Sweet Butterfly

Sweet Butterfly
sebenarnya nenek curiga


__ADS_3

Anton menoleh ke arah Adnan..


"Lalu apa hubungannya?? Jangan bilang kalau kamu suka sama Reina?" Tebak Anton.


"Entah lah Ton... Entah kenapa aku lihat dia seperti itu rasanya ada sesuatu yang los dari dalam diri aku. Rasanya lemas.." kata Adnan lirih dengan tatapan kosong.


"Dan kamu dah tau siapa dia?" Tanya Anton menyelidik.


Adnan hanya mengangguk.


"Lalu mau kamu gimana?" Tanya Anton lagi.


"Selidiki dia Ton... Aku yakin dia melakukan itu semua karena terpaksa" kata Adnan.


"Nan... Semuanya pasti jika ditanya akan menjawab seperti itu terpaksa... Karena keuangan.. Tapi apakah tidak ada jalan lain selain jual diri???" Kata Anton kurang setuju.


"Aku yakin, bukan karena ekonomi.. Tapi ada seseorang yang mendesaknya... Ada alasan khusus Ton.. aku yakin itu" jawab Adnan..


Anton tampak mencerna kata kata Adnan...


"Kamu yakin?? Kamu sakit gara gara ini?" Tanya Anton.


Adnan menunduk sejenak.


"Makanya aku minta tolong Ton, selidiki dia. Jika memang benar apa yang dia ceritakan pada ki. Maka akan aku tolong dia.. Tapi jika itu hanya sebuah alibi saja, maka akan aku tinggalkan" kata Adnan mengambil ponselnya dari tangan Anton.


"Baiklah, akan aku cari tau" jawab Anton.


"Thanks ya.." kata Adnan.


"Sama sama bro.. tapi kali ini sebenarnya aku kurang setuju.. tapi aku yakin kamu ada alasan yang lebih kuat. Baiklah, kamu makanlah dan istirahat" kata Anton beranjak bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan rumah Adnan.


Adnan hanya menatap punggung Anton hingga menghilang ditelan pintu utama rumahnya.


"Mas, mari makan... Atau mau bibi bawakan ke sini?" Tanya bi Asih tiba tiba.


"Haahh bi.. biar aja bi, Adnan makan disana aja.." jawab Adnan sedikit terkejut.


Setelah sarapan, Adnan memilih menuju ke halaman belakangnya. Beberapa hari tiduran dirumah sakit, membuat dirinya merasa bosan untuk kembali merebahkan dirinya. Kini Adnan tengah bersantai di gazebo belakang tak jauh dari kolam ikan yang terlihat masih kosong.


#####


Hanya membutuhkan waktu satu jam, Reina sudah tiba dirumah.


"Nak... Kenapa baru pulang?? Semalam kamu tidur dimana nak?" Tanya nenek.

__ADS_1


"Nenek... Maaf ya nek.. semalam Reina tidur dirumah teman.. Ada tugas dari kampus nek.. Maaf Reina tidak memberikan kabar ke nenek" jawab Reina memeluk nenek.


"Ya udah sana mandi, lalu sarapan.. Hari ini kerja??" Tanya nenek merenggangkan pelukan Reina.


"Kerja nek. Ya udah, Reina mandi dulu ya" kata Reina tersenyum


Nenek tersenyum lalu melanjutkan kerjaannya yang sempat terhenti sebentar.


Reina hanya menatap punggung nenek yang tengah menyapu ruang tengah. Tak terasa ada lelehan air mata yang terjatuh.


"Maafkan Reina yang tidak tahu terimakasih ini. Reina telah mencoreng nama baikmu, tidak menjaga kepercayaanmu. Reina hanya ingin nenek tetap sehat. Reina tidak sanggup melihat wajah nenek kembali pucat. Maafkan Reina nek.. maafkan Reina mengecewakan nenek" batin Reina.


Air mata Reina terus mengalir dengan derasnya dengan tatapan terus melihat ke arah nenek. Hingga Reina dengan cepat cepat mengusapnya dan segera masuk kedalam kamar saat melihat nenek hendak berbalik badan.


Setelah mandi dan bersarapan. Reina segera berangkat bekerja karena hari ini banyak sekali pesanan rangkaian bunga. Dan sedari tadi Mei sudah mengirimkan pesan jika toko tengah ramai pengunjung.


"Nek... Reina berngkat ya.." pamit Reina..


"Istirahat aja dulu Rei jika lelah" pinta nenek.


"Tidak nek, toko tengah ramai. Reina ga enak sama bu bos.. Reina berangkat ya da da da nek" pamit Reina setwlah mencium tangan nenek.


"Baik, hati hati" ucap nenek.


Reina dengan langkah cepat berjalan menuju ke toko. Untung saja, jarak toko tidak terlalu jauh dari rumahnya.


"Semangat Rei.." kata Reina pada dirinya sendiri.


Tanpa disadari Reina, dari jarak beberapa meter, ada sepasang mata yang terus menatapnya. Ada rasa rindu, kasihan, juga rasa kecewa terlihat dari tatapan mata itu.


Ya, Adnan.. Niat hati ingin mengisi kolam yang kosong. Tiba tiba, ada keinginan dirinya untuk meleati toko dimana Reina bekerja. Dan benar saja, belum lama dia parkir disana, sudah terlihat Reina berjalan masuk ke dalam toko.


"Hufhh.. Jika memang diperlukan. Aku sendiri yang akan mencari tau. Ada apa sebenarnya dengan kamu Rei. Apapun itu." Gumam Adnan.


"Nenek... Ya nenek... Haruskah aku memulai cari tau dari nenek" gumam Adnan kembali.


Adnan lalu melajukan kembali mobilnya dan segera menuju ke depan minimarket yang tak jauh dari toko bunga tersebut, dan memarkirkan disana lalu berjalan menuju ke rumah nenek.


"Assalamualikum nek" salam Adnan.


"Walaikimsalam... Ehh nak Adnan... Apa kabar nak?" Jawab nenek dari dalam rumah.


"Alhamdulillah nek.. nenek apa kabar??" Tanya Adnan.


"Alhamdulillah nak. Ayo masuk..." Kata nenek mengajak Adnan masuk.

__ADS_1


"Nenek buatkan minuman dulu ya.. sebentar" kata nenek langsung menuju dapur.


Adnan memilih mengikuti sang nenek karena merasa kasihan melihat nenek yang harus bolak balik kedapur dan ruang tamu dengan langkah pelannya.


"Adnan ikut ya.. boleh" kata Adnan menggandeng nenek.


"Hahaha boleh boleh.. ayo duduk sini.. sebentar ya" kata nenek menyilahkan Adnan duduk.


Tak berapa lama, nenek selesai membuat teh hangat. Terlihat digenggaman nenek yang bergetar saat mengangkat secangkir teh itu. Adnan sepontan mendekati nenek dan mengambil teh tersebut dari tangan nenek.


"Biar Adnan yang bawa, ayo nenek duduk di sini" kata Adnan menyiapkan sebuah bangku untuk sang nenek.


"Terimakasih ya nak.. maafkan nenek yang sudah tua ini. Sudah setahun ini, tangan nenek selalu tiba tiba bergetar begini. Bahkan untuk berjalan saja nenek sudah tidak sanggup terlalu jauh" kata nenek sambil tersenyum


"Tak apa nenek. Apa nenek selalu sendiri dirumah?" Tanya Adnan.


"Yaa beginilah nak. Reina terlalu sibuk diluar sana. Sudah sejak kecil dia terus membantu nenek mencari uang. Puncak setelah nenek masuk rumah sakit, Reina benar benar menguras tenaganya. Dia harus bekerja dipagi hari, dan sore hari pergi kuliah, dan malam harus kembali beekrja. Nenek sudah tak sanggup lagi untuk mencari uang membantu Reina." Ucap nenek.


Adnan terdiam sesaat.


"Apa nenek tau pekerjaan Reina? Hingga ia begitu tak ada waktu?" Tanya Adnan mulai mencari informasi.


"Yang nenek tau, pagi Reina bekerja di toko bunga, dan malam harinya dia bekerja di garment dan hanya mengambil shif malam, entahlah nenek tidak tahu ada pekerjaan seperti itu sekarang. Tapi jika tidak seperti itu, bagaimana caranya Reina melunasi hutang hutangnya" ucap nenek.


"Hutang?" Tanya Adnan heran.


"Yaahh, dulu nenek sempat mengidap gagal ginjal dan harus di operasi. Sebelum itu, nenek harus menjalani cuci darah setiap minggunya. Semenjak itulah, Reina bekerja keras untuk membiaya pengotan nenek" kata nenek.


Kini Adnan mulai sedikit mendapat titik terang. Tapi Adnan tetap tidak membenarkan jika Reina hingga harus merelakan dirinya seperti ini.


"Nak... Apakah nenek bisa minta bantuan mu?" Kata nenek.


"Bantuan... Apa nek? Insya Allah akan Adnan usahankan" kata Adnan menatap nenek intens.


Nenek menatap Adnan lekat. Terlihat tatapan memohon yang tersirat dari mata nenek.


"Tapi nenek mohon rahasiakan ini ya.." lanjut nenek.


Adnan mengangguk.


"Bantu nenek cari tahu, apa pekerjaan Reina pada malam hari" kata nenek.


"Kenapa nenek ingin cari tahu. Kata nenek Reina bekerja di garment?" Tanya Adnan.


Nenek menunduk sesaat.

__ADS_1


"Nenek selalu mendengar desas desus dari ara tetangga, jika Reina terlihat selalu keluar masuk hotel jika malam hari. Dan kata mereka, tidak ada yang namanya pabrik bisa mengambil hanya shif malam saja. Nenek takut ada yang Reina sembunyikan dari nenek" kata nenek mulai berkaca kaca.


"Nek... Insya Allah, Adnan akan cari tahu. Nenek jangan berprasangka buruk dulu ya dengan Reina. Percalah nek" kata Adnan menggenggam tangan nenek berusaha menguatkan.


__ADS_2