
Subuh tiba, di dinginnya dini hari para santri mengantri di kamar mandi. Naira masih menggosok matanya, dan baru saja mendengar Adzan subuh berkumandang.
" cepetan Fatma!! Udah adzan subuh, tuh!!"
" bentar, Naira. Perutku lagi sakit. Pinjam kamar mandi lain dulu deh. Kayaknya aku bakalan lama."
" haish, siapa suruh makan camilan pedes nya kebanyakan!" gerutu Naira seraya pergi dengan handuk di kepalanya.
" kamar mandi asrama lain pasti penuh, pakai kamar mandi umum gak apa apa kali ya?" Naira berjalan ke arah belakang pesantren.
" para santri putra pasti sudah ke mesjid, semoga aja kosong." gumam Naira.
Benar saja, kamar mandi umum itu sepi. Memang terpencil, tapi inilah alternatif bagi santri putra yang malas mengantri. Bagi orang yang penakut tidak akan mau sendirian ke kamar mandi umum ini. Tapi Naira adalah orang yang pemberani. 🙃
" sekalian mandi aja, ah. Lagian hari ini pertama ngaji, pasti guru bakal agak telat masuknya." gumam Naira.
Ia mengambil beberapa gayung air dan mengguyur tubuhnya, hingga sepuluh menit kemudian ia kekuar dari kamar mandi itu.
" aaaahhh!!" jerit Naira melihat seorang laki-laki menunggu di depan kamar mandinya.
" kamu siapa??!!"
" ngintip, ya??!!" jerit Naira.
Tapi ekspresi laki-laki itu biasa saja, tidak kaget dengan teriakan Naira ataupun ada rasa bersalah sedikitpun.
" aku laporin pak ustadz, ya!!" ancam Naira.
" haish, baru bangun aja udah kena masalah. Kurang sial apa sih hidup gue??!!" gerutu laki-laki itu.
" awas!!" Naira tak mau menghiraukan masalah itu dan pergi begitu saja.
Hatinya terus merasa kacau dan marah. Sepanjang hari Naira hanya memasang wajah cemberut.
" aku gak mau ke kamar mandi itu lagi!!" 😭 jerit Naira.
" eh, eh, eh.. Ra?? Istigfar, kamu kenapa?" ujar Fatma yang kaget mendengar teriakan Naira.
" Fatma!! Aku harus gimana??!!"
" gimana apanya sii.. Aku gak ngerti lho, Ra.." 😩
" pokoknya kamu harus bantuin aku!!" 😭
" pliss, Ra. Jangan dijadiin kebiasaan, deh. Cerita dulu, baru minta solusi. AKU GAK NGERTI, Ra!" 😭
" aku gak mau cerita.."
" yaudah, jangan." 😑
" tapi batin aku gak enak, Fatma!!" 😭
" Astagfirullah, Raa.. Bebaskan hamba dari derita ini ya Allah.." 😩
" haish, duo ini ribut lagi.." ujar Ayana yang baru masuk asrama.
" hai, guys. Sore ini siap-siap yaa.." ujar Marwa yang baru tiba juga.
" apaan lagi sih.." 😵 timpal Fatma.
" santri ganteng itu sore ini mulai ikut pengajian sore bareng kita!!" 😍 lanjut Marwa.
" masa sih??!!" teriak histeris Shofa yang sama nge-fans nya.
" kok aku ngerasa biasa aja, ya?" 😑 timpal Ayana.
__ADS_1
" awas lho Ayana, sekarang benci entar jadi cinta." 😆 timpal Shofa.
" gak mungkin, cintaku cuman buat baginda Rasulullah SAW. seorang saja. Gak ada ruang buat pria lain!" 😎
" huh! Sombong amat, sih." timpal Marwa tak terima.
" hush! Udah-udah.. Gak baik juga berlebihan memuja laki-laki yang bukan mahram kita." nasihat Naira.
" iya.. Iya.. Kami cuman sebatas kagum aja deh sama salah satu ciptaan-Nya Allah swt." 😍
Sekali saja Naira berbicara maka semua akan menurut padanya, tapi kepada Ayana semua selalu membangkang. Entah kenapa.. Mungkin karena Ayana seorang mualaf, tapi sebenarnya Ayana terbilang santri yang sangat pintar. Tapi dibanding dengan Naira, semua santri dan santriwati pasti menghormati Naira. Yaa, bagaimana tidak.. Dia adalah putri kebanggaan seorang Abi Yusuf al Mardiyah, pemilik Pondok Pesantren Nurul Hidayah. Ya, pesantren yang kini Naira tempati.
" sore kak Naira.." sapa santriwati yang menghampiri dan hendak mencium tangannya.
" ahh, sudah-sudah.. Kita sebaya, jangan sungkan begitu ya? Aku juga santri disini. Lain kali siapa tahu aku yang akan mencium tanganmu." ☺
" ahh, kak Naira bisa saja."😅
Naira memang tidak bisa menolak bahwa darah guru besar pesantren ini mengalir ditubuhnya, pasti semua orang berharap bisa mencium tangan nya. Agar mendapat berkah dari keturunan seorang guru besar. Tapi Naira tidak begitu ingin dihormati dan di anggap istimewa. Ia hanya ingin menjalani hidup seperti santri yang lainnya.
" Naira, jadi anak Abi Yusuf gimana sih rasanya?" tanya Marwa polos.
" rasanya? Ya, tergantung. Kamu mau rasa melon apa mangga?"
" ihh, Naira.. Serius." 😩
" haha.. 😄 Rasanya, ya seperti kamu jadi anak dari ayah kamu. Begitu kira-kira."
" kamu emang gak pernah bisa diajak serius, Ra." 😑 timpal Marwa kesal.
Lalu mereka berlima masuk ke madrasah dan duduk di tempat yang biasa mereka tempati. Membuka kitab dan memeriksa bab apa yang akan dibahas hari ini.
Pengajian berlangsung. Hari ini jadwalnya ustadz Hikam Fauzy. Pembahasannya selalu menarik dan tidak membuat ngantuk. Namun akhirnya pembelajaran itu hanya berlangsung dua jam. Pemgajian sore hari pun selesai dan ditutup dengan adzan maghrib.
" aduh!" Naira merasakan kram di kakinya.
" kenapa, Ra?" tanya Ayana yang masih disana waktu itu.
" kaki aku kram. Kelamaan duduk di posisi yang salah kali, ya.."
" yaudah lurusin dulu."
" malu, ah. Banyak santri cowo." 😩
" sini, geser ke sebelah sini dulu. Aku halangin kamu." ujar Ayana yang kemudian berdiri menghalangi kaki Naira yang diluruskan.
" haish, kram gini udah sering banget aku alamin. Sembuhnya suka agak lama. Gak apa-apa deh Ayana, kamu duluan aja. Lagipula santri cowo kayaknya udah pada keluar semua." gerutu Naira.
" kamu yakin gak apa-apa sendirian disini? Atau mau aku panggilin Fatma?" ujar Ayana.
" gak perlu, aku bakalan baikan kok beberapa menit lagi. Kamu sholat duluan gih, ntar ketinggalan berjama'ah lagi." ujar Naira.
" yaudah kalo kamu gak apa-apa. Aku tunggu kamu di mesjid, ya?"
" iya.." ujar Naira singkat seraya masih mengelus-elus pergelangan kakinya.
" udah kayak nenek-nenek aja, dikit-dikit pegel, dikit-dikit kram." 😢 gerutu Naira.
" emang kamu kayak nenek-nenek. Banyak ngomel!" ujar seorang laki-laki.
Naira terkaget. Ia memeriksa sekeliling, tak ada siapapun disana.
" ahh, mungkin halusinasiku saja. Jikalaupun hantu yaa gak apa-apa." ujar Naira santai.
" mana ada hantu seganteng aku?" ujar laki-laki yang tiba-tiba muncul dari tumpukan karpet dengan mata sayu.
__ADS_1
" aaahh??!! K-kamu??!" pekik Naira kaget seraya langsung melipat kakinya yang semula diluruskan.
" kamu satu-satunya cewe yang banyak ngomel disini selain ustadzah Nisa. Nambah polusi suara aja."
" p-polusi? Kamu bilang suara indah ustadzah Nisa adalah polusi??!!" 😡 Naira marah karena santri ini menghina gurunya.
" t-tunggu.. Kamu.. Kamu kan??!!" Naira mulai ingat wajah sayu laki-laki itu.
" apa?" tanya dia malas.
" yang ngintip aku di kamar mandi??!!" Naira kesal, malu dan marah padanya.
Ia ingat jelas mata kantuknya itu. Kenapa dia harus ada disini? Kenapa Naira harus bertemu dengannya lagi?!
" awas ya, kamu!! Aku laporin Abi baru tau rasa!"
" lapor aja sana!!" 😑
" aku beneran bakal laporin kamu!!" teriak Naira seraya langsung berdiri tanpa ingat kakinya yang masih kram.
" aahhh!!"
Bugh!
Naira terjatuh menimbulkan suara yang lumayan keras. Kakinya menjadi semakin parah, sulit digerakkan.
" kamu ini kenapa, sih?? Udah tau lagi kram kenapa maksain berdiri?" ujar santri itu hendak menghampiri Naira.
" stop!! Stop disitu!! Jangan deketin aku!"
" aku bukan anjing, aku gak najis kok. Biasa aja kali reaksinya!" ujarnya yang kemudian menjauh ke tumpukan karpet wilayahnya.
" tapi kamu juga haram, bukan muhrim!" tegas Naira.
" kalo haram, berarti bisa di halalin dong?" 🤔
" haish, ni anak dari mana sih?" gumam Naira kesal.
" gimana caranya biar aku halal buat kamu?" tanya laki-laki itu polos.
Naira hanya melongo mendengar pertanyaan aneh itu darinya.
" hush! Amit-amit.. Aku gak mau punya jodoh kayak dia ya Allah.." 😖 gumam Naira pelan.
Perlahan kakinya mulai membaik dan ia mencoba berdiri. Tapi langit sudah terlanjur gelap dan Naira tidak akan sempat untuk shalat berjama'ah di mesjid.
" mau aku anter ke asrama?"
" gak!" jawab Naira tegas.
" di luar gelap, lho."
" terus aku yang udah tiga tahun disini, berangkat subuh pulang tengah malem harus takut gitu?"
" oh, santri lama rupanya. Yaudah kalo gak mau." ujarnya singkat seraya kembali tidur.
" hey! Kok kamu gak sholat, sih?" Naira berusaha menegurnya.
" terserah aku, dong! Emang dosaku kamu yang nanggung? Enggak kan?"
" yaudah, terserah!" Naira kembali kesal karena baru kali ini ada orang yang tidak menurut padanya. Ia pun pergi ke asrama dengan kaki yang masih terasa ngilu.
" dasar cewe! Sukanya bilang terserah-terserah mulu. Udah dua kali ketemu dia sial terus.." ujar santri itu yang kemudian terlelap lagi.
To Be Continue..
__ADS_1