
Waktu terus berjalan tanpa menunggu siapapun....
Dua tahun kemudian.
Alette Elaine Scherie.
Begitulah nama itu tercetak pada diri gadis berusia 15 tahun ini.
Teman-teman sekolahnya lebih akrab memanggil dirinya, Cerry atau Ella.
Tentu saja gender perempuan, dengan tinggi 170cm, bagaikan foto model mahal, bermata gelap seperti langit malam berbintang dan rambut yang brown red khas penduduk asing. Well, pesonanya tentu dapat nilai plus.
Terlahir sebagai seorang putri kerajaan bukanlah perkara yang mudah. Disini, Kerajaan Arcadia berdiri sudah lebih dari 1000 tahun lamanya. Kakeknya, Alfred Dreyfus Scherie adalah raja yang di pilih oleh rakyat, berbeda dengan leluhur Alette terdahulu. Waktu Alette berusia 12 tahun, kedua orang tuanya membawa anak laki-laki kembali ke rumah. Mereka berkata bahwa anak itu adalah kakaknya yang hilang beberapa tahun yang lalu.
Walaupun saat ini, Alette dalam masa pelarian. Alette tiba di kota Morawska belum lama, ini adalah kota ke-4 yang menjadi tempat pelariannya.
"ibu ... ."
Cahaya musim semi di perbatasan utara Kerajaan Arcadia mulai menampakkan keindahannya. Baru pada awal April badai salju yang telah mengamuk selama setengah tahun akhirnya surut dengan enggan, dan matahari yang hangat sekali lagi menghidupkan semua hal. Walaupun sinar matahari yang begitu cerah sepertinya sangat tidak disukai oleh semua orang.
"Sungguh aku merindukan kalian semua."
Penyesalan, tentu saja ada. Hari itu adalah pagi hari ketika dia memulai pertengkaran dengan kedua orang tuanya setelah Alette terus terang soal kejadian supernatural yang dia alami saat study tour sekolah. Sekolah Alette mengadakan study tour ke gunung. Para guru berkata, lokasi itu adalah persimpangan kota dan pedesaan yang masih memiliki nilai budaya yang tinggi.
"Selamat datang di desa Morawska."
Jelas saja, ketika tiba di penginapan. Mereka semua merasa bahagia, dengan keindahan desa dan udara yang jauh dari polusi kota. Kami semua senang berlama-lama di desa ini. Penduduknya pun ramah dan berperilaku sangat sopan sampai kami malu telah bertingkah sedikit nakal dan bandel.
"Selamat menikmati keindahan desa kami dan bersenang-senanglah."
Kepala desa pun menceritakan asal usul desa itu saat malam tiba, ditemani dengan api unggun dan sambutan tarian tradisional desa tersebut. Desa itu terbagi menjadi empat wilayah yang letaknya cukup berjauhan dan punya aura yang berbeda satu desa ke desa lainnya.
Keesokan harinya...
Teman satu kelas Alette datang ke taman dan bertanya apakah dia mau ikut petualangan bersama mereka. Itu adalah sekelompok anak yang tidak terlalu tua, sekitar empat belas tahun, yang semuanya paling tidak bisa diam di satu tempat.
Alette setujui saja tawaran petualangan itu.
"Hei, aku ... ."
Alette ingin bertanya kepada mereka tentang situasinya. Namun mereka tidak memperhatikannya sama sekali dan asik dengan obrolan mereka sendiri. Alette masih belum terlalu memahami situasinya, tapi melihat hal ini secara alami menimbulkan ketidaknyamanan di dalam hati.
"Sudahlah, lupakan saja."
Akhirnya Alette putuskan untuk berjalan-jalan sendiri karena sepertinya tidak masalah bila tidak ikuti jejak mereka. Namun ternyata Arlette salah ...
"Apa kamu serius mau melakukan hal itu?."
"Sstt, jangan keraskan suaramu."
"Tapi aku sedikit takut akibatnya, apakah kalian berdua tidak ?."
Pembicaraan itu pun terhenti hanya sampai di sana, namun mereka tidak menyadari sepasang mata telah mengawasi mereka.
Jalan yang mereka pilih cukup jauh dari penginapan. Sekitar dua desa dari desa tempat sekolah mereka menginap. Alette sempat cemas, ingin kembali telusuri lagi jalan yang telah dia lalui tapi perasaan aneh seakan berbisik untuk meneruskan perjalanannya. Langkah kaki membawanya berhenti di depan sebuah goa batu yang terlihat sangat kuno. Alette berdiri setidaknya 30 langkah dari batu besar itu. Pikirannya melayang pada gambaran yang berputar bagai layar bioskop.
"Apakah ini flashback masa lalu ? Tapi masa lalu siapa?."
Dalam memori itu ada sosok anak laki-laki. Di musim dingin, dia hanya mengenakan sweter hitam tipis yang sudah usang dan ditumpuk.
Telinganya dan pergelangan tangannya yang terbuka berwarna merah karena dingin. Seragam sekolah putih itu terlepas, tertutup debu dan jejak kaki. Disana juga ada tiga orang anak lainnya. Tiga anak laki-laki besar menekan tangan dan kakinya, dan dia terjatuh di tanah, tidak bisa bergerak sama sekali.
Ketiga anak itu membawa bocah itu ke pinggiran sungai. Di sungai itu juga ada empat anak lain yang sama dengannya.
Alette ingin membantunya tetapi sebuah telapak tangan yang dingin membuatnya berpaling pada pemiliknya. "Siapa ?."
"Jangan kesana."
"Hah? Apakah Anda berbicara tentang mereka?."
"Itu benar."
"Apa yang dikatakan oleh orang ini? Apa Anda bisa mendengarnya ?" tanya Alette ingin tahu.
"Tidak penting apa yang mereka katakan. Ayo pergi dari sini".
Belum sempat Alette menjawab, dia diserang secara langsung oleh sepasang lengan yang kuat. Hingga membuatnya terjatuh dalam pelukannya. Pria itu menatapnya dengan muram di sudut, penglihatannya tampak membeku, dingin sampai ke tulang.
Apakah dia mengenalnya?
Mengapa melihatnya seperti ini?
"Apa yang kamu lakukan?."
"Tentu saja membawamu keluar dari hutan sihir ini," Pria itu lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Alette.
"??!!" Alette terkejut, "Jangan ... ."
Saat terlepas dari pelukan pria itu, Alette merasakan kakinya melayang diudara, pikiran Alette tiba-tiba jadi kosong. Harusnya dia tidak melepas tangan pria itu. Alette telah takut ketinggian sejak dia masih kecil.
Meskipun bangunan dua lantai tidak terlalu tinggi, kaki terasa lemas dan dia tidak bisa lagi mengendalikan kecenderungannya untuk jatuh ke belakang.
__ADS_1
Sial, dia tidak ingin melompat, masalahnya adalah jari kakinya telah meninggalkan tanah. "Tidak!."
Pria itu juga panic, "Ella !!."
Angin bertiup melewati telinga Alette. Pada detik terakhir sebelum kehilangan kesadaran, dengan polos menatap mata ungu yang mempesona itu, hanya ada jejak ekspresi panik di wajahnya.
Dalam bayang gelap, beberapa anak membungkam mulut mereka karena panik, takut ketahuan.
"Ella !!," pria itu mencoba menyadarkan Alette. "Ella ... Bangun Ella !!".
“Aku ... akankah mati,” Alette berbicara dengan nada tenang, lalu menatap mata ungu itu tanpa permohonan, tanpa rasa takut, beberapa hanya ketenangan air, Tampaknya kematian di mulutnya bukan miliknya sendiri.
Pria bermata ungu itu mengangkat alisnya sedikit dan menatap mata Alette seperti gunung es. Ketenangan yang membuat dirinya merasakan himpitan.
"Kamu ini tidak punya rasa takutkah?."
Pria itu segera memeluk Alette meski darah mengalir di pakaian dan tangannya. Tanpa sadar tubuh pria itu gemetar, dengan hati-hati dia memeluk Alette dan membawanya ke klinik.
Alette hanya tersenyum samar di pelukannya.
Bahkan dalam menghadapi kematian, gadis rapuh ini bisa begitu tenang, orang yang lebih tenang tentu saja ingin merobek kedamaiannya.
“Aku tidak akan membiarkanmu mati.”
Pria ungu itu dengan lembut membuka mulutnya. "Ada kakak disini, mana bisa membiarkan kamu mati?."
Sudah beberapa hari berselang sejak Xavier datang dan hari ini kakek Alette pun telah tiba.
Sejujurnya Alette merindukan Xavier jauh lebih besar dari yang semestinya. Di luar kehendak Alette, dia mengizinkan Xavier masuk menyelinap ke hati yang dia jaga.
Saat Alette membuka matanya lagi, yang terlihat adalah ... Wajah tampan pria bermata ungu. Alette mencoba mengingat pembicaraan terakhir sebelum ia jatuh pingsan.
'Kakakmu disini ...'
GASP!
Alette segera menoleh ke arah pria itu. Langkah Xavier yang panjang dan sensual tidak mungkin diabaikan membuat semua wanita di tempat itu tertegun karena kehadirannya.
Mereka berhenti beraktifitas hanya untuk melihat Xavier berjalan seolah di tenung oleh kekuatan tidak terlihat mata. Sayangnya, aura Xavier sangat berbahaya dan liar memberikan peringatan keras pada mereka.
"Ella, kamu membuatku takut kali ini."
Ketika dia mendengar seseorang memanggil namanya di sebelahnya, Alette menoleh, "Kakak."
Ruangan ini tampaknya di bangsal VIP yang terpisah. Dokter datang segera dan memeriksa kondisinya. Alette tidak tahu kapan jatuh tertidur, ketika dia bangun lagi, Alette terbaring di kamar yang indah berbeda dengan sebelumnya.
Dengan tinggi dua meter lebih, Xavier pasti terlihat menonjol di keramaian rumah sakit itu tetapi suatu aura selalu meliputi dirinya memberi kesan tidak tersentuh oleh dunia fana serta ancaman pada sekitarnya agar tidak menyentuhnya bila masih ingin bernafas. Rambut keperakan Xavier terurai dibahunya, namun terlepas dari seluruh daya tarik sakralnya, di sembunyi aura gelap dan berbahaya sehingga Alette pun tidak berani menguji batas kesabarannya.
Seorang lelaki tua kulit putih duduk di tepi tempat tidur, "Sayang, akhirnya kau bangun. Apa kau akan menakuti kakekmu? Kamu adalah gadis bodoh, kamu masih punya kakak dan kakekmu ini, apa yang kamu khawatirkan?."
"Alette, kejadian ini sangat berbahaya."
"Aku hanya berjalan-jalan dengan teman."
Kakek melepas kacamatanya dan mengusap dahinya.
“Apa yang terjadi.”
Xavier menurunkan kacamatanya untuk memperlihatkan mata ungu yang sangat ditakuti semua orang. Beberapa remaja berdiri bersama, tidak lagi arogansi diwajah mereka, gadis gemuk kecil itu mendecakkan bibirnya, tapi tetap tidak mengatakan apa-apa.
"Kami ... kami kehilangan jejak Cerry saat memasuki desa sebelah, kami pikir dia memgikuti kami. Jadi ... jadi ... ."
Ruang kamar Alette tiba-tiba menjadi sunyi.
“Ya, itu dia, kita semua melihatnya.”
"Awalnya aku pikir dia masih di belakang."
"Ya, kami tidak punya waktu untuk berhenti dan selalu memantau keberadaannya."
Alette menyadari bahwa tubuhnya saat ini sangat buruk. "Sudahlah, aku tidak apa-apa."
"Terlambat dari kejadian di hari itu, mungkin kamu sudah menjadi kebab Daemon", Wajah pria yang mengaku sebagai kakaknya membeku seketika, "Apanya yang sudahlah? Kalau saja aku tidak menemukanmu, kamu ... ."
"aku harap bisa begitu," Alette mengangkat kedua tangannya lebar-lebar, "Vampire, aku disini, datanglah dan akhiri penderitaanku."
Xavier meliriknya dengan tatapan ekspresi sedikit geli dan sedikit marah karena sikap berlebihan Alette.
"Hey, Ella" Kata kakek pelan sambil membelai rambut Alette. "Lain kali lebih baik di selesaikan secara hukum ... ."
Alette memberi kode dengan jarinya yang dia letakkan di bibirnya dan dengan bahasa bibir dia berkata,'Jangan buat kakek cemas'
Dihadapkan dengan mata memohon padanya, pria itu menjadi terdiam. Dia pun menoleh pada kakek, "Sebaiknya kita pulang saja, cucu seorang Raja berteman dengan orang seperti ini, hanya membuat kebencian."
Terkejut.
Mereka semua terkejut dengan pernyataan pria tampan itu. Cucu Raja ?! Tamatlah hidup mereka!
"Tidak, itu bukan salahku." Dia lalu menunjuk ke arah kanannya,"Dia yang menyuruhku untuk mengambil jalan lain agar Alette tersesat, Dia yang memberi uang."
"Kau !! apa yang kamu bicarakan , aku tidak menyuruh apapun."
__ADS_1
"Tolong, tolong jangan ikut sertakan keluargaku dalam penjara, aku mengaku salah, karena uang telah membuatku bertingkah jahat, Dia yang suruh, itu benar."
Wajah kakek kembali menghitam, dia sangat marah. Cucu kesayangannya di tindas seperti ini.
"Sepertinya urusan ini lebih layak dibicarakan dengan wali murid. Hubungi keluarga mereka."
"Baiklah."
Tanpa banyak bicara, Xavier menekan telepon genggamnya dan mulai menghubungi manajernya.
Sigh.
Alette merasa kali ini juga akan menjadi kisah panjang. "Mulai lagi deh."
Xavier terlihat berusia tujuh belas atau delapan tahun. Dia tinggi dan tampan. Memang sosok seorang pangeran sejati. Namun jangan salah mengira Xavier orang yang pemaaf, terkadang dia bisa sangat kejam pada musuhnya.
"Meong~~."
Di sudut dinding, seekor anak kucing meratap tidak puas, seolah-olah menyalahkan pria itu karena menghalangi sinar matahari ke arahnya.
Alette pulih dari pikirannya, melihat anak kucing di kakinya, alisnya yang berkerut sedikit rileks, dan senyum muncul di sudut mulutnya.
Xavier melihat senyum Alette. Dia pun ingin menyentuh kucing itu untuk diberikan padanya.
“Meow!.”
Anak kucing yang tak tertahankan itu membuka giginya dan menarik cakarnya untuk sementara waktu, tetapi tidak dapat melepaskan diri dari tangan Xavier, jadi dia mengundurkan diri dan terdiam, hanya mencoba menatap manusia bodoh di depannya dengan matanya terbuka lebar. Xavier berlutut, mengulurkan tangan dan memeluk anak kucing itu lalu menyerahkannya pada Alette.
Satu orang dan satu kucing saling berhadapan untuk sementara waktu, dan Alette tiba-tiba tertawa. Kemudian kucing itu berbaring dengan mahir, membalik, memperlihatkan perutnya, dan memberi isyarat kepadanya untuk datang dan membelainya.
Melihat hal itu, Kakek dan Xavier tersenyum lega.
"Tuan Besar!."
"Tuan Muda!."
Kakek memberi kode pada pelayan dibelakangnya, dengan cepat para pelayan itu menarik anak-anak itu keluar dari ruangan Alette. Sedangkan yang lain diminta untuk membereskan barang-barang miliknya di penginapan.
"Haruskah seperti ini ? Ini sudah berulang kali terjadi, bukankah tidak ada masalah ?."
"Sekolahmu sudah selesai, kalau saja kamu sekolah di kalangan kerajaan, hal ini tidak akan terjadi."
"Siapa yang bilang ? Sekolah itu lebih kejam dari sekolah rakyat jelata dan mereka memberikan racun padaku waktu aku menolak ajakan mereka ke casino untuk berjudi."
Xavier secara tidak sengaja mengenggam tangannya dengan erat.
Terdengar langkah kaki terburu-buru menuju kamar Alette.
Brakk!!
"Alette, kamu ditindas lagi ... ."
Ketiganya menoleh ke arah asal suara itu. "Ah, maaf. Aku tidak tahu kalau keluargamu disini, Permisi."
Blam!
"Siapa anak laki-laki itu?."
"Erin, Severin Lycaon Strigoi. Rekan sebangku yang selalu membantuku di sekolah. Dia murid asing dari negara Savitar. Kakek tahu dimana negara itu?."
"Negara itu terletak di sisi timur Arcadia."
"Oh", Alette mengangguk.
Dalam rencana pelarian Alette, dia memutuskan untuk berpetualang ke negeri itu.
'Hm, kurasa ide bagus'
Mungkin karena Alette terlalu fokus pada pikirannya, dia tidak menyadari Xavier yang bermuka gelap sambil menatapnya.
"Alette ! Elaine ! Scherie !!."
"Pergilah! aku tidak mau kemana pun sebelum aku mendapat kebebasan."
Xavier tampak tenang meski berhadapan dengan sang ratu histeris, "Apa itu yang benar-benar kamu inginkan?".
"Aku tidak merugikan siapa pun dengan pelarianku. Tidak adil jika aku harus terkurung di istana hingga mati."
Xavier memeluk Alette dengan penuh simpati. "Belum lama ini bukankah kamu ingin pulau pribadi?."
"Siapa yang tidak tahu bahwa persyaratan memilikinya sangat rumit. Apa kamu akan membelikannya?."
Xavier mengangkat bahunya,"Tenang saja, uang bukan masalah buatku. Katakanlah dan pulau yang kamu tunjuk akan menjadi milikmu."
Alette mengerjapkan matanya, "Sungguhkah?."
Xavier mengangguk, "Ya" dia pun tersenyum "kamu mau?."
Alette memeluknya erat dengan penuh semangat, "Mau , tentu saja mau."
Ke ke ke, hanya orang bodoh yang menolak, itu sebuah pulau ! Sungguh local tyrant !!
__ADS_1
"Jangan ada pelarian diam-diam lagi, cukup berbicaralah."
Kali ini Alette cukup senang menerima hadiah Xavier dan melupakan niat pelariannya lagi sementara waktu. Ya, hanya sementara waktu.