
< POV Nancy >
Carel sudah seperti kakakku sendiri. Aku menyayanginya sebagai adik, meskipun dia hanya anak dari kolega ayahku. Rumah kami berdekatan. Kami selalu pergi ke sekolah dan belajar bersama-sama dari kecil. Aku mengaguminya karena dia kakak yang pandai, hangat dan ceria.
Suatu hari di sekolah, di bangku SMA. Saat bermain voli dengan teman-teman. Entah kenapa bola yang ku smash terpantul jauh hingga ke kebun belakang. Aku mencarinya ke semak-semak belukar. Di bawah pohon-pohon pinus aku terus menunduk mencarinya. Tidak mungkin lenyap begitu saja. Tidak lama aku menemukannya di samping gudang lama yang terbengkalai, karena pihak sekolah baru saja membuat gudang yang baru.
Tiba-tiba.. gubrak. Suara itu berasal dari Gudang. Aku mengintip dari celah. Rupanya itu suara lemari reyot yang rubuh. Dan yang menyebabkannya adalah Kak Carel dan ketua OSIS yang aku sukai. Aku sendiri tidak yakin dengan emosi ku kala itu. Sedihkah? Kecewakah? Marahkah? Atau menganggap ini seperti lelucon. Apa aku harus tertawa? Hatiku patah tak terkira. Cinta pertama dan orang yang amat kusayangi ternyata gay. Aku cepat-cepat kembali ke lapangan. Sebelum teman-teman menyusulku kemari.
“Kenapa kamu lama sekali?!” protes mereka
“Maaf tadi masih ada sedikit insiden” ucap ku meringis
__ADS_1
“Kenapa mata mu memerah? Kau menangis?” aku tidak menjawab pertanyaan mereka. Dadaku terasa sesak.
“Aku mau ke kamar mandi dulu. Kalian lanjutkan saja permainannya” kata ku terbata-bata
Kejadian hari ini kusimpan rapat-rapat. Aku tidak pernah menceritakannya kepada siapapun, termasuk keluarga atau sahabatku.
Waktu berjalan dengan cepat. Kak Carel sudah berkuliah dua semester di Kampus Swasta terbaik dengan uang pangkal seharga mobil mewah. Aku baru saja lulus SMA. Ayahku merupakan pembisnis kertas. Ia juga pemilik surat kabar ternama. Sayangnya kini usaha kami tidak berjalan dengan baik. Kebutuhan sudah berubah. Setiap orang lebih memilih gadget daripada media non digital. Hampir semua pabrik milik kami terpaksa gulung tikar.
Weddingdream yang diimpikan banyak wanita. Resepsi kami begitu eksklusif. Diadakan di hall bintang tujuh. Ada puluhan stan makanan dan minuman dengan brand kelas atas. Sesuai permintaan ku. Pernikahan ini berkonsep Van Gogh. Selain dekorasi mind mapping starry night. Ada juga lahan bunga matahari untuk berfoto para undangan. Walaupun tidak bahagia, tetapi semua tampak sempurna. Kami tersenyum pada setiap tamu yang datang.
“Selamat yaa.. istri mu cantik sekali” puji kolega-kolega
__ADS_1
“Perempuan secantik ini memang harus segera dinikahi. Sebelum di ambil yang lain” jawab ibu mertua sambil tangannya mengisyaratkan berbisik. Kemudian mereka saling bersenda gurau.
“Hadirin yang berbahagia.. ini dia saat yang ditunggu-tunggu” suara MC menggelegar
“Penampilan dari Isyana Saraswati!!”
Semua mata teralihkan ke panggung hiburan. Terpukau dengan nyanyian sang bintang. Walaupun ini bukan keputusan yang tepat. Aku cukup menikmatinya.
Malam yang panjang sudah berlalu. Kami berdua kelelahan setelah seharian menjadi manekin bergerak. Kami tidur di kamar yang terpisah. Aku tidak pernah menanyakan perasaannya. Apakah pernikahan ini yang ia inginkan? Apakah ini solusi terbaik? Kami tidak bermusuhan. Hanya saja aku tidak enak untuk menanyakannya. Yang aku tahu dia hanya sangat patuh pada ibunya.
Rumor bahwa aku hamil duluan sudah tersebar kemana-mana. Orang-orang mengira itu alasan kenapa kami menikah di usia muda. Mereka tidak tahu bahwa sampai detik ini tidak ada yang terjadi. Apakah ini suatu hal yang melegakan bagiku?
__ADS_1
Kembali ke masa sekarang. Waktu itu ibu Carel meminta kami untuk melanjutkan keturunan. Wajah ku memucat. Carel juga menolaknya. Konflik ini cukup berat. Aku tidak sanggup lagi. Kemudian ponselku berdering. Rupanya itu telpon seseorang dari masa lalu ku.