
Suara Adzan Ashar terdengar sayup sayup. Adnan melihat jam yang melingkar pada tangan kanannya.
"Nek dan..." kata Adnan menggantung.
"Reina.. Panggil saja Rei" jawab Reina yang paham.
"Rei, kita mampir ke masjid terlebih dahulu sebentar.." ucap Adnan.
"Boleh nak.." jawab nenek.
Mendengar itu Anton segera mencari masjid terdekat. Reina hanya terdiam, sudah sangat lama dia akui meninggalkan shalatnya. Entah mengapa sejak dia masuk ke dunia itu, dia merasa kotor. Hanya sekedar menginjak teras masjid saja dia merasa tak pantas.
Mereka tiba di sebuah masjid yang terlihat mulai ramai di datangi orang orang yang akan menunaikan kewajiban mereka untuk Allahnya.
"Mari nek.." ajak Adnan.
Mereka bertiga Adnan menoleh ke arah Reina yang tidak juga turun dari mobil. Dan Adnan kembali menengok ke dalam.
"Kamu tidak ikut?" tanya Adnan.
"Haahh.. Mmmm tidak, aku sedang tidak shalat" bohong Reina..
"Ahh ok.. Tunggu di sini sebentar. Ton, mobil biarin nyala aja" pinta Adnan ke Anton.
Entah mengapa, sejak tadi Anton merasa tidak asing dengan Reina. Sejak awal pertemuan mereka. Anton terus berfikir, dimana mereka pernah bertemu.
"Aku sepertinya tidak asing denganmu" kata Anton saat menyalakan kembali mobilnya.
Deg..
Jantung Reina seketika itu berdetak begitu cepat.
"Mmm mungkin hanya mirip mas.." jawab Reina sedikit gugup.
"Mungkin juga. Ya udah, aku tinggal ya.." pamit Anton.
Reina hanya mengangguk meski Anton tidak melihatnya.
30 menit kemudian, Adnan, Anton dan nenek sudah selesai menjalankan kewajiban mereka.
"Nak Adnan.." panggil nenek.
"Ya nek.." Adnan menoleh.
"Terimakasih ya sudah mau mengantar kami" kata nenek.
"Nenek yakin, kamu pasti orang sibuk.." kata nenek.
"Sama sama nek. Saya sedang istirahat saat ini nek.. Setelah ini nenek mau kemana??" tanya Adnan.
__ADS_1
"Rencananya Reina mengajak nenek ke panti asuhan dulu. Mau menyerahkan beberapa mainan dan yang lainnya" kata nenek.
"Kalau begitu, sekalian saja kita antar" ucap Adnan.
"Apa tidak mengapa, kalian mengantar kami? Apa nanti tidak mendapatkan teguran dari atasan kalian?" tanya nenek.
"Manamungkin nek, kan Adnan yang.." kata Anton.
"Tidak nek, berhubung tadi kami di kirim untuk rapat di luar, jadi kami di beri waktu lumayan panjang. Kami masih ada waktu untuk segera kembali ke kantor nek. Nenek tidak perlu khawatir. Mari nek.." kata Adnan menyela Anton.
Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka tiba di sebuah yayasan Kasih Ibu yang menampung anak anak kurang beruntung. Bahkan Adnan salah satu donatur di sana selama setahun ini semenjak perusahaannya semakin berkembang.
"Assalamualaikum.." salam Adnan.
"Walaikumsalam" balas salam dari bu Aisah.
"Wahhh nak Adnan... Mari mari masuk" kata bu Aisah ramah.
Mereka berempat duduk di kantor bu Aisah.
"Bu, begini. Saya datang kemari hanya mengantar nenek Salamah dengan Reina. Nanti beliau sendiri yang akan mengatakan nya secara langsung maksud dan tujuan datang kemari" kata Adnan.
Bu Aisah beralih menatap nenek Salamah dan Reina.
"Begini nak, saya datang kesini hanya untuk menyerahkan beberapa mainan untuk anak anak disini dan sedikit sembako. Tidak banyak, saya dan cucu saya ini hanya ingin mengucap syukur atas kesembuhan saya.. Mudah mudahan apa yang kami berikan bermanfaat untuk yayasan. Maaf sekali lagi, tidak banyak" kata nenek.
Adnan dan Anton mengambil barang barang yang di beli Reina dan nenek di bantu oleh beberapa petugas dari yayasan.
Mereka membawa mainan mainan tersebut ke Aula. Di sana, semua anak anak sudah berkumpul. Kurang lebih ada 25 anak yang ditampung di yayasan tersebut.
"Omm Adnan..." panggil salah satu gadis kecil dan berlari menghampiri Adnan.
"Hallo Gendis, apa kabar??" sapa Adnan berjongkok.
"Gendis baik om.. Gendis kangen sama om" ucap gadis kecil itu yang terlihat manja dengan Adnan.
Reina menatap keakraban tersebut. Adnan berbeda sikap tidak seperti tadi yang cenderung dingin dan tegas saat berbicara dengannya. Tidak dengan gadia kecil itu, terlihat ngemong lembut.
"Om juga kangen sama Gendis.. Gendis baik baik disini ya. Ga boleh nakal.. Ok.." kata Adnan.
"Ok om.." jawab Gendis.
"Dia anak yang tidak diharapkan oleh kedua orang tuanya." kata bu Aisyah tiba tiba disamping Reina.
Reina menoleh ke arah bu Aisyah yang menatap sendu Gendis yang masih bermanja manja dengan Adnan.
"Maksud ibu??" tanya Reina penasaran.
"Yaa.. Dulu dia ditemukan oleh salah satu warga di tengah persawahan di belakang yayasan, setelah di serahkan ke pihak berwajib dan di usut ternyata orang tuanya masih sangat belia kira kira masih berumur 16 tahun seorang siswa dan sisiwi. Saat itu, Gendis di temukan baru dilahirkan bahkan ari ari masih menempel di badannya. Sang ibu saat itu menurut pengakuannya melahirkan sendirian dan pulang sendirian meninggalkan sang putri. Lalu pihak berwajib menyerahkan Gendis ke yayasan ini karena pihak keluarga tidak mau menerimanya.
__ADS_1
"Ya Allah. Berapa usianya sekarang bu??" tanya Reina.
"Saat ini menginjak 4 tahun.." jawab bu Aisyah.
"Salah satu akibat yang Allah berikan bagi siapa yang melakukan zina adalah berkurangnya nikmat ketika dia mengandung dan melahirkan. Karena apa, Allah telah mencabut segala rasa sakitnya dan mereka tidak mendapatkan pahalanya. Bahkan Allah mencabut rasa sayang yang mereka miliki terhadap sang bayi hingga banyak di buang bahkan dibunuh. contohnya Gendis ini. Allahualam bishawwab" kata bu Aisyah.
Reina yang mendengarkan hal itu terdiam memaku. Ia kembali merasa menjadi manusia yang paling kotor. Dia tidak mampu menjauh dari perbuatan itu,. Reina takut kesehatan sang nenek kembali memburuk jika dia berani keluar dari sana. Itu ancaman yang selalu mami Sinta berikan ketika Reina mengutarakan ingin keluar dari sana.
Bahkan, mami Sinta mengancam akan menunjukkan sebuah rekaman pergualatan panas di ranjang dirinya ketika sedang melayani sang putra. Bahkan akan menyebar luaskan rekaman tersebut.
Ya, tak jarang Marko putra dari mami Sinta sering minta dilayani oleh Reina. Dan Markolah dahulu yang mengambil paksa mahkota milik Reina.
Setelah selesai, Adnan mengantar nenek dan Reina hingga depan gang setelah itu Adnan bergegas kembali ke perusahaannya karena masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
#####
Sesampainya di rumah, Reina bergegas masuk kedalam kamarnya. Semua kata kata bu Aisyah terus terngiang di telinga Reina. Reina menangis dan terus mengusap tubuhnya dengan kasar, dia merasa jijik dengan dirinya sendiri tapi dia tidak bisa begitu saja keluar dari sana.
Reina mengurung diri dalam kamar hingga pukul 9 malam. Ponselnya terus berdering, nama Marko yang terus memanggil.
"Hallo.." jawab Reina malas.
"Heehhh dimana loe!!.cepat kesini!!" bentak Marko.
Reina langsung menutup panggilan tersebut. Marko akan selalu menghubunginya jika dia membutuhkan tubuh Reina. Jika Reina menolak, tak segan segan Reina akan mendapatkan siksaan dan paksaan itu yang pasti.
Tok..tok..tok..
"Rei... Kamu ga makan nak??" panggil sang nenek.
"Ya nek sebentar.." Jawab Reina.
Reina keluar dari kamarnya.
"Reina mandi dulu ya nek," kata Reina.
"Kamu kenapa nak??" tanya sang nenek yang melihat muka sembab Reina.
"Tidak apa apa nek, Reina hanya merasa menyesal karena kurang bersyukur mendapatkan seorang nenek seperti bebek. Reina teringat cerita bu Aisah tentang salah satu anak asuhnya. Ternyata, Reina masih lebih beruntung" jawab Reina memeluk sang nenek.
Nenek membalas pelukan Reina penuh sayang.
"Reina mandi dulu nek." Reina mengurai pelukannya dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Setelah menyabtap makanannya, Reina langsung ijin untuk berangkatbkerja ke sang nenek.
"Berhati hatilah Rei.." kata sang nenek.
Sebenarnya sang nenek sering mendapat omongan dari beberapa tetangganya jika Reina bekerja di tempat hiburan malam. Namun sang nenek selalu menepisnya tidak percaya bahkan tidak mau ambil pusing dan nenek tidak pernah menanyakan hal itu kepada Reina. Karena sang nenek percaya penuh jika Reina bukan gadis seperti itu.
__ADS_1