
Sebelum membaca, Jangan lupa ya kakak komen dan like nya ya.... dan juga jangan lupa follow aku ya kakak supaya kita bisa berteman.. semua itu buat semangat ku untuk menulis..
.
.
.
.
...TERIMAKASIH...
.......
.......
.......
selamat membaca semoga suka ceritanya ya...🙏🏽🙏🏽🤗
*********
...***SUPIR SEKSI~KU***...
.
.
.
.
.
Tok
Tok
Tok
"Masuk."
Ceklek
Blam
"Tumben mukamu terlihat seperti kanebo kering." Celetuk Hong Yi ketika baru saja masuk kedalam ruangan Sean.
"Berisik!". Ucap ketus Sean.
"Ada apa??" Tanya Hong Yi heran, dia pun menyamankan bokongnya disalah satu Sova yang ada di ruangan itu.
"Tidak aku cuma pusing aja, gimana apa sudah tau siapa dan dimana wanita itu??" Tanya Sean memulai percakapannya.
"Sabar bro~ Aku juga sedang menyelidikinya. Oiya Sean, jika nanti ternyata benar kamu memiliki seorang anak dengan wanita itu gimana??"
"Apa?? Kamu yakin ada seorang anak diantara kami?!"
"Ya aku belum yakin, karena Ibu panti masih menutupinya. Tapi kalau itu benar apa yang akan kamu lakukan??" Tanya Hong Yi serius.
"Entahlah, mungkin aku akan membicarakan dengan nya serius, apa yang iya mau?? Jika memang dia ingin aku bertanggung jawab~ mungkin aku akan melakukannya." Terang Sean.
"Kamu yakin??" Tanya Hong Yi memastikannya.
"Yakin dan tidak yakin. Bukankah berani berbuat maka aku harus berani bertanggung jawab?!"
"Binggo~ yak kamu betul sekali Sean, anak baik-- anak baik." Ledek Hong Yi pada sahabatnya ini.
"Sial." Kesal Sean lalu dia melemparkan pulpen yang tadi dia gunakan untuk melempar ke arah Hong Yi.
"Wek~ gak kena." Ledeknya lagi. Hongyi tersadar benda apa yang sahabatnya lempar tadi. "Eh~ Sean bukankah itu pulpen mahal kesayanganmu?!"
"Sial~ pulpen 3,5 miliar ku--- Hong Yi cepat cari!" Perintah nya.
"Enak saja cari sendiri, lagian siapa suruh lempar-lempar barang seenaknya, sudah ya aku mau pergi dulu, tunggu saja kabar dariku."
"Dasar teman tak ada akhlak maen pergi lagi, pulpen aku---!!!" Jerit Sean kesal.
"Bodo amat--- Beli lagi sana!!! Bye~."
"Kau kira harganya sama dengan harga kerupuk di pinggir jalan." Teriaknya kesal lagi, tapi yang diteriaki sudah tidak terlihat batang hidungnya.
Hong Yi sudah meninggalkan ruangan itu, Sean yang kesal dengan kelakuan sahabatnya itu akhirnya memanggil OB menyuruhnya untuk mencari pulpen itu sampai ketemu.
"Ada yang bisa saya bantu Bos?!"
"Tolong carikan pulpen yang tadi saya lempar didekat sova itu sampai ketemu, kalau sudah taruh di meja kerja saya."
"Baik Bos."
dan dia pun akhirnya pergi meninggalkan kantornya dan menuju sebuah Cafe untuk menghilangkan kejenuhannya.
.
.
.
.
Di tempat lain,
Brak
Klinting
Pyaarr
Sreggg
Prakkk
Suara dari barang yang dilepar terdengar di panti asuhan Candy. Nyonya Lina memeluk Yisea ketakutan.
Orang-orang yang sedang mengamuk dengan membuang barang-barang dipanti asuhan itu adalah kelompok dari rentenir yang pernah menipu sahabat nyonya Lina yang mengakibatkan dia sekarang berurusan dengan penagih hutang-hutang dari sahabatnya yang kabur itu.
"Tolong jangan kasar! Anak-anak semuanya pada takut." Mohon nyonya Lina pada pria-pria itu.
"Kalau tidak mau dikasari lebih baik bayar sekarang, jadi kami bisa pergi tanpa harus mengacau tempat ini." Ucapnya marah.
"Maaf, kalau hari ini tidak ada, saya janji bulan depan akan saya beri sekalian dengan bunganya." Pinta nyonya Lina.
"Apa?? Bulan depan?! Enak saja~ saya dengar kalau panti ini mendapatkan donatur bulan kemarin, berikan uang itu sekarang!" Perintah memaksa pria itu.
"Maaf kalau uang itu adalah hak semua anak disini, jadi saya tidak bisa memberinya. Hutang yang setiap bulan saya cicil itu bukan saya ambil dari hak anak-anak panti, tapi murni dari garis jerih payah usaha kebun dibelakang panti. Bulan ini hasil kebunnya kurang bagus jadi belum bisa membayar." Jelas nyonya Lina pada pria-pria itu.
"Perduli setan, yang kami mau uang, mau itu hak anak-anak atau bukan yang kami inginkan kamu membayar semuanya." Pintanya kesal lalu membanting barang-barang lagi.
Pyar
Pyar
"Kyaa."
"Aaaa----."
__ADS_1
"Eng--- eng-- eng."
Suara jeritan dan tangisan terdengar dari mulut kecil anak-anak panti. Semua ketakutan dan saling memeluk, nyonya Lina pun bingung ingin melakukan apa?.
"Hentikan ku mohon!" Pintanya memohon.
Tiba-tiba Hongyi datang, dia melihat kekacauan yang terjadi pun bertanya-tanya, "Ada apa ini?" Tanya Hongyi saat masuk kedalam ruangan.
"Tidak perlu ikut campur, ini urusan kami dengan pemilik panti ini!" Ucap salah satu pria itu.
"Jika itu adalah masalah panti maka aku akan ikut campur." Jelas Hongyi, "apa kalian tidak merasa kasihan pada anak-anak yang ketakutan itu!" Tunjuk Hongyi.
"Peduli setan dengan mereka yang penting cicilan bos kami dibayar."
"Berapa??"
"5 juta tidak kurang tapi boleh lah lebih." Ucap salah satu pria itu.
Hongyi pun mengeluarkan segepok uang yang totalnya lebih dari 5 juta yang mereka inginkan.
"Itu uang 10 juta dan kalian boleh pergi, beri tahu padaku berapa lagi utang yang belum dibayar? Aku akan melunaskan nya, bilang pada bos mu itu. Ini kartu namaku hubungi aku disitu!" Pintanya.
"Baiklah nanti biar bos kami yang menghubungi mu, kami permisi." Ucap mereka lalu meninggalkan tempat itu.
Tap
Tap
Tap
"Ibu tidak apa-apa??" Tanya Hongyi cemas.
"Terimakasih nak, Ibu tidak apa-apa."
"Siapa mereka Bu?" Tanya Hongyi penasaran.
"Itu para penagih hutang, dulu Ibu ditipu oleh temen dan berbuntut hutang yang tak berkesudahan." Jelas nyonya Lina.
"Lalu teman Ibu dimana??"
"Entahlah, dia pergi seperti ditelan bumi." Ucapnya dengan nada sedih. "Kamu kesini apa ingin menanyakan tentang wanita yang kamu cari itu??" Tanya Ibu panti.
"Iya Bu, jika anda percaya pada saya dan juga Bos saya untuk mengatakan siapa wanita itu maka saya akan berterimakasih."
"Hahhff--- begini anak muda, maaf sekali lagi, saya harus meminta izin pada nya terlebih dahulu. Kamu harus tau betapa menderitanya dia dan rasa malu yang dia rasakan selama ini, jadi--." Nyonya Lina terdiam dan berkata lagi. "Setelah saya mendapatkan persetujuan dari nya, akan saya hubungi kamu nanti."
Hong Yi tersenyum. "Baiklah kalau gitu, saya percaya kalau Ibu orang yang bijaksana. Jika wanita itu memiliki seorang anak, bukan kah anak itu akan menjadi anak yang paling bahagia karena memiliki seorang Ayah. Ibu tidak perlu khawatir, Bos saya sangat baik dan dia pria yang bertanggung jawab." Ucap nya menyakinkan nyonya Lina. "Ah bukan gitu Bu, saya tahu dia pria bajingan yang sudah merusak seorang gadis, tapi dia tidak sadar saat itu dan saat dia tau, anda harus dengar ini, bukan saya membelanya dan memberikan penjelasan yang baik-baik tentang dia, tapi sungguh Bos saya mencari wanita itu untuk bertanggung jawab." Terang Hong Yi tapi nyonya Lina hanya mendengarkan tanpa berbicara.
"Nenek~." Panggil si kecil Yisea.
"Ada apa sayang?!"
"Susu."
"Ooh~ kamu haus, ayo kita bikin susu." Ajak nyonya Lina pada gadis kecil itu. "Maaf saya tinggal dulu untuk bikin susu, jika tidak ada keperluan lain saat mohon diri." Ucap lembut nyonya Lina.
"Ah~ baik nyonya, kalau gitu saya permisi dulu, nanti saya kesini lagi untuk menanyakan lagi keberadaan wanita itu."
"Ya~ baik silahkan, tapi jika dia belum mengijinkan maka saya tidak dapat membantu." Ucap lembutnya lagi.
"Tidak apa-apa kalau begitu saya pamit terlebih dahulu. Dada dedek kecil, nanti Paman datang lagi bawain makanan yang banyak." Ucap Hongyi membuat Yisea senang.
"Tidak bohong?!"
"Tidak-- Paman berjanji." Katanya lagi lalu dia pun pergi meninggalkan panti asuhan itu.
.
.
.
.
Dia berfikir kalau Yisea itu mirip seseorang, tapi dimana dia pun lupa. Saat mobil sampai ditengah kota tanpa sengaja dia melihat Yiran sedang berjalan-jalan tanpa tujuan.
Dia pun menghentikan mobilnya lalu memanggil Yiran. "Yiran--." Panggil nya sedikit berteriak. Dan yang dipanggilpun berhenti melihat kearahnya.
"Eh Tuan muda Hongyi. Tumben disini?!"
"Lah yang tumben itu kamu?! Kenapa disini?? Harusnya kan sama Sean di kantor?!" Tanya penasaran Hongyi.
"Oh~ aku tadi diliburkan sama si Bos, dari pada bosan dirumah ya aku jalan-jalan aja hehehe." Ucapnya sambil nyengir.
"Ooh-- ya sudah kalau gitu temani aku makan yuk!" Ajak Hongyi pada Yiran.
Hongyi menarik tangan Yiran dengan paksa untuk mengikuti nya kesebuah kafe. Sesampainya disana mereka pun mencari tempat yang kosong, lalu memesan makanan.
"Kenapa Sean menyuruh mu libur?!" Tanya Hongyi heran.
"Mana aku tau, tiba-tiba dia bilang aku tidak boleh ikut."
"Kamu tau gak, biasanya dia bersikap aneh itu hanya dengan wanita saja."
Deg
"Apa dengan wanita?? Kenapa??" Tanya Yiran penasaran.
"Karena dia pernah disakiti oleh tunangannya dulu."
"Oo--- patah hati jadi benci sama wanita gitu??"
"Ga juga sih, cuma dia lagi jaga jarak dengan wanita. Karena dia sedang mencari wanita masa lalu nya."
"Wanita masa lalu?? Siapa lagi itu??" Tanya Yiran tambah penasaran.
"Itu~." Ucap Hongyi terputus karena terkaget mendengar ada yang memanggil.
"Yiran--- Hongyi-- ngapain kalian disini?!" Tanya suara yang memanggil.
Ternyata itu Sean yang sedang turun dari lantai atas. Tampaknya cafe yang dituju Sean tadi sama dimana Yiran dan Hongyi sekarang berada.
Cafe ini memang besar, dilantai atas biasanya memang khusus buat para bos yang ingin santai menyantap hidangan tanpa perlu terganggu dengan suara kebisingan.
Tapi harganya juga berbeda. Tentu saja buat bos-bos menu yang ditawarkan adalah menu Vip yang mahal dan terlihat sangat lezat.
Menu dilantai bawah memang lezat-lezat, tapi tidak bisa dibandingkan dengan menu yang harganya bisa menguras kantong itu.
"Sean-- bos--." Ucap mereka bersamaan.
"Hm~ itu aku, kenapa kaget?!"
"Enggak--- iya---." Ucap mereka serempak lagi.
"Kalian seperti orang tertangkap basah sedang selingkuh." Kata Sean asal.
"Apa??!" Kata mereka serempak lagi.
"Tuh kan barengan lagi." Sinis Sean.
Hongyi melihat raut muka Sean yang tidak enak dia pun buru-buru berkata. "Sean kamu ini ngomong apa sih?! Aku ini pria normal masak jeruk makan jeruk." Katanya sambil cengengesan.
"Apa??" Kaget Yiran dan dia langsung paham. Hampir saja dia kelepasan dan lupa kalau sedang menyamar. "Ah~ iya benar bos, aku kan pria seutuhnya nya, jadi gak mungkin lah suka sesama pria juga." Katanya sambil cengengesan juga.
"Yiran yang ada itu pria sejati-- kalau seutuhnya itu seperti wanita seutuhnya." Ralat Sean membuatnya terkaget.
__ADS_1
"Ah iya itu maksud aku wanita seutuhnya eh salah pria sejati." Ucapnya sembrono.
"Hahaha---." Sean tertawa mendengar kegugupan Yiran.
Sedangkan Hongyi bingung kenapa Yiran bisa gugup dan Sean malah tertawa?? Tapi dia tidak memikirkan itu terlalu dalam. Karena makanan yang mereka pesan sudah datang.
"Bos duduk sini, makanan sudah datang ayo kita makan bersama!" Ajak Yiran. Sean pun duduk disebelah Yiran.
"Kamu saja yang makan! Aku sudah makan tadi diatas." Ucap Sean dan Yiran pun mengangguk. Lalu dia pun memakan makanan yang sudah tersaji dimeja makan.
"Sean~ ngomong-ngomong, kamu disini sudah lama??" Tanya Hongyi pada sahabatnya ini.
"Lumayan sudah hampir 3 jam."
"Apa?!" Ucap mereka bersamaan lagi.
"Kalian ini kenapa aku lihat dari tadi serempak terus yang berbicara." Ketus Sean.
"Hanya perasaanmu saja." Kata Hongyi lalu dia melanjutkan makannya begitu juga dengan Yiran.
Selama makan, Hongyi dan Yiran berbicara sambil sesekali bercanda. Sedangkan Sean seperti tidak bisa masuk kepembicaraan mereka berdua. Membuatnya kesal yang sedari tadi melihat keakraban mereka berdua.
Tiba-tiba dia menggebrak meja sampai pengunjung yang lain pun terkaget.
Brak
"Yiran sudah selesaikan?! Ayo kita pulang!" Ajaknya sambil ngambil tangan Yiran lalu menggeret paksa Yiran untuk mengikutinya.
"Bos-- eh~ bos--- tunggu aku kan belum habiskan minumanku?!" Rengek Yiran sambil tangan nya berusaha melepaskan diri dari tangan Sean.
"Minum dirumah, nanti aku pesenin yang banyak minuman kaya gitu." Marahnya.
"Eh Sean ini masih banyak, jangan maen paksa ajak pulang Yiran dong?!"
Sean berhenti lalu berkata. "Kenapa?? Tidak boleh?! Apa kamu suaminya sampe melarangnya ikut dengan ku?!" Tanya Sean dengan ketus.
"Eh~ enggak marah sih, cuma aku bukan suaminya. Masak aku menyukai seorang pria." Ucap nya lagi sedikit ngeri dengan aura yang ditunjukkan oleh Sean.
Karena Hongyi berbicara seperti itu, Sean pun tidak menjawabnya lagi lalu pergi meninggalkan Cafe itu masih sambil menggeret paksa Yiran.
Yiran terdiam didalam mobil, dia bingung mau ngomong apa? Sedangkan Sean mukanya masih ditekuk kaya kanebo kering.
"Kenapa diem?! Biasanya cerewet?!" Tanya Sean pada Yiran.
"Abis aku bingung mau ngomong apa?!"
"Jangan terlalu dekat dengan Hongyi, aku tidak suka!" Ucap Sean membuat Yiran bingung.
"Loh kenapa?? Kan Tuan muda Hongyi itu sahabat anda?!"
"Kalau aku melarang ya aku larang berarti!"
"Istt--- melarang tapi kenapa?? Harusnya ada penjelasan."
"Tidak perlu pake penjelasan! Intinya saja lah, kamu tidak boleh terlalu dekat dengan Hongyi! Kalau melanggar nanti gaji kamu aku potong." Ancam Sean.
"Eh jangan! Nanti abis kalau dipotong mulu?! Harusnya yang ada tuh ditambahin. Nanti adik-adik panti kasihan berkurang makanannya." Kata Yiran membuat Sean mengalihkan pandangannya kearah Yiran.
"Memang semua gaji kamu buat anak-anak panti?!" Tanya Sean penasaran.
"Iya, aku cuma mengambil seperlunya saja. Sisahnya ya buat anak-anak panti." Jelas Yiran pada Sean.
"Ya sudah mulai bulan ini Nanti gaji kamu ditambahin."
"Sungguh Bos?!" Tanyanya menyakinkan.
"Emang pernah ya aku berbohong?!"
"Tidak sih, tapikan aku hanya memastikan saja." Ucap Yiran.
Sean melihat tingkah Yiran tersenyum -\*\*"Ternyata membuatnya seneng itu tidak lah sulit. Asal dikasih buat anak-anak panti dia sudah seneng." Ucapnya dalam hati\*\*-. Deg -\*\*"Ya ampun perasaan apa ini?? Kenapa melihat Yiran tersenyum aku jadi berdebat?!" Katanya lagi dalam hatinya\*\*-.
.
.
.
.
\*TBC
\*VI3NY18066
Oke aku up lagi. Semoga ada yang masih tetap setia menunggu.
Jangan lupa ya di komen dan like nya ya.
\*TERIMAKASIH 🙏🙏
__ADS_1
...\*\*\*21-10-2021\*\*\*...