
Di pertemuan ke dua perkuliahan. Asty memilih kursi yang sama. Laki-laki di belakang terus berusaha mengusiknya. Ia mendorong ke atas kursinya dan menurunkan nya. Seperti itu berulang kali. Asty menoleh ke belakang. Menatapnya dengan wajah datar. Dan kembali sibuk dengan dunianya lagi. Karena merasa terganggu. Akhirnya Asty pindah ke baris paling belakang, di samping laki-laki yang mengusilinya tadi. Asty menatap matanya yang kecil tetapi ia memiliki tangan yang besar. Ia meraih sarung tangan lelaki itu dan mengenakan nya.
"Ini besar sekali" Asty keheranan melihat tangan mungil nya tenggelam di sarung tangan itu.
"Kau salah menggunakan nya" lelaki itu menggenggam tangan Asti dan melepas kan sarung tangannya.
"Kau harus menaruhnya disini" ia menunjukkan tangannya yang besar
"Kenapa tangan mu besar sekali? " Asty membandingkan dengan tangan mungilnya. Lelaki itu mengenakan sarung tangannya lagi. Mereka saling bertatapan
Sampai detik itu pun mereka belum saling memperkenalkan diri. Meskipun Asty mengetahui, Sav adalah nama lelaki itu. Mahasiswa lain yang memperhatikan kelakuan mereka hanya berdiam saja. Hanya ada satu orang yang batuk-batuk dengan sengaja.
Sore hari nya, karena masih ada berkas yang perlu di urus. Asty pergi ke kantor Fakultas. Di lobby ada dua orang laki-laki yang tidak asing. Tentunya mereka adalah teman sekelasnya. Sav dan soulmate nya, Zayan si humoris.
__ADS_1
"Hai cewek! " sapa Zayan, sejak awal kuliah ia memang banyak tingkah. Dia seperti happy virus di kelas. Meskipun agak genit ke teman-teman Asty yang cantik.
"Hai Zayan! Hai Sav! " Asty terhenti menyapa mereka. Baginya sangat mudah menghafal semua nama teman di kelas dalam satu pertemuan.
"Mau ngapain? " tanya Zayan, sementara Savi hanya tersenyum
"Mau ke Fakultas nih, ngurus berkas. Kalian sendiri ngapain disini? "
"Biasalah cari Wi-Fi" jawab Zayan lagi
"Nggih monggo-monggo" kata nya dalam bahasa jawa, yang artinya silahkan
Dalam hati, Asty ingin mengobrol dengan Sav. Namun Sav tidak mengajaknya berbicara.
__ADS_1
Hari-hari berlalu. Sav selalu datang ke kampus terlambat dan mengantuk. Dalam sekejap ia tertidur di kelas dan terbangun ketika jam kuliah selesai. Asty mengamatinya dari kejauhan. Ia melihat Sav tampak kelelahan. Sav bekerja sekaligus kuliah. Sinar matahari menyinari wajahnya dari celah jendela. Asty berharap bisa menutupi nya dengan buku atau jaket nya. Entah kenapa perasaan nya sangat sedih.
Tidak ada seorang pun yang memahami nya. Bahkan dirinya sendiri. Semester 1 telah berakhir. Tidak banyak interaksi yang terjadi antara mereka. Terkadang Sav mencoba mengobrol dengannya. Namun Asty hanya melihat matanya dan terdiam. Asty seperti mengetahui sesuatu yang tidak dapat diungkapkan. Sepulang kuliah ia selalu menangis sendirian.
Waktu berjalan begitu cepat. Semester 2 sudah berakhir. Dan Asty tidak pernah bertemu dengan Sav lagi.. selama semester 2 mereka jarang bertemu. Sav hendak mempersiapkan sesuatu. Sav pindah Universitas dengan jurusan yang diinginkan. Sebelum pindah..
"Cowok gila" kata Asty. Sav hanya tertawa
"Aku ini laki-laki" kata Sav
"Setelah lulus dari sini. Aku akan jadi apa? Teknik masa depan nya jauh lebih jelas. Gaji ku nanti 80jt" katanya dengan percaya diri.
"Lagi pula masih satu kota" tambahnya.
__ADS_1
Asty memasang muka masam, tidak menghiraukan nya. Sav menyenggol-nyenggol sikunya yang terlipat tapi tidak tidak digubris.
Asty bukan siapa-siapa. Ia tidak memiliki hak apapun. Ia juga tidak memiliki hak untuk berharap. Diam satu-satunya yang bisa ia lakukan. Untuk pertama kali nya ia menyukai seseorang tapi terlalu sulit. Saat ini sulit untuk di jelaskan. Sampai penulis merasa baik-baik saja