
Maaf Typo bertebaran beb Belum sempat edit.
.
.
.
.
.
Sebelum membaca, Jangan lupa ya kakak komen dan like nya ya.... dan juga jangan lupa follow aku ya kakak supaya kita bisa berteman.. semua itu buat semangat ku untuk menulis..
.
.
.
.
...TERIMAKASIH...
.......
.......
.......
...selamat membaca semoga suka ceritanya...🙏🏽🙏🏽🤗...
...*********...
...***SUPIR SEKSI~KU***...
.......
.......
.......
.......
.......
"Tidak." Ucap Yiran sambil menggeleng dan masih tetap tidak mau membuka bajunya.
Membuat kesabaran Sean habis lalu dia pun berkata. "Buka bajumu, biar aku menolongmu untuk membersihkan lukamu itu, jangan takut aku sudah tau kalau kamu seorang wanita, aku tidak akan marah padamu."
Yiran kaget dan tidak dapat berkata apa-apa. Dia melihat kearah Sean yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya memberi tanda agar Yiran patuh padanya dan tidak perlu takut.
Yiran pun akhirnya setuju lalu dia melepaskan bajunya dengan setengah dada agar Sean dapat dengan mudah mencabut pisau yang menancap pada dadanya.
.
.
.
.
Karena pisau ada dibagian atas dada Yiran, gerakan melepas baju pun terhenti.
"Kenapa tuan muda?" Tanya Yiran bingung.
Sean hanya diam dan tidak menjawab dia sibuk mencari beberapa kain kasa lalu untuk memudahkan mengambil pisaunya, Sean merobek sedikit pakaian Yiran diantara tusukan dan menyumpal kain kasa itu diantara luka tepat di tempat tusukan pisau untuk menghindari darah tersembur saat dicabut.
\-\*\*"Syukurlah tidak jadi dibuka bajuku." Ucap Yiran dalam hatinya\*\*-.
Walaupun agak sedikit malu, dia pasrah saja yang penting dia bisa sembuh dan luka tidak infeksi.
"Tahan~ tarik nafas dalam!" Perintah Sean lalu Yiran pun mengikuti instruksinya.
Crass
"Aaagggh---." Teriak Yiran kesakitan.
Karena darah yang keluar sangat deras dia pun akhirnya pingsan. Sean yang melihat itu pun panik. "YIRAN-- BANGUN!!" Teriak nya tapi yang dipanggil tidak menjawab. "NYONYA-- APA ADA DILUAR?? BISA TOLONG BANTU SAYA!!" Pinta Sean lalu nyonya pemilik rumah pun datang tergopoh-gopoh.
"Ada apa tuan muda? Ada yang bisa saya bantu?!" Tanya nyonya itu.
Pisau yang sudah tercabut segera Sean letakkan. Sean segera menahan darah yang keluar. "Tolong bantu aku pegang sebentar bisa?!" Pintanya, nyonya itu pun mengangguk. "Tekan agar darahnya tidak keluar dengan deras!" Perintah Sean.
Lalu Sean mencari alkohol juga beberapa kasa dan perban ditempat obat-obatan lagi untuk membalut luka Yiran.
"Apa anda membutuhkan kain putih yang banyak?!" Tanya nyonya itu.
"Jika punya kain putih yang steril aku boleh memintanya!"
"Sebentar aku akan ambilkan."
Beberapa saat kemudian nyonya itu memberikan beberapa helai kain putih yang berukuran panjang.
Lalu dengan cepat Sean sekarang membuka baju Yiran dan membalut lukanya. "Nah sudah selesai. Tidur lah dulu Yiran, sampai Dokter datang nanti. Aku akan menghubungi Hongyi lagi!" Ucapnya pada Yiran yang masih menutup matanya.
"Nyonya bisa aku minta tolong untuk menjaganya sebentar."
"Iya, saya akan menjaganya."
"Nama saja Sean dan gadis itu bernama Yiran." Ucap Sean memperkenalkan dirinya.
"Saya nyonya Ma. Nak Sean bisa memanggil saya Bibi." Pintanya dan Sean pun mengangguk.
Lalu dia berjalan kearah luar ruangan untuk menghubungi sahabatnya. Diluar Sean memberitahu Hongyi agar segera mempersiapkan rumah sakit dan juga kendaraan untuk nya pulang dan membawa Yiran segera dari sini.
Dia meminta asisten nya untuk mengajari kolega nya kalau dirinya terkena musibah dan pembahasan kontrak pun ditunda.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Dokter pun datang lalu memeriksa Yiran. Tapi kali ini Sean melarang Dokter untuk melihat lukanya.
"Jangan!!" Perintah Sean.
Dokter dan nyonya Ma yang mendengar itu melongo. Gimana bisa memeriksa luka kalau baju saja tidak boleh dibuka.
"Saya ini seorang Dokter bukan chenayang yang hanya bisa menerawang lukanya saja. Gimana saya bisa lihat lukanya parah atau tidak jika menyentuhnya saja tidak boleh! Anak muda, kalau cemburu itu ya lihat-lihat situasi dan kondisi." Ucap Dokter yang usianya itu hampir setengah abad.
"Saya sudah membalutnya." Terang Sean.
"Lalu apa gunanya saya dipanggil kesini?" Tanya Dokternya lagi kesal.
"Tuan muda, sebaiknya kita keluar! Biar Dokter mengerjakan tugasnya dengan baik. Yakinlah kalau adik anda akan ditangani oleh orang yang tepat." Ucap suami pemilik rumah. Tuan Ma tau kalau Sean ragu dia pun berkata lagi. "Ada istri saya yang menjaganya." Mendengar itu Sean pun mengikutinya.
Blam
"Pria yang aneh." Kata Dokter itu.
Nyonya Ma yang mendengarnya tersenyum. "Maafkan dia Dok, mungkin karena khawatir jadi dia seperti itu."
Dokter hanya membuang nafas kasar lalu dia membuka balutan perban yang Sean balut pada tubuh Yiran dia pun bergumam. "Balutan yang rapih. Hem~ ternyata luka nya sudah dibersihkan dengan sempurna, dan dilihat tidak terlalu dalam. Luka ini akan sembuh sekitar 1 minggu dan pakai salep ini dijamin bekasnya akan hilang."
"Terimakasih Dok." Ucap nyonya Ma saat melihat Dokter telah selesai membalut luka Yiran lagi.
Dokter memberikan secarik kertas. "Ini resep yang harus ditebus dan segera diminum! Nanti bisa anda berikan pada pemuda itu! Jarang menemukan pria seperti itu." Katanya lalu dia pamit keluar ruangan.
Ceklek
Blam
Diluar ruangan Sean sudah menunggu dengan cemas. "Gimana keadaan nya??"
"Jangan khawatir anak muda, dia akan sembuh dan jagalah dia baik-baik. Jangan sampai luka nya terkena air dulu selama 3 hari! Resepnya sudah saya berikan pada nyonya didalam, kamu bisa menebusnya nanti." Kata Dokter, "Oiya jaga dia baik-baik kemungkinan dengan luka seperti itu dia akan demam, itu ada obat penurun demamnya, tapi kalau demamnya tinggi lebih baik segera bawa kerumah sakit, takut lukanya infeksi." Katanya lagi dan setelah mendapatkan bayarannya dia pun pergi meninggalkan rumah itu.
"Tuan bisakah saya meminta bantuan lagi untuk menebus obat itu?!"
"Tentu anak muda, jangan sangkan. Selagi saya bisa membantu akan saya bantu."
"Terimakasih Tuan, ini ada sedikit uang, anda bisa gunakan uang ini untuk menebus obat juga membeli makanan dan beberapa keperluan selagi kami masih menumpang dirumah anda. Maaf kalau saya kurang sopan." Kata Sean ramah.
"Baik saya akan ambil dan segera menebus obat itu."
Ceklek
Blam
Tap
Tap
Tap
Sean melihat Yiran yang tertidur lelap, entah mengapa ada rasa cemas kepada wanita didepannya ini.
Dia pun mengusap kening Yiran yang berkeringat dan berkata lirih. "Maafkan aku, karena menolongku kamu jadi seperti ini?!"
.
.
.
.
Sedangkan ditempat lain.
Hongyi yang tadi mendapatkan kabar kalau Sean mengalami musibah dan Yiran terluka dia pun segera mengirimkan orang-orangnya untuk menjemput Sean dan juga Yiran.
Sedangkan misinya untuk mengambil sampel dari anak-anak panti pun ditunda. Karena keadaan Sean dan Yiran lebih penting dari pada sampel anak-anak yatim itu.
Memakan waktu 7 jam untuk sampai ditempat Sean berada sekarang ini.
"Akhirnya kamu sampai juga Hongyi." Ucap Sean saat melihat Hongyi ada didepannya.
"Tentu saja aku harus datang saat mendengar kalau kamu dibegal. Terus orang-orang yang membegalmu gimana??" Tanya Hongyi yang datang bersama beberapa anak buahnya.
"Masih disana, dan semua sudah tewas."
"APA?? SEAN KAMU BISA DIPENJARA KARENA MEMBUNUH ORANG." Ucap Hongyi dengan nada tinggi.
"Urus semuanya, bawa pengacara dan semua bukti, bukankah kamu biasanya membersihkan semuanya untukku." Ucap Sean dengan santai.
Hongyi menampilkan wajah kesalnya. "Ceks~ gini nih kalau tuan muda sudah marah semua dibantai." Ucap nya lalu memerintahkan semua pengawalnya mencari 4 mayat yang dibunuh Sean tadi malam. "Ingat lakukan dengan rapih!" Perintah Hongyi pada mereka.
__ADS_1
"Tunggu, jika begal itu memiliki keluarga, kalian bisa memberi mereka kompensasi untuk keluarga yang sudah ditinggalkan." Ucap Sean membuat Hongyi heran.
"Sean jika memang begitu berarti keluarganya akan tau kalau kamu yang membunuh mereka?" Tanya Hongyi pada sahabat yang selalu menyusahkannya ini.
"Bukankah kalian bisa mencari alasan buat keluarganya. Jangan sampai mereka tau kalau pria-pria itu mati dengan yang tidak baik, membegal dan mencoba membunuh orang tapi naas mereka lah yang dibunuh. Bilang saja kalau orang-orang itu kerja diluar kota, dan itu gaji mereka selama bekerja. Simpel bukan."
"Simpel kepalamu, kalau mereka semua banyak tanya dan nanti tidak mendapatkan kiriman uang lagi gimana??" Tanya Hongyi kesal.
"Terserahlah atur saja gimana-gimananya, kalau tidak ya ceritakan saja yang sebenarnya." Ucap Sean santai.
"Ya sudah nanti biar aku dan pengacara urus semuanya." Ucap Hongyi pasrah. "Oiya Sean apa kamu terluka parah?" Tanya nya lagi.
"Tidak hanya tergores saja dilengan dan sudah diobati, hanya Yiran yang terluka parah. Dia masih belum sadar." Ucap Sean.
Tap
Tap
Tap
"Tuan muda, nona Yiran demam." Ucap nyonya Ma panik.
"Apa?! Bukankah barusan dia baik-baik saja?" Tanya Sean panik.
"Nona Yiran?? Maksudnya apa ini Sean??" Tanya Hongyi bingung.
"Gak Ada waktu buat menjelaskan, nanti saja sekarang kita harus mengirim Yiran kerumah sakit." Sean menjelaskan dengan cepat lalu dia pergi ketempat Yiran terbaring.
Tap
Tap
Tap
Hongyi melihat Sean yang panik seperti itu tidak seperti biasanya, dia pun bertanya pada pemilik rumah.
"Apa benar yang didalam sana itu seorang wanita?" Tanyanya penasaran.
"Tentu, dan tuan muda bilang itu adiknya." Jawab dari nyonya Ma.
"Apa adik?? Sejak kapan Sean punya adik?" Gumam Hongyi.
"Kalau bukan adik lalu siapa??" Tanya bingung tuan Ma.
"Entahlah." Ucap Hongyi sambil mengherdikkan bahunya. "Mungkin adik ketemu gede." Katanya lagi.
Karena penasaran Hongyi pun bergegas mengikuti Sean keruangan tempat Yiran berada sekarang.
Hongyi melihat Sean yang sangat khawatir pada Yiran. "Yiran kamu baik-baik saja??" Tanya Sean pada Yiran.
Tanpa pikir panjang Sean menggendong Yiran dan meninggalkan ruangan itu.
Tiba-tibaYiran terbangun dan berkata. "Tuan muda aku baik-baik saja, kita mau kemana??"
"Jangan banyak bicara! Simpan saja tenagamu!" Ucapnya pada Yiran. "Hongyi apa kita bisa kerumah sakit sekarang?!"
"Sean kita bisa menggunakan mobilku, dilapangan tidak jauh dari sini sekitar 2 kilometer disana ada helikopter yang sudah aku siapkan, kita bisa pakai itu." Ucap Hongyi lalu mereka pun pergi menuju mobil yang Hongyi bawa.
"Tuan Ma dan Bibi Ma terimakasih karena sudah menolong kami, aku tidak akan melupakan jasa kalian berdua. Jika ada masalah kalian bisa mencariku dan jika aku mampu maka aku akan menolong kalian."
"Kamu tidak perlu seperti itu Nak Sean, kami senang membantu kalian." Ucap tulus tuan Ma.
Sean pun pamit, sebelum meninggalkan rumah itu Sean meminta Hongyi untuk mengurus semuanya. "Tolong kamu urus mobil itu dan berikan tanda jasa buat tuan dan nyonya Ma sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantuku dan Yiran." Katanya lalu dia dan Yiran berangkat lebih dulu.
Sedangkan Hongyi tinggal untuk mengurus semuanya, mengurus semua kekacauan yang telah Sean buat.
Sesampainya dirumah sakit Yiran ditangani dengan serius. Setelahnya dia pun dipindahkan diruang rawat.
Ceklek
Blam
Sean melihat Yiran sudah tersadar dari tidurnya dia melihat kearah Sean lalu berkata. "Tuan muda maaf aku merepotkanmu."
"Tidak justru aku yang berterimakasih padamu, jika bukan karena pertolonganmu mungkin saat ini aku lah yang ada diposisimu." Katanya menenangkan Yiran.
"Terimakasih sudah tidak marah karena aku menyembunyikan identitasku."
"Itu bisa kita bicarakan nanti, setelah kamu sembuh jelaskan semuanya." Ucap Sean lalu iya menyuruh Yiran untuk istirahat beberapa hari untuk memulihkan kondisinya.
"Ternyata selama ini dia sudah tau aku seorang wanita, tapi dia tidak marah atau mengusirku?? Sungguh ajaib." Ucap nya lirih.
.
.
.
*TBC
*VI3NY18066
Oke aku up lagi. Maaf ya kalau misalnya nanti up nya agak lama, karena ada baby jadi gak bisa up dengan cepat.🙏🙏
Tapi tetap kog diusahakan untuk up. Dan seperti biasa jangan lupa follow, like dan komen nya juga vote nya ya.
__ADS_1
...*TERIMAKASIH 🙏...
...***31-10-2021***...