Sweet Butterfly

Sweet Butterfly
Reina dan Adnan


__ADS_3

"Rei..." Panggil Adnan.


"Hmmm..." Jawab Reina.


"Tidak ingin pesan yang lain??" Tanya Adnan.


Reina hanya menggelengkan kepalanya. Adnan hanya mengangguk. Lalu mereka berduapun terdiam dalam pikiran mereka masing masing.


Sesekali, Adnan mencuri pandang ke arah Reina yang terlihat sangat jelas seperti menyimpan sebuah kesedihan juga penyesalan. Tapi, Adnan merasa bingung harus bagaimana. Adnan takut terlihat ikut campur orang yang belum terlalu dekat dengan dirinya.


Tak lama kemudian, pesanan mereka datang.


"Terimakasih mas" kata Adnan kepada sang pelayan.


"Sama sama mas, silahkan dinikmati" jawab sang pelayan lalu meninggalkan Adnan dan Reina.


"Rei.. Ayo dimakan... Bersedih boleh, tapi isi tenaga dulu" kata Adnan.


"Tidak berselera.. Aku juga ga memesan apapun, jadi ini milikmu" kata Reina mendorong piring do hadapannya.


"Jangan menolak rejeki, dan cepat makanlah. Jangan memancing perhatian, nanti mereka pikir pacarku tengah marah kepadaku" bisik Adnan.


Reina sepontan menatap Adnan lalu melihat sekelilingnya yang memang sedikit ramai meski mereka tidak ada yang memperhatikan dirinya dan Adnan.


Mau tidak mau Reinapun menarik kembali piring tersebut dan mulai melahap. Bagaimanapun tidak bisa dia pungkiri jika perutnyapun sedari tadi minta diisi.


Adnan yang melihat itupun hanya tersenyum tanpa disadari oleh Reina.


"Lapar aja gengsi.. Dasar..." Batin Adnan.


Mereka berduapun makan dalam diam. Setelah selesai, Adnan segera membayar makanan yang dia pesan lalu mengajak Reina beranjak dari tempat itu.


"Mau di antar kemana??" Tanya Adnan sebelum menyalakan mobilnya.


Reina menggeleng, sedari tadi Reina terlihat enggan menjawab pertanyaan yang Adnan lontarkan.


Tanpa banyak tanya lagi, Adnan menyalakan mobilnya dan melaju kembali ke apartemennya.


Reina hanya terdiam dengan pikirannya sendiri, meski mata menatap ke arah jalanan. Namun pikirannya entah sedang berkelan keman. Itu sangat terlihat oleh Adnan, karena sudah hampir 10 menit yang lalu mereka sampai di tujuan tapi Reina tidak menyadarinya.


Klek...


Adnan membukakan sabuk pengaman Reian, dan hal itu membuat Reina sedikit terkejut.


"Mau sampai kapan kamu terus melamun seperti ini??? Ayo ikut aku" ajak Adnan akhirnya membuka pintu mobilnya.


Adnan segera berputar untuk membukakan pintu untuk Reina.


Setelah Reina keluar, Adnan menutup kembali pintu mobilnya dan reflek menggandeng tangan Reina dan membawanya ke unit miliknya.

__ADS_1


"I... Ini mau kemana??" Tanya Reina bingung setelah menyadari dirinya berada di mana..


"Ikut saja" kata Adnan tanpa menoleh ke arah Reina.


Reina menatap tangannya yang di genggam erat oleh Adnan. Entah mengapa hatinya terasa terisi bunga bunga yang seakan bermekaran. Dan seketika itu pula layu ketika mengingat siapa dirinya.


Mereka memasuki sebuah lift, dan Adnan menekan sebuah nomor yang menunjukkan lantai yang mereka tuju.


Tak butuh waktu lama, pintu lift kembali terbuka dan Adnan kembali membawa Reina di mana unitnya berada..


"Tunggu" cegah Reina.


"Ada apa?? Kita sudah sampai" kata Adnan sembari menekan sandi akses masuk.


"Ternyata kamu tidak jauh berbeda dengan laki laki lain.. Mengambil kesempatan" kata Reina kecewa.


"Maksud kamu apa??? Saat aku menanyakan ingin di antar kemana, jawaban kamu hanya menggeleng. Aku tidak ada pilihan lain selain membawa mu ke sini.. Aku tidak mungkin membawamu ke tempat lain mengingat ini sudah malam. Apalagi melihatmu seperti ini, mana mungkin aku tega meninggalkanmu sendirian." Jawab Adnan.


Reina hanya terdiam mendengarkan penjelasan Adnan yang masuk akal.


"Jadi, mau ikut masuk?? Atau mau di antar kemana?" Tanya Adnan.


Reina hanya diam menatap ke arah Adnan juga ke dalam unit.


"Aku tidak akan berbuat macam macam.. Aku hanya berniat menolongmu" kata Adnan yang seolah tau apa yang tengah Reina pikirkan.


"Heii kenapa menangis.." tanya Adnan bingung.


Adnan lalu segera menarik Reina masuk kedalam unitnya dan langsung menutup pintu.


"Duduklah dulu" titah Adnan.


Adnan lalu bergegas memuju ke arah dapur, dia berniat membuatkan coklat hangat untuk mereka berdua.


Tak butuh lama, Adnan sudah kembali menuju ke arah sofa di mana Reina berada dengan membawa dia cangkir coklat hangat.


"Minumlah.." kata Adnan meletakkan secangkir kopi di hadapan Reina.


"Thanks" kata Reina lirih.


"Ayo ikut aku.. bawa minumanmu sekalian." Titah Adnan sambil beranjak dari duduknya.


Reina mengikuti langkah Adnan yang menuju ke arah balkon. Saat Adnan membuka horden penutup pintu kaca. Terpampang jelas di depan pernak pernik lampu kota jakarta. Sangat indah di malam hari.


"Aku sudah belasan tahun tinggal di kota ini. Namun tempat inilah tempat favoritku ketika aku merasa terpuruk. Terkadang aku bebas berteriak sekencang mungkin jika di unit sebelah kosong. Jika tidak, aku akan membuat sebuah pesawat terbang dengan didalamnya bermacam macam tulisan yang ingin aku ungkapkan" kata Adnan berdiri di pagar pembatas.


Adnan berbalik badan dan duduk di sebuah bangku santai di sana. Lalu tak jauh dari sana dia mengambil sebuat note juga pena yang memang sengaja dia sediakan di sana..


Lalu Adnan menuliskan sesuatu, setelah itu melipatnya dan lalu melempar pesawat kertas itu.

__ADS_1


Wusshhhh


Pesawat kertas itu terbang terbawa hembusan angin malam.


"Cobalah" kata Adnan menyodorkan note miliknya.


"Jika masalahmu ingin kau ceritakan, ceritakan saja. Jika enggan menulis, kau bisa bercerita kepadaku. Insya Allah aku bisa menyimpan rahasiamu, meski yaa kita memang belum akrab hanya sekedar mengenal nama saja" kata Adnan lalu menyeruput coklatnua yang mulai kendingin.


"Entah, apakah setelah aku bercerita kepadamu, apakah kamu masih mau mengenal ku atau malah menyesal mengenalku" kata Reina berdiri di pagar pembatas sambil menatap jauh kedepan.


"Bagaimana kamu bisa menyimpulkan seperti itu?? Bahkan kamu saja belum bercerita." Jawab Adnan.


"Tapi aku orang yang kotor... Menjijikan.. bahkan dengan diriku saja aku jijik" kata Reina menangis menghadap ke arah Adnan.


Adnan berdiri dan reflek memeluk Reina.


"Jangan sentuh aku.." tolak Reina.


"Ok.. maaf.. maaf... Tapi kamu duduklah.. berceritalah dengan tenang.. aku belum paham apa yang kamu maksud.." kata Adnan sambil mengangkat kedua tangannya.


Reina mengikuti kata kata Adnan sambil mengenggam erat cangkir yang berada di tangannya.


"Aku malu harus berkata jujur kepadamu.. Tapi, aku sudah tidak tahan memendam semua ini. Terlebih, ketika aku menatap wajah nenek.. Sudah sangat lama aku membohonginya" isak tangis Reina.


"Jika kamu belum siap bercerita tak apa.. Kamu beristirahat saja dulu.. Ini apartemenku.. tinggallah disini jika kamu mau.. Aku akan pulang ke rumahku...Atau aku antar kamu kembali pulang??" Kata Adnan yang melihat Reina yang terlihat masih enggan terbuka kepada dirinya.


"Terimakasih Adnan atas kepedulianmu.. Terimakasih pengertiannya. Lebih baik aku pulang. Aku tidak pantas berada di sini" jawab Reina.


"Rei... Jika kamu butuh cerita.. kamu percaya kepadaku.. aku siap mendengarkan masalahmu.. Aku pinjam ponselmu" kata Adnan.


"Untuk apa??" Tanya Reina ragu..


"Sebentar saja" jawab Adnan mengambil ponsel milik Reina yang terlihat ragu.


Lalu Adnan mengetikkan nomor miliknya dan melakukan panggilan ke nomor miliknya menggunakan ponsel Reina.


"Itu nomorku, jika butuh sesuatu hubungi aku" jawab Adnan.


Reina menatap ke arah ponselnya.


"Ayo aku antar pulang. Ini sudah malam," kata Adnan bangun dari duduknya.


Reina pun mengikuti langkah Adnan.


"Tunggu... Biar aku cucui dulu bekas cangkir ini" kata Reina.


"Tidak usah, besok sudah ada yang mengurusnya.. ayo.." kata Adnan.


Mereka berduapun kembali turun dan menuju ke area parkir. Adnan benar benar mengantar Reina kembali pulang. Setelah mengantar Reina kembali pulang, Adnan bergegas kembali menuju ke rumahnua karena hari ini dia merasa sangat lelas setelah menyelesaikan kepindahannya kerumah baru miliknya.

__ADS_1


__ADS_2