Sweet Butterfly

Sweet Butterfly
jujur


__ADS_3

"Nenek hanya ingin membuktikan omongan mereka nak.. Nenek tidak mau salah dalam menilai mana yang benar dan mana yang salah" kata nenek menunduk.


"Nenek yang sabar dahulu ya.. Adnan akan berusaha untuk membuktikannya" kata Adnan.


"Terimakasih ya nak, maafkan nenek jika jadi merepotkanmu" kata nenek menggenggam tangan Adnan.


"Tidak nek... Adnan akan mencoba cari tau di waktu senggang Adnan" kata Adnan.


#####


Drrrttt drrrttt


Ponsel Adnan bergetar, ia segera menerimanya.


"Assalamualaikum.." kata Adnan.


"Walaikumsalam.. kamu dimana? Kata bi Asih kamu keluar tanpa memberitahu" tanya Anton.


"Lagi nyari ikan.. kolam belangka isinya cuma nyamuk" jawab Adnan.


"Ckkk baru juga sembuh, kenapa ga minta tolong?" Protes Anton.


"Hissss kamu, kenapa jadi kaya emak si. Aku dah gapapa Ton.. Aku lihat kolam kosong begitu kepikiran pengin beli ikan, sekalian cari suasana baru" jawab Adnan tersenyum.


"Baiklah hati hati" pesan Anton.


"Hmmm" jawab Adnan mematikan sambungan teleponnya.


Adnanpun membelokkan mobilnya setelah melohat ada toko penjual ikan. Adnanpun bergegas memilih ikan yang cukup menarik perhatiannya.


#####


Waktupun terus berlalu, di tengah kesibukannya. Adnan masih terus mengikuti Reina. Adnan terus memcatat setiap, aktivitas Reina..


Seperti malam ini, Adnan pura pura berniat menyewa jasa Reina. Semua itupun tak lepas dari bantuan sahabat sekaligus asistennya Anton.


"Nan.. kamu yakin??" Tanya Anton.


"Yakin... Aku hanya ingin membantu nenek Salamah" jawab Adnan.


"Bukan untuk perasaanmu?" Tanya Anton meyakinkan.


"Apa aku salah?" Tanya Adnan.


"Salah sih tidak, aku hanya takut kamu kembali sakit Nan.. Diluar sana masih banyak gadis yang baik dari segi akhlak dan rupanya" kata Anton.


"Apa yang kamu katakan benar Ton, tapi aakah perasaan bisa kita paksakan" kata Adnan.


"Baiklah jika begitu.. Aku akan menghubungi mucikarinya jika kamu dah menunggu di hotel Himalaya" kata Anton akhirnya.


Adnan hanya mengangguk. Sungguh, perasaannya kini bercampur aduk..


"Hallo nyonya Sinta... Apa kabarnya" sapa Anton.


Adnan menatap Anton. Anton pun menatap Adnan seolah olah tau apa yang Adnan pikirkan.


"Yaa selamat malam" jawab mami Sinta.


"Sesuai kesepakatan tadi siang, saya memesan salah satu bunga mas yang paling terbaik" kata Anton.


"Apakah anda siap akan biayanya?" Tanya mami Sinta.


"Berapapun yang harganya yang anda pasang" jawab Anton.


"Hahahaha baik baik. Transfer saya 5 juta untuk uang muka, dan 5 juta lagi nanti anda berikan langsung ke Bunga" jawab mami Sinta.

__ADS_1


"Baiklah, akan saya transfer sekarang. Berikan nomor rekeningnya" kata Anton lagi.


Setelah itu, Anton terlihat mengotak atik ponselnya.


"Beres... Kamu tinggal menunggu disini.." kata Anton.


"Sepertinya kamu begitu mengenali perempuan itu Ton?" Tanya Adnan.


"Siapa yang tidak tau dengan mucikari seperti dia.Adnan. Hanya dia mucikari yang selalu bis lolos dari jeratan hukum. Ahhh dan satu lagi Nan. Kmu harus berhati hati jika bertemu dengan anak ini" kata Anton menunjukkan sebuah foto yang dia dapat dari salah satu anak buahnya.


"Siapa dia?" Tanya Adnan.


"Dia putra sang mucokari, sesuai informasi. Selama ini yang selalu mengantar Reina adalah dia. Jadi berhati hatilah jika nanti bertemu dengan dia" kata Anton.


"Hufhh baiklah.." jawab Adnan.


"Ok.. aku keluar dulu. Aku tunggu di kamar sebelah." Kata Anton beranjak dari duduknya dan pergi keluar.


Adnan menunggu hampir 1jam disana. Kini dia sudah bersiap dengan piyamanya sesuai dengan arahan Anton.


Tok.. tok..


"Tunggu.." jawab Adnan.


Hufhhhhh


Adnan menghembuskan nafasnya.


Ceklek


"Selamat malam tuan Yoga..." Sapa Marko.


Adnan menatap Marko secara seksama lalu beralih ke arah Reina yang terlihat terkejut mwlihat dirinya berada di sana.


Markopun menarik tangan Reina.


"Marko, sepertinya malam ini a.. aku tidak bisa.. a.. aku tiba tiba merasa tidak enak badan" kata Reina mencoba menolak dan berusaha ingin kabur.


"Tunggu, saya sudah membayarmu jadi kau tidak bisa membatalkannya begitu saja" kata Adnan dibuat sedingin mungkin.


"Atau, saya akan menghubungi nyonya Sinta jika kau menolak dan aku meminta uang ku kembali" ancam Adnan.


"Kau masuklah!!" Gertak Marko di telinga Reina.


"Ma.. maaf tuan.. akan saya pastikan bunga akan melayani anda malam ini" kata Marko.


Markopun memaksa Reina untuk mendekati Adnan. Dan Adnan berusaha menggenggam lengan Reina agar tidak pergi.


"Baiklah tuan.. selamat bersenang senang" kata Marko.


Adnanpun menarik Reina masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya.


Adnan melepaskan tangan Reina, dan berjalan menuju ke sebuab sofa yang berada di kamar tersebut.


"Cepat lakukan apa yang ingin kamu lakukan agar tugasku segera selesai" kata Reina dingin.


Entah mengapa, baru kali ini Reina merasa takut menghadapi pelanggannya. Dan ada rasa sakit di hatinya mengetahui Adnan menyewa dirinya.


Adnan hanya tersenyum menatap Reina.


"Bukan aku bermaksud untuk ikut campur dengan kehudpanmu Rei.." kata Adnan.


"Lalu..?" Tanya Reina.


"Tidakkah kamu memikirkan nenek Salamah jika beliau mengetahui bagaimana kamu" kata Adnan.

__ADS_1


"Jangan ikut campur. Kamu tidak tau apa apa" kata Reina dingin.


"Aku memang tidak tau apa apa tentang kamu. Tapi aku mengkhawatirkan nenek Salamah" kata Adnan.


"Jika kamu tidak mengadi ke nenek, aku rasa semua akan baik baik saja seperti sekarang ini." Kata Reina.


"Kamu yakin??" Tanya Adnan memicingkan matanya.


Reina menatap tajam Adnan.


"Maksud kamu apa?" Tanya Reina.


"Jangan lanjutkn semua ini Rei, maka aku tidak akan mengatakan ke nenek" kata Adnan mulai memancing Reina agar terbuka.


"Kamu tidak tau apa apa, jadi kamu tidak bisa meminta ku untuk berhenti" jawab Reina.


"Jadi, ceritakan agar aku tau alasan kamu berada disini" kata Adnan.


Reina menggeleng.


"Tidak perlu tau. Ini sudah kosenkuensi yang harus aku tanggung." Jawab Reina yang terlihat masih enggan menceritakannya.


"Apa kamu tidak memikirkan nenek salamah jika dia.mengetahui apa yang orang orang katakan tentang kamu?" Kata Adnan masih berusaha memancing Anton.


"Selama ini nenek percaya sama aku. Aku tidak bisa menceritakannya" jawab Reina masih kekeh.


"Apa kamu takut dengan Marko?? Kamu dapat ancaman dari dia?" Tanya Adnan.


Reina hanya terdiam..


"Ceritakan Rei, aku akan membantumu.. demi nenek Salamah. Beliau sangat percaya denganmu, jangan kamu sia siakan keercayaan itu. Atau dia akan sangat kecewa jika dia benar benar akan tau semua ini dari orang lain" bujuk Adnan.


Reinapun menangis, dia menjatuhkan dirinya duduk ke tempat tidur. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"A.. aku malu... Ini alasan klasik yang pastinya kamu tau hiksss" kata Reina di sela sela tangisnya.


Adnan hanya terduduk di sofa terdiam dan menatap Reina. Adnan yakin tidak hanya itu alasan Reina.


"Kamu sudah bekerja Rei, dan aku tau kamu kuliah dengan beasiswa yang kamu dapat... Lalu kebutuhan yang mana lagi?? Dari segi penampilan, kamu bukan tipe wanita yang suka glamour" kata Adnan yang benar benar mencari tau tentang Reina bahkan hinggal sekecil apapun itu.


Reina menatap Adnan. Melihat Reina berlinang aor mat, Adnan bangun dari duduknya dan memberikan tisu yang tergelak di dimeja samping dia duduk.


"Bukan itu.." jawab Reina lirih.


"Lalu?? Apa yang kamu maksud hidupmu dikontrol oleh orang lain adalah ini??" Tanya Adnan.


Reina mengangguk.


"Ada sebabnya kan?" Tanya Adnan lagi.


"Aku berhutang dengan mami Sinta, dan aku tak sanggup untuk membayarnya. Akan di anggap lunas jika aku bekerja dengannya" jawab Reina kembali menangis.


Tanla sadar Adnanpun memeluk Reina. Tangis Reina sungguh pilu. Seolah olah tidak ada harapan lagi untuknya.


"Berapa?" Tanya Adnan singka


"Dulu aku pinjam 20 juta untuk pengobatan nenek. Tapi ternyata mami menekanku harus mengembalikan 50 juta dalam 5 bulan," jawab Reina masih menangis mengendurkan pelukan Adnan.


"Sudah sejak kapan??" Tanya Adnan.


"Semenjak aku lulus SMA" jawab Reina.


"Kamu tidak berusaha keluar?" Tanya Adnan lagi.


"Aku di ancam, jika aku nekat. Nenek yang jadi korbannya.. aku tidak mau itu terjadi" kata Reina.

__ADS_1


__ADS_2