Sunshine For The Vampire

Sunshine For The Vampire
Ch. 15 - Rahasia Blood Stone


__ADS_3

Hanya Blood stone.


Menurut buku kuno di perpustakaan Duke Hart, terdapat tiga jenis batu yang bisa menjadi medium.


Blood Stone dimana tercipta dari darah vampire yang dikumpulkan dengan sihir pemiliknya.


Blood Polize yang mampu menyimpan ingatan serta keinginan pembuatnya dengan syarat terpenuhnya perintah, barulah penemu atau pewaris layak mendapat kekuatan.


Black Blood dengan segala kekuatan perusaknya yang akan membawa kehancuran seluruh ras yang menyentuh maupun menggunakannya tanpa persetujuan.


Dengan Blood stone ditangannya, Alette sekali lagi melihat bayangan kejadian masa lalu. Kali ini dia melihat seorang wanita yang memohon pada pria yang tampaknya adalah kekasihnya.


Gadis itu di ikut sertakan dalam ritual oleh suatu keluarga dengan tujuan ngambil simbol dalam bentuk pusaka kepercayaan mereka.


Dalam menjalankan ritual, Pria muda itu menciptakan simbol secara detail dan lengkap sebuah pentagram untuk kepulangan senjata klan pria yang dia cintai.


Mereka percaya bahwa dewa mereka ini akan membantu mereka dalam menjalankan pemerintahan, maka dari itu mereka juga butuh simbol itu sebagai pelengkap.


Sayangnya, ketika jiwa yang terpanggil telah muncul, dia meminta pengorbanan darah seorang anak dari klan pemilik senjata ajaib, kemudian anak yang terpilih itu ingin di ambil oleh mereka, namun Gadis itu meminta pertukaran dengan darahnya.


Disitulah awal mula penderitaannya.


Setiap malam bulan purnama muncul dilangit. Kekasihnya akan menemuinya dan meminta dia untuk semangkuk kecil darah. Terdengar suara jeritan penuh rasa sakitnya dan itu membuatnya melupakan segalanya.


Dengan melolong marah, dia ingin terbang menuruni tangga siap untuk mencabik-cabik penyiksanya, sayangnya tubuh rapuhnya terikat oleh rantai perak dan pentagram merah darah.


"Apa salahku hingga kamu perlakukan aku seperti ini, apakah salah aku mencintaimu?."


" ... " Tiada jawaban terucap dari mulut pria itu.


Beberapa menit kemudian sebuah tongkat perak terbang melintas di udara, membuatnya benar-benar terkejut saat belati itu menusuk jantungnya.


Daging fananya yang lembut begitu rentan terhadap kebencian inkuisisi, setiap napasnya tersekat seakan terputus-putus di telinganya saat dia berjuang menahan rasa tersayat-sayat pisau. Dia seharusnya tidak pernah kembali untuknya.


Dia telah memimpin iblis ke pintu yang dia jaga. Dan hadiah yang dia dapat adalah setiap potongan pisau, atau daging yang terbakar air suci yang dia rasakan itu merupakan pemberian kekasihnya.


Dia, Vampire Origin pertama yang jatuh cinta pada manusia. Belum mengenal kejamnya perbedaan antara manusia dan vampire.


"Kalian semua akan mati" desisnya, saat angin bertiup di sekitar gereja yang sederhana, lilin-lilin berhembus saat matanya yang bersinar menatap pria itu.


"Kegelapan selalu kalah dengan cahaya."


"Cahaya palsu apa yang kamu banggakan oh, Pope !! Kalian hanya manusia rakus yang ingin hidup abadi tanpa mau dipanggil iblis ! Apa hak kalian memburu klanku !!."


Pendeta Pope tersebar ke segala arah. Ketakutan, mereka bahkan tidak berani mendekati teror yang terdengar dalam tangisannya berikutnya.

__ADS_1


"Pantaskah kalian menjadi pengikut cahaya disaat kejahatan itu kalian lakukan sendiri dengan mengalirkan darah di tangan kalian?."


"Setidaknya kami bukanlah monster sepertimu. Terlahir dari kegelapan dan terbuang oleh tuhannya."


"Ahahahaha ... lalu apa yang kalian lakukan saat ini, memakan daging dan meminum darahku ? Apakah kalian yakin tuhan kalian akan menerimanya?."


Tubuh para pendeta semakin gemetar. Hati mereka menciut takut akan kenyataan namun keinginan akan hidup abadi membutakan mata hati mereka.


"Keadilan macam apa ini."


Tangis gadis itu meraung di tengah bisikan angin dingin hari itu. Tanah bergetar seakan ikut merasakan deritanya.


Kemudian dia berbalik dan menatap Alette dari posisinya yang tepat disisi altar pengorbanan.


Alette tersentak melihat bahasa isyarat mulut dari gadis itu.


'Lenyapkan persekutan Pope dan iblis dosa, bebaskan klan kita dari dosa yang aku ciptakan!.'


Tanpa sadar Alette ikut menangis bersamanya.


'Karina Vhein Arnaud'


"Aaaaaaaaaaa---!!." Alette duduk dengan menutupi kepalanya menggunakan kedua tangannya. "Bohong ! Semua ini bohong ... Aaaaaaa--!!."


Jantung Xavier mendadak sakit. Dia jatuh terduduk, kepalanya tertunduk diatas meja kerjanya. Suara Alette bergema di telinganya. {Kakak bohong padaku !! Kakak telah berbohong !!.}


Kebenaran terkadang memang tidak terduga. Terkadang itu akan sangat menyakitkan.


"Xavier ! Ada apa denganmu ?." Severin menghampiri kursi Xavier.


"Apa?," Verden tampak bingung. "Kau, kenapa jadi seperti ini, Xavier?."


Mayne berkata: "Saya mendengar bahwa Alette dan Xavier bukanlah saudara. Xavier tidak dilahirkan oleh ibu Alette".


"Apa yang kamu katakan?" Verden sedikit bingung.


Severin tidak berbicara. Dia sendiri telah paham apa yang di alami Alette saat ini.


"Xavier, maafkan aku, aku tidak membantumu kali ini, aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa ..." Mayne menatapnya dengan tidak berdaya.


"Aku mengerti. Diam adalah yang terbaik." Xavier masih memegangi dada kirinya.


Di kastil Duke Hart.


Air mata Alette mengalir, "Aku ... aku tidak mengerti." Katanya tercekat.

__ADS_1


Mereka berdua hidup sampai tujuh belas tahun bersama sejak ibu Alette masih hidup hingga kini namun mereka bukan saudara??


Alette benar-benar bingung.


Xavier seharusnya menjadi satu-satunya harapan bagi seluruh keluarga dan orang tuanya. Dia akan menjadi pilar di masa depan.


Kegemparan penuh tanda tanya menyebar di ruang kerja yang Xavier tempati. Jeritan suara itu jelas suara Alette.


Namun dia bimbang akan sikap Severin, dia bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Xavier jadi sedikit meragukannya.


"Saudaraku, aku bukan orang baik, jadi aku akan memprovokasi sampai akhir hari ini." Verden sedikit ragu untuk bertanya.


"Xavier, pernahkah kamu meragukan bahwa kamu bukan anak kandung ibu kalian?."


"Tidak, jangan meragukan ibuku seperti itu!"


Bayangan Alette tiba-tiba muncul dihadapan mereka. Aura dingin membekunya mampu membuat mereka berempat diam seketika.


Alette sejak kecil menjalani kehidupan yang bersih, dia belum pernah melihat kekotoran dan keburukan. Dia juga merasa bahwa Xavier tidak memiliki jejak ayahnya.


Perlindungan mereka bertiga sangat serius. Ayah Alette melindungi putrinya dengan sangat ketat, tetapi dia ingin menghancurkan putranya. Ini tidak mungkin.


Satu-satunya penjelasan adalah bahwa Xavier bukan putra ayahnya , bukan kakak kandungnya.


Alette terkejut dan menolak untuk mengakuinya.


Sekarang, dengan adanya hal ini maka serangkaian kegagalan pembunuhan selama ini membuat semua rahasia terbayar ke permukaan.


Alette 80% yakin bahwa Xavier bukan putra Ayahnya. Dan siapa Xavier sebenarnya, dia tidak tahu untuk saat ini. "Aku tidak percaya!."


"Peramal juga mengatakan bahwa Xavier dibutuhkan untuk mengakhiri misteri ini , bukan?."


"Lalu kalian berdua ?." Alette berganti arah menatap Mayne dan Verden.


Alette mencoba menarik pergelangan tangannya, tetapi Severin tidak melepaskannya dan memeluknya erat-erat, seperti orang tenggelam yang mencari kayu apung.


"Mari kita membuat asumsi, oke?." Pada saat ini, Alette mengangkat kepalanya, wajahnya penuh air mata, dan matanya merah karena menangis, "Bagaimana menurut kalian?."


"Apakah kamu tidak ingin tahu tentang ini?," Verden bertanya.


Xavier mengangguk: "Aku juga ingin tahu."


Mereka perlu mendiskusikan masalah ini dengan hati-hati. Tidak mungkin mereka melemparkan dirinya ke dalam perangkap dan meminta keluarga utama Alette atau Xavier untuk membunuh mereka dengan senang hati kan?


Kondisi ini terlalu keras!

__ADS_1


__ADS_2