Sweet Butterfly

Sweet Butterfly
siapa??


__ADS_3

Sesampainya di hotel, Marko membawa Reina ke sebuah kamar dilantai 4 dengan nomor 408. Reina hanya terdiam mengikuti langkah Marko, ingin rasanya kabur namun teman Marko tepat berada di belakangnya.


"Apa aku kabur aja ya dengan membawa nenek. Tapi apa alasannya.." pikir Reina.


"Hai Mr. Parker, selamat sore..." Sapa Marko kepada seorang bule dengan postur tubuh yang tinggi dan berotot.


"Ya.. ya.. mana gadis yang ku pesan" tanya Mr. Parker tanpa basa basi.


"Hahaha ternyata Mr Parker kurang bersabar.. sebelun itu, sesuai perjanjian DP dahulu baru akan saya berikan gadis ini" ucap Marko mengenggam lengan Reina kasar.


Entah mengapa, mendengar ucapan Marko, Reina masih merasa tersayat hatinya, direndahkan tubuhnya diperjual belikan seperti ini. Namun lagi lagi, kenyataan yang menampar dirinya jika memang begitu adanya.


"Ini" Mr. Parker langsung memberikan sebuah amplop ke dada Marko.


"Ok, thank you Mr. Parker" ucap Marko tersenyum puas.


Dengan terpaksa Reina menghampiri Mr. Parker dan Mr. Parker menggenggan tangan Reina.


"Aku tau kamu terpaksa melakukan ini, tapi tenang saja, aku bukan laki laki sebejad itu" kata Parker duduk di pinggiran tempat tidur.


"Maksud Mr.??" Tanya Reina terkejut.


"Yaahh, aku hanya butuh teman selama di sini. Dan aku menyewamu bukan untuk persoalan ranj*ng. Temani aku hanya sekedar berjalan jalan disini. Dan tenang saja aku tidak akan menceritakan ini ke bosmu itu" kata Parker.


"Apa Mr yakin??" Tanya Reina ragu.


"Yaahhh saya yakin." Jawab Mr. Parker tersenyum.


"ApaMMr tidak merasa rugi sudah menyewa saya tapi hanya sebagai teman biasa saja?" Tanya Reina.


"Apa kamu benar mengharapkan jika aku melakukan itu kepadamu?" Tanya Mr Parker menatap Reina.


Reina menunduk dan menggeleng.


"Oklah.. ayo kita keluar. Temani saya makan malam" ajak Mr. Parker.


"Tapi Mr.... Marko akan mengawasi kita.." kata Reija takut.


"Tenang saja, saat ini kamu tanggung jawab ku. Dan bersandiwaralah ketika kita keluar dari kamar ini" pesan Mr. Parker.


"Baik.." jawab Reina nurut.


Dan sesuai yang Mr. Parker katakan, ia sama sekali tidak menyentuh Reina. Bahkan ia memberi penawaran jika suatu saat nanti Reina membutuhkan bantuan bisa menghubunginya.


Mr. Parker hanya menyentuh Reina sebatas memeluk pinggang atau menggandeng tangannya jika berada di luar kamar.


Hingga pagi menjelang, Reina keluar dari kamar Mr. Parker dan Mr. Parker berjanji dilain kesempatan akan menyewanya kembali suatu saat nanti. Baru kali ini Reina mendapat pelanggan yang tidak membutuhkan jasanya di atas ranj*ng melainkan hanya minta ditemani hanya untuk sekedar mengisi waktu luangnya saja.


Reina keluar dari hotel tersebut dan mencari ojek yang telah ia pesan. Beberapa saat menunggu ojek tersebutpun datang dan Reina langsung menaiki bangku belakang setelah menerima helm dari tukang ojek tersebut.

__ADS_1


#####


Di rumah sakit, Adnan tengah bersiap siap untuk keluar rumah sakit setelah semalam dokter memutuskan untuk melepas jarum infus dan memperbolehkannya untuk pulang di esok paginya.


Kini Anton tengah mengurus biaya rumah sakit Adnan selama dirawat. Jika boleh memilih, Adnan sebenarnya ingin keluar dari semalam namun sayang bagian administrasi tutup dan mau tidak mau Adnan menunggu hingga pagi.


"Udah siap" kata Anton setelah selesai mengurus administrasinya.


"Sudah yukk, emak dah dikabarin Nton?? Takutnya emak kesini.." tanya Adnan.


"Sudah, katanya emak nunggu dirumah kamu sama bi Asih." Jawab Anton.


"Dah ga ada yang ketinggalankan??" Tanya Anton memastikan.


"Dah ga ada, dah dibawa bi Asih semua semalam" jawab Adnan berjalan keluar kamarnya.


Mereka berduapun pergi meninggalkan rumah sakit. Meski sudah dinyatakan sehat, namun Adnan masih merasa lemas dan dia memilih bersendar dan menutup matanya.


"Ton.. bagaimana perusahaan" tanya Adnan sembari memejamkan matanya.


"Ada tamu ada As, Nan... Namanya mr. Parker... Dia ingin sekali bertemu dengan mu. Dilain waktu jika ia ada kunjungan bisnis ke Indonesia dia berharap bisa bertemu langsung dengan mu" kata Amton.


"Mr. Parker??? Siapa dia??" Tanya Adnan.


"Ahhh ini ada kartu namanya" kata Antin merogoh saku kemejanya dan menyerahkan sebuah kartu nama ke Adnan.


"Lalu apa hubungannya dengan bisnis kita??" Tanya Adnan.


"Belum tau pasti, dan aku sudah menanyakan tau dari mana tentang profil perusahaan kita juga kamu. Dia hanya menjawab tau dari internet" jawab Anton.


"Baiklah, buatlah janji dengannya" pita Adnan.


"Ok, akan aku coba hubungi, aku dengar hari ini dia akan terbang ke As. Mudah mudahan belum" kata Anton sembari mencoba menghubungi Mr. Parker tersebut.


"Halo Mr. Parker.. Ini saya asisten dari bapak Adnan. Bisakah kita bertemu hari ini?" Tanya Anton to the point.


"Ahh I am sorry Mr. Anton.. sebentar lagi saya akan take off. Hmmm bagaimana jika saya undang anda dan Mr Adnan untuk ke tempat saya di As." Jawab Mr. Parker dengan logatnya..


"Ahh sangat disayangkan. Kapan anda akan kembali ke Indonesia?" Tanyan Anton.


"Belum tau pasti Mr." Jawab Mr. Parker.


"Baiklah, nanti akan saya sampaikan undangan anda ke pak Adnan" jawab Anton.


"Ok Mr. Anton.. saya tunggu kedatangan kalian berdua" kata Mr. Parker memutuskan panggilan tersebut.


"Mr.. Parker mengundang kita untuk mengunjunginya kesana" kata Anton.


"Hufff siapa sebenarnya Mr. Parker ini.." tanya Adnan berfikir.

__ADS_1


"Adakah masalalu mu atau orng tuamu mungkin?" Kata Anton mencoba membantu Adnan untuk mengingat.


"Entahlah, bapakku setahu ku tidak memiliki urusan dengan bule bule seperti ini" kata Adnan sambil mencoba mengingat ingat.


Tak lama kemudian mereka tiba di kediaman pribadi Adnan.


Emak yang sedari tadi menunggu pun menyambut mereka berdua.


"Hati hati Adnan," kata emak menghampiri Adnan yang hendak keluar dari mobil.


"Iya mak, Adnan sudah tidak apa apa mak" kata Adnan tidak ingin merepotkan emak.


"Iya, tapi kan kamu baru sembuh, masih lemas kan?" Kata emak.


Adnan hanya tersenyum, Antonpun hanya menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah sang emak yang menurutnya berlebihan kali ini.


"Mau langsung ke kamar Nan?" Tanya Anton.


"Disini saja dulu. Bosan aku hanya tiduran terus" kata Adnan.


"Ton..." Panggil Adnan.


"Bolehkan aku minta tolong??" Tanya Adnan.


"Hmmm boleh apa?" Tanya Anton sembari menikmati kopi yang baru saja bi Asih antar.


Menunggu beberapa saat tidak ada tanggapan dari Adnan.


"Heiii.. ada apa?? Kamu beneran ada masalah?" Tanya Anton.


"Nak, makanan dah siap di meja makan. Emak pulang dulu ya, nanti sore mak ada arisan di tempat emak" pamit emak yang tiba tiba kembali muncul.


"Iya mak, makasih ya mak.. maaf merepotkan emak." Jawwb Adnan.


"Tidak nak. Jangan lupa makan ya. Ton.. ingatkan dia ya.. emak tinggal" pamit emak yang tidak lupa memberi wejangan ke Anton.


"Ya mak" jawab Anton.


Setelah keergian emak., Anton kembali menatap Adnan. Terlihat ada keraguan di mata Adnan.


"Jika ragu mending ga usah Adnan. Apa ini yang membuat kami hingga sakit begini?" Tanya Anton menebak.


Adnan hanya diam menatap Anton dengan tangannya sudah mengenggam ponsel miliknya.


Beberpaa saat kemudian, Adnan tampak mengotak atik ponsel dan hendak menyerahkan ponsel itu ke Anton.


"Tapi janji, rahasiakan ini dan aku minta tolong cari tau fakta yang sesungguhnya" kata Adnan sebelum benar benar menyerahkan ponselnya.


Hal itupun nampu membuat Anton dibuat penasaran sambil menatap Adnan dengan serius, Anton menerima ponsel milik Adnan dan menonton apa yang Adnan tunjukkan.

__ADS_1


__ADS_2