Sweet Butterfly

Sweet Butterfly
pengakuan Adnan.


__ADS_3

Kini kesibukan Adnan semakin bertambah, dia sudah mulai mengikuti progam kejar paket untuk mendapatkan ijasah setara Menengah Atas. Adnan mulai membagi waktunya, dan tidak semua pertemuan di luar kota bisa ia handle.. Dia lebih sering mempercayakan ke Anton yang akan ditemani oleh Putri.


Ya, Putri sudah Adnan rekrut menjadi sekertarisnya setelah menimang nimangnya.


Sepulang kerja, setiap minggu 3 kali. Dia akan mendapatkan materi untuk dia pelajari. Adnan begitu bersungguh sungguh mengikutinya. Meski dia jarang hadir pada setiap pertemuan, namun dia tidak pernah absen untuk mendapatkan materi setiap minggunya.


Hari ini, Anton dan Putri dikirim untuk mewakili dirinya meninjau salah satu proyek di wilayah Bandung.


Entah sejak kapan, atau mungkin karena terlalu sering pergi berdua. Anton menaruh hati dengan Putri. Tak jarang Anton memberikan perhatian terhadap Putri, dari hal hal sepele seperti makan, antar pulang dan lainnya.


"Putri, pak Adnan ada??" tanya Anton basa basi.


"Ada pak" jawab Putri.


"Ohh ya. Kamu sudah persiapkan untuk ke Bandung??" tanya Anton.


"Sudah pak, nanti sore kan berangkat?" tanya Putri.


"Iya.. Aku jemput ya.." tawar Anton.


"Tidak perlu pak, kan kita tidak satu arah. Nanti bapak bolak balik jemput saya dulu" kata Putri.


"Tidak apa apa kok.. Aku jemput ya.." jawab Anton.


"Baiklah, terserah pak Anton saja.." jawab Putri.


Antonpun masuk kedalam ruangan Adnan.


"Nan.. Nihh ada beberapa file yang harus kamu cek dan tanda tangani" kata Anton menyerahkan beberapa berkas.


"Ahhh baiklah.. Bagaimana soal proyek di Bandung.. Kamu dah persiapkan semuanya.. Maaf ya.. Lagi lagi aku ga bisa ikut meninjaunya.." kata Adnan.


"Sudah, sudah siap.. Gapapa, aku tau kesibukanmu.." kata Anton.


"Nan.." panggil Anton.


"Hmmm ada apa?" tanya Adnan menatap sahabatnya itu.


"Jika aku memiliki hati ke Putri gimana??" tanya Anton.


"Kok tanya nya ke aku?? Tanya ke Putri dong??" jawab Adnan bingung.


"Mmm aku minta pendapat dulu sama kamu" kata Anton.


"Ckk minta pendapat soal beginian ke aku.. Kamu yang punya perasaan Anton.. Masa iya aku mau cegah. Jika kamu memang suka sama dia.. Ya ngomong sama dia... Dapetin dia. Yang penting harus profesional jika dalam lingkup pekerjaan" jawab Adnan.


"Kamu gapapa??" tanya Anton.


"Maksudnya??" tanya balik Adnan.


"Kalian berdua cocok" jawab Anton.


"Ngomong yang jelas Anton.." kata Adnan tidak paham.


"Kalian berdua sebenarnya cocok kalau menjalin hubungan" Adnan menjelaskan.


"Anton.. Anton.. Aku akui, dulu memang aku pernah suka sama dia.. Tapi dia secara tidak langsung menolakku.. Jadi, sekarang aku tidak memiliki perasaan apapun ke dia.." jawab Adnan.

__ADS_1


"Maksud kamu??" tanya Anton.


"Ya, dulu aku pernah mendengar dia berbicara sama salah satu temannya jika dia tidak mau memiliki kekasih yang selevel sama dia.. Secara bapaknya dulu RT,. Berartikan secara ga langsung aku sudah ditolak sebelum mengungkapkan nya kan?? Jadi sejak saat itu, aku buang perasaan itu dan fokus untuk masa deoanku sendiri" jawab Adnan.


"Yaa meski dulu aku juga hampir tidak pernah bermain juga si. Kamu dah taulah sedikit banyaknya tentang aku dahulu" lanjut Adnan.


"Wahhh aku jadi pesimis nih" kata Antin.


"Kenapa??" tanya Adnan.


"Diakan nyarinya yang kaya" jawab Anton.


"Tapi kamu dah mapan.. Ingat ya, sebagian saham diperusahaan ini juga ada kamu.." kata Adnan.


"Laahh kan kamu dah mulangin semua Nan.." jawab Anton.


"Iya memang.. Tapi aku anggap sebagian dari perusahaan ini ada nama kamu. Kami dah mengorbankan rumah kamu" kata Adnan.


"Sungguh Nan, aku beruntung bisa mengenal dan sedekat ini sama kamu" jawab Anton.


"Aku berharap, suatu saat nanti kita tidak mengalami masalah yang bisa memecahkan persahabatan kita apalagi jika itu soal perempuan. Jadi.. Jika kamu memang benar suka sama dia, kejarlah.." kata Adnan.


"Kamu ga mau mncobanya?" tanya Anton.


"Emangnya baju dicoba. Tidaklah.. Itu sidah masalalu. Untuk sekarang aku belum terfikirkan.. Dan aku memastikan, jika aku jatuh cinta bukan sama dia" kata Adnan yakin.


"Baiklah.. Thanks ya bro.." kata Anton


"Siip.. Daahh ahh balik kerja, soal proyek di Bandung, aku percayakan ke kamu" Kata Adnan.


"Siap pak bos." jawab Anton dan berlalu pergi.


"Hati hati di jalan ya.. Jangan lupa oleh olehnya yaitu kabar baik" kata Adnan yang kebetulan belum pulang.


"Siap pak bos" jawab Anton.


"Aku pulang dulu ya.. Maaf ga bisa ikut" pamit Adnan.


"Ok.. Hati hati" jawab Anton.


Adnan melenggang pergi menuju ke parkiran di mana mobilnya berada.


"Tidak menyangka, seorang Adnan bisa sesukses ini ya" kata Putri menatap Adnan.


"Kamu suka sama dia?" tanya Anton.


"Haahh.. Mm ti.. Tidak.. Hanya tidak menyangka saja.. Dulu dia untuk waktu bermain saja tidak punya.. Sekolah saja hanya sampai SMP." jawab Putri.


"Yaahh aku sudah banyak tahu tentang dia, dia pekerja keras. Keinginannya sangat kuat. Jatuh bangunnya dia aku saksinya. Bahkan untuk membangun perusahaan ini, dia luar biasa. Benar benar dari nol. Berapa kali dia mengalami kebangkrutan, berapa kali pula dia tertipu. Tapi inilah buah hasil kerja kerasnya." kata Anton.


Putri hanya mengangguk, dia semakin bertekat untuk mendapatkan Adnan. Apapun caranya. Bahkan tanpa sengaja dia dengar sendiri jika tadi Adnan pernah menaruh hati ke dirinya. Dia yakin, perasaan Adnan akan bisa hadir kembali untuk dirinya.


"Dah yuk, mobil dah datang. Kooer kamu biar aku yang taruh. Kamu masuk dulu" kata Anton.


"Ehh tidak usah pak.. Saya bisa kok" kata Putri.


"Sudah.. Sana masuk.." kata Anton.

__ADS_1


Putripun menurut, dia masuk kedlaam mobil terlebih dahulu. Dan tidak lama, Anton ikut masuk ke dalam mobil.


"Put.." panggil Anton...


"Ya pak.." jawab Putri.


"Diluar jam kantor jangan panggil saya pak ya.." pinta Anton.


"Baik pak.. Ehh mas.." jawab Putri.


"Bagus.." senyum Anton.


Setelah itu mereka saling diam, Anton memainkan ponselnya begitu juga Putri.


"Pak.. Bapak tau hotel yang paling dekat dengan proyek kita nanti??" tanya Anton.


"Yang saya tahu hanya hotel Karisma pak" jawab sang sopir.


"Tapi ini kamarnya hanya tinggal satu, lagi full." kata Anton.


"Atau mau ke villa milik boss saudara saya saja pak.. Ga terlalu jauh si dari tempat kita tuju" saran dari pak Supri san sopir.


"Memangnya di sewain pak..??" tanya Anton.


"Iya pak.." jawab pak Supri.


"Ya udah boleh deh.." Anton menyetujuinya..


Empat jam perjalanan, mereka pun tiba tepat pukul 9 malam. Rasa lelah sudah menggelayutinya tubuh mereka.


"Pak, bu, kenalkan ini Agus dan ini istrinya Marni. Mereja yang mengurus vila ini.." pak Supri mengenalkan.


"Mari Den, non.. Bibi sudah siapkan makan malamnya." ajak bi Marni.


"Bibi tau aja kalau saya tengah kelaparan.. Terimakasih ya bi" kata Antin.


"Tidak uaah sungkan Den.." jawab bi Marni.


"Kamar kita yang mana ya bi.." tanya Putri yang susah merasa risih dengan badannya ingin segera mandi.


"Ahh ayo non, aden saya antar ke kamar kalian.." ajak bi Marni.


Mereka berduapun mengikuti bi Marni mengantar ke kamar mereka masing masing.


"Ini kamar Aden, dan yang sebelahnya kamar non.." kata bi Marbi.


"Terimakasih ya bi.. Saya masuk dulu" pamit Anton dan diikuti Putri.


Setelah beberes dan membersihkan badan, merekapun keluar dan menikmati makan malam mereka.


"Pak, saya ijin ya.. Saya akan menginap dirumah Agus.." pamit pak Supri.


"Lohh saya pikir bapak di sini?" tanya Anton.


"Tidak pak.. Besok pagi sekali saya sudah stand bay disini." jawab pak Supri.


"Mmm baiklah.." jawab Anton.

__ADS_1


Setelah pak Supri pergi, Anton pun memastikan semua pintu dan jendela sudah terkunci dan dia langsung masuk ke kamar miliknya.


Anton berusaha segera untuk memejamkan mata, dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak dia inginkan. Bagaimanapun, hanya berdua dalam satu atap dengan lawan jenis dipastikan yang ketiga ada setan yang menghasut meski mereka berbeda kamar. Terlebih Anton menaruh hati pada Putri.


__ADS_2