
Savitar, negara dimana Severin lahir, Alette sangat ingin berkunjung kesana walau hanya sekali.
"Okay, mari kabur ke Savitar aah bukan kabur tapi berlibur," Alette tertawa geli sendirian di kamarnya.
Shopping di hari itu berakhir dengan kekonyolan tingkah Mayne. Dia memang pantas mendapat penghargaan aktor terbaik tahun ini. Setiap orang yang melihatnya selalu tertawa atau ikuti emosi yang Mayne arahkan. Lebih dari itu, suara Mayne juga merdu dan sangat disukai anak-anak remaja.
Dengan santai Alette memutuskan berbicara tentang keputusannya ke Erin, "My dear Erin, adakah waktu saat weekend?."
"Tentu saja ada, my princess. Jam berapa bertemu?."
"9 A.M, how ? bisakah bertemu pada jam itu ?."
"Tentu saja. Ingin aku bawakan kue tart apa?."
"Kyaa~ love you, Erin. Moca with dark choco, please."
"As your wish then, sampai jumpa besok."
"See you ~."
Tanpa diskusi lebih lanjut, mereka berdua telah sepakat bertemu weekend nanti jam sembilan pagi.
Akhirnya weekend pun tiba, Alette dengan mood gembiranya berdandan tipis di wajahnya sambil berjalan menuju ruang ganti saat handphonenya berdering: "Apakah kamu sudah di sini?."
"Yah, di lantai bawah.."
"Aku akan turun." Setelah itu, tidak ada lagi dialog.
Alette naik mobil Severin, Lykan Hypersport setelah membuka pintu co-pilot, Severin mematapnya, "Mengapa kamu tidak memakai make up?."
Alette mengedipkan satu mata ke arah Severin, tidak terlalu peduli: "Karena kepercayaan diri."
"Tebal muka rupanya masih tidak ada obat," Erin tertawa.
"Well, apa salahnya. Bukankah aku pantas, hm."
"Iya, iya, tuan putri cantik yang sangat tiada banding."
"Nah, nah, rayuan palsumu juga tiada tandingan."
Tiga kata dan dua kalimat, setiap kalimat ada pada satu titik. Mereka berdua tertawa sepanjang perjalanan dengan hati yang bebas.
"Erin, jika aku kabur ke negaramu, apa kamu akan membantuku."
Sssrrrttt---
Severin tiba-tiba menginjak pedal rem dan mobil terpaksa berhenti.
"Damn, Erin!! Kamu ingin membunuhku?.
"Kamu yang ingin membunuh kita berdua, Alette. Apa yang meracuni pikiranmu untuk kabur dari rumah?."
"Hanya ingin bebas. Sedikit kesal karena tidak terlahir sebagai laki-laki."
__ADS_1
"Apa enaknya jadi laki-laki jika hanya dituntut harus jadi penerus dan bekerja keras."
"Hey, setidaknya aku ingin begitu walau sekali, kamu tahu?" Alette menjawab Erin dengan nada sedikit sedih.
Brumm--
Severin menjalankan mobilnya sekali lagi, "Yeah, Apapun itu bila menjadi harapanmu. Aku akan mendukungmu."
"Deal ! Kamu tidak dapat menarik kata-kata itu lagi."
"Promise, okey."
"Okey, love you Erin."
Pada saat ini, telepon berdering mengganggu Severin. Dia melirik ke arah telepon itu dan mengangkatnya, "Ini Severin."
Itu suara laki-laki.
Alette tidak tahu apa yang dikatakan di telepon, tapi raut wajah Severin tiba-tiba tegang, "Apakah sakit parah?."
Hanya ada satu orang yang bisa membuat wajah Severin berubah drastis, itu adalah ayahnya, Charles Ziglar Sanders.
Setelah berbicara di telepon selama hampir satu menit, Severin menutup telepon, tetapi dia belum merasa lega, dan dia terkejut.
"Katakan Alette, apa kamu seorang cenayang? Bagaimana mungkin ink terjadi dengan sangat kebetulan?."
"Jika aku adalah cenayang, hal pertama yang akan aku lakukan adalah menjadikanmu warewolf untuk aku pelihara."
"Lalu bagaimana bila aku benar-benar jadi warewolf seperti kutukanmu."
"Tenang saja, kamu akan tetap selalu menjadi orang terdekatku."
"Lega mendengarnya, baiklah, aku akan mengajakmu berjalan- jalan di Savitar, be prepared sweety."
"Itu yang terbaik, hore!."
Yah, perjalanan mereka berdua berlalu hampir tiga puluh menit. Mereka berdua tiba di sebuah restauran kue yang cukup terkenal di Arcadia. Hal yang paling mengejutkan Alette adalah kerumunan gadis yang memadati area etalase.
Alette pun mencari celah untuk memesan beberapa kue.
Siapa yang dapat menyangka bahwa Verden Crete Vrykolakas , sang president finasial terbesar di dunia sedang membuat kue dan memilik fans tersendiri dikalangan anak muda. Alette tertegun sejenak , mencubit tangan Severin untuk memastikan dia tidak bermimpi.
"Ah ! Alette, apa yang kamu lakukan?."
"Lihat, itu lihatlah, kesana."
Alette menunjuk ke arah pembuat kue di dalam toko sedikit ingin tahu apa yang dilihatnya itu benar Verden.
"Apa yang bagus dari pembuat kue ?."
Alette menatap Severin ,"President Finansial terkenal di dunia membuat kue disana, mengerti?."
"Haaaa--, dia di sana jauh lebih lama sebelum toko ini buka."
__ADS_1
"Apa !!"
Arlette berdiri dari kursinya karena terkejut. Semua orang tiba-tiba mengalihkan pandangan ke arah mereka.
"Princess, tetap tenang, okey?."
"Oh, sorry. Aku sedikit lepas kendali, tapi apa yang kamu katakan itu benar ? sejak kapan itu? Aku baru bertemu dengannya kemarin setelah kembali ke Arcadia."
"Sudah sejak kita masuk sekolah tinggi, apa kamu akan melanjutkan ke universitas?."
"Kurasa tidak, kakek akan meminta guru kerajaan untuk mengajar di istana. Kejadian terakhir terlalu berbahaya menurut kakek, so ... ."
"Yeah, untuk satu itu aku juga setuju. Bagaimana bisa kamu ikuti mereka yang bahkan tidak begitu kamu kenal ?."
Verden samar-samar mendengar suara Alette, awalnya dia ragu untuk memastikan tapi setalah melihat wajah Alette, dia pun tersenyum. Sambil membawa kue yang baru saja dia selesaikan, Verden berjalan ke meja Alette.
"Good morning, princess. Bersediakan anda menjadi orang pertama yang menikmati kue ini?."
"kue gratis, tentu saja aku mau."
Verder memberikan kue itu kepada Alette, bentuk kue itu sangat lucu dengan warna biru dan ekor mermaid yg terbalik di atas creamnya. Arlette sangan menyukai bentuk kue itu.
"Selamat menikmati."
"Hey, kamu tidak terlihat baru berkenalan dengannya kemarin, ck ck ck, kesan ini seperti telah berteman ribuan tahun."
"Bilang saja kamu iri padaku."
"Ck, hanya sepotong kue dan kamu berharap aku iri pada hal itu, Dream! On! ."
Alette tertawa dengan riang sambil menyerahkan sepotong kue ke mulut Severin.
"Anyway, kapan kamu akan pergi."
"Besok."
"Okey, besok ... ."
Severin membuka matanya lebar-lebar menatap Alette.
Alette berbalik menatapnya, "Apa ? terkejut melihat gadis cantik, hm?."
"Ya tuhan, kesombongan macam apa ini" Severin terdiam sejenak, "Oh, aku lupa jika kita ini bukan hamba yang taat pada tuhannya."
"Fool !! hahaha."
Acara di hari itupun berhasil dengan baik. Rencana pelariannya ke Savitar akan di mulai ...
"Savitar, I will have fun~," bisik Alette pada dirinya sendiri.
Hanya ada satu hari untuk membuat rencana pelarian, hal ini jelas tidak dapat di sia-siakan. Alette membawa sedikit barang berharga dan 4 pasang pakaian yang mudah dikemas. Tidak perlu banyak barang, cukup yang bermanfaat dan lupakan hiasan mencolok yang akan menarik bandit dan pembunuh.
Tampaknya di masa depan, akan ada banyak waktu untuk bermain!
__ADS_1