
Bangun tidur. Kulit kami bentol-bentol akibat di serang nyamuk
"Coba kau meninmbang berat badan. Mungkin berkurang setengah kilo" gurau Nancy
"Jika seperti itu. Orang-orang tidak akan diet dan menyerahkan diri nya kepada nyamuk"
"Diet jalur donasi" kami berdua cekikikan.
"Yah setelah sarapan. Kita menanam serai agar nyamuk berkurang" kataku
Perut Nancy sudah keroncongan tapi aku tidak memiliki bahan makanan di kulkas kecuali telur dan susu. Aku mengajaknya panen sayur di rooftop. Selada hijau yang segar, tomat mengkilat, sawi, pak coy, cabe-cabean, terong dan lain sebagainya ada disini. Kami memanen secukupnya untuk di masak. Agar sayuran selalu segar.
"Sebagai orang komersil, kenapa kamu tidak menjual sayuran? "
"Belum terpikirkan oleh ku. Okay akan aku masukan ke dalam list"
Di dapur Nancy mencuci sayuran dan menggoreng telur, selebihnya aku yang memasak
"Daripada kamu membeli telur, kenapa kamu tidak beternak saja"
"Ide bagus. Aku akan beternak ayam, sapi, domba.. "
__ADS_1
"ikan sekalian"
"Ya rasanya seperti memainkan game farmer atau harvestmoon" aku tertawa
Selesai sarapan Nancy tidak henti-hentinya memandang lukisan suram ku. Lukisan seikat bunga baby birth yang layu. Ikatan talinya tergantung pada sebuah paku. Bunga sama sekali tidak menyentuh air. Ketika ada aliran air di bawahnya yang tumpah dari sebotol anggur merah.
"Kenapa aku sedih sekali" ucap Nancy
"Boleh kah aku membelinya? " ia tertarik
"Itu tidak dijual atau diberikan kepada siapapun" jawabku
Itu lukisan di hari aku mengingat kejadian di pernikahan Clara. Menggambarkan cinta yang obsesif
Di saat aku tersenyum kepada Sav. Ia memutar kepala nya ke samping, memberi isyarat mengajak ke suatu tempat. Tempat yang sepi.
"Sebentar yaa.. seperti nya aku perlu ke belakang" ucapku menghentikan obrolan kemudian menghampiri Sav
Kami berjalan agak jauh menghindari keramaian.
"Apa kabar? "
__ADS_1
"Kamu berani menanyakan itu? " aku tertawa sinis
"Setelah malam-malam yang dulu pernah kita lewati. Aku merindukan masa itu. "
"Kamu gila yaa" Aku berusaha tetap waras untuk mendengar kalimat nya
"Aku minta maaf" Ia sudah mengatakan nya berulang kali sedari dulu. Aku menghela napas
"Rasa sakit, dibalas maaf. Apakah itu adil? " tentu saja itu bukan pertanyaan
"Setelah melihat kau baik-baik saja. Aku semakin membencimu" aku tersenyum lagi
"Kenapa kau tersenyum ketika mengatakan hal-halnyang buruk" ia terheran
"Kenapa kau meminta maaf? sudah jelas-jelas itu tidak merubah apa pun. Mengatakan maaf adalah dosa besar bagi mu! " kata ku ketus
Aku adalah orang yang tidak pernah menyia-nyiakan perasaan ku. Dulu kita sering bersama. Aku menyatakan cinta tapi maaf jawabnya. Tapi sahabatnya berkata bahwa dia mencintaiku. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia meminta ku menunggu tanpa mengucapkannya. Tetapi satu hal yang perlu di ingat. Laki-laki adalah makhluk sederhana, jika dia tidak memperjuangkan mu berarti dia tidak mencintai mu.
"Yang perlu kau ingat. Aku terpuruk karena mu. Aku menjadi yang sekarang ini, bukan karena mu. Bukan memperbaiki masa lalu. Bukan karena ingin menunjukkan diri ku kepada yang lainnya. Melainkan karena aku membutuhkan diriku sendiri" aku menegaskan
"Tolong jangan cintai aku. Lagi pula ini sudah bertahun-tahun" pinta nya. Mata nya berkaca-kaca
__ADS_1
"Siapa kamu berani menyuruh ku? Siapapun yang aku cintai itu bukan urusan mu. Lagi pula aku tidak bisa melakukan hanya karena aku ingin. Cinta bukan hal yang bisa dikendalikan.. Jadi tolong jangan berharap aku bahagia, jika kamu alasanku terluka"
Hujan menuntaskan kami malam itu. Aku meninggalkan nya begitu saja, buru-buru ke toilet. Sebelum aku menjadi mermaid dan air mata keluar dari pelupuk. Sedih sekali