
Jiwa ini terasa sendu. Gelap, takut, bingung, marah, kecewa, sedih, kesepian, tidak punya semangat, tidak punya tujuan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku bisa jatuh ke lautan gelap dan dingin ini?
Pertanyaan demi pertanyaan terus menghujaniku. Aku sendiri tidak tahu jawabannya apa. Mata ku ini sembab. Air mata tak henti-hentinya keluar sebagai bentuk yang mewakili isi hatiku. Bisikan-bisikan negatif itu seperti radio yang berputar, masuk ke telingaku, dan merasuk hingga ke hatiku. Sampai kata itu muncul.
Mati.
Ya, aku ingin mati. Sepertinya itu satu-satunya solusi yang dapat aku pikirkan. Tapi bagaimna caranya? Bagaimana caranya mati tanpa harus menyakiti diri sendiri, tanpa harus melawan takdir? Tidak ada kan.
Aku kesepian. Aku sendirian. Tidak ada yang membantu ku melewati ini. Merasa ditinggalkan orang-orang terdekat. Keluarga, teman, sahabat kemana mereka semua. Aku ingin bercerita. Aku ingin didengarkan bukan dihakimi atau dinasihati. Tapi kenapa setiap aku mulai ingin bercerita, mereka justru menghakimi dan memberi ku banyak nasihat. Awalnya ku turuti ucapan mereka. Sayangnya itu sama sekali tidak membantu.
Oh ya, mereka juga sering bilang seperti ini,
Kamu itu gak bersyukur!"
"Lu kurang bersyukur deh. Coba lihat sekeliling lu yang hidupnya lebih susah dari lu."
"Hah? Depresi? Gue lebih depresi dari lu."
"Masa sih lu depresi? Ah ngarang lu!"
__ADS_1
"Ibadah lu kurang kali. Gih sana berdoa sama Tuhan."
"Percuma dong lu berdoa tapi masih kayak gini aja. Rukiyah aja ya."
Perih. Hati ku tertusuk dan tersayat-sayat mendengar ucapan mereka. Kata-kata itu bukannya memberi ku semangat atau melegakan pikiranku, tapi justru semakin menenggelamkan ku ke dalam laut gelap dan dingin. Mereka tidak mengerti! Bahkan bagi mereka depresi itu tidak nyata. Sesuatu yang tabu. Seharusnya aku sudah bisa menebak apa yang akan mereka katakan, ya kan?
Ketika mereka menyuruh ku berdoa, aku ingin sekali berteriak di hadapan mereka. Berdoa adalah hal utama yang pasti aku lakukan
Mereka tidak tahu bahwa orang yang mengalami depresi seperti ku ini, sudah banyak berdoa. Memohon petunjuk kepada Tuhan. Bertanya kepada Tuhan kenapa aku seperti ini. Ya bisa dikatakan ibadah ku jauh lebih rajin dibandingkan mereka, orang normal.
Aku kehilangan semangat hidup. Hobi yang biasanya bisa memberiku semangat, terasa … hambar. Bangun dari tempat tidur ini saja rasanya berat. Aku hanya bisa berbaring di tempat tidur ini. Merenung. Melamun. Menangisi hidup ku yang tidak ada artinya ini. Hidup ku yang menyedihkan ini.
Di luar matahari bersinar terang. Memamerkan cahaya kuning keemasannya. Hari baru, harapan baru, semangat baru bagi mereka, orang normal. Aku benci matahari dengan sinarnya yang menusuk-nusuk kulit ku. Aku lebih suka langit mendung, hitam, dingin, dengan petir, dan hujan lebat. Aku suka itu.
Lihatlah. Alam semesta pun seperti tidak bisa memahamiku.
Ya Tuhan, cepatlah akhiri ini semua. Aku sudah lelah dengan hidupku ini. Atau setidaknya kirimkan seseorang yang bisa membantu ku melewati ini semua. Tolong aku..,!!!
Setiap orang pasti mengalami hal-hal sulit dalam hidupnya, begitu pun yang aku alami sekarang. Disisi lain memang saat ini aku senang menyendiri tapi di sisi lain ada kalanya perasaan sepi itu begitu menggelayut dalam hari-hariku.
__ADS_1
Lebih tepatnya aku selalu merasa tidak ada orang yang bisa diajak bicara olehku, rasanya mereka terlalu jauh untuk ku gapai. Hanya sendirian menghadapi semuanya.
Mungkin pernah ada satu orang yang aku percayai dalam hidupku tapi kenyataanya dia menghancurkan semua kepercayaan ku. Aku sering menceritakan apa pun yang aku pikirkan kepadanya dan tentu saja keluh kesalku pun selalu tumpah kepadanya.
Aku tak pernah sungkan mengungkapkan apa isi hatiku, termasuk semua isi hatiku yang jarang tersampaikan kepada orang lain tapi ada satu hal yang membuat aku kecewa kepadanya.
Dia pernah berkata "kamu tu jangan mengeluh terus", mungkin memang benar apa yang dikatakanya kepadaku. Karena aku terlalu berlebihan menceritakan semuanya tapi itu karena aku merasa percaya kepadanya, merasa nyaman dan merasa memiliki orang yang bisa aku ajak ngobrol.
Setelah kejadian tersebut aku kembali seperti semula merasa tidak ada orang yang benar-benar mengertiku, merasa hidup di dunia ini sendirian padahal disekelilingku banyak sekali orang yang hilir mudik. Mungkin ini semua karena aku terlalu sensitif. Meskipun dia meminta maaf atas kejadian tersebut tapi aku begitu susah percaya lagi.
Maaf Rasanya sekarang-sekarang ini aku begitu tertekan, disisi lain aku juga perlu bertukar pikiran dengan orang lain, menceritakan apa yang aku alami dan yang aku rasakan sekarang ini. Tapi disisi lain apakah orang tersebut akan mengerti dengan yang aku ceriatakan? Dan kepada siapa aku harus bercerita?
Aku tidak tahu kenapa aku harus merasa seperti ini bahkan perasaan sepi ini sudah mulai hadir sejak aku kecil. Aku ingat waktu itu aku sedang mengaji tapi entah kenapa tiba-tiba aku menangis sampai-sampai ibu memarahiku atas kejadian ini. Yang aku rasakan pada waktu itu, rumah terasa sepi dan dingin, begitu mencekam dan hampa.
Waktu kecil memang aku selalu sendiri, ibu tidak mengijinkan ku bermain keluar rumah. Aku hanya bermain sendirian atau paling tidak saudara yang main ke rumahku tapi itu sangat jarang. Barulah setelah SD aku mulai memiliki teman. Masa-masa SD itu terasa sangat menyenangkan tapi aku kembali terperosok kedalam rasa sepi lagi.
Rasanya aku berjalan di dunia ini sendirian, menyusuri waktu bersama sepi. Kadang aku lelah dengan semua ini dan ingin memutuskan sampai disini saja perjalananku tapi aku tidak sanggup melakukanya.
Dari dulu hingga sekarang keinginan ku tidak berubah, Cuman ingin berada di tengah-tengah orang yang menyayangi dan mencintai ku dengan tulus, merasakan kehangatan dan penuh ceria. Bukankah itu sangat sederhana atau terlalu mahal harga yang harus aku tebus untuk mendapatkan semua itu?
__ADS_1
Sejujurnya aku juga tidak ingin menceritakan kesedihan ku, aku cuman ingin menceritakan kebahagian ku saja kepada mereka tapi bagaimana aku bisa bahagia jika semuanya hari-hariku dipenuhi duka dan aku melewati semuanya sendirian padahal mereka ada disekeliling ku, mungkin lebih baik aku tidak memiliki siapapun dari pada mereka ada tapi aku tidak merasakan kehadiran mereka sama sekali.
Dari dulu sampai sekarang aku ingin memeluk ibu, sekali saja aku ingin merasakan dekapan ibu dan ingin merasakan perasaanya, merasakan jantungnya berdetak. Aku tau bahwa penyebab penderitaan ibu itu hanya aku. Aku terlalu banyak salah kepada ibu. Kadang aku marah kepada diri ku sendiri yang tak bisa menjaga perasaan ibu.