Sugar Baby Sang CEO

Sugar Baby Sang CEO
Surat perjanjian


__ADS_3

Malam penuh kelap-kelip di area taman restauran ternama di Jakarta menjadi saksi bisu sebuah kedekatan antara Alexander Keane dengan wanita simpanan nya yakni Calista Catya. Mereka tampak dingin ketika duduk berdua di area meja makan yang romantis itu.


"Tuan, apakah Anda ingin berdansa?" Tanya pramu saja dan beberapa pelayan yang ada.


"Putarkan aku sebuah musik classical untukku" Pinta Alexander. Pria blasteran timur tengah dan Indonesia itu tampak nya sangat suka berdansa.


"Sayang, apakah kamu mau berdansa denganku malam ini?" Tanya Alexander mulai membuka suaranya, ia menadahkan tangannya pelan di depan wania cantik itu dan berharap sebuah balasan dari Catya. Catya masih dingin dan tak bergeming "Kenapa? Apakah kamu telah menolakku?" Tanya Al sedikit risih. Catya belum bergeming dan enggan menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Al padanya.


"Heh. Sungguh naif" Tambah Alexander mencibir. Al membuang mukanya kesal. Dalam batinnya ia terus menggumam "Apa yang telah ku lakukan hingga membuat wanita ini sungguh dingin padaku. Padahal jika ku lihat seksama, wanita di luaran sana lebih berisi dan bening ketimbang wanita didepan ku, sungguh aku hanya bisa tertarik pada wanita ini. Tapi... wanita ini malah memikirkan pria lain di hatinya, Heh, Kaisar... aku tahu pria itu adalah pria yang ia cintai. Kaishar adalah seorang CEO ternama di kota ini bukan? Aku pasti akan membuat wanita ini tunduk padaku" gumam Alexander dalam hatinya.


CTIK!!! Suara Hentikan jemari mulai terdengar, nampaknya orang kepercayaan Al telah bergegas mendekati kode Jentikan jemari sang tuan muda.


"Ya tuan, apakah ada yang perlu saya lakukan?" Tanya orang kepercayaan Alexander sigap.


"Tio... kau bawa berkas yang ku minta kan?" Tanya Alexander mendelik ke arah Tio seraya menadahkan tangannya ke arah tersebut.


"Berkas perjanjian itu?" Tanya Tio mengulang pertanyaan tuannya. Alexander pun mengangguk "Ya. Surat perjanjian nikah kontrak yang telah ku susun itu..." Ucap Alexander tegas hingga mengagetkan Catya yang sedari tadi melamun, sontak Catya pun bergeming seketika itu.

__ADS_1


"Apa? Nikah ko-kontrak?" Tanya Catya dengan nada tinggi. Alexander pun mendelik ke arah Catya lembut "Ya. Akhirnya kau mau merespon juga ya sayang?" Tanya Alexander lembut. Ia menatap Catya dengan mata sayu dan tangan menahan dagunya anggun.


"Aku akan menolaknya sekarang juga. Jadi jangan pernah memaksaku untuk mengikuti apapun kemauan!" Bentak Catya segera berdiri.


"Mau kemana?" Tanya Alexander marah, ia pun berdiri mengikuti gerakan Catya.


"Aku akan pergi, karena aku sama sekali tak ingin menjadi budak hasratmu yang harus menemanimu seenaknya!' Jelas Catya. Catya mulai mundur lalu berpaling, Alexander mulai tersenyum menyunggingkan bibir tipisnya "Benarkah?" Tanya Alexander mencemooh. Catya mendelik sesaat "Tentu saja, sekarang biarkan aku bebas" Pinta Catya seraya menjauhi meja makan itu.


"Baiklah... jika kau bersikeras pergi meninggalkan ku tanpa sebuah kepastian. Maka bersiaplah membuat kekasih MU menderita..." Jelas Alexander dengan nada mengancam.


Degh! Catya mulai merespon, ia mulai membalikan badannya ke arah Alexander terdiam "Ke-kekasih ku? Siapa maksudmu?" Tanya Catya curiga. Bahkan jantung Catya berdetak kencang seakan takut.


"Hentikan. Apa maksudnya ini? Apakah kau bermaksud mengancam ku?" Tanya Catya marah dan menantang pria itu.


"Hahahaha... mengancam? Apakah ini adalah sebuah ancaman bagimu? Seharusnya kamu bahagia jika aku sendiri yang menghancurkan bisnisnya Hingga luluh lantak bukan?" Jelas Alexander tertawa lepas bahkan terpingkal-pingkal.


"Hentikan!! Apakah menurutmu ini sangat lucu! Kau bahkan tak tahu apapun tentang ku! Jadi jangan berharap bicara macam-macam semaumu!" Marah Catya. Emosinya mulai meledak-ledak setalah Alexander berusaha menjerumuskan Kasihar dalam permasalahan nnya ini.

__ADS_1


"Jika kamu tak ingin membuat pria itu menderita... lekaslah, Ctik! Tio, kemarikan berkas itu kemari. Aku harus segera mengikat wanita ini di ranjang ku seumur hidupnya" Jelas Alexander tegas. Jantung Catya sungguh mendidih di tambah amarah yang berapi-api dalam hatinya.


Tio mulai menyerahkan berkas tersebut "Duduk lah, lalu baca dan tanda tangani setelah nya" Jelas Alexander seraya menyerahkan berkas tersebut ke arah Catya. Catya yang marah hanya bisa pasrah. Sedangkan kepalan tangan tangannya ia sembunyikan di balik punggung nya.


"Ayo duduk" Tambah Alexander. Catya hanya bisa pasrah dan mulai menuruti kehendak Alexander.


Catya duduk tepat di depan map polos. Beberapa lembar berkas putih bertuliskan pasal perjanjian tengah berjejer dan menunggu di baca sang wanita cantik itu. Baru beberapa bait matanya mencerna sebuah tulisan yang ada. Ia mulai membelalakan matanya lebar dengan exspersi kaget setengah mati.


"Apa ini?" Tanya Catya risih. Alexander tersenyum licik "Itulah perjanjian yang harus kamu patuhi" Jelas Alexander menatap wanita itu makin dekat.


"Ini sungguh konyol! Semua perjanjian yang ada disini semuanya adalah hal yang menguntungkan untuk sebelah pihak dan merugikan pihak yang lainnya" Bantah Catya menolak.


"Jawaban dari komentar mu itu cukup Ya. Dan tak ada sebuah penolakan, atau... hanya dalam Setu malam saja, kelurga Kaishar de Bosco akan hancur tak tersisa" Ancam Alexander.


Gluk! Lama berfikir, Catya mulai memejamkan matanya. Dalam pikirannya malah terlintas sosok Kaishar yang dulu pernah menyayanginya. Akhirnya dengan berat hati, Catya mengambil pilihan yang amat berat baginya.


Kini setalah tanda tangan nya terlukis di perjanjian itu. Hidup Catya tak lebih dari sebuah boneka pemuas hasrat sang tuan muda. Malam itu Catya telah sah menjadi istri kontrak sang tuan muda kejam dan angkuh sejagad raya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2