Sunshine For The Vampire

Sunshine For The Vampire
Ch. 7 - Severin Lycaon Strigoi


__ADS_3

Savitar


Kastil istana Savitar.


Severin dan Alette tiba tepat waktu di negara Savitar. Alette tidak menyangka bahwa Severin punya helicopter pribadi di atap apartement hotelnya. Severin mengajak Alette menuju ruangan pribadinya, itu membuat para bodyguard dan pelayan kastil untuk bergosip.


Severin kehilangan ibunya ketika dia masih muda, dan ayahnya Charles Ziglar Sanders sibuk sepanjang hari tanpa melihat orang sekitarnya sama sekali. Memikirkan kembali selama sepuluh tahun terakhir, satu-satunya yang menemaninya untuk waktu yang lama dan memberinya kenyamanan keluarga yang paling dekat hanya Alette.


"Istirahatlah sebentar disini hingga ruanganmu selesai. Anggaplah rumah sendiri."


"Terima kasih banyak, Erin" Kiss, Alette mencium pipi Severin.


GASP!


Seluruh para pelayan membeku ketakutan. Namun Severin malah tersenyum.


Your are the shadow of my life... la la la ...


Telepon Alette berdering, dari nama yang tertera jelas sekali itu adalah Mayne.


"Yosh , ada apa dan dari mana kamu dapat nomorku?."


"my baby princess, tentu saja dari agen terpercaya," Mayne tertawa menggoda Alette. "Saya ingat bahwa bulan lalu, apakah sebuah drama berjudul "Sunshine for the vampire" yang tercipta dari tanganmu. Apakah Anda masih memiliki naskahnya?."


Alette tertegun sejenak: "Naskah "Sunshine for the vampire"??."


Dia kembali berkata, "Saudara Mayne, apakah kamu akan mengambil drama ini? Ini adalah bukanlah drama Danmei."


(Danmei ( :耽美; : dān měi ; 'Mengejar keindahan') sebuah genre sastra fiksi dari China yang cerita di dalam sastra fiksi tersebut berupa pandangan romantisasi hubungan pria-pria, dari sudut pandang wanita.)


Ada rantai diskriminasi yang tidak tertulis dalam industri film dan televisi. Aktor film tidak boleh menayangkan drama TV dan drama nyata tidak boleh menampilkan drama idola dst.


Dan dasar rantai pengaturan seperti ini adalah mengubah pondasi drama.


Aktor genre qi huan pian berakting dalam drama Danmei dan netizens akan mengejek mereka sebagai "Sampah figuran abadi."


(Genre qi huan pian adalah film dengan tema fantasy.)


"Sungguh tidak mudah dimengerti."


Di industri hiburan, hanya sedikit aktor yang berani untuk bermain Danmei untuk peremajaan, tetapi pemain niche lini pertama memainkan Danmei, yang belum pernah terjadi sebelumnya.


Mayne bagaimana pun juga adalah pendatang dalam dunia hiburan, seharusnya Danhuai drama lebih cocok untuk menaikkan popularitasnya sebagai aktor baru.


Karier Mayne sekarang berjalan lancar, dan yang paling harus dia lakukan adalah menyerang layar lebar. Tetapi kenapa memilih "Sunshine for the Vampire" ?


Tapi Alette tidak berani bertanya lebih banyak dan hanya menghela nafas.


Sebenarnya Mayne membaca naskah "Sunshine for the vampire" dari saran managernya. Lalu pergi ke Internet untuk membaca novel aslinya lagi, dengan fokus pada adegan seorang bangsawan kaya yang menjadi bintang idola dengan menyembunyikan status aslinya. Itu benar-benar mirip dengannya dan Mayne langsung jatuh cinta dengan naskah itu. Apalagi setelah membaca nama penulis novel itu, The Princess, author yang paling dia sukai.

__ADS_1


"Masih bisakah kamu memberikan naskah itu sekarang?."


"Okey," Alette melihat sekeliling dan menemukan Notebook milik Severin lalu menyalakannya. "Kirimi aku alamat email milikmu."


Jika ada tanya mengapa bisa dibuka dengan mudah ? Tentu saja karena passwordnya tanggal kelahiran Alette.


"Sweet, terima kasih princess."


Untuk pertama kalinya dia merasakan kegembiraan melepaskan dirinya sendiri, dan pada akhirnya dia bahkan melepas topengnya.


Hanya Alette yang mampu memberinya kebebasan. Rasanya senang bisa bebas.


"Halo yang disana... ."


"Ya, aku masih mendengarmu, my princess."


Mayne memberikan alamat emailnya dan Alette dengan cepat mengirim naskah yang telah dia buat 'Sunshine for the vampire' kepada Mayne.


"Satu lagi orang narsis selain Verden, Ck ck ck."


Alette tertawa keras dan mengakhiri obrolan mereka. Dia berkeliling dan memutuskan untuk bersiap tidur. Ruangan yang Severin pilih membuat para pelayan takut untuk masuk dan menanyakan keperluan Alette. Begitu melihat Alette keluar dan memanggil pelayan, mereka sedikit lega.


"Permisi, apakah ruangan untukku sudah siap ?."


"Sudah siap nona, apakah anda ingin beristirahat?."


"Aaa ... itu ... ."


"Alette."


Flinch !


Tubuh pelayan itu langsung terkejut kaku.


"Severin, apa urusanmu selesai?." Alette melompat dan meraih lengan Severin dengan gembira.


Hal itu membuat shock kepala pelayan yang berdiri agak jauh dibelakang Severin merasa dunia akan kiamat. Anehnya, tidak terjadi apapun setelahnya.


Severin mengusap kepala Alette, "Ya, makan malam atau istirahat ?."


"Sedikit lelah tapi tidak lapar, mungkin setelah tidur sejenak baru lapar nanti, hehe."


"Okay, kamar kamu sudah bersih, bisa kamu pakai sekarang."


Severin pun mengajak Alette berjalan ke kamar yang telah dia siapkan. Kamar itu khas seorang wanita dengan dinding berwarna cerah dan hiasan cantik mengisi ruangan itu. Serasa berada di kamar seorang ratu.


"Bagaimana? apakah kamu menyukainya?."


"Suka, sangat suka sekali. Terima kasih, Erin."

__ADS_1


"Good, mandi dan istirahatlah."


Alette menganggukkan kepalanya. Dan Severin serta kepala pelayan pergi meninggalkan Alette hanya dengan dua pelayan wanita untuk membantunya.


Alette memasuki kamar dan pergi untuk mandi terlebih dahulu. Ketika dia sampai di kamar mandi, dia melihat ke cermin. Wajahnya sedikit pucat, meski terlihat bagus, tapi tidak sebagus dia sendiri saat masih bersemangat.


Alette berdiri di bawah pancuran, mengangkat kepalanya dan menyiram air. Air panas mengalir di tubuhnya. Dia membelai rambutnya dan memperkuat tekadnya untuk bertahan selama dalam pelarian.


Dia menggosok rambutnya lagi dan keluar dari kamar mandi. Di meja telah tersedia kue kecil yang sangat imut dan teh camoline panas untuknya bersantai. Larut malam ketika kota akan tertidur, Alette justru asik menikmati indahnya kota Savitar dari balkon kamarnya.


Kepala pelayan berjalan menuju ruang utama tempat ayah Severin berada, dia pun menceritakan kejadian yang telah dilihatnya kepada ayah Severin.


"Benarkah begitu? Rupanya gadis itu berharga dalam hati Severin."


"Benar yang mulia."


"Atur waktu, aku ingin bertemu dengan gadis itu."


"Segera yang mulia."


Disisi lain, saat ini istana Arcadia sedang dalam keadaan berbahaya.


Ketika Xavier memasuki kamar Alette untuk mengajaknya keluar dari kepungan musuh. Tidak tahu apa ini sebuah keberuntungan ataukah petunjuk leluhur. Setiap kali bahaya datang, Alette selalu dapat lepas dari bahaya, kali ini pun Alette selamat namun keadaan ayah dan ibu Alette sangat tidak baik.


Kedua orang tua Alette terlahir dengan separuh darah clan vampire sehingga Xavier tidak dapat membangkitkan mereka jika terjadi sesuatu. Pembunuh bayaran yang menyerang ke mansion kali ini sangat terlatih, untung saja Xavier masih mampu menebas musuh yang datang.


Di Savitar, darah Alette bergejolak.


Jantungnya berdebar kencang seakan melompat keluar dari tubuhnya. Pelayan yang menanti untuknya terlihat bingung memandang perubahan Alette. Dia pun segera berlari menuju ruangan Severin.


Knock knock


"Pangeran ... pangeran ... ." Pelayan itu memberanikan diri mengetuk pintu Severin.


Severin yang menatap pelayan itu dengan tatapan dingin berhasil membuat pelayan wanita itu ketakutan setengah mati.


"Nona Alette, nona alette tiba-tiba kesakitan dan pucat."


Severin dengan ekspresi muram: "Ada apa dengannya?."


Pelayan itu juga sangat bingung dan berkata, "Saya ... saya benar-benar tidak tahu."


Severin : "..."


Pelayan wanita: "..."


Severin lalu berlari ke kamar Alette dan memeluknya, "Alette ... ."


__ADS_1


__ADS_2