
Catya, gadis cantik manis dan imut berusia dua puluh tahun itu tengah menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya, sejak kecil ia memang tak merasakan nikmat dan hangatnya sebuah kluarga, tapi ketika ia di usir dari kediaman kusuma. Hatinya sungguh hancur, tanpa alasan Catya di usir begitu saja, juga ia tahu apa sebab ayah dan ibu angkatnya mengusir Catya, mungkin alasannya anak sah dari kluarga Kusuma lebih pantas menjadi menantu dari kluarga kaya pemilik perusahaan makanan dan pangan terbesar di americca. Di indonessia pun tak terbilang banyaknya. Hingga Catya terpuruk dan larut dalam kepedihan yang tak berujung.
"Hiks... hu hu hu Hiks" Tangisan itulah yang terdengar jelas di tengah ke heningan.
Catya menangis sejadi-jadinya, amarahnya meledak-ledak. Ia sungguh ada dalam fese kritis antara mengakhiri hidup dan balas dendam pada kluarga yang telah mencampakannya terutama Kaishar, meski gara-gara oprasi itu Kaishar kehilangan ingatannya, tapi Catya tak terima jika Kaishar melupakan semua janji manisnya juga sumpah yang telah mereka buat.
"Aaaaaaaagghhhh! Kenapa tuhan selalu tak adil kepadaku!" Teriak Catya mulai berdiri lalu melangkah lebar, entah kemana kaki mungil itu akan membawanya. Malam makin larut, Catya tak tahu malam itu pukul berapa, ia melangkah lebar menyusuri malam. Di terotoan itu beberapa pemuda yang telah mabuk parah itu mulai berdiri dan menghampiri Catya. Tapi Catya yang saat itu di penuhi amarah tampak tak takut apa lagi gentar. Beberapa pria iseng itu bahkan mencoba menggoda dan tampak ingin memakan Catya. Tapi Catya merespon para laki-laki hidung belang itu dengan sebuah tendangan brutal. Ia amat murka hingga saat ia melihat empat pria iseng mencoba menodainya. Ia malah menyiapkan ancang ancang dengan pukulan keras di penuhi amarah.
Buak! Dak! Duess! Tinjuan, tendangan dan pukulan dari Catya berhasil melumpuhkan ke empat pria hidung belang itu. Catya kembali melangkah setelah ia pastikan bahwa ke empat pria itu benar-benar pingsan.
"Maaf, karna kalian datang di waktu yang tak tepat... kalian boleh menikmati pukulan gratis dariku secara cuma-cuma. Selamat mimpi indah" Ucap Catya melempar sebuah balok ke arah ke empat pria iseng itu.
__ADS_1
Tap! Tap! Tap! Malam makin larut dan sepi. Langkah Catya terhenti di sebuah club malam yang tampak mencurigakan. Club tersebut di kerumuni pria-pria aneh berjas hitam dengan earophone di kuping mereka. Catya curiga bahwa mereka adalah gengster. Catya pun mulai mendekati kerumunan itu.
"Berhenti, nona anda mau ke mana?" Tanya seseorang. Seseorang itu adalah pria berjas hitam bagian dari pria-pria lainnya.
"Saya hanya mau minum di dalam" Balas Catya mencari tahu ada apa di dalam sana. Kepala Catya celingukan menyelinap seperti kepala seekor ular kobra.
"Club ini telah di sewa penuh oleh bos saya. Jadi silahkan cari Club lain..." Pinta salah satu penjaga yang bergelombol itu. Catya malah makin curiga. Pikirannya adalah tertuju ke sebuah pembunuhan.
"Ada apa di dalam sana, kenapa saya tak boleh masuk. Apakah kalian sedang merilis vidio asusila ya?" Tanya Caty tak sopan hingga menyinggung beberapa pria berjas hitam itu. Bahkan beberapa pria itu tampak hendak memukul Catya kasar.
"Oh. Rupanya perkiraanku benar. Bahwa di dalam sana ada sebuah pembunuhan ya?" Tanya Catya makin menyulut emosi.
__ADS_1
"Nona mohon pergi sekarang!" Bentak ketua dari gerombolan berjas hitam itu.
"Tapi aku tetap akan masuk!" Catya keras kepala. Catya mulai menendang burung-burung emas milik para pria itu. Duak! Duak! Beberapa pria itu segera memegangi bagian pital mereka dan mulai berguling-guling di aspal tampak sangat menderita.
"A-anda tak boleh masuk" Gagap salah satu dari ke enam pria yang berguling-guling itu.
"Jika kamu melarangku masuk, nasib yang sama akan kau alami. Paham!!" Bentak Catya dengan bola mata nyaris copot dari tempatnya. Pria itu mengangguk "Ma-maafkan saya nona..." Ucap Pria itu ketakutan. Catya pun tersenyum seraya mengangguk-angguk "Anak pintar, kalau begitu... cepatlah berguling seprti mereka, jangan berpikir untuk menyrangku dari belakang. Jika itu sampai terjadi maka Skkkaaattt!" Ucap Catya seraya memertikan jempolnya sebagai pisau dan menebas lehernya sendiri yang artinya mati.
"Ba-baik no-nona" Dengan polosnya. Pria itupun ikut bergeliat-geliat di aspal. Catya kini masuk menerobos bebas ke area Club yang amat sepi. Lampu remang di Club itu tampak meneyeramkan dari pada rumah hantu. Lama Catya melangkah ke area bartender. Akhirnya Catya terpaku menyasikan punggung pria misterius yanh tampak kekar dan lebar tanpa seoarang pramu bartender di sampingnya. Ia bahkan tampak meneguk minuman keras itu berkali-kali tanpa takaran. Catya yang merasa risih itu malah mendekati pria itu tanpa gentar.
Makin dekat dan dekat, aroma pekat yang berbau tak sedap membuatnya ingin muntah, tapi ia tak ingin pusing di kepalanya terus membuat hatinya makin perih. Akhirnya Catya duduk di samping kursi pria itu dan minum bersamanya. Tanpa di sadrari pria itu, Catya mengambil tiga botol minuman keras itu lalu menegaknya lekas.
__ADS_1
Gluk! Gluk! Gluk! Catya tampak kehausan bahkan meski rasa dari minuman itu pahit. Ia tetap meguknya rakus.
Bersambung...