Sudahi Atau Halalkan?

Sudahi Atau Halalkan?
8. Jodoh


__ADS_3

" Naira Humaira. Selamat, kamu berhasil menduduki peringkat pertama."


" apa?! Saya pak Ustadz?!" 😳


" iya, usahamu selama ini sudah membuahkan hasil. Selamat, ya.."


" t-tapi pak ustadz.. Bagaimana dengan Hasbi.." 😰


" dia bolos dalam beberapa mata pelajaran, jadi nilainya saat ini tidak cukup untuk mengisi peringkat 10 besar."


Naira masih bertanya-tanya. Ada apa dengan Hasbi Athallah ini? Dia yang memiliki ambisi yang sama dengan Naira. Tapi apa dia sengaja bolos pas ujian kali ini? Tapi kenapa?


Halaman depan madrasah.


" assalamu'alaikum, Naira."


" eh, Wa'alaikumsalam." ujar Naira sopan pada seseorang yang menyapanya.


" selamat, yaa. Kamu mendapat peringkat pertama."


" ahh, iya terima kasih. Kakak juga pasti sangat berprestasi di kelas." ujar Naira memuji laki-laki yang terlihat lebih dewasa darinya itu.


" ahh, maaf aku lupa. Harusnya aku yang memanggilmu kak Naira." πŸ˜…


" ahh, jangan begitu, aku lebih suka jika diperlakukan sama seperti yang lain saja."


" oh, baiklah. Semoga kamu bisa bertahan di posisi itu seterusnya." ☺


" terima kasih, tapi aku tidak begitu menginginkan posisi itu. Asal aku sudah berusaha, maka aku akan bangga pada usahaku saja. Bukan peringkat yang aku dapatkan."


" wah, kamu bijak sekali ya ternyata."


" ahh, kakak bisa saja. Aku hanya asalh bicara." πŸ˜…


" baiklah kalau begitu, saya pamit. Semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan."


" iya, terima kasih sudah menyapa." ☺


" wassalamu'alaikum."


" Wa'alaikumsalam."


Tak lama santri itu pergi meninggalkan Naira. Naira menatap punggung nya dengan perasaan asing. Kenapa baru kali ini ada santri laki-laki yang berani menyapanya? πŸ€”


" Naira!!" 😩


" kenapa Fatma? Ada hal apa sampai kamu histeris begitu??" πŸ™


" apa kamu tahu yang barusan itu siapa?"


" siapa?? Ahh aku lupa menanyakan siapa namanya." πŸ™


" dia peringkat pertama berturut-turut di pesantren kita, Hasbi Athallah!!" 😫


" apa?!" 😳


" aduhh!! Apa saja yang sudah aku katakan padanya barusan?!" 😫


" kenapa kamu gak bilang dari tadi sih, Fatma?!"


" aku mana berani!!"


" terus sekarang gimana dong? Aku jadi malu kalo ketemu dia lagii!!" 😫


" sudahlah, yang sudah terjadi biarlah terjadi." 😩


" haish, pantas saja baru kali ini ada santri putra yang berani nyamperin aku."


" tapi apa kamu tahu Naira, katanya Hasbi sengaja lho bolos pas ujian!"


" lho, kenapa??"


" apa mungkin dia udah bosen berada di peringkat pertama?" πŸ€”


" mana mungkin!! Seorang Hasbi Athallah yang sudah ikut lomba kemana-mana, setiap ujian apapun dia selalu mendapat nilai tertinggi. Kayaknya saat tidur pun dia masih bisa belajar. Mana mungkin ada rasa bosan?" πŸ˜‘


" atau mungkin.. Dia sengaja relain posisi itu buat kamu? Apa dia suka sama kamu Naira?" 😱


" kayaknya kamu ketularan halu nya Marwa dan Shofa deh." πŸ˜’


"aku serius!!" 😩


" udah, ahk. Aku mau ke kantor guru dulu. Ada hal yang perlu aku urus."


" yaudah gih, hati-hati ketemu Hasbi lagi." πŸ˜†


" iihh, Fatma!!" 😫


Naira dengan kesal berjalan menuju sebuah tempat dimana biasa ia kunjungi setelah ujian selesai. Tapi kali ini, mungkin ia bukan untuk menangis dan bersedih. Ia hanya ingin merenung untuk beberapa waktu.


" akhirnya kau datang.." ☺


" Z-Zidaan?!"


" kau kenapa ada disini?!" 😳

__ADS_1


" bukannya kamu yang ngasih tahu aku tempat ini? Apa kamu Amsenia?"


" Asmenia!!"


" Anesmia!!" 😫


" Amensina!!"


" Am-ne-siaa!!" 😭


" kamu aja gak bisa bener, masih berusaha benerin aku." πŸ˜’


" ini semua gara-gara kamu!!"


" lidah kamu kayaknya harus pensiun dulu deh."


" cuman kamu satu-satunya yang gak bisa hormatin aku sedikitpun." 😩


" aku justru seneng mendengar kalimat yang 'cuman kamu satu-satunya'." πŸ˜…


" pergi, aku lagi pengen sendiri!!"


" kamu kan sudah berhasil mendapat peringkat pertama, kenapa masih mau kesini?"


" terserah aku, ini tempatku!"


" bukannya sekarang ini tempat kita?" πŸ™


" kita?? Sejak kapan tempat ini milik kita?! Bukankah aku sudah bilang bahwa saat aku kemari, kau tidak boleh ada disini?"


" yang aku tahu kau tak akan datang karena mendapat peringkat pertama. Tapi nyatanya kau tetap datang." πŸ˜‘


" sudah aku bilang!! Aku.."


" kenapa? Apa yang kau pikirkan saat ini?? Posisi sudah kau capai, mau apa lagi?" tanya Zidan dengan tatapan yang begitu berbeda pada Naira.


" kenapa kau selalu penasaran dengan isi kepalaku?"


" kau sendiri selalu penasaran dengan kisah hidupku."


" baiklah.."


" aku hanya.. Sedikit merasa ada yang salah dengan pencapaianku kali ini."


" kenapa? Bukankah ini yang kau mau?"


" sejak kau bilang padaku waktu itu, aku hanya berusaha semampuku saja. Aku tidak berambisi untuk menempati posisi teratas lagi. Tapi justru sekarang setelah kudapatkan, ada yang aneh."


" apanya yang aneh?"


" ya, si Hasbi itu. Rumornya, dia mengalah untukmu."


" disitulah perasaanku jadi gak enak. Rasanya aku tidak pantas untuk berada diposisi itu, dengan cara seperti ini."


" lalu kau mau bagaimana?"


" aku hanya ingin melampauinya, berdasarkan kemampuan yang aku punya."


" mungkin dia menyukaimu."


" mana mungkin.. Dia sangat populer dan pintar. Dibandingkan denganku.." 😞


" kau Naira Humaira, tidak ada siapapun yang tidak menyukaimu."


" kau selalu asal bicara." πŸ˜’


" aku serius, bahkan aku pun juga menyukaimu."


Naira hanya terdiam. Begitu tenangnya Zidan berkata dia menyukai Naira. Tapi ia tak tahu rasa suka seperti apa itu. Entah kenapa ada rasa mengganjal di hatinya. Tidak pernah sekalipun ia merasakan hal ini. Tangannya gemetar dan jantungnya terus berpacu. Naira tak ingin terjerat terlalu jauh, ini berbahaya.


" aku pergi."


" Naira, tunggu!!"


Naira tak bergeming. Ia terus berlari menjauh. Zidan bingung dengan apa yang sudah ia katakan, hingga membuat Naira seakan begitu takut padanya.


" Naira, padahal aku masih ingin bersamamu disini." guman Zidan.


" tapi aku senang."


" akhirnya aku bisa mengungkapkan perasaanku padamu."


" tapi sekarang aku malah takut kau menjauh."


Asrama Naira.


Naira masih tidak bisa menerima pernyataan Zidan yang dengan santai ia lontarkan. Berharap ucapannya itu hanyalah candaan.


" Ra, kamu kenapa?" tanya Fatma menyadarkan lamunan Naira.


" eh, enggak.. Aku gak kenapa-napa."


" bentar lagi Abi Yusuf bakalan pulang kesini ya??" tanya Ayana.


" kayaknya sih, Abi bilang kan cuman dua minggu." jawab Naira.

__ADS_1


" ini baru rumor sih, yaa.." bisik Shofa.


" gosip dimulai.." πŸ˜‘ Ayana menyela.


" ihh, diem dulu.. Ini ada sangkut pautnya sama Naira." pungkas Shofa.


" hah?? Aku?" πŸ™


" iya! Di pesantren ini tuh udah viral, bahwa Abi Yusuf bakalan jodohin kamu sama Hasbi lho!!" πŸ˜ƒ


" haah?!!" teriak semua orang disana.


" kamu ngada-ngada ya, Shofa?" ujar Fatma tak percaya.


" tanya aja sama Marwa."


" aku awalnya gak percaya sih, tapi pas denger gosip yang sama di ruang guru.. Aku mulai percaya emang kayaknya Abi Yusuf bakalan jodohin kamu sama Hasbi, Ra." πŸ€”


" aku gak mau!!" 😫


" lho, kenapa?!" 😱tanya semua disana kaget mendengar penolakan Naira.


" barusan aku mau bilang ciee, lhoo.." lanjut Marwa.


" Fatma, kamu tahu sendiri kan gimana malunya aku pas pertama ketemu dia?!"


" iya juga sih, tapi lambat laun pasti dia ngertiin kamu juga Ra." ujar Fatma yang malah semakin mendukung gosip itu.


" aku berharap itu cuman gosip!! Pokoknya aku belum mau menikah, aku pengen lebih lama di pesantren ini dulu!" 😫


" yaa, kami maunya juga begitu. Tapi setiap orang dari kita pasti akan menikah satu persatu. Dan mungkin kali ini kamu mendapat urutan pertama."


" masa iya sih Abi mau menikahkan aku secepat itu?" 😒


" lebih baik nanti kau tanya Abi Yusuf sendiri." ujar Ayana membuat Naira berpikir lebih jernih agar tak termakan gosip yang belun tentu benar itu.


Satu minggu kemudian.


" Assalamu'alaikum, Naira."


" eh, wa'alaikumsalam. Kak Hasbi, maaf waktu itu aku gak ngenalin kakak." 😰


" gak apa-apa. Wajar kok.. Aku tahu kamu jarang sekali berkenalan dengan santri pria."


" oh, yaa. Kakak ada apa mengahampiri saya? Ada yang perlu saya bantu?" ujar Naira tak ingin berlama-lama disana.


" ini, aku ada beli souvenir pas lomba di Malaysia kemarin. Semoga kamu suka." ujar Hasbi seraya menyerahkan sebuah jam tangan yang begitu mewah.


" kak Hasbi.. Ini.. Tidak perlu.."


" tidak apa-apa Naira, aku memang sengaja beli ini dari awal buat kamu."


" tapi kak.."


" anggap aja ini hadiah dari aku, karena kamu berhasil dapat posisi pertama." ☺


" dan aku bisa mendapatkan posisi itu karenamu kak Hasbi. Hal itu bukan membuatku bangga, tapi malah membuatku malu." 😞 dalam hati Naira.


" diterima, ya?" tanya Hasbi menyadarkan Naira.


" ahh, iya. Terima kasih kak Hasbi. Lain kali jika aku ikut lomba juga, aku pasti gak lupa beliin buat kak Hasbi juga." πŸ˜…


" iya, aku gak sabar buat hari itu."


" yaudah kak, aku pamit pulang asrama ya."


" iya silahkan, hati-hati dijalan."


" iya, kak. Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikumsalam."


Naira pergi dan Hasbi tak bergeming memandang sosok yang akan segera menjadi istrinya itu.


" tak salah aku berbakti pada guruku, Abi Yusuf benar-benar memberiku sosok calon istri yang sempurna." 😍 gumam Hasbi dalam hati.


Sementara disisi lain.


" jam tangan doang sampai segitu senangnya!!" πŸ˜’


" pantas saja kamu udah jarang ke tempat itu, Naira."


" ternyata rumornya benar, kamu akan segera menikah dengan si Hasbi itu."


" haish, mana bisa aku bersaing dengan pria seperti Hasbi." πŸ˜ͺ


" dadaku rasanya sesak sekali.." 😞


" aku harus apa agar bisa membuatmu terkesan, Naira?"


Ujar Zidan dari kejauhan. Memandang sayu sosok yang ia sukai entah sejak kapan. Gadis berisik yang selalu memandang buruk dirinya. Tapi justru dia, orang pertama yang mempercayai kemampuannya.


" Naira, kumohon tunggu aku sebentar lagi.." pinta Zidan dalam do'anya.


" Zidan, jika kau menginginkanku.. Cepatlah." gumam Naira malam itu juga.

__ADS_1


To be Continue..


__ADS_2