Sudahi Atau Halalkan?

Sudahi Atau Halalkan?
10. Menjauh


__ADS_3

Asrama.


Suasana pesantren masih mencekam setelah pertempuran yang hebat itu. Rasa takut menghantui para santri jika penyerangan akan kembali terjadi. Di sisi lain, Zidan sudah termasuk santri yang harus dilindungi. Tapi di sisi lain, penyerangan itu termasuk urusan personal Zidan sendiri. Entah bagaimana nasibnya sekarang.


" sumpah, tadi aku lihat Zidan keren banget!" 😍 ujar Marwa memecah keheningan.


" keren apanya?! Sampai babak belur begitu so' jagoan banget dia!" gerutu Naira karena dia memang sedikit kesal dan khawatir karena Zidan terluka.


" iya, Naira bener. Kenapa gak manggil polisi aja sih?" bela Fatma.


" emang kamu yakin polisi berani mencegah mereka?" 😒 tanya Shofa tak percaya.


" lah, kenapa gak berani?" 🙁


" mereka berlima belas membawa golok, cerulit dan alat tajam lainnya. Sudah merupakan keajaiban, Zidan bisa keluar dalam keadaan utuh dari sana." timpal Ayana.


" hush, jangan gitu ahk! Lagian kan polisi juga punya pistol. Dengan satu tembakan ke langit saja mereka pasti sudah bubar." ujar Naira.


" nah itu dia." timpal Fatma.


" kira-kira Zidan gimana ya sekarang keadaan nya? Apa mungkin dia akan di keluarkan?" 😥 ujar Marwa.


" gak tau tuh." jawab Shofa.


Naira hanya terdiam. Ia tak yakin untuk pergi ke sana. Ditambah lagi sudah lama ia tak ke tempat itu. Zidan juga tidak mungkin ada di sana, kan? Ia sangat malu setelah Zidan tiba-tiba bilang, bahwa dia menyukainya. Entah rasa suka seperti apa, tapi yang jelas Naira ingin menjauh darinya. Tapi semakin dijauhi, semakin sulit. Cara lain agar ia terbebas dari rasa tidak enak ini adalah, membuat Zidan sendiri yang menjauh darinya.


" teman-teman, aku ke kantor bentar ya?"


" ahh, iya. Nanti pas pengajian gimana?"


" kalian duluan aja."


" oh, oke." jawab mereka.


Naira diam-diam pergi ke tempat itu. Berharap tidak ada Zidan disana. Tapi justru yang ia lihat adalah sebaliknya. Masih dengan sarung yang berlumur darah dan luka di dahi kirinya, Zidan tengah duduk termenung di kursi kayu yang biasa Naira duduki sebelumnya.


" assalamu'alaikum Zidan." 😊


" wa'alaikumsalam, Naira? Ngapain kamu kesini?"


" gak boleh? Kamu lupa siapa pemilik tempat ini?" 😒


" Allah SWT. Kalau enggak, pasti Abi Yusuf."


" udah pinter ya, kamu." 😑


" aku lagi pengen sendiri." ujar Zidan.


Entah kenapa, tapi kalimat itu benar-benar menusuk hati Naira. Se kesepian itukah ganster dari Gandaria ini? Kenapa dia begitu lembek setelah bertarung melawan lima belas pemuda tadi?


" kau terluka, apa itu sakit?" 😟


" kau orang pertama yang menanyakan keadaanku, terima kasih."


" bagaimana orang mau bertanya keadaanmu, kau saja malah bersembunyi disini." 😒


" bagaimana mereka mau peduli keadaanku, setelah bertarung pun semua orang menjauhiku."


Entah kenapa, Naira yang sempat ingin menghampiri Zidan merasa bersalah. Jika saja ayahnya tidak menahan Naira waktu itu. Ia terlalu takut untuk melanggar perintah ayahnya.


" maafkan aku, Zidan."


" tak apa, kalau kau aku paham. Kau calon istri Hasbi, tidak boleh terlihat dekat dengan pria lain."


" Zidan.."


" apa?"


" aku membawakan kotak obat ini untukmu. Aku tidak bisa mengobatimu, tapi setidaknya aku peduli padamu."


" tak apa, itu sudah lebih dari cukup bagiku."


" dan jika bisa.."


" menjauhlah dariku, sebisa mungkin." ungkapku dengan berat.


" aku sudah tahu, kau pasti akan bilang begitu."


" tidak usah khawatir, aku juga akan menjauh sejak aku tahu kau akan dijodohkan dengan Hasbi."


" ini.. Tidak ada hubungannya dengan perjodohanku dan Hasbi."


" tidak usah menghiburku, Naira. Luka luar dan dalam ku sudah sulit diobati."


" aku serius, tidak ada niat sedikitpun dalam hatiku ingin menikah dengan Hasbi. Aku berusaha membujuk Abi, tapi tidak bisa. Bahkan bertahun-tahun pun aku berusaha menundanya, Abi akan tetap menikahkanku dengan Hasbi."


" tetap saja Hasbi menjadi alasanmu, memintaku untuk menjauh."


" bukan begitu, Zidan. Maaf jika aku salah, tapi hatiku mengatakan bahwa kau menyukaiku. Aku takut terjerumus lebih dalam. Aku tidak bisa menjauh, jadi aku mohon kau saja yang menjauh dariku."

__ADS_1


" oh, begitu.." ☺


" kenapa kau tersenyum?" 🙁


" kau tidak sadar apa yang kau katakan?" 😄


" hah? Apa?" 🙁


" kau bilang aku harus menjauh darimu, karena kau sulit untuk menjauh dariku."


" iya, lalu kenapa?" 🙁


" kau polos sekali, itu artinya kau juga punya rasa yang sama sepertiku." 😄


" punya rasa yang sama? Jadi aku juga menyukaimu, begitu?" 🙁


" aduh, kau mudah sekali mengungkapkannya. Aku jadi malu." ☺


" eh! Tidak!! Aku tidak begitu! Barusan.. Aku.." 😰


" sekarang baru sadar? Biarkan saja, sudah keluar juga dari mulutmu." 😆


" cukup! Maksudku bukan begitu." 😫


" iya, iya. Aku mengerti. Aku akan menjauh darimu sebisa mungkin. Ini demi kebaikan kita, benar bukan?"


" iya, begitu." 😰


" lalu jika aku ingin bersamamu, apa yang harus aku lakukan?"


" halalkan aku dulu, baru kau boleh bersamaku."


" halalkan? Apa kau itu haram?" 🙁


" gak gitu juga konsepnya.. Aku memang haram bagimu, dan bagi laki-laki lain yang bukan mahram ku. Tapi aku bukan haram seperti babi, arak dan lainnya."


" oh, begitu. Bagaimana caraku menghalalkanmu?" 🙁


" temui ayahku, itupun jika kau berani."


" begitu saja?"


" ya, jika ayahku setuju. Setelah itu baru kau bertanya padaku."


" aku akan bertanya pada ayahmu nanti. Sekarang biar aku tanya padamu dulu. Apa kau mau aku menghalalkanmu?"


" mau apa tidak?"


" urutannya bukan begitu! Tanya ayahku dulu!!" 😫


" ya, ya oke." 😆


" ingat ya ucapanku ini. Sudahi atau halalkan. Jika kau mau sudahi maka jangan bertemu lagi selamanya denganku. Jika kau mau halalkan, maka menjauh dariku sementara ini demi kebaikan kita. Jikalaupun jodoh pasti akan bertemu."


" kalau begitu aku pilih halalkan."


" jangan dijawab didepanku juga kali!" 😫


" emang gak boleh?"


" ahh, kau membuatku bimbang sekarang. Sudahlah! Aku harus kembali sekarang." ujar Naira hendak pergi.


" tunggu!"


" apa lagi?!" 😫


" apa kau punya pernikahan impianmu? Nanti kita akan jarang bertemu. Aku harus tahu, calon istriku ingin pernikahan seperti apa." 🙁


" aku belum jadi calon istrimu! Aku tidak terlalu peduli pernikahanku akan seperti apa. Aku hanya ingin calon suamiku kelak memberiku mahar surah Ar-Rahman, itu saja."


" surah apa?"


" Ar-Rahman! Sudah, ya! Aku harus kembali. Assalamu'alikum." ☺


" wa'alikumsalam."


Naira menghilang begitu saja. Menyisakan luka dan kebahagiaan dalam satu waktu untuk Zidan. Dia terkadang heran dengan sikap Naira yang sulit ia tebak.


" gadis ini, seakan memberiku kode untuk segera menghalalkannya. Tapi dia begitu bersikeras memintaku menjauh."


" apa memang pria dan wanita tidak boleh sedekat itu?"


" surah Ar-Rahman, ya?" 🙁


" aku yakin surah itu pasti akan sangat panjang." 😑


" seorang Naira Humaira tidak akan memberikan hal yang mudah bagi orang yang mau berjuang untuknya."


" tapi aku akan berusaha." ☺

__ADS_1


" karena dia bahkan tidak lupa, untuk tersenyum saat mengucapkan salam padaku."


" walau mungkin tadi adalah salam perpisahan kami."


Ruangan Abi Yusuf.


Naira benar-benar gugup saat seseorang bilang Abi Yusuf mencarinya. Setelah pertempuran Zidan tadi, Abi pasti melihat dengan jelas bagaimana perubahan sikap Naira. Naira menyesal sudah terlalu jauh melewati batasan.


" duduklah Naira." ujar Abi Yusuf ketika tahu putrinya tiba.


" ada apa Abi memanggil saya?" tanya Naira langsung.


" Naira, apa keadaan asrama putri aman?"


" aman, Abi."


Naira jelas tahu, ini hanyalah basa basi ayahnya agar tidak terlalu terlihat pokok pembicaraan yang sebenarnya.


" Ra, jangan ulangi kesalahan kak Zahra ya?"


Akhirnya pertanyaan yang Naira takutkan itupun tiba. Ia semakin gugup dan takut ayahnya sudah tahu segalanya.


" Naira gak tahu detail tentang kesalahan kak Zahra apa, Abi."


" kamu pasti sudah tahu, kak Zahra tidak mungkin diam saja padamu."


" kak Zahra benar-benar tidak bicara banyak tentang hal itu, Abi. Kakak hanya bilang bahwa aku tidak boleh sampai pacaran sebelum menikah."


" benar, itu poin pentingnya."


" lalu kenapa Abi mengungkit hal ini?"


" Naira tahu bukan zina dan segala hal yang mendekatinya itu adalah haram?"


" i-iya, Abi." 😞


" Abi tidak akan menyalahkanmu, karena masa remaja dan pubertas itu manusiawi. Tapi, Abi sebagai ayahmu berhak bukan untuk mendidikmu?"


" benar, Abi."


" kau akan menuruti keinginan Abi kan?"


" iya, Abi. Selama itu baik untuk saya, maka saya tidak akan menolak."


" baiklah. Jauhi Zidan, bisa?"


" Naira tidak pernah dekat dengan nya Abi." 😰


" Abi tidak tahu dan tidak mau tahu sudah sejauh apa kedekatan kalian. Pokoknya, Abi ingin kamu jauhi santri baru itu. Tidak sulit bukan?"


" tentu tidak, Abi."


" bagus. Tidak akan ada hal yang salah selama kau berniat istiqomah di jalan Allah."


" tapi Abi, Naira punya syarat.."


" apa itu?"


" jika Abi minta Naira menjauh dari Zidan, maka Naira minta jangan dekatkan pria lain juga. Termasuk Hasbi. Bukankah dia juga pria, Abi?"


" ahh, iya baiklah."


" dan Naira tidak ingin ada rumor tentang perjodohan itu lagi. Jodoh Naira sudah diatur oleh Allah SWT. Naira tidak akan menyanggah jika itu memang Hasbi atau bukan. Tapi Naira tidak ingin di sangkut pautkan dengan pria manapun selama itu belum Naira iyakan sendiri."


" baiklah, maafkan Abi ya. Sudah membuatmu tertekan dengan rumor itu."


" tidak apa-apa, Abi. Maafkan Naira juga, sudah mengecewakan Abi."


" tidak Naira, kau anak yang sangat Abi banggakan."


" terima kasih, Abi. Kalau begitu Naira pamit. Assalamu'alaikum."


" wa'alaikumsalam."


Naira keluar dengan perasaan campur aduk. Setidaknya ia sudah bertemu Zidan dulu sebelumnya. Agar dia tidak menjadi salah paham dan terus mengganggunya. Biarlah dia menjauh dulu. Jika memang takdir sudah ditentukan, maka tidak ada yang sulit untuk di wujudkan.


Di sisi lain.


" Naira, apa sekarang aku hanya bisa melihatmu dari jauh?" 😟


" semoga namaku selalu terselip dalam do'amu, seperti namamu yang tak pernah aku lupakan dalam do'aku."


" aku tahu, aku bukan pria baik-baik. Tapi aku akan berusaha yang terbaik, agar pantas untuk jadi salah satu yang mengejarmu."


" yaa, setidaknya begitu."


" tunggu aku, Naira." getir Zidan dalam hatinya. Melihat langkah Naira yang semakin menjauh dan hilang.


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2