
Saat pintu terbuka, betapa kagetnya Catya hingga ia terbelalak takjub.
"I-ini..." Gagap Catya menutupi mulutnya.
"Silahkan nona..." Ucap salah satu kru.
Di lihatnya ketika pintu itu terbuka, suasana indah mulai terlukis di sana. Arsitektur bangunan ala eropa menghiasi segala sudut ruangan. Ketika masuk Catya di suguhkan dengan ruang tamu yang cukup elegan dan mewah, ruang tersebut amatlah luas. Bahkan Catya tak bisa bayangkan bagai mana bisa ia masuk ke sebuah istana seperti ini.
"Nona, apartemen ini di lengkapi dengan ruangan meeting dan kantor minimalis, juga bioskop mini dan salon pribadi... mari masuk ke sebelah sini, di sana adalah bar pribadi untuk Anda, jika Anda naik ke lantai atas Anda akan di sajikan dengan pemandangan indah yakni kamar Anda menghadap ke barat, di sana laut akan tergambar amat jelas saat pasang surut" Jelas Salah satu kru marketing apartemen itu seraya menunjukkan satu persatu ruangan yang ada di dalam sana. Catya masih saja diam mematung.
"Nona apakah Anda baik-baik saja?" Tanya pria tersebut. Catya belum merespon dan masih terbelalak tak percaya.
"A-air..." Pinta Catya canggung. Kru pun lekas membawanya ke dapur kotor.
__ADS_1
"Silahkan" Salah satu kru pun mulai menyuguhkan segelas air putih untuk Catya. Catya meraihnya dan lekas meneguk nya.
"Apakah Anda Sudah baikan?" Tanya pria itu lagi. Catya pun mengangguk "Ia terimakasih banyak... air itu sangat membantu karena sangat sejuk" Jawab Catya.
"Oh ia, jika Anda haus Anda bisa gunakan kulkas pintar ini. Anda harus membukanya tanpa di tarik" Jelas Pria itu.
"Ta-tanpa di tarik... bagaimana bisa?" Tanya Catya bingung.
Sedangkan pria itu masih memertikan cara membuka kulkas tersebut "Lihat baik-baik... Anda pasti bisa melakukannya, kulkas ini hanya perlu sedikit sentuhan. Cukup di geser oleh satu jemari saja ke satu arah, dan pintunya akan terbuka seperti ini" Jelas pria itu. benar saja setelah ia menggeser kan satu jemari nya layaknya menyentuh touchscreen layar ponsel, pintu lemari pun terbuka secara bergantian. Dan itu sungguh membuat Catya kaget bukan kepalang.
"Baiklah nona, mari lanjut ke lantai atas..." Pinta para kru, tapi Catya lekas berdiri dan menolak "maaf, hari ini saya cukup dulu... soalnya saya sangat lelah..." Jelas Catya mengayunkan tangannya sembari beberapa kali tersenyum bodoh.
"Begitukah?" Tanya para kru. Catya kembali mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah... jika demikian, kami pamit dan undur diri" Jelas para kru.
"Ya. terimakasih atas waktunya"
"Sama-sama nona, kepuasan anda adalah sebuah kehormatan untuk saya... semoga kerasan tinggal di kamar apartemen kami" Jelas para kru, Catya pun mengangguk di iringi senyum pahitnya.
BLAM... mereka pun mulai keluar hingga pintu pun tertutup secara otomatis. Catya mulai melangkah mundur menjauhi daun pintu tinggi itu dan terduduk lemas di sebuah sofa.
BRUK!
"Hiks..." Tangisan mulai menemaninya entah apa sebabnya, tangisanya terdengar menderita hingga sesegukan.
"Hiks... jangan siksa aku seperti ini tuhan, aku hanya inginkan sebuah kebahagiaan bukan sebuah kemewahan yang menyiksa seperti ini... hu hu hu" Tangisan lirihnya kian menjadi, hanya tembok apartemen itulah yang jadi saksi kekelaman hidup Catya setelah jatuh ke genggaman Alexander Keane.
__ADS_1
BERSAMBUNG...