Tak Bisa Memiliki Mu

Tak Bisa Memiliki Mu
Harapan Ku Telah Sirna


__ADS_3

Setiap manusia di berikan rasa


Rasa dimana ingin memiliki keinginan


keinginan lebih baik dari saat ini,


namun masih abstrak, tidak tampak


bahkan terkadang, dibatin dan dijadikan sugesti agar terwujud.


banyak manusia menjadikannya sebagai suatu titik keberhasilan


Setiap manusia diberikan cinta


cinta dimana ingin memiliki sesuatu


sesuatu yang menerawang keinginan di masa depan.


Namun masih skatsa, gambaran buram


bahkan terkadang, ia dipaksakan agar terwujud


banyak manusia menjadikannya sebagai alat ukur kepercayaan.


semua manusia dapat mencoba menjadikannya nyata dengan berdoa dan berusaha.


Namun ia pun bisa jatuh apabila menggantungkan dan tidak merubahnya ketika itulah harapan.


Dalam benak menghapus jelaga, irama masa lalu. Yang tak sampai pada pengharapan


Asa yang menguning, jiwa yang hening


Memberontak pada semesta tak bergeming


Ruang- kosong dalam sukma


Berganti amarah. Pada Alegori tak berarti, merambah singgah Pada amarah.


Kisah lalu tentang pengharapan, terancam sirna oleh ego yang tiran. Teriak semesta tanpa kata, tentang hati, yang tak bermateri, Sejenak bekukan pengharapan.


Batin terpasung dongeng lalu


Seakan sirna segala asa itu


Bak gelombang pasang malam itu


Menghempas karang yang diam membatu.


Kisah lalu tentang pengharapan, terancam sirna oleh ego yang tiran. Teriak semesta tanpa kata, tentang hati, yang tak bermateri


Sejenak bekukan pengharapan, yang seketika tak berperan, Menyayat tulang belakang, mematikan harapan.


Wahai sang penyemangat hati


penggemar si penyejuk jiwa


hadirmu tiada kutahu kapan


tapi entah mengapa bayang-bayangmu


selalu mengetuk pintu hatiku


yang seakan engkau telah lama kukenal


Wahai sang pelipur lara


setiap detik dan langkah


selalu ku arungi dengan doa


seakan kepergian akan mandampingimu selamanya, tetapi diriku tetap berharap hari esok untuk bersama..


Namun akhirnya benar terjadi


harapan yang tak pernah ku harap pun mulai menghantui


dirimu tiba-tiba saja pergi


seperti malam yang digantikan oleh sang mentari.


kini aku pun sendiri


dihantui bayangang kata-kata manis menusuk hati, sehingga aku terpana dengan apa yang menjadi inspirasi, kini kau telah pergi.......


Cercah cahaya kelam Selimuti duka mencekam Bagai tertikam tombak malaikat maut Waktu terlarut dalam bisikan maut kian menjemput Siksa batin yang terus kurasa Melekat dan terus kudekap Semua sirna terbakar amarah,Semua lenyap terhempas asa,,,


Semua sirna. Semua lenyap. Mati terkapar bukan jawaban Terbang ke surga bukan pilihan Hanya diam terpaku Dibuai rasa putus asa

__ADS_1


Terhujam kini harapan sirna. Diam termenung menunggu satu jawaban Mengharapkan satu harapan kosong sulit sirna.


jauh sudah kumelangkah


melaju dengan keteguhan hti


menatap sbuah sinar


menerjang tantangan yg nyata


keluh dlm sebuah rintihan


meratap hti yg terasakan


meneteskan kepiliun menekan


rasa yg tiada terungkapkan


dalam diam ku tertekan


mengenang kasih yg tiada harapan


ku raih mimpi yg terabaikan


hanya impian yg tak tersampaikan.


Binasa..


Terkekang dalam jiwa


Haru dalam duka


Cinta telah tiada.


Rindu..


Dalam angan kelabu


Terbenam belenggu


Betapa mencintaimu.


Harapku telah sirna


Impian pun telah binasa


Benamkan segala kenagan.


Cinta ku hanya sekali


Tak pernah kembali


Meski kunjung pergi


Dirimu menghantui.


Kasih..


Percayalah


Segalanya begitu indah


Karna hatiku telah singgah.


Bukan aku juga dirinya


Namun kau lah anugrah


Kini semua telah hilang


Badai menerjang.


Impian datang bersama kabar dari awan hitam


Lemahnya diri tak sampai menggapai langit tinggi.


Harapanku sirna ditelan sukma sekuntum dahlia. Akankah aku bisa kembali merangkulnya?


Malam panjang berhiaskan taburan harapan


Fatwa rindu mengalung sendu


Ukiran kenangan terlampau menghiasi hati


Cucuran air mata tak bisa merubah realita


Harapanku telah hilang direnggut paduka.

__ADS_1


Ocehan malam menyadarkan diri yang kelam


Inilah fakta realita bukan sekedar fatamorgana


Rembulan menghibur dengan sinarnya yang kabur. Omongan malam tak sepenuhnya benar


Harapanku, cukup Tuhan saja yang tahu.


Tangisan dari harapandan goresan dari ingatan, kini menjelma kembali di lubuk hati. Ya...ketika pertama kali aku mengagumi kepolosan dan kemurnian dari setangkai bunga yang wangi.


Dua musim kulalui bersamanya dalam ikatan janji saling menyayangi. Siang dan malam pun ku nikmati seiring dengan warna warni bumi, anginya yang khas senantiasa hiasi hari-hariku menjadi jauh lebih berarti.


betapa bahagianya hati ini. Namun, seiring dengan waktu berlalu raasa sayang ku pada laki itu perlahan-lahan memudar. Segala corak yang berkaitan dengan nya dulu yang sempat ku kagumi pun seketika sirna. Karena dia, Ya...karena dia telah mengkhianati janji dan kesetiaan yang selama ini kukemas rapi dalam hati.


Sungguh aku tak mengerti. Betapa mudahnya ia melepas diri setelah sekian lama aku merawat dan menjaga nya sepenuh hati. ku tak mampu menahan pedih nya luka ini.


Hingga akhirnya aku pasrah diri. Dan berjanji untuk meninggalkannya. Karena tak mungkin, tak mungkin aku menghirup kembali aroma parfum yang sudah tidak wangi lagi. Tak mungkin aku bisa menjamah lagi botol parfum yang sudah kosong.


Mungkin suatu saat nanti dia akan mengerti, dia akan menyesali atas durinya yang telah menyakiti. Tetapi jika ia masih memiliki hati nurani. Dan, andai saja nanti (ku menemukan kembali aroma parfum yang wangi, dan harap corak dan warnanya jauh lebih berarti dan wanginya kan slalu abadi dalam hati.


Untuknya, Untuk mereka, Untuk semua harapan yang sirna. Disini aku meminta, Disini aku berduka, Disini aku memupuk luka.


Temanku... Sahabatku... Saudaraku... Maafkan diri yang fana ini, Maafkan diri yang egois ini. Tidaklah pudar rindu tawamu, Tidaklah pudar lara diriku.


Temanku... Sahabatku... Saudaraku... Maafkan diri yang fana ini,Maafkan diri yang egois ini. Janjiku ku akan selalu ku juang, Janjimu ku akan selalu ku kenang.


Dulu... aku sangat mengharapkan


cinta yang tulus darimu


Tapi...kini t'lah ku  hapus harapan itu


saat ku tahu bahwa kau mencintainya.


Aku kecewa...


aku hanya bisa terdiam


saat ku tahu isi hatimu


Tapi... apalah daya


aku tak tau apa yang harus aku lakukan


aku bingung...


aku ingin lari darimu


tapi hatiku...


masih ingin bersamamu.


Tenggelam ku dlm luka yg tak berujung…


Lelah guratan kaki menampak jiwa ku terapung…


Awalnya ku lihat cahaya terang merona di wajah mu…


Kini hanya gelap yg menggantung…


Setia duduk di sudut keheningan mengais bisu arti sbuah kebahagiaan…


Di tebas mimpi semu yg kau janjikan memasung tawarkan khayalan dalam kecewa tak berkesudahan…


Membuat lidah ku kelu menelan kenyataan…


Tamaram kelam berkabut hitam di ujung senja…


Warnai percikan asmara di jelaga lara…


Bersama kita mengunyah suka&duka kini sendiri ku telan kecewa…


Miris jiwa berpasung kelopak awan dicambuk murka..


Dinggin teriringi raga kepedihan menyapa menyeruak tinggal puing harapan yg tersisa…


Butir air mata ku berderai bagai hujan melambai…


Wajah kusam tak berdawai akhirnya asa cinta ku telah usai di hantam gelombang perisai…


Di mana kau lantunkan kata hingga peraduan ku bisu tak bersuara…


Mengalun sendu di antara gersang merana…


Inilah akhirnya asa ku tersayat luka bertabur cinta berdusta…


Raga tak bernyawa hny jiwa yg ku rasa…

__ADS_1


Mengiba-iba cinta yg tak pernah nyata


__ADS_2