Sugar Baby Sang CEO

Sugar Baby Sang CEO
Mendadak transit


__ADS_3

***


"sayang... kamu baik-baik saja kan?" Tanya Alexander. Catya pun terbangun dengan mata yang sangat sembab.


"Ja-jangan!" Ucap Catya seraya bangun dan menjauhi Alexander. Alexander menatap jelas di bola mata Catya, nampaknya Catya amat sangat takut padanya karna Alexander telah bermain-main dengannya terlalu lama, sampai-sampai Catya pingsan di ranjang apartemen itu karna merasakan sakit dan lecet di area V nya.


"Tenanglah sayang... aku tidak akan melakukannya lagi" Jelas Alexander. Catya mulai melotot senang "Benarkah?" Tanya Catya mulai melukis senyumnya.


"Kenapa kamu nampak begitu senang saat aku bilang demikian?" Tanya Alexander masam.


"Ah... itu... Aku sebenarnya sangat takut pada kebiasaan tuan yang selalu membuat ku lelah" Jawab Catya polos. Alexander kembali manyun tampak tak senang dengan jawaban yang Catya berikan.


"Tentu saja, pasti kamu akan bilang begitu, tapi jika kamu mulai jatuh cinta padaku... Aku yakin, kamu akan meminta duluan sebelum aku bilang ingin kan?" Tanya Alexander menggoda Catya dengan mendekatkan wajahnya ke arah wajah Catya hingga bibir mereka hendak bersentuhan. Tapi Catya sigap menutup mulut Alexander dengan kelima jemarinya, dan sebelah tangannya pun ikut menutup bibir nya sendiri. Alexander melotot, padahal ia tadi sudah menutup matanya karna siap mengecup Catya saat sedang bercanda tadi.


"Apa ini?" Tanya Alexander melotot tajam ke arah Catya.


"Sebaiknya saya istirahat dulu... karna saya terlalu lelah" Jelas Catya masih menutup bibir Alexander. Alexander yang hampir melupakan bahwa Catya kurang nutrisi pun mulai teringat kata dokter dan berhenti menggodanya.


"Baiklah honey" Imbuh Alexander seraya memegangi tangan kanan Catya yang sedari tadi sibuk membungkam bibir Alexander.


"Ah..." Catya tersentak ketika Alexander menciumi satu persatu jemari miliknya.


"Cup... ciuman ini adalah sebuah kenangan untukmu... jika kamu rindu padaku, lihatlah jemarimu yang telah ku ciumi satu persatu ini" Jelas Alexander. Catya sama sekali tak paham padaapa yang di katakan tuan Aneh itu.

__ADS_1


"Rindu? Sebaiknya tidak, saya malah selalu takut jika memikirkan Anda" Jelas Catya menggumam.


"Jahat... ya tapi aku pastikan, aku akan segera kembali" Jelas Alexander terkekeh.


"Segera kembali?" Tanya Catya bingung.


"Oh. Ia aku lupa, kemarin ibuku menelpon... ibu menyuruhku kembali ke Amerika untuk tukar cincin dengan tunanganku" Jelas Alexander, penjelasan itu sungguh membuat Catya tercengang seakan tersambar petir.


'Tu-tunangan...?!' Bathin Catya kaget.


"... jadi untuk beberapa hari ini, kamu akan tenang dan tidur pulas tanpa ada gangguan... paham?" Imbuh Alexander mencubit hidung Catya pelan.


'Tunangan? kenapa aku merasa sesak... padahal aku sungguh tak mencintai pria ini. Tapi kenapa rasanya sangat menyedihkan, seolah aku ini hanyalah wanita bayaran dan pemuas hasrat saja' Bathin Catya menggumam sedih.


"Cuuuup!" Alexander pun kemudian mengecup pipi Catya lembut.


Mendengar kalimat itu, Alexander malah terkekeh "Hahahaha... baiklah, jangan bicara lagi. Nanti aku sungguh patah hati karena kata-kata mu in.Tapi meski kamu tak merindukanku, aku pasti akan sangat rindu" Jelas Alexander kembali mengecup kening Catya lagi.


Cuppp! Ciuman terakhir sebelum Alexander transit dan meninggalkan Catya.


"Kalau begitu, kapan Anda akan berangkat?" Tanya Catya antusias.


"Huuh... kenapa kamu terlihat sangat senang?" Tanya Alexander marah.

__ADS_1


'Tentu saja senang, karna aku akan bebas tugas untuk beberapa hari... Anda kan orang yang Hiper sexs... bathin Catya menggumam, tapi ia tak berani bicara langsung.


"Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik ya..." Jelas Alexander.


"Ummmm" Jawab Catya menangguk.


"Oh. ia... Aku akan memberimu beberapa alat elektronik, jika aku lama... aku pasti akan terus menghubungimu. Jadi jangan lupa menelpon atau mengangkat telpon dariku. Mengerti!" Tanya Alexander. Lagi-lagi Catya mengangguk diam.


"Baiklah, Tio!" Pekik Alexander. Tio mulai masuk kamar Pribadi Catya dengan sekoper peralatan yang di minta Alexander.


"Ya tuan..." Ucap Tio menyerahkan peralatan tersebut.


"Ini... pakailah dengan bijak, aku telah memberikan virus micro cip di dalam alat komunikasi ini. Jadi, jika kamu menghubungi pri lain... aku akan langsung tahu isi Cat dalam ponsel atau pun laptop yang aku berikan ini" Jelas Alexander. Catya yang tadinya senang. Malah jadi murung karna bulu kuduknya telah berdiri saat mendengar penjelasan Alexander tenang sadapan yang ia lakukan.


'Mengerihkan' Bathin Catya.


"Baiklah jika sudah paham... aku berangkat sekarang!" Jelas Alexander.


"Kalau begitu, hati-hati di jalan. Semoga urusan anda di pancarkan dan selamat sampai tujuan" Imbuh Catya. Alexander menoleh dan kembali membalikan wajahnya. Ia mulai menghilangdi balik daun pintu kamar Catya di ikuti Tio dari belakang.


Meski Catya tak mencintai Alexander, tapi tetap saja ada rasa pedih di hatinya. Ia sama sekali tak punya tempat untuk bersandar. Pria yang ia cintai itu akan segera menikahi adik angkatnya, sedangkan Alexander pria yang mencintai Catya malah pergi begitu saja bersama tunangan nya. Dan pasti akan segera menikah, kini hidup Catya hanyalah sebagai simpanan yang tak punya harapan untuk bahagia.


'Hiks... menyesal! Aku menyesali semua ini, aku menyesal telah lahir dan menanggung beban ini sendirian, Kaishar! Kaishar... kenapa kamu tak bisa mengingatku lagi, kamu sungguh kejam... Hiks! Hiks! Tangisan Catya terdengar hingga keluar kamar pribadi nya di Apartemen itu. Suasana hening adalah teman yang nyata untuk Catya dan segala keterpurukan nnya.

__ADS_1


Catya sayang, Catya yang malang...


Bersambung...


__ADS_2