
"Setelah ini kamu mau kemana??" Tanya Adnan.
Reina mengurai pelukan dari Adnan.
"Aku harus mengikuti Marko, entah terima pelanggan lain atau langsung kembali ke rumah mami Sinta" jawab Reina.
"Rei, bisakah kamu percaya pada ku?" Kata Adnan menatap Reina.
"Maksud kamu?" Tanya Reina.
"Aku akan membantumu mencari solusinya, aku akan coba booking kamu dalam satu bulan ini. Selama itu pula aku akan mencoba cari cara lain agar kamu benar benar lepas dari orang orang itu, bagaimana?" Ide Adnan.
" Marko tidak akan melepaskanku Nan, dia akan terus memantau ku" jawab Reina.
"Ikuti saja dulu kata kata ku, kita coba." Kata Adnan.
"Tapi..." Kata Reina ragu.
"Sudah, lebih baik kamu istirahat. Ini masih terlalu cepat jika kamu keluar sekarang" kata Adnan memeriksa jam yang melingkar ditangan kanannya.
Reina hanya mengangguk, sedangkan Adnan kembali berjalan ke arah sofa yang lebih panjang dan merebahkan tubuhnya disana.
Adnan mencoba menutup matanya begitu juga Reina, namun ternyata mereka sama sama tidak bisa terlelap. Mereka larut dalam pikiran mereka masing masing.
"Adnan" panggil Reina lirih.
"Hmmm" jawab Adnan dengan gumaman.
"Belum tidur?" Tanya Reina.
"Ada apa?" Tanya Adnan.
"Bisakah aku minta tolong?" Tanya Reina.
"Katakan" jawab Adnan menajamkan pendengarannya.
"Selamatkan dahulu nenekku" kata Reina.
Kembali sunyi...
"Ancaman terberatku adalah nenek mengetahui semua ini. Aku tidak mau nenek kecewa" kata Reina.
"Tapi kenyataannya kamu sudah mengecewakannya Rei" kata Adnan.
"Iya aku tau, tapi aku tidak ingin nenek tau dari orang lain. Dia sudah terlalu baik terhadapku, merawatku dari sejak kecil. Meski aku bukan cucu kandungnya" kata Reina mulai terisak.
"Maksud kamu??" Tanya Adnan menoleh ke arah Reina.
"Aku dirawat nenek sejak kecil, padahal aku bukan cucunya. Beliau tidak memiliki keturunan hingga sang suami meninggal." Cerita Reina.
"Orang tuaku tidak menginginkanku, hingga aku bertemu dengan nenek dan beliau merawatku bahkan menyekolahkanku.." lanjut Reina.
"Hingga suatu hari, waktu itu aku duduk di bangku SMU. Bertemu dengan Marko dan kawan kawan. Mereka merusakku" tangis pecah.
"Sebelumnya aku tidak tau jika dia putra dari mami Sinta. Harta satu satunya yang aku miliki direnggut paksa oleh Mereka" kata Reina dalam tangisnya.
__ADS_1
Adnan masih setia memdengarkan cerita Reina dengan tatapan iba. Adnan bangun dari duduknya dan menghampiri Reina lalu kembali memeluknya.
"Dan karena ini kamu mau masuk kesana?" Tanya Adnan.
"Selain itu, aku tidak tau harus mencari biaya rumah sakit nenek kemana. Aku belum siap kehilangan nenek, aku masih butuh nenek. Aku ingin nenek kembali sehat seperti sedia kala" kata Reina.
"Baiklah, aku berjanji akan mengamankan nenek terlebih dahulu. Nenek akan aku bawa ketempat yang aman bersama ku." Kata Adnan mengurai pelukannya.
"Tapi apa alasan kamu ke nenek?" Tanya Reina.
"Berpura puralah menjadi kekasihku Rei," kata Adnan.
Reina menatap bingung Adnan..
"Agar aku bisa memberi alasan ke nenek Salamah agar mau ikut denganku, dan kamu juga ikut membujuknya ok" kata Adnan.
Reina hanya mengangguk.
"Tidurlah" perintah Adnan.
"Aku tidak bisa tidur, lebih baik aku keluar sudah hampir 3 jam aku berada di sini. Aku rasa tidak akan terlalu mencurigakan." Kata Reina membenahi dirinya.
"Mandilah dulu, agar terlihat meyakinkan" kata Adnan yang mulai mengacaj acak tempat tidurnya agar seolah olah habis terjadi sesuatu hal.
Reina mengangguk dan pergi menuju ke kamar mandi.
Lima belas menit kemudian, Reina keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Dan Adnan dengan posisi duduk di pinggir tempat tidur dengan piyama dibuat sedikiy terbuka.
"Sudah?" Tanya Adnan.
"Rei..." Panggil Adnan.
"Reina.. kamu tidak apa apa?" Tanya Adnan lagi.
"Ahhh ti.. tidak.." gugup Reina.
Adnan hanya tersenyum melihat kegugupan Reina.
"Ayo aku antar keluar." Ajak Adnan.
Adnan menarik Reina dan merangkul pinggang ramping Reina.
Apa yang Adnan lakukan justru membuat Reina semakin gugup, jantungnya semakin berpacu cepat. Terlabih bau mint yang menempel di tubuh Adnan.
Ceklek...
Didepan terlihat Marko telah menunggu bersender di tembok depan kamar. Melihat pintu terbuka, Marko mendekati kamar tersebut dan sepintas mengintip kondisi di dalam kamar.
Adnan mendekati telinga Reina "bergelaut manjalah untuk meyakinkannya" bisik Adnan.
Reinapun langsung merangkul pinggang kuat milik Adnan dan satu tangannya mengelus dada Adnan yang sedikit terbuka.
"Terimakasih ya bunga" kata Adnan mengecup kening Reina.
Ada desiran aneh dalam relung hati mereka. Itu yang mereka rasakan ketika kecupan itu mendarat dikening Reina. Reina merasa aman dalam dekapan Adnan, dan Adnan merasa enggan melepaskan Reina.
__ADS_1
"Uangnya sudah aku masukan di dalam tas kamu" kata Adnan.
Tatapan mereka bertemu untuk sesaat, dan mau tidak mau Reina memutus tatapan itu dan berjalan mendekati Marko.
Marko dan Reinapun mulai pergi meninggalkan Adnan yang masih berdiri di depan pintu.
"Ahh tunggu.." panggil Adnan.
Mereka berduapun menoleh ke arah Adnan.
"Bisakah saya membooking dia selama satu bulan full" tanya Adnan.
"Akan ku tanyakan ke mami" jawab Marko.
"Yang jelas, jika ada (menggesekan jempul dan telunjuknya) semua akan bisa terjadi" kata Marko.
"Berapapun akan bayar, tapi harus dia" tkata Adnan menunjuk Reina.
"Ok, aku akan tanyakan dahulu" jawab Marko.
Setelah mereka berdua pergi dan tak terlihat terhalang oleh lift. Arya pun keluar dari kamarnya.
"Kenapa lama sekali" kata Arya keluar dari kamarnya.
Tanpa menjawab, Adnan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Ckckckckc... Kalian benar benar melakukannya??" Tanya Arya melihat situasi di dalam.
"Sembarangab, emang aku kamu... Kalau ga aku berantakin, yang ada si Marko itu curiga" jawab Adnan.
"Lalu apa rencana kamu.." tanya Arya.
"Aku ingin membawa nenek Salamah kerumah ku untuk mengantisipasi gertakan mereka. Karena nenek Salamah kelemahan Reina." Kata Adnan.
Arya mendengarkan Adnan dengan seksama.
"Apa kamu sudah memalsukan data diriku Ya?" Tanya Adnan.
"Sudah, semua informasi tentang kamu di media sudah aku bereskan. Kebetulan aku punya teman yang memiliki skill di bidang itu tenang saja." Jawab Arya.
"Sepertinya aku harus belajar hal hal seperti ini kedepannya nanti. Ku sudah terlalu jauh tertinggal dengan perkembangan informasi saat ini" gumam Arya.
"Kamu ngomong apa Ar?" Tanya Adnan.
"Ahh ga, aku harus ambil kursus kayaknya Tan" kata Arya.
"Untuk?" Tanya Adnan.
"Sebagai asisten sekaligus tangan kanan kamu, aku butuh beberpa skill. Terutama dalam dunia informatika yang lambat taun berkembang begitu cepat" kata Arya.
"Setuju Al. Tapi kamu yakin? Kita aja kuliah belum kelar" kata Adnan.
Bisa lah, weekend akan aku manfaatkan untuk hal itu" jawab Arya.
"Lebih baik kita pulang, besok kita lanjutkan membahas rencana ini dan Reina." Kata Adnan.
__ADS_1
Mereka berduapun pergi meninggalkan hotel tersebut dan menuju ke rumah mereka untuk beristirhat.