosannya.


" Assalamu'alaikum. Nak Naira?"


" Nek Icah? Masuk nek, saya di dalam."


Nenek Icah masuk, tapi dibelakangnya ada seseorang yang mengikutinya.


" kamu?!" pekik Naira melihat seseorang yang ternyata adalah..


" si pengintip? Si tukang tidur?"


" haish, kamu lagi.." ujar laki-laki itu memalingkan muka.


" pantas saja Abi Yusuf memintaku mengantar jemput nek Icah selama dua hari ini. Ternyata buat nenek satunya lagi, yang suka kram kalo lagi ngaji."


" aku bukan nenek-nenek!!" 😫


" sudah, sudah.. Kalian anak muda sukanya berantem terus." ujar nek Icah seraya duduk di dekatku.


" ati-ati, dari benci suka jadi cinta lho."


" eh," 😳


" nenek bicara apa, sih. Ada-ada aja." 😒 lanjut Naira.


" nenek benar, jangan terlalu benci sama aku. Ntar cinta lho." 😆 timpal santri itu.


" hush! Aku gak mau ya, jatuh cinta sebelum menikah. Lagipula aku punya prinsip, bahwa aku hanya akan mencintai suami sah-ku saja." 😒


" prinsip neng Naira bagus." puji nek Icah seraya meraih kaki Naira dan hendak mulai memijitnya.

__ADS_1


" ahh!! Nek, maaf bentar dulu ya." potong Naira.


" hey!! Kau!! Kenapa masih disana?"


" jadi, aku boleh masuk asrama kamu?" tanya laki-laki itu sraya hendak masuk.


" ehh!! Jangan!! Maksud aku kamu keluar, tutup pintunya!"


" haish, udah cape-cape gak dibiarin istirahat di dalem juga." gerutu santri itu sembari keluar.


Naira tentu akan sedikit menarik rok nya, agar nek Icah bisa dengan leluasa mengobatinya. Jika laki-laki cabul itu disini maka Naira sudah berdosa memperlihatkan auratnya. Lagipula, ini asrama putri. Dia berani juga gak beranjak dari sini.


" nek, kok bisa diantar santri itu kesini?" tanya Naira.


" nak Zidan? Dia katanya di suruh Abi Yusuf. Tapi dia suka bantu-bantu nenek kok bersih-bersih halaman."


" Zidan? Rasanya gak asing di telingaku." pikir Naira.


Nek Icah lanjut mengobati Naira.


" udah selesai neng. Kalo gitu nenek pulang dulu, ya."


" iya, nek. Makasih ya. Ayo saya antar kedepan."


" gak usah, kaki kamu masih sakit."


" gak apa-apa, nek. Sampai depan pintu aja."


Naira berjalan perlahan mengantar nenek Icah. Di luar asrama, ia malah melihat santri itu tengah tertidur pulas.


" Tidur lagi.." 😑 gumam Naira.


" kasian nak Zidan, pasti kecapekan. Gak tega nenek bangunin dia."


" kecapekan apanya?? Capek bermimpi kali yang ada!" gerutu Naira dalam hati.


" eh, nenek udah selesai?" tiba-tiba Zidan terbangun.


" udah, kamu kalo masih pengen tidur gak apa-apa. Pulang asrama aja, nenek bisa pulang sendiri."


" enggak, nek. Zidan gak tidur kok. Ayo Zidan anter pulang."


" yaudah kalo kamu udah gak apa-apa."


" eh, nek hati-hati. Ntar dia masih ngantuk lho." 😒


" jangan sembarangan, ucapan adalah do'a."


" haish, giliran ceramah aja lancar." 😑 gerutu Naira dalam hati.


" Ayo, nek."


Tak butuh banyak waktu bagi mereka untuk hilang dari pandangan Naira. Sejenak ia berpikir. Kenapa anak itu terlihat begitu sopan di depan nek Icah? Apa mungkin santri se nakal dia pun takut di cap nakal oleh orang tua? 🙁 Ahh, pasti dia selalu membantu nek Icah pun karena suruhan Abi.


" ahh, udahlah. Ngapain dipikir juga." gumam Naira seraya masuk ke asrama.


Keesokan harinya.


Naira masih belum boleh keluar asrama. Itu pinta ayahnya. Tapi entah kenapa ia begitu gelisah semalaman.


" Zidan.. Zidan.. " 🤔


" aku tahu pasti pernah mendengar nama ini, ingatanku lumayan bagus. Tapi Zidan ini siapa ya?"


" lagian, aku gak mau pacaran sama Shofa. Kan aku udah punya Zidan." 😍


" Zidan, siapa lagi itu?" tanya Naira.


" itu.. Santri baru yang ganteng." 😍 timpal Shofa.


" cepet banget, kalian udah tau namanya." 😑


Naira seketika kaget setelah mengingatnya.


" Ahh, tidak.. Tidak mungkin itu 'dia' kan?" 😳


" Assalamu'alaikum, Naira.." ☺


" Zi-Zidaan??!!" 😳

__ADS_1


" Ngapain kamu disini!!" 😫


To Be Continue..


__ADS_2