
Melihat Alette tidak menjawab, Verden menatapnya dalam-dalam. Melihat Alette berbalik dan pergi, dia benar-benar memiliki keinginan untuk bergegas dan menciumnya.
"Aku akan menerimanya. Ini pertama kalinya aku melihat Boss Verden dikalahkan. Hal-hal di forum memang tidak benar, kenyataannya sekarang Boss Verden ditikam sampai mati!," ucap gadis penggemar Verden , ia menghela nafas, terkejut di dalam hatinya.
Bahkan Xavier, yang pendiam, tidak bisa tidak berkata: "Pria yang menarik ! Sayang berbeda level cukup jauh."
"Hei, hei, tunggu dulu. Apa yang kamu katakan barusan Xavier !!."
Alette tidak menghiraukan Xavier, terlebih lagi Verden yang sengaja mengikutinya di belakang. Alette sangat senang melihat sekeliling pertokoan. Lalu sesaat pandangannya teralihkan pada LED Megatron besar yang menunjukkan sebuah konser, penggemar berteriak dan bersorak memekakkan telinga.
[Mayne ! Mayne ! Mayne ! Kyaaaaa ~]
Fritz Mayne Dyrk, Sang penyanyi dan aktor muda terkenal.
Tiga album, dengan penjualan lebih dari 100 juta copy dan tujuh konser, menghabiskan tiga tahun untuk mencapai puncak dunia musik , dia adalah pria pertama yang membuka konser di Central Stadium Arcadia.
"Menyukai penampilanku ?."
Alettee menoleh ke arahnya, "Huh? apa yang ...," Kiss.
Pria itu tersenyum puas telah di beri ciuman tanpa sadar oleh Alette. Sedangkan dua bodyguard dibelakang Alette mulai naik pitam.
"Hey, jangan main api, kawan", Verden berucap dengan suara membentak kepadanya.
Pria itu menjawab dengan jujur: "Sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Tidak dapat dihindari"
Senyum menggoda terlukis di wajah pria misterius itu ketika melihat wajah terkejut Alette.
Xavier hampir meledak, beraninya pria ini mendekatkan wajahnya dan membuat Alette tidak sengaja menciumnya?!
Verden secara kasar meraih baju pria itu dan mulai emosi tingkat tinggi, "Siapa kamu dan apa maksudmu?."
Xavier yang ingin membuka mulutnya tiba-tiba terhenti karena Alette meraih lengannya dengan erat. "Alette, kau .... ."
"Pembersih ... aku butuh pembersih" Dengan suara kecil, Alette berbisik padanya.
Pada pertemuan pertama, dia membuat tindakan aneh. Pria itu juga sedikit terkejut melihat reaksi Alette.
__ADS_1
Alette segera menjelaskan: "Maaf, saya memiliki cleanliness."
"Hahahaha ... ," Verden tertawa bahagia. Sedangkan Mayne berwajah gelap seketika.
Xavier memgambil botol desinfektant dari sakunya dan memberikannya pada Alette. Dengan segera Alette mengusap pipinya dengan tissu lembut yang sudah diberi cairan pembersih kuman itu.
"Fritz Mayne Dyrk dari Arkaiz"
Dia berbicara ke arah Verden dengan nada datar seakan menantangnya.
Verden melepas genggamannya, "Rupanya si penyanyi terkenal yang membuat masalah".
"Oh, please. Do not make me feel so bad, man. Aku hanya sekedar ingin mengerjainya saja, tidak lebih dari itu."
"Maaf, itu satu masalah yang paling aku benci. Ayo pergi ."
Xavier masih menatap pria itu dengan tatapan seorang Yakuza yang sedang badmood. Seakan memberitahu dia,'Berani sentuh dia lagi, mati!'.
Mayne bersiul dan mengangkat tangannya menandakan dia menyerah namun dalam hatinya, dia tidak akan mundur begitu saja.
Langkah Alette terhenti lalu menoleh pada Verden, "Aku dengar dari pelayanku , anggur putih dari Winster Estate beberapa hari yang lalu mendadak booming. Apakah Anda ingin mencobanya?."
"Dengan senang hati, Verden Crete Vrykolakas akan menjadi tour guide anda, tuan putri."
Verden melepas topinya dan meletakkan di dada lalu membungkuk sambil berkedip mata pada Alette. Hal itu membuat Alette sedikit bersemangat, Xavier pun mengusap kepala Alette dengan lembut.
"Baiklah , kita kesana baru berbelanja lagi, okey".
"Okey~~," Alette melompat senang dengan persetujuan Xavier.
"Hey hey ... bagaimana denganku , apa aku diajak ?," Mayne bertanya.
Ketiganya berbalik serentak dan menjawab, "Pergilah !!."
"Aw ... so sad , oh ... they leave me alone."
Bang !! Dengan indahnya sebuah sepatu melesat ke kepala Mayne. "Oh , sepatu cinderella terjatuh. Aku harus menemukan pemiliknya."
__ADS_1
Bibir Alette sedikit berkedut melihat kelakuan Mayne. 'Oh gosh, forget it'
Dengan pertemuan ini, dimulailah masa kelam Alette. Verden yang secara misterius tiba-tiba selalu memberi hadiah kecil untuk Alette dan Mayne yang selalu menyebut namanya saat konser berhasil membuat Alette tidak berani menyebut namanya sendiri.
"Aaarrgh bisakah mereka berhenti?."
Alette berbaring santai di kursi kerja Xavier sambil mengeluh tanpa henti.
"Hanya tinggal menyingkirkan mereka, apa susahnya ?."
"Seriuslah kakak, mereka juga bernyawa, tidakkah itu ilegal mencabut nyawa orang lain ?."
"Alette, jika keberadaan dan statusku saat ini tidak bisa membuat kamu berbuat sesukanya, jika perlu jadi raja dunia pun akan aku lakukan."
Tatapan Xavier sangat serius dan itu membuat senyum Alette membeku seketika.
'Sister complexs yang tidak ada obatnya', Alette menutupi wajahnya dengan saputangan, menahan suara untuk tidak menjerit. Disaat begini, Alette paling rindu candaan Severin.
Telepon Alette pun berdering, sungguh seperti telepati yang terhubung, nama Severin tertulis jelas di layar telepon Alette. Dengan gembira dia pun menerime panggilan itu.
"Princess Cherry," panggil Severin dengan aksen Savitar yang merdu.
"Erin, miss you wuu--- aku bosan setengah mati hari ini."
"Okey, apa yang ingin kamu lakukan lagi?."
"Belum ada." jawab Aletye sedih, "Akan aku beritahu nanti."
"Oh, baiklah. Kapan saja kamu perlukan aku, kamu hanya perlu meninggalkan text atau menelepon, aku selalu ada untukmu."
"Always the best, sebab itu aku menyukaimu, Erin."
"Itu sudah seharusnya, tuan putri. Have fun today too, ah~. Jangan murung dan sedih lagi."
"Berkat kamu. Aku jadi sedikit bersemangat hari ini."
Severin selalu ada untuk mendukung Alette, seperti seorang guardian angel yang memberi kehangatan di dalam dunia Alette yang sepi. Dan itu sangat menyenangkan bagi Alette.
__ADS_1