Sugar Baby Sang CEO

Sugar Baby Sang CEO
Dicampakan


__ADS_3

***


Siang itu, seorang wanita cantik tampak berdiri tepat di depan seorang pria tampan berkulit putih pucat dengan postur tubuh tinggi ramping, tampaknya pria itu adalah pria dari kalangan klas atas atau sederajat orang berada atau bangsawan.


"Mulai saat ini! Jangan pernah muncul lagi di hadapan ku! Aku sungguh sangat muak dengan mu dan segala bualan mu itu!" Bentak sang pria itu lantang dengan ekspresi tegasnya. Sementara wanita di hadapannya tampak menekuk wajahnya serendah mungkin. Sembari matanya di penuhi cucuran air mata sederas hujan tanpa henti. Wajah sedihnya mengiyaskan luka terbesarnya tanpa harus banyak bicara.


"Camkan itu!" tambah pria itu lagi, seraya mendorong bahu wanita tersebut hingga wanita itu sedikit oleng. Lalu pria tampan itu melewatinya begitu saja. Saat sang pria itu melangkah di belakangnya hendak berlalu, sang wanita malang yang tercampakan itu pun segera berbalik dan Teriak sekeras Mungkin.


"Kumohon, jangan lakukan ini padaku!" pinta sang wanita mencoba meraih sikut pria itu.


Grap! Si wanita berhasil mencengkram sikut sang pria itu. Adegan mendebarkan sekaligus menegangkan di area sepi pinggir jalan siang itu pun membuat sebuah mobil sportif hitam yang tak sangaja melintas di area itu pun tak sengaja berhenti lalu menatap sesaat.


"Hentikan!" teriak sang pria seraya mendorong kasar si wanita hingga terduduk di aspal panas yang terasa membakar itu. Sedangkan pria yang mendorong si wanita itu lekas masuk mobil sportif merah miliknya, karena sedari tadi sang supir tengah membukanya lebar.


Blam! Dengan pelupuk di penuh deraian basah bah hujan deras, si wanita itu pun berusaha bangkit dari keterpurukannya. Dengan kaki tertatih-tatih menahan rasa nyeri akibat jatuh yang tiba-tiba hingga kakinya terkilir. Si wanita itupun berusaha keras mengejar si pria itu seraya berteriak gelagapan mengejar.


"Kaisar, kaisar jangan tinggalkan aku!" teriak wanita itu. Namun pria yang disebut kaisar itu malah melajukan mobilnya sekencang mungkin hingga sekeras apapun wanita itu berlari, ia tak akan pernah bisa menyusul laju kancang mobil tersebut.


***


Tanpa di sadari oleh wanita itu. Ternyata sedari tadi drama dukanya itu di saksikan oleh seseorang pria misterius didalam mobil sport hitam, yang sedari tadi terhenti gegara menyimak kejadian memalukan itu. Pria misterius itu pun menyungingkan bibirnya, pertanda puas ketika melihat adegan yang menurutnya konyol. Ia pun memerintahkan supirnya untuk melajukan mobil itu lekas.


"Lanjutkan secepat angin berembus" pinta sang pria berjas hitam yang ada dalam mobil sportif hitam yang sedari tadi memperhatikan pertikaian berujung pencampakan itu.


Glukk bunyi saliva itu di teguk dengan susah payah oleh sang supir.

__ADS_1


"Ta-tapi tuan, wanita itu tengah berlari dengan tertatih tatih diarea jalan yang akan kita tuju" balas sang supir pria misterius itu. Sang pria berkaca mata hitam itu tampak dingin saat berkata "Tabrak saja, wanita semurah itu pasti saat ini beharap mati..." lirihnya tajam.


Deg! Tiba-tiba saja jantung sang supir mulai memacu kencang setelah mendengar perintah itu.


"Ta-tapi tuan..." Gagap sang supir bimbang. Pria misterius itu murka dan menggebrak kursi belakang kemudi itu keras Brak!


"Apa yang kau pikirkan, lekas tancap gas!" tambah sang pria misterius itu kasar. Sang supir sungguh risih, keringatnya mulai bercucuran ketika mendengar kan perintah brutal dari majikannya.


"Tancap gasnya sekarang! Jika aku sampai telat meetting. Maka kau akan kukuliti hidup-hidup Hingga kau bisa merasakan, betapa perihnya mati dengan cara perlahan" imbuh pria itu. Sang supir pun mulai panik hingga tanpa berpikir panjang, ia pun menginjak pedal gas di kakinya sekencang mungkin.


BRUUUUMMMM! Mobil spot hitam itu pun melaju kencang arah wanita malang itu. Beberapa meter lagi ia akan tertabrak "Injak remnya!" Bentak pria misterius berkaca mata hitam itu sigap. Sang supir pun kaget hingga ia lekas menginjaknya tanpa berpikir panjang


CIIIIIITTTTTTTTTTT! Wanita itu pun berbalik.


Deg! Ia pun terbelalak ketika ia lihat moncong mobil sport hitam terhenti tepat di depan dua lututnya.


Gluk! Saliva sang gadis malang itu terasa seret saat ia teguk sekeras mungkin. Dengan jantung masih mendidih karena kaget ia pun lekas menggeser kakinya untuk menjauhi mobil itu.


Bruuuummmm... mobil kembali melaju pelan melewati sang gadis malang. Namun, saat kaca mobil terbuka. Seorang pria berkaca mata hitam tampak terkekeh sembari berkata "Heh... drama yang memalukan" Ucapan itu terdengar hingga ketelinga sang gadis malang itu. Ia tak bisa berkomentar lebih, sebab apa yang pria itu katakan amatlah benar. Ia di campakan kekasih nya juga ayah dan ibu angkatnya.


Flasback dua bulan yang lalu...


Calista catya adalah seorang anak yang di adopsi keluarga Kusuma, dua belas tahun pernikahan mereka mereka sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda punya keturunan. Hingga pada suatu hari keluarga itu di sarankan mengadopsi anak dari panti asuhan di jakarta sebagai anak pancingan. Saat itu usia Calista berumur dua tahun, namun beberapa bulan setelah mengadopsi Calista. Entah kenapa istri dari orang tua angkat Catya pun menunjukan tanda-tanda ngidam. Dengan berat hati, ibu angkat Catya pun melanjutkan mengurus Catya hingga ia remaja sebab data adopsi telah mereka sepakati. Ibu angkat Catya melahirkan anak perempuan. Hingga umur Catya dan adiknya selisih tiga tahun.


Catya selalu di sisihkan dalam hal apapun terutama, masalah percintaan. Catya dan Kaisar sebelum nya adalah sepasang kekasih bahkan mereka telah bertunangan secara sembunyi-sembunyi di pantai Kuta Bali. Namun setelah pulang dari pantai, hal nahas terjadi. Usai mengantarkan Catya ke diaman Kusuma. Mobil pribadi yang di kendarai Kaishar menabrak pembatas jalan hingga ia hampir terjun ke jurang. Kaisar terluka parah hingga harus di operasi. Catya di salahkan dalam tragedi itu, Catya pun di usir dari kediaman Kusuma.

__ADS_1


Namun dua bulan berlalu, Catya pun kembali ke kediaman Kusuma untuk mem berikatahukan bahwa ia telah berhasil masuk ke perusahaan ternama di Jakarta sebagai wakil asisten CEO. Namun ketika ia sampai di front kediaman itu. Ia malah menyaksikan adegan yang menyakitkan, Kaisar tampak mencium pipi kanan dan kiri Casandra. Casandra adalah adik angkat Catya. Dengan mata membelalak Catya pun melangkah lebar ke arah mereka.


"Kai! Apa-apaan ini! Kenapa kamu malah mencium calon adik iparmu sendiri!" Teriak Catya mendorong dada Kaishar kencang hingga Kaisar terseret kebelakang. Casandra tak terima saat Catya mendorong Kaisar. Casandra pun berbalik menatap Catya Kasar "Apa-apaan kamu kak! Kenapa kamu bicara hal yang tak masuk akal begitu!" Bentak Casandra marah, seraya melangkah ke arah Kaishar yang masih terdiam tampak ke bingung.


"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Casandra lirih, dari raut wajahnya saja Casandra sangat Khawatir pada Kaishar. Casandra mulai meraih sikut Kai dan bergelendong seraya mengibaskan rambutnya ke arah Catya.


"Apa yang terjadi! Casandra, katakan... apa yang sadang terjadi sebenarnya?!" Tanya Catya sedih. Ia bahkan tak percaya, sementara hatinya di penuhi amarah yang tak bisa di jelas kan. Tiba-tiba ia merasa ingin menangis.


"Sayang sebaiknya kita abaikan saja wanita itu. Sudah lama sejak kita berpacaran tiga tahun lalu. Ia memang bernapsu untuk menjadikanmu suaminya. Jadi... berhati-hati lah" Ujar Casandra penuh kelicikan dalam wajahnya.


Apa? Yang benar saja. Kenapa Casandra membalikan pakta yang ada. Bathin Catya menggumam.


"Menjijikan!" Ucap Kaishar seakan-akan ia percaya pada yang di katakan Casandra.


"Tunggu Kai. Yang dikatakan adikku bukanlah hal yang sebenarnya" Pinta Catya mencoba menjelaskan. Namun Kai enggan mendengar ocehannya dan mengabaikannya begitu saja. Beberapa kali Catya mencoba menyakinkan Kai. Namun hasil yang nihil ia dapatkan beberapa kali. Hingga pada akhirnya Catya tetap mendapatkan kata-kata yang menyakitkan dari mulut tajam sang kekasih hatinya.


Flasback Off...


Langkah kaki mungil itu terhenti di sebuah jembatan layang tinggi yang kokoh. Di hiasi tali penyangga yang terbuat dari kawat beton yang kuat.


"Aku tak punya siapapun di dunia ini. Mereka membenciku tanpa sebuah alasan. Tak ada pembelaan yang belarti untuk menolong. Tak ada yang mengharapkan untuk hidup, mungkin mati adalah hal yang tepat untukku" Ucap Catya seraya meraksak naik ke pagar besi penghalang jembatan. Catya di temani amarah dan kesedihan, sebuah kepedihan membuatnya berpikir bahwa malam itu adalah malam yang tepat untuk mengakhiri hidupnya. Di bawah pijakan kaki Catya adalah air tenang yang cukup dalam. Catya akan mati seketika tanpa rasa sakit. Sebab Catya memang tak bisa berenang.


Catya kini telah duduk di pagar tersebut. Pung! sebuah Cemplung terdengar dan menenggelamkan sebelah sepatu Haigh hils milik Catya. Catya tersenyum lalu memejamkan matanya hendak bersiap melompat. Namun sesaat ia dengar bunyi. Tuuuutttt... Catya segera membuka matanya lagi, dilihatnya di bawah sana sebuah kapal pesiar indah hendak melintas di bawah kakinya.


Gluk. Catya makin pedih ketika menyaksikan bahwa pria di atas kabin kapal pesiar itu adalah Kaisar bersama Casandra. Mereka tampak Asyik berciuman panas hingga membuat Catya makin tersulut emosi. Akhirnya, Catya mengindari kapal itu dan mengurungkan niatnya untuk mengakhiri hidup.

__ADS_1


"Aaaaghhhhh! Kenapa Tuhan selalu tak adil padaku?! Hiks Aaahhh huhuhuhuu...." Tangisan nya pecah saat itu juga. Catya hanya bisa membungkuk dengan memeluk tangannya disikut seraya membenamkan wajahnya di balik persembunyian nya itu.


Bersambung...


__ADS_2