
Sejak kejadian itu. Aku memutuskan untuk memulai kehidupan baru dan kembali ke kampung halaman. Sebagian bisnis ku di beli oleh August. Dan sebagian kecilnya kuserahkan pada Pram, teman baik ku. Nancy yang paling sedih dengan kepergian ku. Namun jika tetap di kota itu. Aku takut suatu saat bertemu dengan Sav lagi, karna sebenarnya kita di kota yang sama. Terlalu menyakitkan rasanya menggenggam sesuatu yang tidak ingin digenggam.
Di Desa aku membeli beberapa lahan. Aku berencana bercocok tanam dan terjun ke dunia ekspor. Jika gagal, ini juga hal yang aku sukai.
"Ini pak suguhannya, silahkan di nikmati" ibu membawakan makanan untuk tukang yang mengerjakan kebun ku
"Itu pipa kecil di atas buat apa? " tanya ibu sambil menunjuk
"Itu alat semprot otomatis. Jadi kita gak perlu siram-siram" aku menjelaskan
"Canggih yaa"
"Dulu kamu sering beli tanaman tapi nggak di siram. Sampai ibu yang nyiram" imbuh nya
"Iya makanya aku bikin yang otomatis"
"Mau kamu tanami apa ini lahannya?"
"bunga"
"buat apa kok nanem bunga. Nanam itu ya pohon, sayuran.. Kalau bunga nanamnya dikit aja" nasihat nya. Aku tersenyum
Jarak rumahku dan orangtua tidak jauh. Aku bisa mampir kesana kapan saja. Aku ingin memiliki kehidupan seperti di disney ghibli yang alamnya tampak menawan. Sayangnya cartoonist tidak menggambar pasukan nyamuk disana. Sedangkan di kehidupan nyata,
Kretek kretek cetaz
Suara raket nyamuk memecahkan keheningan malam.
Bip bip.. Vidcall dari Nancy rupanya
"Halo! "
"Gimana hari mu"
__ADS_1
"Lumayan seru tapi terkadang membosankan. Kau sendiri bagaimana? " aku balik bertanya
"Sementara aku banyak menemani Carel. Dia sekarang juga menjadi model ku" Nancy tampak sumringah
"..Oh iya aku ingin melihat rumah mu" sambung nya
Aku berkeliling menunjukkan bagian-bagian rumah mungilku. Rumah ku hanya terdiri dari satu kamar tidur, satu kamar mandi, ruang ganti, ruang kerja, dapur, ruang laundry, garasi dan rooftop.
"Tunjukkan padaku halaman rumah mu" ia memohon
Aku membuka pintu dan terkejut. Nancy sudah berada di depan halaman. Bagaimana bisa? Aku menggodanya dengan menutup pintu.
"Hey! Jangan tinggalkan aku di luar" rengeknya
"Apa yang membawamu kemari? " Aku membuka pintu lagi, kali ini membiarkan nya masuk.
"Keadaan Carel sudah membaik. Dan aku merindukan mu"
"Aku juga" kami berpelukan
"Ya jika mengalami kesulitan. Aku tinggal kembali ke tempat asal ku" ia cekikikan
"Oh iya. Ini titipan dari Pram" bingkisan berbentuk hati. Wajahku muram
"Kenapa kamu terus menolaknya? Dia pria baik" Nancy keheranan
"Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ada perasaan saja terhadap nya"
Teringat kejadian satu tahun lalu
Kami hendak mengerjakan projek berdua di cafe langganan. Tidak lama Pram mengatakan ingin ke kamar mandi. Namun ia tak kunjung kembali. Aku menelponnya karna ada hal yang perlu ditanyakan di project tersebut.
__ADS_1
"Pram"
"Keluar lah"
"Hah?!" aku kebingungan
"Keluar ke halaman cafe" pintanya, aku menuruti
lilin-lilin menyala berbentuk hati. Pram meminta ku melompat masuk ke dalam hati yang ia buat. Ia menyanyi kan lagu 'Blackstreet - in a rush' sambil membawa bunga. Semua orang memandang ke arah kami. Tidak sedikit yang mengabadikan video ini untuk bahan konten.
Aku menerima buket pemberian nya. Beberapa penonton wanita berteriak histeris. Lagu mencapai akhir lirik. Pram menurunkan satu kakinya. Ia bahkan memberi ku cincin.
"Are u wanna be my last? "
"Yes" jawabku datar
Kami saling memasang cincin satu sama lain. Orang-orang bersorak kegirangan. Aku mengajak Pram agar segera pulang dari tempat itu.
Di mobil,
"Pram" kataku serius, sambil mengembalikan cincinnya
"Tadi aku baru saja menyelamatkan mu dari social judging. Maaf"
"Why? "
"I don't have love for you. Please stop it! Sorry, I just wanna be your friend"
"Apakah ini tentang Sav"
"No! Sav tidak ada hubungannya sama ketertarikan ku dengan orang lain"
"Aku bisa berusaha menjadi seseorang yang kau inginkan"
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak ingin kamu menjadi orang lain dan itu tidak akan pernah terjadi"
aku beranjak dari mobilnya, dan menghentikan taksi yang lewat. Aku sangat mengenal diriku. Aku tahu kapan hatiku berdebar dan tidak sama sekali